Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 29


__ADS_3

"Nathan, apa yang kau lakukan? Cepat berdiri!" Elena menekuk lututnya menyejajarkan dirinya dengan Nathan yang merendah di depannya. "Jangan kau lakukan itu!" Kata Elena sambil mengusap matanya yang basah.


"Tidak ada yang bisa ku lakukan selain merendahkan diriku di depanmu. Semua ini ku lakukan agar kau tau, aku sungguh-sungguh memintamu kembali." Nathan meraih jemari Elena, "aku mohon," pria itu sampai harus menahan napasnya nenunggu Elena berkata.


Elena menurunkan matanya menatap pada tangannya yang berada dalam genggaman Nathan. "Perasaanku masih sama untukmu, dan aku percaya dengan ketulusanmu. Namun saat ini semua terasa sulit untukku. Maaf aku tidak bisa kembali bersamamu, karena aku sudah terikat dengan seseorang."


Nathan menatap datar Elena yang sedang menangis sesenggukkan. "Tapi kau memiliki keinginan untuk kembali bersamaku kan? Aku akan mendapatkan mu kembali jika kau menghendaki hal itu."


Dengan ragu Elena memberanikan diri menatap ke arah Nathan. Mata gadis itu masih mengeluarkan air mata, "ya." Jawab singkat Elena.


Seketika tubuh Elena sudah berada dalam dekapan hangat Nathan. Pria itu memeluk erat Elena, takut kalau gadis itu akan pergi lagi.


"Aku mencintaimu. Diriku seakan mati saat kau tidak ada di sampingku, aku merindukanmu. Jangan pergi lagi kalau kau melakukannya mungkin saat itu juga aku akan benar-benar pergi dari dunia ini."


"Apa yang kau katakan? Jangan berlebihan seperti itu, seperti tidak ada gadis lain saja." Canda garing Elena yang masih menangis di dada Nathan.


Kecupan lembut di berikan Nathan di puncak kepala Elena. Ia bahagia bisa memeluk Elena dengan tanpa paksaan. Nathan bersumpah dalam hati ia akan segera menjadikan Elena miliknya, tidak perduli kalau gadis itu sudah memiliki calon suami.


"Setelah ini kau akan ikut bersamaku kan?"


Elena berpikir apa yang harus ia lakukan. "Sepertinya tidak. Apa yang harus ku katakan pada Rega jika aku pergi bersamamu. Aku belum siap melihatnya kecewa, dia sudah terlalu baik padaku."


Nathan mendorong Elena sedikit menjauh, agar ia bisa bertatap muka dengan gadis tersebut. "Kau akan tetap tinggal bersamanya? Tidak, aku tidak mau melihatmu tinggal satu atap dengan pria lain."


"Tolong sekali ini saja jangan memaksaku. Aku tidak mungkin pergi tanpa alasan yang jelas, aku memintamu untuk bersabar." Kata Elena, ia sedikit cemas saat melihat kecemburuan di mata Nathan.


Kedua tangan Nathan mengusap rambutnya ke belakang sambil membuang napas kasar. "Baiklah, aku akan mengikuti keinginanmu itu. Kau harus berjanji padaku untuk menjaga dirimu dengan baik, awas saja kalau kau sampai jatuh cinta sungguhan pada pria itu."


"Dia tuanaganku, apa salahnya aku jatuh cinta padanya!" Elena langsung menutup mulutnya dengan tangan. Bisa gawat kalau sampai membuat Nathan marah.


"Elena!" Geraman tertahan terdengar dari pria yang melempar tatapan tajam pada Elena.


Nathan membaringkan tubuhnya di atas rumput dengan satu tangan menjadi alas kepalanya. Di ikuti Elena yang membaringakan dirinya dengan kepala gadis itu beralaskan perut sixpack Nathan. Mereka menikmati malam yang dingin hanya berdua sambil menatap ke atas langit hitam bertabur bintang yang berkilauan. Tangan Nathan yang satunya mengusap lembut pipi halus Elena, dengan dada yang berdebar hebat.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kau dulu pergi sampai ke desa terpencil yang bahkan tidak terlihat keberadaannya di dalam peta?" Tanya Nathan tiba-tiba.


"Aku juga tidak tau. Waktu itu aku hanya asal menaiki mobil sayur yang membawaku hingga sampai ke desa itu." Elena menyilangkan kedua tangannya di atas perut.


