
Tiba di kampus Elena berjalan menyusuri koridor menuju ruang kelasnya.
ELENA !!!!
Seorang gadis menubruk tubuh Elena cukup kuat, membuat Elena terhuyung ke belakang ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Aku merindukanmu," kata Melda yang tidak lain sahabat Elena sejak kuliah semester pertama. memiliki nama panjang Imelda Nasution.
"Mulai lagi lebaynya!" balas Elena sambil memutar bola matanya jengah.
Hanya di balas Melda dengan cengiran bodoh.
"Tumben sendiri, di mana kekasihmu yang tampan itu?" Tanya Melda.
"Entahlah, hari ini aku belum mendapat kabar darinya!" Jawab Elena dengan nada malas.
Sejak tadi Elena mencari keberadaan Arsen, tapi pemuda tersebut belum terlihat batang hidungnya. Ponselnya juga tidak bisa di hubungi, membuat Elena khawatir.
"Jangan-jangan sedang berkencan dengan gadis lain!" Tebak Melda asal.
"Jangan jadi kompor, Arsen sudah cinta mati denganku tidak mungkin ia berpaling dariku." jawab Elena menyombongkan dirinya.
"Ya ya... terserah kau saja,"
Mereka segera masuk ke kelas masing-masing mengikuti mata kuliah yang akan segera berlangsung.
Elena tidak fokus dengan apa yang sedang di terangkan oleh dosennya. Kalau Nathan seperti itu terus, mungkin lama-lama ia akan terjerat dengan pesona pria itu. Hanya itu yang di pikirkan Elena sejak tadi
Pria dengan segudang kekayaan, wajah rupawan, bentuk tubuh yang Uhh! Dengan perut kotak-kotak dan tubuh berotot namun terlihat pas. Membayangkan itu perut Elena terasa melilit. Suara pintu terbuka menyadarkan lamunan kotor gadis itu, ternyata mata kuliah ke dua sudah selesai.
"Aku sudah tertular virus mesumnya si tua Nathan!" Gumam Elena.
Elena membawa langkahnya menuju gerbang depan kampus untuk menghentikan taksi sebab mata kuliahnya telah usai. Hari ini ia tidak membawa mobil sendiri, karena Nathan yang mengantarnya.
Tiba di tengah jalan Elena di hadang oleh Melda. Gadis itu meminta Elena untuk menemaninya mencari hadiah ulang tahun untuk keponakkannya. Elena langsung mengiyakan ajakan dari sahabatnya itu.
"Woahhh!" Pekik Melda dengan keras.
"Apa yang kau lakukan? segera tutup mulutmu! Dasar kampungan, Memalukan!" Berbagai umpatan Elena layangkan kepada Melda.
Melda meringis sambil menggaruk lehernya. "Sorry, aku kelepasan."
__ADS_1
"Semua orang menatap kita gara-gara teriakanmu itu, bodoh!" kata Elena memarahi Melda.
"Aku sudah lama tidak pergi berbelanja, saat aku melihat deretan baju ini membuat jiwa belanjaku langsung bangkit." Jelas Melda membela dirinya.
"Memang pacar Bule-mu itu sekarang sudah berubah melarat, sehingga tidak bisa mengajakmu belanja!"
Melda masih sibuk memilih-milih baju yang menurutnya bagus. "Aku sudah tidak bersama dengannya!" Jawab Melda datar.
"Benarkah? Kau tidak memberitauku sebelumnya!"
"Ia sudah kembali ke negara asalnya dan memutuskanku begitu saja, tapi aku juga tidak terlalu perduli. Dan sepertinya aku juga sudah mendapat calon penggantinya!" Ucap Melda ringan.
Elena menaikan sebelah alisnya." Siapa?"
"Nathan Wijaya pamanmu yang seksi itu!" Seru Melda yang langsung di hadiahi jitakan di kepala dari Elena.
"Dasar sinting! Uncle sudah beristri masih mau kau embat juga." Kata Elena tidak habis pikir pada temanya itu.
"Hahahaha! aku siap menjadi istri ke duanya." Jawab Melda sambil menjauh dari Elena sebelum sahabatnya itu menonjok bibirnya.
Elena menatap Melda dengan horor.
"Aku hanya bercanda, El. jangan menatapku seperti itu! Kau terlihat sangat menyeramkan!" Canda Melda sambil terkikik pelan.
Melda terlahir dari keluarga biasa. Ia bisa kuliah karena mendapat beasiswa sedangkan untuk membiayai kehidupanya sehari-hari ia biasa menjadi parasit pada pria-pria yang di pacarinya.
