Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 11


__ADS_3

Sudah beberapa hari Elena terjebak dalam gelombang kehampaan yang begitu menyiksa. Pagi ini ia berkeinginan keras untuk bangkit dari keterpurukan. Elena akan membuktikan bahwa ia bisa melewati cobaan itu.


Gadis itu membawa tubuhnya memasuki kamar mandi, seharian ini ia sampai lupa belum mandi sama sekali. Elena menyalakan shower air hangat untuk membasahi rambut panjangnya hingga ke dasar tubuh. Elena menutup mata menikmati rintik air yang jatuh menimpa wajahnya memberikan sensasi pijatan yang lembut. Sepasang tangan merayap dari belakang pinggang hingga ke depan perut rata gadis itu. Elena sontak menarik tubuhnya ke depan. Berusaha melepas sepasang lengan yang merengkuhnya posesif.


"Lepaskan aku!" Pekik Elena kuat.


Nathan melepas tautannya membiarkan Elena bergerak mundur hingga punggung wanita itu membentur dinding di belakangnya. Elena membelalakkan mata melihat tubuh polos Nathan. Sejak kapan pria mesum ini masuk? Pikirnya karena ia tidak mendengar suara pintu terbuka.


"Kau mau apa?" Tanya Elena dengan suara bergetar memalingkan wajahnya ke samping dengan kedua tangan berusaha menutupi area pribadinya.


"Mandi bersamamu!" Jawab Nathan dengan tatapan mesumnya.


Belum sempat Elena membalas, Nathan sudah lebih dulu menerjang tubuh mungil itu. Membungkam bibir Elena dengan ciuman panas. Mereka larut dalam gairah, saling merindukan satu sama lain. Nathan melepaskan ciumannya memandang Elena dari jarak dekat hingga hidung mereka saling bersentuhan. "Aku merindukanmu, jangan terlalu mengabaikanku." Ucap Nathan terengah.


"Aku mohon jangan lakukan itu!" kata Elena badannya sudah mulai gemetar.


"Jangan khawatir aku tidak akan melakukannya sekarang." tutur Nathan mengelus rahang gadis itu.


Elena menelan ludahnya kasar dengan jantung bedetak cepat.


Elena duduk di depan meja rias, suara bising dari mesin hair dryer memenuhi ruang kamar tersebut. Nathan berdiri di belakang Elena menyilangkan tangannya di depan dada memperhatikan Elena dari pantulan kaca.


"Kenapa kau berdiri di sana?" Tanya Elena menghentikan aktivitasnya memandang Nathan dari kaca.


Nathan mengulas senyum, "Mungkin aku bisa membantu. Kau tinggal duduk diam biar aku yang mengeringkan rambutmu."


"Tidak perlu aku bisa sendiri!" Jawab Elena datar.


"Kau masih marah padaku?"


"Tidak," kata Elena ketus sambil menyisir rambut yang masih setengah basah.

__ADS_1


"Tapi sikapmu masih tidak acuh terhadapku, setiap ku ajak bicara kau menjawabnya dengan ketus!" kata Nathan dengan tangan terkepal.


"Aku yang seharusnya bisa bersenag-senang di luar sana dengan temanku atau mungkin kekasihku tapi harus terkurung di sini bersamamu dengan segala kemesumanmu."


"Apa salahku hingga kau berkata seperti itu?"


Tatapan mereka bertemu. "Aku ingin terbebas darimu."


"Itu hanya akan terjadi dalam mimpimu. Selama aku masih bernapas, tidak akan aku biarkan kau pergi dari sisiku walau hanya selangkah sekalipun!" Wajah pria itu tampak mengeras.


"Lelucon macam apa itu, sampai kapan aku harus menjadi simpananmu?" Elena mendekati Nathan yang masih berdiri.


Nathan mengusap rahangnya yang terasa kasar, "sampai waktu yang belum bisa aku tentukan. Bersabarlah aku pasti akan menikahimu!" Balas Nathan tegas.


Elena menaikkan tatapannya. "Lalu Aunty mau kau ke manakan?" Menatap nyalang wajah Nathan.


"Asal kau tau sejak awal aku tidak mencintai wanita itu. Kami menikah karena suatu hal yang membuat ku mau tidak mau harus mengikatnya dalam hubungan pernikahan." Jawab Nathan.


