
Elena sudah siap di meja resepsionis seorang diri, karena Anna rekan kerjaanya mendapat jadwal masuk shift siang. Jam kerjanya baru di mulai 10 menit lagi, ia membenahi dulu riasan tipis di wajahnya. Rambut sebahu gadis itu di curly di bagian ujung, ingin sedikit tampil beda dari biasanya.
Di tengah kesibukan yang di lakukan Elena, ia masih saja memikirkan kejadian semalam saat Nathan bisa berada di dalam kamarnya. Ia belum sempat menanyakan bagaimana bisa pria itu mengetahui tempat tinggalnya, karena keburu pria temperamen itu marah. Pemikiran tentang Leo yang memberitahu Nathan tentang beberadaannya terlintas di benak Elena.
Karena sibuk berkutat dengan pikirannya, tak terasa hari sudah menjelang siang, sebentar lagi waktu makan siang tiba. Dan sekarang Elena masih di sibukkan dengan berbagai kiriman surat yang harus ia pilah-pilah, agar bisa segara ia antarkan kepada pemiliknya.
"Selamat siang, saya ingin bertemu dengan Elena. Katanya dia bekerja di perusahaan ini!" Ucap seorang wanita.
Elena tersenyum ramah, namun di dalam hati ia menerka-nerka apa yang di maksud itu dirinya atau Elena yang lain. Menurut penglihatan Elena wanita di depannya itu seperti wanita kelas atas, cantik, dan penampilannya sangat modis.
"Siang, Nona! Maaf sebelumnya siapa nama lengkap orang yang anda maksud, karena ada banyak yang bernama Elena di sini." Balas Elena tanpa menghilangkan senyum di bibirnya.
"Begitu ya, kalau tidak salah namanya Elena Wimala." Kata wanita itu terlihat sambil berpikir.
Apa di sini ada yang bernama Elena Wimala selain diriku? Elena berpikir keras tentang hal itu.
"Apa Anda ingin bertemu dengan saya, tapi saya merasa tidak mengenal Anda, Nona!" Raut kebingungan tampak pada wajah Elena.
Eveline meneliti gadis manis di depannya sambil menyunggingkan senyum. "Jadi kau Elena Wimala yang ku cari?"
"Mungkin saja, karena itu memang nama saya. Tapi ada perlu apa Anda mencari saya? Kita belum pernah bertemu sebelumnya."
Tangan Eveline terulur ke depan Elena. "perkenalkan, saya Eveline Wijaya. Saya memang ingin bertemu dengan Anda. Apa saya bisa berbicara empat mata dengan Anda?"
Elena mengerutkan keningnya, wanita asing itu ingin berbicara dengannya. Tapi membicarakan apa? Elena merasa tidak memiliki urusan dengannya. "Maaf saat ini masih jam kerja, saya belum bisa mengkuti keinginan Anda, Nona!"
"Okay, saya akan menunggu Anda di cafe sebelah gedung ini. Lagi pula sebentar lagi sudah akan memasuki waktu makan siang... sampai jumpa nanti!" Eveline memutar tubuhnya berjalan anggun menuju pintu keluar lobby perusahaan.
Wanita itu siapa? Eveline Wijaya, aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.
Karena merasa di tunggu kehadirannya, setelah tiba waktu makan siang Elena bergegas menuju cafe yang tepat berada di samping gedung perusahaan tempatnya bekerja. Ia sampai tidak membalas pesan dari Rega yang memintanya untuk makan siang bersama.
"Permisi! Maaf sudah menunggu saya lama." Tutur Elena setelah tiba di hadapan Eveline.
"Tidak apa-apa. Saya yang memiliki urusan dengan Anda jadi tidak ada salahnya saya harus menunggu lama. Ayo duduk!" Eveline mempersilahkan Elena duduk. "Silahkan pesan makananmu, nanti kita bisa makan sambil berbicara. Supaya lebih santai saja."
"Baiklah."
Elena memanggil pelayan cafe dan memesan makan siangnya. Semua yang di lakukan Elena dari berbicara, tersenyum, sampai gerakkan tubuhnya tidak luput dari perhatian Eveline. Ternyata gadis ini sangat mempeson, tidak heran kalau kakakku sampai tergila-gila padanya.
"Bisa anda jelaskan kenapa Anda ingin menemui saya?" Tanya Elena sambil menyendok makan siangnya.
