
"Karenamu aku kehilangan dirinya lagi. Seperti janjiku aku akan melenyapkanmu detik ini juga," desis Nathan. Tangannya mencekik kuat leher Jessica.
Wanita itu meronta-ronta di atas tempat tidur, ia berusaha melepas tangan Nathan di lehernya. Jessica menatap Nathan dengan wajah tersiksanya. Ia kesakitan dan dadanya sudah mulai sesak karena tidak ada oksigen yang masuk ke tubuhnya.
"To.. lo.. ng,-" Jessica terbata, ia tidak mampu berkata-kata. Kepalanya sudah mulai pening.
Nathan tidak perduli ia terus menekankan tangannya di leher wanita itu. Iblis dalam dirinya sudah sepenuhnya mengambil alih raganya. Biar saja ia menjadi seorang pembunuh yang terpenting ia mendapatkan kepuasan tersendiri dengan menghabisi seseorang yang sudah berani mengacaukan hidupnya.
"Bersabarlah sebentar lagi nyawamu akan terlepas dan kau tidak akan merasakan sakit lagi." Nathan tertawa seram.
Jessica melebarkan matanya dengan mulut terbuka. Napas Jessica mulai tersengal-sengal. Bibirnya sudah tampak membiru. Jessica pasrah kalau sekarang ia harus mati di tangan Nathan. Tidak ada yang bisa di perbuatnya, mungkin hanya sampai di sini garis kehidupannya. Jessica terlihat mengerakkan mulutnya seakan sedang berbicara sesuatu. Nathan melihat itu hanya tertawa seperti orang tidak waras.
"Apa kau sudah melihat malaikat pencabut nyawa hadir di sini?" Nathan tertawa cekikikan melihat Jessica yang perlahan memejamkan mata. Tubuh wanita itu melemas.
"Akhirnya kau mati juga, hahahaha." tawa Nathan mengelegar di dalam apartemen milik Jessica.
Nathan memang benar-benar sudah tidak waras. Ia meninggalkan Jessica yang sudah terbujur kaku di dalam kamarnya. Nathan melenggang keluar sambil menelpon orang suruhannya untuk membereskan kekacauan yang telah ia buat. Langkah kaki Nathan ringan saat pergi dari apartemen itu, seperti tidak terjadi apa-apa padahal ia baru saja melenyapkan satu nyawa.
Tiba di parkiran Nathan memasuki mobil sport-nya lalu membuka sarung tangan, topi, dan jaket kulit berwarna hitam, ia meletakan benda itu ke dalam kantung plastik dan akan langsung membakarnya setelah tiba di mansion nanti.
■■■■■■
Keesokan harinya.
Seperti biasa Nathan akan pergi ke perusahaan melakukan tanggung jawabnya sebagai Owner sekaligus CEO di sana. Ia harus memulai kehidupan barunya tanpa Elena. Wanita itu lebih memilih bersama pria lain yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Mengingat itu Nathan mencengkaram kuat kemudinya.
Tiba di depan lobi Nathan melempar kunci mobilnya pada security yang berjaga di sana. Wajah tanpa ekspresi ia tunjukan di depan para karyawannya. Suasana hati Tn. Wijaya sedang buruk, kalau ada yang berani memancing emosinya mungkin ia akan langsung mengeluarkan taringnya.
"Selamat pagi, Sir!" sapa salah satu petinggi di perusahaan itu.
Nathan meneruskan langkahnya tanpa berhenti ataupun sekedar menengok.
__ADS_1
Ruang kerja yang sudah ia design senyaman mungkin masih tetap membuatnya sesak. Nathan melongarkan dasi yang terasa mencekik lehernya lalu menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya sambil memijat kuat pelipisnya.
Sekertaris Nathan memasuki ruangan dengan membawa sebuah benda kotak berwarna gold.
"Selamat pagi, Sir! Saya hanya ingin menyerahkan sebuah undangan yang di kirim untuk Anda." kata wanita itu.
"Letakkan di atas meja."
"Baik, Sir." Undangan itu tergeletak di atas meja, "ya sudah, saya permisi."
Nathan hanya bungkam.
Beberapa menit terdiam Nathan melirik undangan yang berada tidak jauh darinya. Ia meraih benda itu, dan ia merasa kenal betul dengan undangan berwana gold yang sedang ia pegang. Nathan langsung melempar undangan tersebut ke tempat sampah tanpa membacanya terlebih dahulu. Ia muak, sakit, dan kecewa.
