
Elena di masukan dengan kasar ke dalam mobil di susul kemudian oleh Nathan sambil membanting pintu. Nathan menyuruh supir untuk menjalankan mobilnya segara meninggalkan pelataran hotel tempat acara pernikahan istrinya di adakan. Elena masih terisak, dandanan di wajah gadis itu sudah hancur berantakan.
Nathan menatap lurus ke depan. Tatapan tajamnya belum juga hilang dari sorot matanya. Iblis dalam diri Nathan masih menguasai sepenuhnya. Wajah kerasnya membuat Elena menggeser tubuhnya hingga nempel ke pintu karena takut.
Tak ada kata yang terucap dari mulut Nathan. Sikap yang di tunjukan Nathan tidak seperti biasanya, ia tak acuh terhadap Elena.
"N-nathan..." Elena melihat ke arah Nathan.
Tidak ada respons dari Nathan. Ia seolah-olah tidak mendengar. Elena kembali membawa pandangannya ke bawah melihat pada tangannya yang ia remas sendiri.
Mobil tersebut mulai melambat setelah melewati gerbang tinggi dan berhenti di halaman mansion. Elena masih diam di tempatnya sedangkan Nathan berjalan memutari mobil lalu membuka pintu di samping Elena. Nathan menarik lengan telanjang Elena membuat Elena terpaksa menurunkan kakinya.
Masih dengan kebisuannya Nathan membawa Elena memasuki mansion. Elena harus mengangkat tinggi gaun panjang yang membungkus tubuhnya agar mempermudah jalannya. Hampir tiba di tangga kaki Elena tersandung mengakibatkan ia terjatuh, genggaman tangan Nathan terlepas, kedua lututnya membentur lantai sampai ia mengaduh kesakitan.
Nathan menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya melihat Elena yang meringis merasakan rasa nyeri di lututnya. "Cepat bangun!" Nathan berkata dingin.
Tangan Nathan mencekal kembali pergelangan tangan Elena. Memaksa Elena untuk segera berdiri. Elena pasrah, ia mengikuti langkah lebar Nathan menaiki tangga dengan berjalan terpincang. Elena mengusap kedua matanya yang mulai berair dengan satu tangannya yang terbebas. Nathan memperlakukan gadis itu dengan kasar.
"Aww..." Elena di lempar saat memasuki kamar yang dulu gadis itu tempati hingga tersungkur ke lantai.
"Sakit Nathan!" pekik Elena sambil menatap tajam Nathan.
Senyum miring menghiasi wajah Nathan. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Matanya melirik ke arah lain. "Kau masih berharap aku akan berlaku baik padamu setelah apa yang telah kau lakukan padaku! Aku terlalu mencintaimu hingga diriku rela kau rendahkan bahkan kau injak-injak. Tapi itu dulu tidak untuk sekarang." nada bicara Nathan penuh keseriusan.
Elena mendogakkan kepalanya. Hatinya seperti tersayat saat mendengar penuturan pria tersebut. "Maafkan aku! Tolong biarkan aku pergi jika kau tidak menginginkan diriku lagi."
__ADS_1
"Tidak akan ku biarkan kau pergi bahkan hanya sekedar melewati pintu kamar ini,"
"Apa maksudmu? Jangan bilang kau akan mengurungku disini."
"Memang itu yang ingin ku lakukan. Memenjarakanmu di tempat ini. Sebelumnya aku selalu memperlakukanmu dengan istimewa, memberikan seluruh kasih sayangku padamu, aku selalu mengalah demi kebahagianmu. Tapi apa yang ku dapat? kesakitan. Kau selalu pergi di setiap ada masalah tanpa mau mencari solusi dan kebenarannya." ucap sarkastik Nathan.
Elena menundukkan kepalanya. Ia merasa apa yang baru saja di ucapkan Nathan benar, ia terlalu egois tidak pernah memikirkan perasaan orang lain yang mungkin lebih tersakiti.
"Ya, aku memang bersalah atas hal itu. Apa kau masih mau memberi maaf padaku?" ucap Elena dengan wajah nelangsanya.
"Tidak!"