__ADS_1
"Agar tidak terdengar kaku, lebih baik kita tidak usah terlalu formal saat berbicara." Pinta Eveline. "Tujuanku menemuimu karena aku ingin kau kembali bersama kakakku!" Ucap Eveline to the point.
"Kakak? Siapa yang Anda maksud?"
"Nathan Wijaya."
Deg
Suara Elena tercekat di tenggorokan. Sulit hanya sekedar untuk menelan nasi yang sedang ia kunyah.
"Aku sudah tau semua kisah tentang kalian. Dia tersiksa sejak kepergianmu 2 tahun yang lalu. Kau tau, aku harus rela meninggalkan karier modelku yang sudah ku capai dengan susah payah demi membantu mengurus perusahaan yang sudah hampir bangkrut, karena pemiliknya sibuk meratapi kehancurannya sendiri."
Setetes kristal bening terjatuh dari mata bulat gadis itu. Semenderita itu kah Nathan saat aku tinggalkan? Elena segera menghapus sisa air mata di pipinya.
"Dari yang ku lihat dia baik-baik saja. Tidak tampak setitik pun kesedihan di wajahnya." Elena meletakan sendoknya sudah tidak ingin menghabiskan makanannya yang masih tersisa setengah.
Eveline menatap tegas Elena, ia merasa akan sangat sulit meyakinkan gadis itu. "Dia tak sekuat yang kau lihat. Sehari-hari dia hanya berteman baik dengan botol alkohol. Kalau kau sudah pernah melihatnya, dia sudah tidak setampan dulu. Penampilannya saat ini sangat berantakan. Kak Nathan sudah tidak pernah mengurus dirinya lagi sejak saat itu."
"Aku tau kau berusaha membuka hatiku untuk Nathan, namun semua itu sudah terlambat." Ucap Elena dengan berat.
"Aku mohon padamu kembalilah padanya." Wajah Eveline berubah memelas.
Dengan ragu Elena berucap, "aku sudah bertunangan, dan sebentar lagi akan menikah."
Elena menggelengkan kepalanya lemah, "maaf aku tidak bisa. Aku tidak mungkin meninggalkan kekasihku tanpa sebab. Kurasa Nathan juga sudah memiliki calon untuk pasangan hidupnya."
"Please, tidak ada calon pasangan hidup untuk Kak Nathan. Dia masih mencintaimu hingga saat ini. Dia berusaha melupakanmu dengan cara merusak dirinya sendiri, aku tidak tega melihatnya terus-terusan seperti itu." Eveline bingung akan menjelaskan seperti apa lagi. "Aku mohon temuilah dia. Setelahnya itu terserah padamu."
"Nathan sudah menemuiku!"
Eveline menaikkan tatapannya pada Elena. "Kak Nathan sudah mengetahui keberadaanmu? Kenapa dia tidak mengatakan kepadaku?"
"Aku tidak tau." Elena melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Aku harus segera kembali bekerja, kurasa yang kukatakan sudah cukup jelas. Jangan mengharap aku akan kembali padanya. Kisah kita sudah berakhir." Elena berdiri dari kursinya.
"Biar aku saja yang membayar makananmu!"
"Tidak perlu repot-repot, aku akan membayarnya sendiri." Jawab Elena tersenyum canggung, segera melarikan kakinya menuju kasir.
Eveline mengepalkan tangannya di atas meja. Lalu meraih tasnya ikut meninggalkan tempat itu. Ia pergi dengan tangan kosong, ia akan mencari cara untuk menjerat Elena kembali ke pelukan Nathan.
■■■■■■
__ADS_1
Sudah hampir pukul 7 malam Elena masih berdiri di atas trotoar. Ia masih menunggu taksi yang semenjak tadi belum juga ada yang lewat. Rega sang kekasih tadi siang sudah melakukan penerbangan ke negara tetangga untuk pertemuan bisnis.
Tanpa sepengetahuan Elena ada seorang pria berwajah seram mendekatinya. Tanpa aba-aba orang itu membekap mulut Elena dengan sapu tangan yang sudah di beri obat bius sebelumnya. Tubuh Elena langsung terkulai lemas dengan mata perlahan mulai menutup. Elena di gendong memasuki mobil yang sudah berhenti di dekatnya, lalu mobil itu mulai melaju kencang meninggalkan kawasan perkantoran.
Cukup lama Elena terombang-ambing di dalam mobil dengan posisi berbaring di jok belakang. Mata gadis itu mulai terbuka, ia baru menyadari kedua tangan dan kakinya di ikat dengan tali, mulutnya juga di tutup dengan kain sehingga menyulitkannya untuk berbicara.