"Tapi aku penasaran dengan reaksi Uncle Nathan apabila ku goda!" Kata Melda tampak berpikir.
"Jangan coba-coba mengodanya!" Jawab Elena dengan wajah seriusnya.
"Aku tidak akan berani berbuat seperti itu. Bukannya tergoda malah aku yang akan di lempar keluar!" Balas Melda sambil terkekeh.
Mereka membawa beberapa potong pakaian yang akan di beli ke meja kasir, yang sudah mereka coba sebelumnya. hadiah yang mereka cari juga sudah di dapat. setelahnya tinggal pulang karena hari sudah menjelang sore.
"Pelan-pelan El," kata Melda, terlihat kerepotan dengan membawa lima paper bag dengan lambang barand terkenal. "Kau mau membawaku kemana?" Tanya Melda lagi.
"Ke mansion, kau akan menginap di sana malam ini!" Kata Elena tanpa mau di bantah. Elena menjalankan mobilnya menuju mansion mewah Nathan.
"Oh ya... terima kasih sudah membayar semua belanjaanku!" Ucap Melda dengan wajah sumeringahnya. Jarang-jarang Elena mau membelikan baju sebanyak itu untuknya.
Beberapa saat kemudian...
__ADS_1
"Mbak Leny ke mana? dari tadi pagi aku tidak melihatnya," tanya Elena sambil mengaduk coklat panas di dalam mug.
"Ia libur beberapa hari. Pulang ke kampung karena orang tuanya sakit. Kemarin saya tidak sengaja mendengar saat ia meminta izin pada Tuan!" Jelas Mbak Mia.
Elena hanya ber oh ria.
"Saya permisi dulu Nona! mau mengerjakan yang lain." Pamit Mia lalu segera pergi, setelah mendapat anggukan dari Elena.
Tiba-tiba sepasang lengan kekar memeluknya dari belakang. Tubuh Elena menegang di tempat, ia sudah tau siapa orang yang sudah berani memeluknya dari aroma parfun yang melekat pada tubuh pria itu.
"Lepaskan aku, Uncle! Bagaimana kalau ada yang melihat?" kata Elena dengan gugup.
"Tidak akan ada yang melihat," bisik Nathan.
"Kau mau apa?" Tanya Elena dengan wajah risihnya.
Dengan mengendus leher samping Elena, Nathan berbisik "Aku mau kau, El!" yang langsung membuat Elena memutar tubuhnya mengadap Nathan.
"Apa maksud Uncle?"
"Aku mencintaimu!" Ujar Nathan dengan lembut, menatap wajah Elena dengan sorot mata teduh.
"Apa Uncle sedang mabuk atau kepala Uncle tadi sempat terbentur sesuatu?" Tanya Elena memastikan bahwa ucapan Nathan hanya sebuah candaan.
"Tidak. aku serius mengatakan itu!" Jawab Nathan.
Elena bingung mau menjawab bagaimana. Nathan suami Bibi nya ia tidak mau menyakiti hati Sisil walau bagaimanapun Sisil yang sudah merawatnya selama ini.
"Kau hanya terobsesi padaku, dan akan segera meninggalkan ku di saat kau sudah bosan nanti!" Balas Elena menggelengkan kepalanya. "Uncle sudah beristri tidak seharusnya Uncle mengatakan itu. Bagaimana perasaan Bibi kalau tau Uncle mencintai keponakannya sendiri?" Kata Elena dengan pelupuk mata yang mulai berair.
"Bukan obsesi yang aku rasakan tapi cinta!" ucap Nathan dengan yakin. "Dan aku tidak perduli dengan perasaan siapapun."
"Argh! aku rasa Uncle sudah gila!" Kata Elena mendesah frustasi.
"Katakan lah aku gila, memang itu kenyataanya aku sudah tergila-gila padamu sejak lama!" Jawab Nathan santai.
Elena hanya diam, ia tidak tau harus menjawab apa lagi. ia tau pamannya itu hanya terobsesi padanya. ia hanya perlu bersabar menjadi kekasih gelap Nathan, hanya sementara yakin Elena dalam hati. pria itu tidak mungkin serius dengan hubungan yang sedang mereka jalani. Elena membayangkan seandainya Sisil mengetaui semua ini, bagaimana nasib dirinya nanti.
"Tunggu aku nanti malam, Sayang!" Suara Nathan tepat di telinga Elena, lalu beranjak menjauh.
Elena menatap Nathan yang semakin menjauh dari pandangannya dengan tersenyum licik.
__ADS_1
----------
Instagram : @alona.diandra18