Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 12


__ADS_3

"Ini berkas yang ada minta, Sir!" Kata wanita berpakaian seksi, menyodorkan map hijau tosca kepada Nathan.


"Terima kasih!" Jawab Nathan tanpa mengalihkan tatapannya dari laptop.


"Apa jadwalku hari ini?" Tanya pria tampan itu masih fokus dengan laptop di depannya.


"Pukul 1 siang ada pertemuan dengan perwakilan dari ARLANDO's Company, pukul 5 sore nanti ada pertemuan dengan Mr. William dari Willi's Corporation di ruang meeting lantai 25." Balas Rebecca sopan. "Hanya itu jadwal anda hari ini." Sambung Rebecca menutup buku agenda yang selalu ia bawa kemanapun.


"Apa semua pertemuan itu penting?"


"Semuanya penting. Pertemuan pertama untuk membahas kerja sama yang sudah kita setujui tempo hari. Dan pertemuan kedua Mr. William ingin bertemu secara pribadi dengan anda, mungkin ada suatu hal yang ingin beliau bahas dengan anda, Sir."


"Ya sudah, kau boleh keluar!" Ucap Nathan datar.


Nathan mengecek jamnya, masih lama pertemuan itu akan di adakan ia mengetuk-etukan jarinya ke meja. Berpikir akan melakukan hal apa untuk membuang rasa bosan yang menghampirinya. Ia menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursi, mengusap wajahnya pelan.


Tiba-tiba terlintas bayangan wajah Elena di pikiran Nathan. Ia sudah merindukan gadis itu, selama 39 tahun Nathan hidup di dunia ini baru sekarang ia merasakkan rindu berat pada seseorang.


Kalian pasti penasaran sejak kapan Nathan mulai menyukai gadis kecil itu? Perasaan itu mulai muncul ketika dirinya dengan tidak sengaja melihat Elena yang sedang tertawa lepas di taman belakang mansion. Berlari kesana-kemari mengejar kupu-kupu cantik yang sedang berterbangan di atas bunga-bunga yang bermekaran. Keceriaan gadis itu membuat hatinya tertarik kembali ke permukaan. Sejak saat itu Nathan mengeklaim Elena sebagai miliknya.


Dering ponsel membuyarkan semua yang ada di pikiran Nathan, ia bergegas meraih ponsel di atas meja melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut. Senyum lebar tercetak di bibir pria itu, dengan segera ia menjawabnya.


"Halo sayang! Ada apa?" Tuturnya Nathan mengebu dengan sudut bibir terangkat.


"Memang harus ada apa-apa dulu baru boleh menelepon mu!" Balas Elena dengan suara keras.


"Tidak begitu, tumben sekali menghubungiku di saat jam kuliah sedang berlangsung."


"Aku mau bertanya padamu, apa aku boleh menggunakan black card yang kau berikan padaku kemarin dengan sesukaku?" Kata Elena rendah.


"Boleh ... aku sudah memberikannya untukmu, Jadi terserah mau kau apakan!" Jawab Nathan tegas.

__ADS_1


"Ah ... Terima kasih banyak! Aku semakin menyukaimu." Elena memutus sambungan telepon nya tanpa mendengar balasan dari pria itu


Nathan memijat keningnya.


Nathan mendeal nomor Elena, mencoba menghubungi gadis itu lagi tapi ponselnya sudah tidak aktif. Nathan melempar kasar smartphone nya ke atas meja, moodnya seketika anjlok.


Gadis itu suka sekali memainkan emosinya.


Dengan bersenandung riang Elena menenteng papper bag dengan kedua tangannya. Gadis itu habis belanja ingin mengurangi saldo Black card pemberian Nathan. Malam ini ia akan menghadiri party temannya di sebuah Club malam. Elena mengeluarkan sebuah mini dress hitam memiliki potongan yang cukup seksi dari dalam tas kertas tersebut. Segera Elena melepas jubah mandinya lalu menggunakan mini dress yang melekat pas di tubuhnya.


Merias wajahnya senatural mungkin, menggikat tinggi rambut panjangnya, Elena memandang dirinya di cermin senyumnya langsung merekah melihat penampilan yang menurutnya sangat sempurna. Gaun tanpa lengan memiliki panjang sampai setengah paha, berwarna hitam yang sangat kontras dengan kulit putih Elena. Tidak lupa gadis itu memakai high heels untuk menyempurnakan penampilannya malam ini.