Laptop di atas meja menjadi sasaran Nathan. Pria itu melemparnya tak tentu arah hingga berakhir di lantai setelah terhempas ke dinding. Laptop tersebut rusak parah hingga patah dan pecah di beberapa bagian.
"Aaaarrrrrgh," Nathan menjambak rambutnya dengan kedua tangannya. Ia mulai hilang kendali.
■■■■■■
Selesai melakukan fitting baju pengantin Rega dan Elena melanjutkan perjalanannya menuju tempat makan yang ada di dekat sana. Mereka tampak mesra selayaknya pasangan kekasih yang saling mencintai. Elena berusaha membuat dirinya nyaman berada di dekat calon suaminya itu.
"Ayo!" Rega mengulurkan tangannya agar di genggam Elena.
Mereka memasuki restoran jepang yang terkenal enak di kota itu. Rega mengapit tangan Elena di lengannya, mereka terlihat serasi warna baju mereka juga senada, biru laut.
Elena tertawa saat Rega menggodanya. Tangan Elena mencubit pelan perut Rega yang terasa keras. Ia kesal saat Rega terus berkata kalau ia mencintainya, Elena malu kalau ada pengunjung lain yang mendengar.
"Hentikan ucapanmu itu, Rega! Banyak orang yang menatap kita." kata Elena sambil memanyunkan bibirnya.
"Tidak apa-apa biar mereka tau kalau aku mencintaimu,"
__ADS_1
"Ish..."
Mereka memilih duduk di bagian tengah. Rega menarik kursi untuk di duduki Elena sedangkan Rega mengambil duduk di depan Elena, mereka saling menghadap.
Keduanya melewati makan siangnya sambil berbincang mengenai persiapan pernikahan mereka yang akan di laksanakan lusa. Elena tersipu saat Rega mengucapkan kata-kata manis untuknya. Saat sedang bersama Rega, dan pria itu mengeluarkan keahliannya yaitu megeluarkan humor-humor ngakaknya Elena bisa melupakan sejenak sosok Nathan yang masih saja membuat sesak di dadanya.
"Perutku sampai sakit karena menertawai perkataan absrud mu. Secara tidak sadar aku sudah menghabiskan 2 gelas lebih lemon tea, aku sudah merasa begah." aku Elena.
"Aku hanya bercerita kau saja yang terlalu semangat mendengarkannya." Rega menjeda ucapannya, "habis ini kita mau ke mana lagi?"
"Emm, pulang saja. Tidak ada tempat yang ingin ku kunjungi,"
"Kau yakin? Kita masih punya banyak waktu, sampai rumah nanti paling kau cuma pergi tidur hingga pagi."
"Aku ikut denganmu saja kalau begitu,"
Mereka pergi setelah merasa cukup berada di sana.
Tidak Elena ketahui semenjak tadi Nathan berada di sana. Melihat semua yang dilakukannya bersama Rega.
Panas, kesal, cemburu yang saat ini Nathan rasakan. Ia sengaja tidak menunjukan dirinya di depan Elena karena ia sudah berjanji pada gadis itu kalau ia tidak akan menemuinya lagi. Nathan sakit melihat Elena yang tampak bahagia bersama calon suaminya. Tidak ada tanda-tanda mantan kekasihnya itu bersedih atas perpisahan yang menimpa hubungannya.
Kalau saja saat ini Nathan tidak berada di temapt umum dan bersama klient mungkin ia akan membanting semua benda yang ada di dekatnya. Tapi ia masih punya harga diri yang harus ia junjung tinggi. Ia orang penting dan berpengaruh di negara itu akan sangat memalukan kalau ia sampai mengamuk.
Mata tajam Nathan menyorot punggung pasangan baru itu yang akan meninggalkan restoran. "Aku akan menghancurkan balik kalian. Perpisahan harus di balas dengan perpisahan." seringaian tampak dari bibir Nathan.
Ia mampu memebunuh wanita yang berani menghancurkannya. Mungkin laki-laki yang akan menikahi pujaan hatinya akan berakhir sama dengan wanita itu.
"Tunggu saja tanggal mainnya." desis Nathan seperti psikopat yang sedang mengintai korbannya.
----------
__ADS_1
Next Chapter》》