Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 7


__ADS_3

Elena mondar-mandir dengan gelisah menunggu kedatangan Nathan. Sudah hampir tengah malam pria itu belum juga menampakkan dirinya. "Dasar pembohong ulung." batin Elena memaki Nathan. Elena sudah menahan lapar sejak tadi. Ia di kurung di dalam apartemen sebesar itu tanpa adanya makanan, hanya ada satu botol besar air mineral di atas meja. Lama-lama ia bisa kembung jika kebanyakan minum.


Elena melirik jam berkali-kali, berpikir sejenak untuk meminta tolong pada seseorang, tapi siapa? Elena mendesah frustasi. Cacing di dalam perutnya sudah berdemo dengan anarkis, ia menghentakan kakinya keluar dari kamar menuju dapur. Elena sudah tiga kali memasuki dapur, ia berharap ada keajaiban datang menolongnya dengan tiba-tiba ada sepotong roti atau sebungkus mie instan, pikirnya konyol.


"Dasar Uncle sialan!" maki Elena setelah berulang kali mencoba menghubungi Nathan tapi ponselnya tidak aktif.


"Apa gunanya punya ponsel mahal kalau tidak berguna sama sekali!" Gerutu Elena dengan kesal.


Ia mendudukkan dirinya di sofa sambil menekan-nekan tombol remote mencari channel yang menurutnya bagus. tapi yang ia temukan hanya acara sepak bola yang tidak di mengertinya.


Beberapa jam berlalu Elena sampai tertidur di atas sofa. Sepasang lengan kekar membopongnya masuk ke dalam kamar dan menurunkannya di atas ranjang dengan hati-hati. "Maafkan aku sudah terlambat pulang," ucap Nathan lirih masih mengamati wajah gadis itu yang tertidur pulas.


Nathan mengayuhkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia seharusnya sudah kembali sejak sore tadi tapi ada pertemuan mendadak dengan beberapa client, sehingga membuat Nathan harus kembali larut malam.


Pintu kamar mandi terbuka memunculkan Nathan yang hanya melilitkan handuk di pinggulnya. Ia menoleh ke arah ranjang mendapati wanita itu masih tertidur di sana.


Selesai mengenakan pakaian Nathan naik ke atas ranjang, ikut masuk ke dalam selimut memeluk tubuh ramping Elena lalu memejamkan matanya. Baru saja akan masuk ke alam tidur, Nathan harus membuka kembali matanya karena Elena mencoba melepaskan rengkuhan tangannya.


"Diam El, tidurlah sebelum aku menidurimu!" kata Nathan dengan suara berat.


"Kau dari mana saja?" ucap Elena kasar.


"Maaf aku meninggalkanmu terlalu lama, ada pertemuan mendadak yang memaksaku harus pulang larut." Jelas Nathan mengecup puncak kepala gadis tersebut.


Elena mengubah posisinya menghadap Nathan dengan meletakkan tangannya pada dada Nathan untuk memberi jarak, "Ponselmu juga tidak bisa di hubungi! Asal kau tau aku hampir mati kelaparan di sini." Jawab Elena sambil mengeratkan giginya.


"Astaga jadi kau belum makan sejak siang! Aku lupa kalau di sini belum ada bahan makanan karena aku jarang mengunjungi apartemen ini." Kata Nathan dengan wajah cemas.


"Mungkin kau memang sengaja ingin membunuhku."


"Apa yang kau katakan? Aku tidak mungkin sejahat itu," Nathan mengeratkan rengkuhannya pada pinggang Elena.

__ADS_1


Suara perut Elena membuat kedua nya terdiam, Nathan menatap wajah Elena yang bersemu merah sambil mengigit bibir bawahnya. Nathan mengecup singkat pipi gadis itu menyalurkan rasa gemasnya.


"Sepertinya kau perlu makan, aku tidak ingin kalau kau sampai pingsan karena kelaparan," ucap Nathan mengusap pelan pipi Elena. "Sebentar aku akan pesankan makanan untukmu!"


"Uncle aku takut kalau harus sendirian di sini," ujar Elena setelah melihat Nathan meletakkan ponselnya di meja.


Pria itu menaikkan sebelah alisnya, "aku sudah bilang padamu kalau aku akan sering menemanimu di sini!"


"Aku tidak mau, Aunty akan curiga kalau kau jarang pulang ke mansion."


