Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 20


__ADS_3

Nathan memasuki mansion mewahnya dengan langkah lebar. Tanpa menyahut sapaan dari para pelayan yang menatap heran kepadanya. Wajah keras Nathan membuat semua penghuni mansion tertunduk takut. Pria itu mencari keberadaan Sisil yang tidak tampak batang hidungnya.


"Di mana Sisil?" Tanya Nathan pada kepala pelayan.


"Nyonya baru saja keluar, Tuan." Jawab kepala pelayan dengan kepala menunduk.


"Shit!"


Nathan memutar tubuhnya lalu pergi keluar dari mansion. Menaiki mobil sambil menelpon Leo yang lama sekali menjawab panggilannya.


"Cari keberadaan Sisil melalui GPS ponselnya. Aku beri waktu 5 menit dari sekarang."


Sambil mencengkram erat kemudinya, Nathan melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Suasana hatinya benar-benar sangat buruk, bangun di pagi hari dan mendapati kekasihnya pergi begitu saja tanpa pamit, tanpa meninggalkan pesan perpisahan untuknya. Nathan melakukan berbagai cara untuk menemukan keberadaan Elena. Seluruh anak buahnya sudah ia kerahkan. Tersebar di penjuru kota.


Nathan menerima pesan dari Leo, titik di mana Sisil berada. Pria itu mungkin sedang kesal karena di tengah kesibukannya meeting dengan beberapa petinggi harus di ganggu oleh tuannya yang sedang sensitif. Nathan segera menuju lokasi tersebut.


Setengah jam kemudian, Nathan sudah tiba di sebuah gedung yang ternyata sebuah apartemen biasa. Ia belum tau Sisil berada di unit mana. Dengan kekuasaan yang ia miliki, Nathan meminta pihak gedung memperlihatkan rekaman cctv beberapa waktu yang lalu kepadanya. Dan tampak dengan jelas Sisil memasuki gedung tersebut dengan seseorang. Uang sangat membantunya, karena dengan mudahnya ia mendapatkan kunci cadangan unit apartemen di mana Sisil berada.


Nathan di kawal beberapa pria berbaju hitam dengan tubuh yang terlihat kekar memasuki apartemen sempit yang jauh dari seleranya. Nathan melangkah tanpa suara, matanya berputar mencari sosok yang sedang di carinya. Ia membuka dengan kasar pintu coklat yang sudah reot. Sepasang kekasih yang sedang memadu cinta tersentak dari kegiatan panasnya. Akibat kehadiran Nathan yang tidak mereka duga sebelumnya.


"Sepertinya aku mengganggu kesenagan kalian!" Kata Nathan tersenyum sinis.


"N-Nathan, apa yang kau lakukan di sini?" Sisil berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut, karena di belakang suaminya berdiri beberapa pria berbadan besar tengah menatap kearahnya.


Nathan tertawa sumbang. "Menangkap basah istriku yang sedang berselingkuh dengan pria lain, mungkin!" Nathan mendekat ke arah Sisil. "Tapi bukan itu tujuanku mencarimu ke sini, honey."

__ADS_1


"Lalu?"


"Di mana kau sembunyikan Elena?" Tanya Nathan, manik matanya menatap tajam Sisil.


"A-aku tidak tau."


"Jangan bohong! Kau yang menyuruhnya pergi kan? Kau pasti tau Elena pergi ke mana."


"Kau tau dari mana kalau aku yang menyuruhnya?"


"Pesan yang kau kirim untuknya. Jadi, katakan di mana Elena saat ini?" Suara Nathan sedikit meninggi.


Sisil menggelengkan kepalanya sambil menunduk.


"KAU SEMBUNYIKAN DI MANA KEKASIHKU!" Bentak Nathan dengan urat wajah yang menegang.


Tangan Nathan mencengkram kuat rahang Sisil. "Berengsek, wanita sialan! Aku akan membuat perhitungan denganmu, karena kau sudah berani mencampuri urusanku."


"Itu karena aku tidak mau kehilanganmu. Aku ingin mempertahankan apa yang sudah menjadi milikku. Meski harus menyingkirkannya sekalipun." Cetus Sisil dengan megarahkan matanya ke wajah Nathan.


