Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 18


__ADS_3

Berada di sebuah ruangan di lantai paling atas di sebuah gedung perkantoran, Nathan berdiri di sana, pikiranya menerawang jauh. Tangannya ia tumpukan pada kaca di depannya, pandangan mata pria itu tertuju pada lantai yang menjadi pijakkan nya saat ini.


"Sialan!" Nathan memukul kaca di depannya, untung saja kaca tersebut sangat tebal sehingga tidak retak sedikit pun.


Nathan memikirkan keadaan Elena. Ia pasti sangat kecewa, Elena meminta Nathan untuk menjauhinya. Nathan tidak akan pernah mau melakukan itu, Elena adalah miliknya! Hanya miliknya.


"Aku tetap akan menceraikan Sisil, bagaimana pun caranya!" Gumam Nathan sendiri.


"Bayi itu bukan milikku, aku sangat yakin!"


"Ah ... brengsek!" Nathan melempar semua benda yang ada di dekatnya.


"Kenapa dia harus mengandung di saat seperti ini? Itu pasti akan menyulitkan ku!" Sekarang Nathan meremas kuat rambutnya, membuat beberapa helai rambut pria tersebut rontok.


"Hey... tenangkan dirimu! Ada masalah apa? hingga membuatmu sekacau ini." Tanya Gibran Pradirga sahabat Nathan. Pria itu tercengang melihat ruangannya sudah seperti habis di terjang badai.


"Sisil hamil!"


"Bukannya itu kabar baik untukmu?"


"Tidak, kehamilannya membawa malapetaka untukku!" Ucap Nathan sambil mondar-mandir.


"Kenapa bisa begitu?" Tanya Gibran yang baru saja menduduki kursinya.


"Sampai saat ini aku tidak bisa mencintainya. Aku hanya kasihan padanya. Kalau ia sedang megandung darah dagingku akan sangat sulit untuk ku melepaskannya." Nathan memijat keningnya.


"Salahmu sendiri. Kenapa dulu kau menikahinya? Sudah dari waktu kuliah aku tidak suka padanya, karena ia terlalu banyak drama." Ucap Gibran memandang serius sahabatnya yang sudah seperti orang gila dengan penampilan acak-acakan.


Gibran sudah tidak kaget dengan keadaan rumah tangga Nathan yang tidak harmonis sejak awal pernikahan.


"Karena waktu itu aku sangat merasa bersalah padanya. Tapi tanpa ku sadari aku telah menyakiti diriku sendiri, bertahan dengan orang yang sama sekali tidak ku cintai sangat menyiksa."


"Itu karena kau bodoh!" Jawab Gibran sambil terkekeh.


"Apa kau bilang?"

__ADS_1


"Oke, tenangkan dirimu ... lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang?"


"Tentu saja menceraikan nya, karena aku akan menikahi kekasihku dalam waktu dekat."


Gibran tersentak mendengar perkataan Nathan, ia rasa Nathan sudah mulai tidak waras. "Kau memiliki wanita lain! Oh god ... rumah tangga macam apa itu?"


Nathan menampilkan senyum miringnya, ia mendudukkan dirinya di depan Gibran yang sedang mengelus keningnya. Di kepala Nathan sudah tersusun rapi berbagai rencana licik untuk menyingkirkan parasit di hidupnya.


"Karena aku sangat mencintai kekasihku. Ia kecewa saat tau istriku hamil, dari kemarin ia belum mau menemuiku, dan ia memintaku untuk menjauhinya." Ujar Nathan dengan wajah lesu.


"Kekasihmu mengetahui kehamilan Sisil?"


"Tidak ku sangka Elena mendengar perdebatan di antara kami. Ia tidak mau menyakiti hati Aunty nya, sehingga ia memintaku untuk tidak menceraikannya."


Gibran menyipitkan matanya, "Aunty?"


"Dia keponakkan Sisil."


"Astaga, sejak kapan kau menyukai bocah ingusan?" Mata Gibran sudah melotot keluar.


Gibran menggelengkan kepalanya. "Aku tidak habis pikir dengan mu, Apa kau sudah pernah meniduri keponakkanmu itu?" Gibran melontarkan pertanyaan yang membuat Nathan menatap tajam padanya.


"Belum!"


