
Di tengah malam yang sunyi Nathan harus memanjat tembok rumah Rega demi agar bisa menemui Elena. Namun, Nathan tidak mendapati Elena di kamarnya. Ia mulai panik, berbagai pikiran buruk menghampirinya. Nathan menghempaskan tubuhnya di ranjang tidur Elena, ruang kamar sangat gelap karena semua lampu di matikan. Nathan kacau. Bayangan Elena pergi jauh darinya meremas kuat hatinya.
Nathan keluar dari kamar Elena dengan langkah pelan. Ia akan mencari gadisnya di setiap sudut rumah itu. Tidak ada rasa takut dalam diri Nathan kalau ada seseorang yang memergokinya berkeliaran di rumah orang.
Tiba di lantai dasar dengan pencahayaan minim mata tajam Nathan menyusuri setiap ruangan.
Posisi manis yang di lihatnya membakar habis isi dada Nathan. Di atas sofa bulu Elena tertidur dengan posisi tengkurap, dengan memposisikan wajahnya menyamping. Sedangkan Rega tertidur dengan duduk di lantai menyandarkan kepalanya di sofa beralaskan lengannya, wajah pria itu berhadapan langsung dengan wajah Elena. Jarak mereka cukup dekat. Kedua tangan mereka saling bertautan. Tampak romantis bukan.
Nathan menipiskan bibirnya.
Tatapan Nathan beralih ke atas meja yang banyak sekali tumpukan undangan berwarna gold. Ia meraih satu dari sekian banyak undangan tersebut. Nathan sempat terhuyung ke belakang saat ia membuka dan melihat nama yang tertera di sana, Elena Wimala dan Rega Erlansyah. Itu adalah undangan 'pernikahan' mereka. Tanah yang menjadi pijakan Nathan serasa menjatuhkannya hingga ke dasar bumi.
Undangan di tangannya ia lempar ke lantai berkarpet sehingga tidak menciptakan bunyi yang bisa membangunkan kedua orang yang masih tertidur lelap.
"Sekeras apapun kau mencoba lepas dariku itu tidak akan berarti apa-apa untuk usaha yang kau lakukan. Kau sudah terikat denganku tanpa sempat menolaknya." batin Nathan.
Tubuh Elena di angkat, sebelum itu tautan tangan mereka di lepas Nathan secara perlahan. Nathan membawa Elena ke kamarnya dengan mengendong ala bridal style menaiki tangga tanpa terbebani.
Pintu di kunci Nathan dan kunci itu Nathan lempar ke luar balkon, entah jatuh dimana ia tidak perduli. Elena berbaring di atas kasur tanpa merasa terganggu dengan keberadaan Nathan yang sedang melucuti pakaiannya sendiri. Nathan merangkak ke atas tubuh Elena yang masih menggunakan piama tidur lengkap. Wajah kerasnya ia benamkan ke lekuk leher Elena. Nathan melakukannya dengan emosi yang tinggi.
Elena membuka lebar matanya saat merasakan lehernya di sesap. Ia tidak bisa bergerak karena kedua tangannya berada di atas kepalanya, di cekal oleh Nathan. Ia tau yang saat ini sedang menindihnya adalah Nathan. Napas Nathan terasa mengelitik di lehernya, Elena ingin berteriak namun segera ia urungkan. Ia meronta, namun bobot Nathan yang berat menyulitkannya untuk bergerak di bawah kungkungannya.
"Dasar keparat! Apa yang kau lakukan padaku?" Elena tetap menjaga tempo suaranya meski di barengi tekanan.
__ADS_1
Ekspesi tenang Nathan menimbulkan kekhawatiran dalam diri Elena.
Jemari Nathan mengusap leher Elena. Matanya menyorot tajam namun ada kecemasan di sana. Elena memalingkan wajahnya tak kuasa menatap wajah laki-laki pengkhianat itu. "Hentikan, Nath. Untuk apa kau kemari? Hubungan kita sudah selesai, aku meminta padamu jangan terus-terusan mengangguku. Aku tidak membutuhkan laki-laki yang hanya bisa mempermainkan perasaan wanita." kicau Elena berusaha menahan ledakkan tangisnya.
"Apa dirimu merasa lebih baik sehingga bisa berbicara seperti itu? Kau munafik, El."
