
Tingkah konyol temannya membuat Elena tidak berhenti tertawa. Di atas meja sudah tersedia berbagai macam jenis minuman. Elena sama sekali tidak ada niatan untuk menyentuh minuman yang mengandung alkohol. Ia ingin bermain aman dengan memilih orange jus sebagai minumannya malam ini, ia segera meraih gelas kristal menuang orange jus tersebut kedalamnya.
"Maaf aku sedikit terlambat!" Kata gadis yang baru saja tiba dengan suara setengah berteriak.
Elena mengarahkan matanya melihat perempuan ular itu. Melda balas menatap dengan raut wajah penuh penyesalan. Elena memutus tatapan matanya dan beralih menatap layar ponsel yang ada dalam genggamannya, membaca pesan singkat dari Nathan yang merengek minta pulang.
Dari seberang meja Melda menatap penuh arti pada Elena yang sedang menarikan jempolnya pada layar smartphone gadis itu di barengi senyum tipis.
Elena seolah melupakan keberadaan pria yang tampak gelisah dalam duduknya, Ia terlalu asik berbincang dengan kawan-kawannya. Hingga Elena merasakan kantung kemihnya terasa penuh dengan kilat ia melarikan kakinya ke toilet.
Terdengar hentakkan keras dari hak tinggi yang Elena pakai mengiringi setiap langkah lebar gadis tersebut di sepanjang koridor, ia tampak sudah tidak sabar untuk segera sampai ke tempat tujuannya.
Setelah selesai melakukan ritualnya, Elena segera keluar dari dalam toilet yang sepi. Ia menarik pintu yang cukup berat dan segera keluar, seketika bola mata Elena membesar. Ia berdiri memantung di depan toilet wanita.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Elena memincingkan mata.
"Aku sengaja menunggumu!"
"Kita sudah tidak ada urusan apa-apa lagi. Pergilah!" Ucap Elena ketus.
"Ada yang perlu ku luruskan di sini. Aku selalu mencari kesempatan untuk bisa menemuimu, tapi sangat sulit untuk bisa masuk ke unit apartemen yang kau tinggali sekarang."
"Aku tidak ada waktu untuk mendengar omong kosongmu."
"Please, sebentar saja!"
"Aku bilang tidak!" Bentak Elena. Rasa sakit muncul kembali pada diri Elena.
Arsen mengepalkan tangannya kuat. Lalu menyeret paksa Elena menuju lorong yang cukup sepi.
"Arsen, kau mau membawaku ke mana?" Tampak jelas wajah panik Elena saat pemuda itu menariknya.
Pemuda tersebut memojokkan Elena ke dinding dengan kedua lengannya ia letakkan di samping gadis itu, mengunci pergerakkan Elena.
"Aku tidak ada hubungan apapun dengan Melda. Yang pernah kau lihat itu hanya kesalah pahaman. Aku juga bingung saat terbangun dalam keadaan seperti itu." Arsen menatap redup wajah Elena. "Tidak pernah sekalipun aku berpikiran untuk menghianatimu." Kata Arsen.
"Lalu, bisa kau jelaskan kenapa kalian bisa tidur dalam satu ranjang dengan keadaan sama-sama polos." Ucap Elena dengan mata tampak berkilat.
__ADS_1
Arsen terdiam, ia juga tidak tau! Ia tidak mengingat apapun. "A-aku tidak tau. Yang ku ingat hanya saat Melda memintaku untuk datang ke apartemennya karena kau yang menyuruh. Demi Tuhan aku tidak melakukan apapun dengan Melda."
"Apa benar begitu, kau tidak mencoba menuduh Melda yang menjebakmu kan? ... Tapi sudahlah, hubungan kita sudah berakhir."
Arsen mendekatkan wajahnya pada Elena. "Aku tidak akan melepaskanmu sampai kapanpun. Kau tetap kekasihku hingga detik ini!" Cetus Arsen sungguh-sungguh.
"Kenapa kau memaksaku? terima saja kenyataannya kalau hubungan kita memang sudah berakhir." Tutur Elena penuh penekanan.
"Karena aku mencintaimu!" Arsen menyentuhkan bibirnya pada bibir ranum mantan kekasihnya.
Elena membeku di tempat mendapat serangan tiba-tiba dari Arsen. Ia memejamkan matanya ikut menikmati ciuman lembut dari orang yang begitu di cintainya dulu, mungkin sampai sekarang perasaan itu masih ada untuk pemuda tersebut. Elena terbuai dengan ciuman yang Arsen berikan, melupakan penghianatan yang pemuda itu lakukan kepadanya.
Tubuh Arsen terhempas ke lantai dengan suara cukup nyaring saat bokong pemuda itu mendarat di lantai geranit yang keras.
