
"Tidak biaskah kau menungguku!" Suara Nathan menggema di lorong apartemen. Ia mengikuti langkah Elena yang sudah jauh di depannya.
"Aku sudah tidak tahan lagi!" Elena menempelkan sidik jarinya lalu pintu tersebut terbuka. Ia segera berlari masuk tanpa menghiraukan Nathan yang tampak kesal.
Elena keluar dari kamar mandi mencari sosok Nathan yang ia pikir juga mengikutinya ke kamar, ternyata tidak. Elena menemukan Nathan yang sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu dengan lengan menutupi separuh wajahnya. Ia menghampiri dan duduk di samping Nathan, Mengamati wajah lelah kekasihnya.
"Kenapa tidak tiduran di kamar saja?" Tanya Elena sambil menyingkirkan tangan Nathan yang menutupi wajah.
"..."
"Kau tidak mau berbicara padaku?" Elena tau Nathan belum tidur. Pria itu mencoba mengabaikannya.
"..."
"Ya sudah kalau tidak mau berbicara denganku. Tidur saja di situ!" Tutur Elena mengulum senyum memperhatikan mata Nathan yang bergerak-gerak pelan, tanda pria tersebut hanya pura-pura tidur.
Secepat kilat tangan Nathan sudah merengkuh pinggang Elena. Menarik Elena hingga jatuh di atasnya, lalu mengunci pergerakkan Elena dengan membalik posisi tidurnya dengan Elena berada di bawah Nathan.
"Badanmu berat, Uncle!" Wajah Elena berada di bawah dada Nathan, membuat wanita itu sulit bernapas.
"Benarkah!" Nathan menyejajarkan wajahnya dengan Elena. Menatap wanitanya dengan lembut. "Tapi aku ingin seperti ini." Nathan mengecup seluruh wajah Elena.
Elena tertawa sambil menghindari ciuman bertubi-tubi dari Nathan. "Nathan, hentikan wajahku sudah sangat basah!" Elena mencubit perut Nathan membuat pria itu mengaduh kesakitan.
Tidak memperdulikan rontaan Elena, Nathan masih meneruskan aksinya mencecap dan menjilati seluruh permukaan wajah kekasihnya hingga basah terkena air liurnya. "Bolehkah aku memintanya sekarang?" Tanya Nathan dengan suara serak.
Pipi Elena merona, mengerti maksud dari ucapan Nathan.
"Lihatlah! wajahmu terlihat menggemaskan jika seperti itu."
Elena semakin tersipu.
"Jangan harap aku akan memberikan milikku yang paling berharga kepadamu secara cuma-cuma."
Nathan menatap datar wajah Elena. "Lalu? aku harus membayarnya, begitu!"
"Bukan, aku ingin kau menikahiku terlebih dahulu." Elena memalingkan wajahnya, ia malu saat mengucapkan kalimat sakral itu.
"Kau bersedia ku nikahi?" Nathan menarik tubuhnya dari atas Elena. "Apa kau juga mencintaiku?" Nathan menuntut jawaban dari Elena. Tidak di pungkiri ia bahagia saat Elena meminta dirinya untuk menikahinya.
"Sepertinya aku mulai merasakan perasaan itu. aku merasa kehilangaan saat kau tidak ada di dekatku, aku juga selalu merindukan kehadiranmu di sisiku saat kau jauh. Tapi jujur saja aku belum sepenuhnya melupakan mantan kekasihku." Aku Elena dengan kepala menunduk.
"Aku akan membantumu melupakan bocah itu!" Ucap Nathan dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
"Aku juga berharap untuk bisa segera melupakannya." Elena melihat Nathan tanpa berkedip.
"Sekarang kau bisa menganggapku sebagai kekasihmu kan? Tanpa adanya paksaan dariku."
Elena mengangguk sambil menahan senyumnya.
"Terima kasih!" Nathan merengkuh Elena ke dalam pelukannya. Ia bergumam tidak jelas di samping di lehar gadis itu.
Nathan mengangkat sebelah alisnya, "kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh di wajahku?" Tanya Nathan setelah melepaskan tautannya.
Elena gelagapan saat di tanya seperti itu oleh Nathan. "Ah tidak, aku baru tau ternyata Uncle sangat tampan." Kata Elena dengan senyum malu-malu.
"Ku rasa sudah dari dulu diriku tampan, kenapa baru sekarang kau menyadarinya?" balas Nathan dengan senyum jahil.
"Aku baru melihatnya sekarang. Kemarin-kemarin yang ku tau kau sama seperti pria tua pada umumnya." Elena tertawa.
"Mungkin baru sekarang matamu bisa melihat dengan normal!" Jawab Nathan dengan wajah seakan sedang berpikir.