Nathan tertawa mengejek. Melipat kedua tangannya di dada. "Kau pikir aku akan mempertahankan pernikahan ini di saat Elena tidak ada, jangan harap!" Kata Nathan penuh penekanan. "Aku semakin meragukan anak dalam kandunganmu itu setelah melihat dengan mata kepalaku sendiri kau tidur dengan pria lain." Nathan menatap jijik pada Sisil dan juga pria yang berada di samping wanita itu.


Sisil terdiam, bibirnya terasa kelu. Kebusukannya sudah di ketahui oleh Nathan. Ia sudah tidak bisa berkutik ataupun menyangkalnya lagi.


"Karena selama ini kau tidak pernah menganggapku ada. Aku kesepian di tengah ketidak perdulianmu terhadapku."

__ADS_1


"Aku menikahimu hanya karena rasa kasihan, ku ulangi sekali lagi hanya karena rasa kasihan tidak ada perasaan apa-apa lagi setelahnya. Tapi sepertinya kau sangat menikmatinya, tidak tampak wajah tersiksamu selama ini. Justru rona bahagia yang terpancar jelas dari wajahmu, apa lagi saat menerima black card dariku. Tanpa ku suruh kau dengan mudahnya menghambur-hamburkan uangku untuk kesenganmu." Nathan berkata sarkas.


Sisil mengatupkan bibirnya.


"Sangat tidak berguna datang ke tempat ini, hanya membuang-buang waktuku saja." Nathan melangakah menuju pintu, namun ia segera berhenti tanpa membalik tubuhnya. "Mulai saat ini aku sudah menceraikanmu. Kau hanya tinggal menunggu surat resmi dari pengadilan. Dan jangan lupa segera tinggalkan mansion mewahku. Aku tidak sudi menampung wanita kotor sepertimu." Tutur Nathan dengan tanpa beban.


Mendengar itu Sisil menatap punggung Nathan dengan bibir membulat dan tubuh semakin bergetar hebat. Ia sudah di singkirkan dari kehidupan Nathan, ia akan kembali hidup melarat seperti dulu.


"Nathan, jangan lakukan itu!" Teriak Sisil yang tidak di hiraukan oleh Nathan.


Nathan membawa mobilnya berputar-putar mengelilingi kota. Sudah hampir tengah malam ia belum juga mendapat kabar tentang Elena. Gadis itu hilang bagai di telan bumi. Sangat sulit mencarinya karena sama sekali tidak ada petunjuk ke arah mana kekasihnya itu pergi.


"Kenapa kau harus pergi, El? Padahal aku rela melakukan apapun agar membuatmu tetap berada di sisiku. Aku harus mencarimu ke mana? Aaarrghhh...!" Nathan meninju berkali-kali bagian depan mobil.


Ingatan tentang malam itu terus berputar di kepala Nathan. Elena bersikap manis dan terlebih ia rela memberikan kesuciannya, karena gadis itu memang sudah merencanakan kepergiannya. Ia memberi kenangan manis sebelum beranjak dari sisinya. Nathan tertawa miris. Air mata yang tidak pernah Nathan keluarkan kini dengan lancang menetes tanpa henti, mewakili rasa perih yang sedang menggerogoti relung hatinya yang sudah berubah menjadi serpihan.


"Sayang, bagaimana aku harus menjalani hariku tanpa kehadiranmu. Kau sungguh tega menempatkanku pada situasi seperti ini." Nathan sudah menepikan mobilnya. Ia membenamkan wajahnya di atas kemudi. Isakkan pelan terdengar dari pria yang biasanya tampak gagah dengan segala yang di milikinya. Namun semua itu tidak ada artinya tanpa adanya orang yang di cintai. Separuh jiwanya pergi menyisakan kehampaan yang menyiksa.


Pencarian hari ini tidak ada hasil. Nathan kembali ke aparteman yang sebelumnya ia tinggali bersama Elena. Langkahnya terasa berat untuk memasuki ruangan tersebut. Tersimpan kenangan manis bersama Elena yang tidak pernah terlupakan oleh Nathan.


Pria itu memasuki kamar dengan pundak merosot turun. Ia membaringakan tubuhnya di atas kasur yang biasa di tempati Elena. Masih tercium aroma tubuh Elena di sana, membuat rasa rindu Nathan semakin memuncak. Rasa resak Nathan semakin menjadi membuat dirinya sulit hanya sekedar untuk bernapas.


----------


Next Chapter》

__ADS_1


Bagaimana untuk chapter ini? Apa kesedihan Nathan bisa kalian rasakan?


Peluk sayang dariku 😙


__ADS_2