"Apa yang kau lakukan?" Nathan menyugar rambutnya ke belakang. "Jangan lagi-lagi kau menyentuhnya!" Kata Nathan dengan geraman, lalu menarik Elena untuk segera meninggalkan tempat itu.
Nathan membuka pintu bagian penumpang untuk Elena, setelah perempuan itu masuk Nathan segera menyusulnya. Ia mengemudikan mobil dengan perasaan kalut, sesekali ia melirik Elena yang terdiam menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
Sepanjang perjalan pulang di selimuti dengan keheningan. Elena tau pria di sampingnya sedang menahan marah. Terlihat dari sorot matanya, serta cengkeraman kuat pria itu pada kemudinya, membuat buku-buku jari Nathan terlihat memutih.
Mereka tiba di kamar dengan Nathan berdiri di tengah ruangan tersebut, dengan posisi membelakangi gadis yang berjalan sedikit terpincang. Elena meraih tangan Nathan untuk di genggamnya tapi segera di tepis kasar oleh pria tersebut. Aliran darah Elena langsung berhenti mengalir, hatinya seperti tercubit menerima penolakan dari Nathan.
"Aku minta maaf, aku tidak sengaja bertemu dengannya!" Kata Elena berdiri di samping Nathan, menatap sedih pada pria yang sedang terbakar cemburu.
"Tidak sengaja katamu! Aku meyakininya bahwa itu bukan ketidak sengajaan."
"Nathan----,"
"Bahkan kau masih mau di cium oleh bocah itu, di saat dirimu sudah di hianati olehnya." Ucap Nathan menipiskan bibirnya.
Elena mendudukan dirinya di sudut ranjang. "Aku tidak bisa menolaknya," ucap Elena lirih sambil tertunduk.
Nathan membuang napasnya kasar lalu memijat keningnya yang berdenyut. "Karena kau masih mencintai bocah itu sehingga sulit menolaknya?" Sindir pria itu.
Tidak ada jawaban yang terlintas di kepala Elena. Bohong jika ia bilang tidak merindukan pemuda itu. Di dalam hatinya masih tersimpan cinta untuk Arsen, untuk pemuda yang sudah tega mengingkari janjinya untuk selalu setia padanya.
"Ya, aku masih sangat mencintainya!" Jawab Elena dengan meluruhkan air mata.
__ADS_1
Isakan terdengar dari gadis yang sedang menundukan kepalanya. "Katakanlah aku bodoh! Memang begitu kenyataannya. Arsen cinta pertamaku sulit untuk ku melupakannya."
"Dengan begitu kau mau di bodohi olehnya? Ia sudah bermain api di belakangmu, apa kau masih mau memaafkannya?" Tanya Nathan berdiri tepat di depan Elena.
"A-aku tidak tau."
"Tidak bisakan kau melihatku? Aku di sini selalu memperjuangkanmu, tapi kau selalu saja menolakku. Apa karena kau masih mengharapkan orang yang sudah menyakitimu itu?" Kedua tangan Nathan terkepal di samping tubuhnya.
Tidak ada jawaban dari mulut gadis itu.
"Sulit di percaya," Nathan mengacak rambutnya kemudian meninggalkan Elena yang masih menangis dalam diam.
Nathan meninggalkan apartemen tersebut dengan hati yang seperti di remas. Ia kecewa, ia terluka gadis yang di cintainya justru masih mencintai mantan berengseknya itu.
"Ia adalah milikku. Siapapun akan ku singkirkan jika menghalangi jalanku!" Kata Nathan sambil menyalakan mesin mobil.
Mobil mewah itu melaju kencang membelah jalanan yang sudah tampak sepi karena sudah memasuki tengah malam. Nathan mengarahkan mobil tersebut menuju mansion megahnya. Ia harus menjauh dari Elena di saat suasana hatinya sedang kacau. Nathan tidak ingin sampai menyakiti gadis itu karena emosi yang sedang mendominasinya.
Nathan memasuki pelataran mansion, menghentikan mobilnya di depan pintu utama. Ia keluar dari mobil dengan tangan meneteskan darah segar. Nathan mengorbankan tangan tersebut untuk melampiaskan amarahnya. meninju kaca depan mobil hingga retak.
Dengan wajah tanpa ekspresi Nathan membawa langkahnya memasuki kamar utama dan mendapati Sisil yang sudah tertidur pulas di atas kasur.
CEO tampan itu membasuh tangan yang penuh darah dengan air mengalir. Nathan membersihkan sisa darah itu tanpa menunjukan raut kesakitan, karena rasa sakitnya sudah berkumpul menjadi satu di dalam hati. Hanya dengan membungkus asal luka tersebut, Nathan menghampiri sang istri. Tanpa aba-aba Nathan menerjang tubuh Sisil yang tengah tertidur untuk menjadi pelampiasan napsu sesaatnya.
----------
Next Chapter》
■■■
■■■
__ADS_1