"Kalau begitu tinggalkan saja dia, demi anak yang ada di kandungan Sisil. Bayi itu tidak bersalah, jangan kau campakan begitu saja hanya karena kesalahan orang tuanya." Gibran menjeda ucapannya, "dan kekasihmu masih mempunyai masa depan yang panjang. Sangat di sayangkan kalau harus berakhir dengan pria tua sepertimu."


"Tutup mulut sialanmu itu!" Tatapan Nathan berubah mengerikan. Sahabatnya itu memang paling senang memainkan emosinya. "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkan ia pergi dari kehidupanku."


"Terserah kau saja. Aku semakin di buat pusing dengan masalahmu, sedangkan masalahku dengan Dera sampai saat ini belum menemui titik terang." Cetus Gibran sambil menghela napas lemah.


"Kasihan sekali, pria tampan dan mapan sepertimu di tolak mentah-mentah oleh seorang wanita." Balas Nathan dengan tertawa keras, melihat wajah sengsara sahabatnya.


■■■■■■


Di apartemen Elena pada sore hari.

__ADS_1


"Di mana suamiku?" Tanya Sisil saat pintu tersebut terbuka.


Keterkejutan tampak dari mimik muka Elena. "Uncle tidak ada di sini."


"Aku tidak percaya dengan mulutmu yang pandai bersilat lidah!" Jawab Sisil kasar.


Elena menaikkan pandangannya menatap Sisil dengan air mata menetes, "Aku tidak berbohong." Tutur Elena lirih. "Aku minta maaf karena sudah mengecewakan mu. Tapi kali ini aku berkata apa adanya."


Sisil mendatangi apartemen Elena bermaksud mencari Nathan yang tidak kunjung pulang sejak pertengkaran kemarin.


"Sekarang apa kau senang aku akan berpisah dengan suamiku?" Sisil mengeraskan rahangnya menatap tajam Elena.


"A-aku tidak bermaksud merebutnya darimu, aku tidak menginginkan itu! Aku sudah meminta Uncle untuk tidak menceraikanmu." Tangisan Elena terdengar lirih, ia sangat merasa bersalah, ia sakit melihat kebencian di mata Sisil.


Dengan kemarahan yang mendominasi akal sehat Sisil, ia melayangkan tamparan keras di pipi Elena. Membuat wajah Elena terlempar ke samping, rasa panas langsung menjalar di pipi gadis itu. Elena semakin terisak sambil menyentuh pipinya yang terasa kebas.


"Kalau kau tidak menginginkan nya kenapa kau mau menjadi simpanannya? Ternyata kau tidak ada bedanya dengan ibumu, sama-sama suka mengoda pria beristri. Aku kecewa padamu!"


Elena menurunkan tubuhnya, bersimpuh di kaki Sisil. "Aku tidak bisa mencegah perasaan ini, aku mencintainya. Tolong maafkan aku. Jangan membenciku Aunty!" Ucap Elena di tengah tangisannya.


"Aku membencimu. Sangat membencimu!" Desis Sisil. "Aku menyesal sudah mengajakmu ikut bersamaku. Tau begini dulu ku biarkan saja kau hidup terlunta-lunta di jalanan." Tutur Sisil, tangannya meraih rambut Elena menarik kuat ke belakang, membuat kepala Elena mendongak.


"Aw ... Aunty tolong lepaskan, aku mohon!" Rintih Elena merasakkan perih di kepalanya karena tarikan yang sangat kuat.


"Aku ingin sekali membunuhmu!" Tutur Sisil tanpa perduli dengan keadaan Elena yang sangat memperihatinkan.


"Sakit Aunty,"


"Kau pantas mendapatkan ini, bocah tidak tau terima kasih. Kenapa kau dulu tidak ikut mati saja bersama orang tuamu!" Gigi Sisil terdengar beradu meluapkan emosinya.


Itu resiko yang harus di hadapi oleh Elena. Mendapat amukan dari orang yang sebelumnya sangat sayang kepadanya. Mungkin sekarang rasa itu sudah tidak ada lagi di benak Sisil, karena ia sudah terluka sangat dalam. Rumah tangga yang di impi-impikan dari dulu sudah terancam runtuh bahkan sudah berada di ujung tanduk. Itu semua karena keponakkan yang terlihat polos, namun di balik wajah polosnya menyimpan bara yang siap membakar siapa saja.


Hubungan yang tulus belum tentu mulus saat menjalaninya. Tapi percayalah ketulusan mampu menguatkan kita untuk saling memahami.


----------

__ADS_1


__ADS_2