Elena segera mengalihkan matanya ke wajah Nathan, ia bingung dengan ucapan yang di lontarkan pria itu. Nathan bertumpu pada satu lengannya untuk menopang bobot tubuhnya. Elena tidak paham. "Maksudmu kau akan mengatakan bahwa aku berselingkuh di belakangmu seperti yang kau lakukan!" mata Elena melotot dengan bibir menipis.
"Ya, kau menyembunyikan pernikahanmu dengan pria itu dariku. Kau lebih kejam, El. Kau bilang padaku bahwa kau tidak mencintainya tapi kenapa sekarang kau bersedia di nikahinya." Ada kesakitan bercampur amarah di kedua mata Nathan.
Tubuh Elena berubah dingin seperti terguyur berkilo-kilo es. Ia terkejut karena Nathan sudah mengetahui rencana pernikahannya dengan Rega. Tapi itu bagus, ia tidak perlu lagi mengatakan yang sebenarnya karena ia tidak mampu.
"Awalnya aku sempat ragu saat Rega mengutarakan keinginannya untuk segera menikahiku, aku masih memikirkan hubungan kita tapi setelah melihat kenyataan yang menampar keras diriku aku semakin yakin bahwa memang dia yang terbaik untuk menjadi pendamping hidupku." aku Elena, kedua sudut matanya mulai basah oleh air mata yang tidak mampu ia bendung.
"Jangan egois... aku bukan milik siapapun, hanya diriku yang pantas menentukan jalan hidupku. Aku sangat-sangat membencimu Nathan. Enyahlah dari hidupku selamanya." raung Elena. Ia melepas cekalan Nathan saat pria itu lengah, Elena mendorong Nathan agar menyingkir dari atasnya.
Nathan terhempas. Elena mengunakan kesempatan itu untuk kabur. Ia turun dari ranjang setengah berlari ke arah pintu. Nathan yang bertelanjang dada meraih pinggang ramping Elena, mendekapnya dari belakang.
"Kejadian kemarin tidak seperti yang kau lihat. Aku tidak melakukan apa-apa dengan Jessica, dia yang berusaha mengodaku. Percayalah, aku tidak mungkin mengkhianatimu."
"Aku sulit mempercayai mulut manismu itu."
"Kau akan membunuhku jika seperti ini, El!" eluh Nathan. Ia berusaha melunak.
__ADS_1
"Mati sekalipun aku tidak perduli," kata Elena ketus.
"Kau tidak bisa memaafkanku hanya karena sebuah kesalahan yang sebenarnya tidak kuperbuat. Kau juga sama egoisnya." Nathan mulai lelah.
Elena melepas tangan Nathan yang merengkuhnya. Ia memegangi kedua lengan Nathan dengan mata yang mulai berkabut. "Maafkan aku. Ini sudah menjadi pilihanku, kalau kau mau kita masih bisa berteman."
Suara Nathan tercekat di tenggorokan. Perkataan final dari Elena membuat tubuhnya hilang tenaga. Nathan menatap sayu Elena, memohon pada gadis itu dengan tatapannya.
"Apa aku tidak bisa mempertahankanmu untuk tetap berada di sisiku?" Nathan masih butuh jawaban meyakinkan dari Elena.
"Tidak,"
Nathan menatap lekat wajah gadis yang di cintainya. Ia rapuh, mungkin sebentar lagi akan mati.
"Aku tidak akan pernah melupakan semua kenagan yang pernah kita lakukan. Kau jangan menyesali jika nanti kau akan merasakan kehilangan yang sesungguhnya. Aku tidak akan pernah lagi menunjukan diriku di depanmu. Semoga kau bahagia dengan pilihanmu... selamat tinggal." kata terakhir Nathan untuk Elena.
Selesai sudah kisah cinta mereka di penghujung malam. Nathan menepis tangan Elena yang berpegangan di lengannya. Ia memutar tubuhnya, setetes air mata terjatuh mengiringi kepergiannya dari kamar itu. Nathan pergi tanpa menoleh ia terus berjalan sambil meratapi perjalanan cintanya yang harus berakhir tragis. Ia masih bertelanjang dada saat meninggalkan Elena yang diam terpaku.
Beberapa menit setelah Nathan pergi Elena baru bereaksi. Ia meluruhkan tubuhnya ke lantai, ia terisak meluapkan semua sesak yang sudah ia tahan semenjak tadi. Sekarang semuanya sudah benar-benar berakhir. Kisah cintanya bersama sang uncle berakhir dengan sad ending.
----------
Next Chapter 》》
__ADS_1