"Itu urusanku kau tenang saja," jawab Nathan santai. "Aku akan memperkerjakan satu pelayan di sini untuk bersih-bersih dan memasak. Terutama untuk menemanimu saat aku tidak ada, mungkin lusa dia baru akan datang."


"Di sini hanya ada satu kamar, dia akan tidur dimana?"


"Dia tidak akan menginap----dia bekerja hanya sampai sore hari." Jelas Nathan.


Elena manggut-manggut mendengar penjelasan Nathan paling tidak ia punya teman jika harus berdiam diri di apartemen. Tapi apakah Sisil tau Elena tinggal di apartemen? Jawabannya ya, Nathan sudah memberitau istrinya tersebut.


"Sekarang aku sudah seperti simpanan sunguhan, Uncle!" Ujar Elena menatap nyalang Nathan.


"Uncle sudah punya istri, sebutan apa lagi yang pantas untukku selain simpanan!" Kata Elena pelan matanya sudah terasa panas.


Nathan duduk di depan Elena menggenggam kuat jemari gadis itu. Setetes air jatuh dari kelopak mata Elena ia merasa sangat hina.


"Maaf, aku sudah menarikmu ke dalam situasi yang sulit ini," Nathan mengusap air mata Elena. "Aku juga tidak berdaya, El!"


"Tapi nanti akan ada hati yang terluka, Uncle!"


"Jangan memikirkan tentang itu, yang terpenting aku akan selalu bersamamu."


Nathan menarik Elena ke dalam pelukannya mengusap lembut bahu Elena. Merasa cukup tenang Elena menjauhkan tubuhnya dari Nathan, menatap wajah Nathan sejenak.

__ADS_1


"Apa kau yakin akan selalu bersama ku? Sekarang yang ku punya hanya kau, aku yakin Aunty tidak akan mau menerimaku menjadi keponakannya lagi setelah tau aku menjadi wanita simpanan suaminya." Ungkap Elena dengan menatap sendu pria di depan nya.


"I'm promise, aku akan selalu ada untukmu apa pun yang terjadi, "ujar Nathan meyakinkan, "dan aku ingin meminta sesuatu darimu!"


"Se-sesuatu?" Kata Elena tidak mengerti.


"Aku ingin kau bisa menerimaku sebagai priamu bukan sebagai pamanmu!"


Elena mengatupkan bibirnya, ia tidak tau harus menjawab bagaimana. Ia belum memiliki perasaan untuk pria itu, ia menyayangi Nathan sebagai pamannya tidak lebih. Elena juga memikirkan Arsen kekasihnya, bagaimana kelanjutan hubungannya dengan pemuda itu jika ia menuruti permintaan Nathan.


"Aku tau ini akan sulit untukmu tapi aku mohon belajarlah mencintaiku!" Kata Nathan memegang kedua sudut bahu Elena.


Wanita itu menarik dan membuang napasnya pelan, "Aku belum bisa melakukan itu. Bagaimana dengan kekasihku kalau aku menyanggupi permintaanmu itu?" Jawab Elena dengan wajah masamnya. "Dan bagaimana dengan Aunty? aku juga memikirkan perasaannya."


"Kau selalu saja memikirkan mereka tapi tidak pernah memikirkanku sedikitpun!" Celetuk Nathan dengan tatapan yang sulit di artikan.


Tidak berapa lama suara bel terdengar, sepertinya itu kurir makanan yang mengantar pesanan Nathan. Elena melirik pada Nathan yang tidak memperdulikan suara bel yang sudah berbunyi berkali-kali, pria tersebut masih betah menatapnya dengan wajah mengeras.


"Uncle, sepertinya pesanan mu sudah datang!" Kata Elena dengan suara serak.


Tanpa kata pria itu melangkah ke luar dari kamar.


Nathan kembali ke kamar dengan membawa kantong plastik berisi makanan cepat saji. Ia meletakkan benda tersebut di depan Elena yang masih duduk bersila di atas tempat tidur.


"Cepat habiskan, dan segara pergi tidur."


"Kau tidak ikut makan!"


"Kau saja, aku tidak lapar!" Jawab Nathan dengan nada suara yang terdengar ketus.


Karena sudah sangat lapar Elena segera membuka kotak makanan itu sambil mencuri tatap dapa Nathan yang membaringan dirinya di atas sofa yang letaknya cukup jauh dari tempat tidur. Pria tersebut marah.

__ADS_1


----------


Next Chapter》


__ADS_2