Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 30


__ADS_3

Elena menyibak selimut yang membungkus tubuhnya. Ia membenarkan gaun tidurnya sambil berjalan mendekati dinding kaca yang menyuguhkan pemandangan yang luar biasa indah. Kabut tipis pagi ini memberi pemandangan yang menyejukkan mata. Hijaunya pepohonan dan rerumputan yang berembun membuat pikiran Elena sedikit lebih fresh. Elena sudah tidak sabar untuk keluar, menginjakkan kakinya di atas rumput yang berembun itu, pasti akan terasa dingin.


Kicauan burung yang sangat merdu terdengar hingga ke dalam kamar Elena. Ternyata tempat yang semalam Elena pikir menyeramkan bisa berubah mengagumkan. Elena menoleh pada Nathan yang masih terlelap dengan damai. Aku bahagia bisa melihatmu saat aku terbagun dari tidur. Aku pernah perpikir saat-saat seperti ini tidak akan pernah ku rasakan lagi.


Dengan langkah pelan Elena berjalan menghampiri tempat tidur yang menopang tubuh Nathan di atasnya. Pria itu menggeliat, merasakan sentuhan lembut di bibirnya. Tangan jail Elena tidak mau berhenti mengusap bibir seksi milik Nathan.


"Sayang, jangan membangunkan dia yang masih tertidur. Apa kau belum puas dengan permainanku semalam?" Kata Nathan dengan suara serak, dan mata yang masih melekat erat.


Kata-kata yang keluar dari bibir Nathan membuat Elena mundur menjauhi tubuh Nathan yang telanjang di bagian atasnya.


"Selalu saja menyebalkan!" Gerutu Elena, menghentakkan kakinya keluar dari kamar.


Di luar Elena celingukkan mencari letak dapur.


Di pagi yang dingin ini Elena berencana memasak sesuatu yang berkuah dan hangat. Tapi Elena bingung apa yang harus ia masak, pengalaman masaknya saja sangat minim. Dengan tekat yang kuat Elena membuka pintu kulkas yang terdapat beberapa bahan masakan di dalamnya.


Elena mengambil satu buah jagung manis, 3 buah sosis, dan 2 butir telur. Ia akan membuat sup jagung, semoga saja hasilnya tidak membuatnya kecewa.


Gadis itu sibuk dengan berbagai macam perabotan dapur sambil bersenandung riang. Sejak Nathan kembali dalam hidupnya, beban hidup Elena jauh lebih ringan.


Aroma lezat dari masakan Elena menyebar ke seluruh ruangan. Membuat perut siapa saja yang menciumnya akan keroncongan. Elena tersenyum melihat sup buatannya di dalam panci yang masih mengepulkan asap. Ia akan menuang sup tersebut ke dalam mangkuk namun tangan Nathan yang melingkar di pinggangnya menghentikan gerakkan tangan Elena.


"Minggir Uncle! Supnya keburu dingin." Kata Elena.


"Harus kau ingat baik-baik bahwa aku bukanlah uncle mu lagi. Aku muak setiap kali mendengar kau memanggilku dengan sebutan itu." Protes Nathan meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Maaf, begitu saja marah!"


"Lupakan. Sini aku bantu!" Pinta Nathan, ia melepas rengkuhannya pada Elena. Berdiri di samping gadis itu sambil mengambil alih centong sayur di tangan Elena.


Elena menggeser tubuhnya, memberi ruang pada Nathan agar bisa lebih leluasa. Ia memperhatikan pria itu yang sedang memasukkan sup jagung ke dalam mangkuk dengan hati-hati. Elena menganggumi penampilan bangun tidur Nathan, meski terlihat berantakkan namun tidak mengurangi ketampanan yang di miliki pria tersebut. Rambut hitam acak-acakan menambah kesan hot pada diri Nathan.


Nathan berdehem. "Aku tau kalau aku ini tampan dan mempesona, tapi tidak perlu seperti itu saat menatapku. Berkediplah!"


"Percaya diri sekali." Elena berusaha menyembunyikan wajah malunya.


Nathan membawa hasil masakan Elena ke teras belakang. Mereka akan menyantap makanan itu di sana sambil melihat pemandangan asri perbukitan. Sinar matahari pagi menerpa kedua tubuh manusia yang sedang menikmati kebersamaan mereka, memberi kehagatan yang lembut.


"Kapan kita akan kembali ke kota?" Elena bertanya.


"Setelah aku bosan di sini." Jawaban yang sangat konyol, pikir Elena.


"Dengan berjalan kaki!" Balas Nathan mengeryitkan keningnya.


Elena bungkam. Apa aku harus berjalan kaki? Gila saja, kakiku mungkin akan patah sebelum tiba di rumah Rega. "Ayolah Nathan, untuk apa kita di sini? hanya membuang-buang waktu saja. Pekerjaanku masih banyak, aku kasihan pada Anna yang hanya sendirian."


"Kita sedang berbulan madu, jangan malah memikirkan yang tidak penting. Temanmu itu tidak keberatan kalau kau tidak masuk kerja, karena aku sudah menaikkan gajinya."


"Bulan madu apa? menikah saja tidak." Elena meneguk air minumnya, "kenapa kau bisa dengan mudah melakukan rencanamu, memang perusahaan itu milikmu?" Tanya Elena heran.


"Anggap saja kita sedang berbulan madu! Dan untuk perusahaan itu bukan milikku melainkan milik sahabat baikku. Kau tau bosmu itu kan?"

__ADS_1


"Ck...! Aku belum pernah bertemu dengannya."


Nathan meraih tangan Elena, ia mengamati cincin berlian yang melingkar manis di jari Elena. Perasaan tidak suka langsung hinggap di diri Nathan. "Kenapa cincin murahan ini masih saja kau pakai? Lepas saja, aku akan memberikan yang lebih bagus untukmu."


Elena menarik tangannya yang di genggam Nathan, melindungi cincin itu dari Nathan yang akan melepasnya. "Jangan kau lepas! Biar ku pakai sementara, ini cincin yang di berikan Rega saat melamarku. Masih ada 9 jari yang kosong kau bisa memakaikannya di sana."


"Aku tidak suka kau memakai cincin pemberian dari kekasih sialanmu itu. Aku cemburu."


"Bukannya apa-apa, aku malas menjelaskan padanya kalau ia menanyakan keberadaan cincin ini. Mengertilah!"


Dengan berat hati Nathan mengalah, membiarkan Elena memakai cincin itu. Nathan memasuki rumah, namun tidak berapa lama ia kembali membawa kotak kecil berwarna hitam. "Untuk mu." Ucap Nathan tidak terdengar romantis sama sekali.


"Apa ini? Boleh langsung ku buka?" Elena tersenyum saat mendapat anggukan dari Nathan.


Elena melebarkan bibirnya saat melihat sebuah kalung berbandul inisial namanya dengan berlian kecil di tengahnya.


"Cantik." Gumam Elena.


"Biar ku pakaikan!" Nathan berjongkok di hadapan Elena yang duduk di atas kursi lalu meraih kalung yang di pegang Elena, memakaikan benda tersebut ke leher gadisnya.


"Terima kasih,"


"Indah seperti dirimu, i love you!" Ucap Nathan membenamkan wajahnya di perut rata Elena.


"I love you too." Elena membawa tangannya ke leher Nathan, mengusap lembut rambut pria itu.

__ADS_1


----------


Next Chapter》


__ADS_2