Elena melirik kepada 2 orang yang duduk dengan kaku di depan. Ya Tuhan aku mau di bawa kemana? Siapapun tolong aku, Jerit tertahan Elena. Air mata gadis itu mulai mengalir di sudut matanya.
Beberapa waktu kemudian mobil yang membawa tubuh Elena mulai melambat memasuki halaman rumah sederhana jauh dari perkotaan. Saat keluar dari mobil udara dingin langsung menusuk kulit Elena yang terbuka, ia masih menggunakan setelan kerjannya tanpa alas kaki.
"Siapa kau? Kenapa membawaku ke sini?" Tanya Elena saat ikatan kain di mulutnya di buka.
Jari telunjuk milik salah satu orang itu di letakkan di depan bibir pucat Elena. "Diamlah! Nanti kau juga akan tau." Elena menatap ngeri pada pria berkepala plontos itu.
Elena berjalan memasuki rumah itu dengan degup jantung tidak karuan. Itu tempat asing untuk dirinya, bagaimana jika ia di paksa melayani seorang pria tua dengan perut buncit nantinya. Baru membayangkan saja Elena sudah ingin muntah.
Ruangan yang di lalui Elena tanpak tertata dengan rapi dan sangat bersih. Orang-orang itu mengiring Elena menuju halaman belakang yang sangat gelap, hanya dengan cahaya bulan ia bisa melihat sekeliling yang ternyata sebuah hutan yang tampak menyeramkan.
"Apa yang harus ku lakukan di sini?" Ucap Elena lirih. Perasaan takut seketika menyelimutinya. Apa mereka akan membawaku ke hutan itu untuk menjadi santapan empuk para binatang buas di dalamnya?
"Kau hanya perlu berdiam diri di sini!" Suara pria itu menggelegar di samping Elena. Lalu mereka berdua pergi begitu saja meninggalkan Elena seorang diri di tengah gelapnya malam.
Elena memutar-mutar tubuhnya di tempat. memandang ke sekitarnya yang hanya terdapat tanah lapang yang luas. Tidak ada rumah lagi selain rumah yang Elena masuki tadi.
"Aku harus kemana?" Kata Elena pada diri sendiri.
Di tengah ketakutan yang di rasakan Elena, tiba-tiba seseorang yang semenjak tadi memperhatikan kepanikan gadis itu memeluk Elena dari belakang. Memberi kehangatan pada tubuh Elena yang kedinginan. "Jangan takut, ada aku di sini!" Bisik orang itu di telinga Elena.
Elena sudah tau siapa orang itu, dari aroma parfum yang sudah sangat ia hafal.
"Kau membuatku takut! Apa tujuanmu menculik dan membawaku ke tempat seperti ini?"
"Aku ingin meyakinkanmu bahwa, aku sangat mencintaimu." Tutur Nathan dengan sepenuh hati. Nathan memutar tubuh Elena agar menghadap padanya. Kedua tangannya ia gunakan untuk memegangi sudut bahu Elena. "Aku ingin kau tau bahwa di dalam hati ini." Nathan menyentuh tepat pada letak hatinya, "hanya ada dirimu, tidak ada tempat untuk wanita lain. Kau pasti akan menganggap ucapanku ini hanyalah bualan. Apa yang harus ku lakukan agar kau percaya padaku?"
"Tidak ada yang perlu kau lakukan. Hubungan kita sudah benar-benar berakhir." Elena berusaha menguatkan dirinya.
Nathan menatap tegas pada Elena sambil mencengkram kuat pundak gadis itu. "Aku rela merendahkan diriku di hadapanmu asal kau bersedia kembali ke pelukanku!" Nathan masih menatap lekat gadis yang di cintainya.
Tidak ada jawaban dari Elena. Gadis tersebut bahkan membuang mukannya ke samping, enggan menatap Nathan.
Perlahan Nathan merendahkan tubuhnya. Menumpukan lututnya di atas tanah berumput dengan kepala mendongak, melihat pada Elena yang masih memalingakan wajah. Ia lebih memilih kehilangan harga dirinya di banding kehilangan orang yang amat di cintainya. Perlahan Nathan merendahkan wajahnya, bersujud di depan kaki Elena memohon pada gadis itu untuk kembali padanya.
__ADS_1
----------
Next Chapter》