"Suatu hal yang seperti apa? kalau Uncle mau bercerita padaku mungkin aku akan mempertimbangkan lagi hubungan kita." Elena mulai tertarik dengan perkataan Nathan yang masih ambigu.


"Aunty selalu menagis setiap hari. Bahkan setiap malam aku ikut menagisinya karena tangisan pilu Aunty terdengar hingga ke kamarku." Mata Elena mulai memerah.


Nathan mengusap wajahnya, "Aku sangat merasa bersalah dengan adanya kejadian tersebut. Aku berkendara dalam keadaan mabuk saat itu, tanpa sadar diriku menaberak Sisil teman baikku saat kuliah dulu. Karena rasa bersalahku itu aku memutuskan untuk menikahi Sisil tanpa ada perasaan apapun di dalamnya. Aku berpikir mungkin seiring berjalannya waktu perasaan cinta akan muncul dengan sendirinya. Namun aku salah parasaan itu muncul bukan untuk dirinya tapi untuk dirimu."


"Tapi kalau pada akhirnya hanya harapan palsu yang kau berikan pada Aunty, itu akan lebih menyakitinya."


Nathan mendesah ringan. "Waktu itu aku tidak berpikir hingga ke sana. Ia selalu mengeluh padaku bahwa tidak akan ada laki-laki yang mau dengannya kalau mengetahui ia tidak bisa memberikan keturunan." Nathan berdehem menormalkan kembali suaranya. "Sisil tidak bisa mengandung itu karenaku jadi aku bertekat untuk menikahinya, untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku."


"Dan sekarang Uncle malah menghianatinya, dengan berselingkuh denganku! Bagaimana dengan perasaan Aunty kalau mengetahui semua ini? Ia akan lebih hancur lagi." Kata Elena sambil mengusap air matanya.


"Aku sudah tidak perduli!"

__ADS_1


Elena membulatkan matanya. "Maksud Uncle?"


"Aku pernah melihatnya bermesraan bersama seorang laki-laki, mungkin itu kekasihnya."


Mendengar ucapan Nathan itu membuat Elena mendongak menatap Nathan yang berdiri dari duduknya memandang keluar melalui jendela. "Mungkin itu temannya. Tidak mungkin Aunty berselingkuh di belakangmu!"


"Dari yang ku lihat tidak seperti itu."


Elena menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Tapi aku belum sepenuhnya mempercayaimu. Bisa saja Uncle cuma membual hanya untuk membodohiku!"


"Suatu saat kau akan tau kebenarannya. Dan di saat itu terjadi kau tidak punya alasan lagi untuk menolakku!" ucap Nathan tersenyum miring.


Dengusan terdengar dari bibir gadis itu. "Di saat itu terjadi mungkin aku sudah menemukan kekasih baru. Mana mungkin aku mau di nikahin pria tua sepertimu!" Elena tergelak.


Nathan melayangkan tatapan tajamnya.


"Memang diriku setua apa?"


"Asal Uncle tahu kita itu berbeda generasi. Usia kita terpaut 18 tahun. Kau masih ingin bertannya setua apa dirimu!"


"Usia tidak masalah untukku yang terpenting aku mencintaimu." Ucap Nathan di samping telinga gadis itu.


"Tapi itu jadi masalah untukku. Apa kata teman-temanku jika mereka tau aku memiliki hubungan dengan pria tua? Aku akan di cap penyuka om-om."


Nathan tertawa terbahak mendengar penuturan Elena. "Kalau om-omnya seperti ku tidak akan ada yang bisa menolaknya, bayi baru lahir pun merengek minta ku cium."


Elena mendengus sebal menanggapi kesombongan diri di atas rata-rata pria itu.


"Aku tau di dalam hati kau selalu mengagumiku, tapi mulutmu saja yang selalu berkata sebaliknya." Ucap Nathan.


Pipi Elena langsung blushing mendengar penuturan Nathan yang memang benar adanya. Pesona pria itu memang tidak bisa di sepelekan. Dengan sekali senyum para wanita langsung berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatiannya.

__ADS_1


----------


Next Chapter》


__ADS_2