Elena masih di sibukan dengan pemikirannya sendiri. Ia takut Nathan akan berubah kejam padanya.
"Kau bilang aku istri sahmu, sejak kapan kita menikah? Aku tidak pernah mengingatnya."
Di dalam kamar Elena meneruskan isakannya. Nathan sudah membenciku, batin Elena. Entah takdir akan mempermainkan kehidupan Elena seperti apa lagi. Saat ini dua pria yang mencintai Elena sudah berubah membenci gadis tersebut.
■■■■■■
Menjelang malam pintu kamar Elena di buka oleh pelayan. Ruangan kamar dalam keadaan gelap. Sambil meraba-raba pelayan tersebut menekan saklar lampu hingga ruangan tersebut terang. Pelayan yang membawa nampan berisi makan malam untuk Elena meletakan nampan tersebut ke atas meja tak jauh dari ranjang.
Elena tidak memperdulikan kehadiran pelayan itu. Ia meringkuk masih mengenakan gaun pengantin yang di pakainya tadi pagi. Elena berpura-pura memejamkan mata.
"Nona, sebaiknya Anda segera bangun untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Saya sudah antarkan makan malam untuk Anda. Tuan akan marah kalau Anda masih dalam keadaan seperti ini." ucap pelayan itu dengan sopan.
__ADS_1
"Hmm," balas Elena malas.
Setelah pelayan itu pergi Elena bangkit. Sebenarnya sejak tadi sore ia merasakan lapar tapi ia malas. Semangat hidupnya perlahan mulai memudar, Elena akan melakukan aksi mogok makan agar Nathan tidak terus-terusan mengurungnya.
Cukup lama Elena berada di dalam kamar mandi. Nathan menunggu gadis itu di dalam kamar. Ia kesana hanya ingin melihat keadaan Elena yang kata pelayan tidak mau makan sejak siang. Nathan mendekati pintu kamar mandi yang tertutup lalu mengetuknya, tidak ada jawaban dari dalam sana. Ketukan di pintu berubah menjadi gedoran, Nathan semakin jengkel dengan keterdiaman Elena. Nathan mengambil posisi ancang-ancang, ia mendobrak pintu itu hingga terbuka lebar.
Elena menatap ke pintu yang terbuka dengan wajah terkejut. Ia tidak menyangka Nathan akan melakukan itu. Ia panik melihat Nathan yang mendekatinya dengan mata penuh kilat.
"Apa mulutmu sudah tidak bisa diguanakan untuk berbicara lagi?"
Elana hanya menatap Nathan tanpa menjawabnya.
"AKU BERTANYA PADAMU, EL!" bentak Nathan.
Elena tersentak, ia menggigit bibir bawahnya. Merasa takut dengan ekspresi yang di tunjukan pria itu. "A-ada apa? Aku ingin mandi,"
"Aku memanggilmu seharusnya kau menjawabnya bukannya hanya diam seperti orang bisu... kenapa lama sekali?" kata Nathan lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Maaf. A-aku kesulitan melepas kancing gaun ini," aku Elena.
Nathan memutar tubuh Elena dengan sekali hentak. Kedua tangannya meraih kancing kecil di punggung Elena lalu melepasnya satu persatu. Punggung mulus Elena terpampang jelas di depan Nathan. Tangan Nathan melepas gaun yang masih melekat di bahu Elena hingga gaun tersebut terjatuh ke lantai. Elena berdiri membelakangi Nathan hanya berbalut celana dalam mini. Wajah Elena sudah terasa panas mengetahui keadaannya saat ini.
Kedua tangan Nathan mengepal kuat di samping tubuhnya. Ia menguatkan dirinya agar tidak terpancing oleh gairahnya sendiri. Ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyentuh gadis yang sudah sering menyakitinya. Nathan segera keluar membiarkan Elena menyelesaikan ritual mandinya.
Nathan butuh pencerahan malam ini. Ia menuju parkiran kemudian memasuki salah satu koleksi mobil mewahnya. Ia pergi meninggalkan mansion, tidak ada yang tau ia akan pergi kemana.
__ADS_1
----------
Next Chapter》》