Sudah pukul setengah delapan malam Elena segera meraih tas tangan merek Gucci yang baru saja ia beli, menggenggamnya lalu segera menuju pintu depan. Ia harus segera pergi sebelum Nathan datang. Ia berdoa dalam hati semoga Nathan tidak pulang ke apartemen malam ini.


Elena menbuka pintu dengan cepat, matanya langsung menubruk dada bidang berbalut jas mahal seorang pria di depannya. Ia mengangkat wajahnya, tatapan mereka bertemu. Elena langsung memaki dalam hati.


Nathan mengangkat sebelah alisnya melihat Elena dari atas sampai bawah, "Mau kemana?" Ucap Nathan dengan suara berat.


"A-aku ingin menghadiri pesta temanku!"


"Di mana? Kenapa kau berpakaian seperti itu? Memangnya tidak ada yang lain." Tatapan Nathan tidak lepas dari wajah gadis itu.


"Di-di Club malam." Ucap Elena lirih. Ia tidak berani memandang pria yang sedang mengetatkan bibirnya.


"Kembali masuk. Untuk apa kau pergi ke tempat seperti itu? Di sana sangat berbahaya untukmu."


"Sekali ini saja, please!" Mohon Elena.


"Tidak!" Nathan berjalan melewati Elena mendudukan dirinya di atas sofa ruang tamu.


"Ayolah Uncle, aku tidak akan macam-macam, kalau kau tidak bercaya kau boleh ikut!" Elena mencoba merayu Nathan agar di izinkan pergi.

__ADS_1


"Aku lelah!"


Merasa percuma saja memohon pada Nathan yang tidak akan pernah mengizinkan, Elena memutuskan sendiri jika ia akan tetap pergi. "Ya sudah, marah saja kalau mau marah aku pergi dulu!" Kata Elena final. Gadis susah di atur itu segera keluar dari apartemen tersebut.


Nathan menatap tidak percaya pada pintu yang sudah tertutup, Elena tetap pergi meski Nathan sudah melarangnya. Nathan menjambak rambutnya kuat karena frustasi dengan tingkah ajaib gadisnya. Ia segera melepas jas yang ia pakai melemparnya asal, segera Nathan menyusul keluar mengejar gadis keras kepala itu.


■■■■■■


Suara hingar bingar dari musik DJ memekakkan telinga orang yang berada di dalamnya. Suasana dalam Club tidak begitu ramai mungkin karena belum terlalu malam. Nathan berjalan di belakang Elena mengikuti kemanapun wanita itu pergi.


"Kau ingin ikut aku berkumpul dengan teman-temanku?"


"Tidak, aku akan mengawasimu dari jauh." Kata Nathan dengan wajah kesalnya.


"Baiklah!"


Nathan mengedarkan matanya mencari tempat yang pas untuk mengawasi Elena. Ia duduk tidak jauh dari posisi Elena berada agar lebih mudah memperhatikan gadis itu. Tidak lama kemudian pelayan dengan pakaian seksi datang menghampiri, membawa minuman yang di pesan pria tersebut. Dari tempatnya duduk Nathan bisa melihat Elena sedang tertawa lepas bersama temannya.


Sudah hampir satu jam Nathan mengawasi Elena, sebenarnya ia sangat lelah ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur. Tapi karena kekeras kepalaan Elena ia harus menunda keinginannya tersebut.


Nathan memfokuskan penglihatannya pada tempat di mana sebelumnya Elena duduk, tapi ia tidak mendapati wanita itu ada di sana. "Pergi ke mana dia?" Nathan bertanya pada diri sendiri. Matanya menelusuri setiap sudut Club mengamati seluruh pengunjung tapi tidak tampak Elena ada di antara mereka. Nathan berlari ke arah toilet siapa tau bisa menemukan gadis itu di sana, ia berjalan menyusuri lorong yang hanya dengan pencahayaan temeram.


Tiba di sebuah lorong yang bercabang Nathan mendengar suara orang berbicara tidak terlalu jelas. Langkahnya terhenti ia menajamkan mata dan telinga serta memperjelas penglihatannya, ia merasa tidak yakin dengan apa yang di lihatnya.


"Aku mencintaimu!" Suara pria yang sedang menghimpit seorang wanita di dinding. Lalu mereka berciuman cukup lama.


Nathan meremas kuat ponsel yang di genggamnya. Ia menyandarkan tubuhnya pada dinding, meredam gejolak rasa di hatinya. Ia segera menghampiri perempuan yang sejak tadi di carinya.


----------


Next Chapter》

__ADS_1


__ADS_2