"Secara tidak langsung kau mengataiku, Uncle!"
Nathan mengacak rambut Elena. "Apa tidak bisa kau memanggilku dengan nama saja?"
"Memangnya kenapa?" Elena memasang tampang bodohnya.
"Akan ku coba! meski terasa aneh saat ku ucap."
Mereka terdiam cukup lama.
"Di ruang tengah aku melihat ada buket bunga yang sudah layu, itu punya siapa?" Nathan baru mengingat tentang bunga tersebut.
"Punyaku, tapi aku tidak tau siapa pengirimnya. Apa bukan dirimu?"
"Aku tidak pernah memberimu bunga." Nathan bangkit dari duduknya, melangkah tegas menuju ruang tengah meraih buket bunga yang ia maksud tadi, Nathan melempar bunga tersebut ke dalam tempat sampah dengan penuh napsu.
"Kenapa Uncle buang? bunga itu terlalu indah, sayang kalau harus di buang." Elena berdiri di belakang Nathan dengan mulut membulat sempurna.
"Aku tidak suka kau menerima pemberian dari laki-laki lain. Aku akan memberimu bunga yang lebih bagus dari itu, kalau perlu beserta tokonya sekalian."
"Sombong!" Tutur Elena lirih.
"Agar kau tau siapa diriku. Pria kaya raya dengan sejuta pesona!" Cetus Nathan menyombongkan diri.
"Aku percaya itu, tapi tidak perlu kau perjelas juga."
__ADS_1
Perdebatan mereka terhenti saat Renata datang memberitahu bahwa makan siang sudah siap. Sebenarnya sekarang bukan waktunya makan siang, berhubung mereka belum sempat makan siang, akhirnya baru bisa makan menjelang sore hari.
Nathan menolehkan kepalanya ke belakang. "Sayang, ayo! kenapa kau malah diam di situ?" Tanya Nathan melihat Elena masih betah berdiri di tempatnya.
"I-iya ...," Elena mempercepat langkahnya lalu berjalan bersisihan dengan Nathan.
"Ren, kau tidak ikut makan dengan kita? ayo ke sini!" Ucap Elena.
"Maaf saya tidak bisa, El! Saya makannya nanti saja." Jawab Renata sambil menunduk takut.
Nathan mengeluarakan aura mengitimidasinya. "Kau memanggil kekasihku hanya dengan nama saja? lancang sekali!" Bibir Nathan membentuk garis lurus.
"Saya minta maaf, Tuan! T-tapi---,"
"Dia majikanmu, tidak sopan memanggilnya hanya dengan nama saja. Pelayan rendahan sepertimu tidak pantas memanggil kekasihku seperti itu." Ujar Nathan dengan tatapan menusuk.
"Kau ini kenapa? tidak seharusnya marah-marah seperti itu. Renata tidak bersalah, karena aku yang memintanya. Ia temanku di sini, kalau harus memanggilku dengan embel-embel nona atau nyonya menurutku terlalu kaku, aku tidak menyukai itu." Jelas Elena.
"Tapi aku tidak suka, sayang!" kata Nathan masih terlihat geram.
"Aku tidak perduli. Suka tidak suka kau harus tetap menyukainya!" Ujar Elena sambil tersenyum simpul.
Nathan menghela napasnya pelan, "Baiklah, jika kau yang memintanya aku bisa apa?" Pria itu menatap tegas pada Elena. "Jangan terlalu akrab dengan pelayan, itu tidak baik untukmu."
"Iya, kau ini cerewet sekali."
Elena mengalihkan tatapannya pada Renata yang masih berdiri tertunduk. Wanita itu mendengar dengan jelas penghinaan yang di ucapkan Nathan untuknya. Hatinya terasa nyeri mendengar perkataan merendahkan dari majikannya.
"Tolong jangan di ambil hati perkataan Nathan tadi, ia memang suka sekali asal saat berbicara. Mulutnya susah untuk menyaring kata-kata yang bisa saja menyakiti perasaan orang lain."
"Tidak apa-apa, saya mengerti, Nona!" Jawab Renata, "Saya permisi ke dapur dulu."
"Ya sudah, kalau pekerjaanmu sudah selesai kau bisa langsung pulang."
"Baik, Nona. Saya permisi!" Renata setengah membungkukkan tubuhnya sebelum meninggalkan ruang makan.
"Kau sudah menyakitinya." Kata Elena pelan.
Nathan mengangkat bahunya tanda tidak perduli dengan perasaan wanita itu. Karena dia hanya seorang pelayan, sangat tidak penting untuk ia pikirkan perasaannya, menurut Nathan.
----------
Next Chapter》
__ADS_1