"Tidak ku sangka sangat sulit mencari keberadaanmu. Bahkan kekuasaan yang ku miliki tidak bisa membuatku menemukanmu!" Aku Nathan.


"Apa kau sangat mengkhawatirkanku?"


"Tentu saja! Pertanyaan macam apa itu?"


Elena menolehkan wajahnya ke samping, menatap ke arah Nathan. "Aku kira kau akan dengan mudah melupakanku. Waktu itu aku terlalu tertekan sehingga tidak memikirkan akibatnya. Maafkan aku!" Elena telah menyesalinya.


"Aku tau Sisil yang telah menekanmu. Tidak perlu di ingat lagi masa itu, hanya akan melukai diri kita."


Elena mendudukkan dirinya karena mengingat sesuatu. "Ah iya, bagaimana kabar Aunty? Pasti anak kalian sudah lahir saat ini."


Nathan ikut bangkit, mereka duduk saling berhadapan. "Mungkin baik. Kau yakin sekali bahwa dia mengandung anakku." Ucap Nathan sambil menaikkan alisnya sebelah.


"Anak Sisil tapi bukan anakku."


Tubuh Elena berubah lemas. "Sia-sia saja pengorbananku selama ini, kalau pada akhirnya kalian tetap berpisah juga."


"Kau yang bodoh! Terlalu mempercayai perempuan licik itu." Ejek Nathan yang langsung mendapat pelototan dari Elena.


"Kau mengataiku bodoh, huh!" Elena memukul dada Nathan dengan kepalan tangannya.


Nathan tertawa geli berusaha menghindari pukulan kecil gadis itu, "Sudah hentikan, El! Ayo masuk, udaranya sudah bertambah dingin, kau bisa terkena flu." Nathan membantu Elena berdiri lalu mereka berjalan memasuki rumah lebih tepatnya vila milik Nathan yang berada di atas bukit.


Tiba di dalam vila Elena merasakan tubuhnya mulai sedikit menghangat. ia duduk di kursi kayu sambil menggosok-gosokan kedua tangannya. "Kemana perginya kedua pria menakutkan itu?" Tanya Elena, merasa penasaran melihat vila tersebut sangat sepi.


"Kembali ke mansion."


"Lalu kenapa kita tidak langsung pulang saja. Sepertinya sekarang sudah menjelang pagi, aku juga harus bekerja." Cetus Elena sedikit panik.

__ADS_1


"Kita akan di sini untuk sementara waktu. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, apa kau tidak merindukanku, sayang?"


Pipi Elena menampakkan semburat merah. "T-tapi bagaimana dengan pekerjaanku dan bagaimana dengan Rega, pasti ia akan mencariku!"


Nathan tidak suka Elena mengkhawatirkan pria lain, "semua sudah ku atur. Apa menurutmu kepergian kekasihmu itu hanya kebetulan saja?" Nathan terseyum miring setelah mengatakan itu.


"Ya... aku tau itu semua ulahmu!" Elena menghela napas lelah. "Bagaimana dengan pakaianku?"


"Ayo masuk!" Nathan membuak pintu kamar, mempersilahkan Elena masuk. Mata gadis itu berkeliling mengamati kamar tersebut. Minimalis dan tatanannya sangat pas, menarik saat di pandang. Kamar tersebut memiliki dinding kaca satu arah yang bisa langsung melihat pemandangan luar, sedangkan dari luar tampak gelap.


"Di dalam lemari itu sudah ada beberapa pakaian untukmu. Kau bisa menggantinya sekarang."


"Baiklah." Elena membuka lemari tersebut, di dalamnya tergantung rapi puluhan baju yang di kata Nathan hanya beberapa. Beberapa bagi seorang Nathan ternyata sebanyak ini tidak seperti orang pada umumnya.


Elena masih membulatkan mulutnya saat menghadap pada Nathan. "Untuk apa pakaian sebanyak ini, Nathan?"


"Untuk kau pilih. Cepat ganti bajumu!"


Elena sudah akan membuka kancing kemejanya namun ia urungkan karena mengingat Nathan masih berada di ruangan itu. "Keluarlah, kenapa masih di sini?"


"Kenapa aku harus keluar? Aku sudah pernah melihat tubuh polosmu, jadi tidak perlu merasa malu. Kita juga sudah pernah melakukannya!" Pupil mata Nathan tampak mengecil seperti menahan sesuatu. Nathan mengingatkan Elena pada malam bersejarah itu Membuat Elena semakin di buat malu.


----------


Next Chapter》



■■■



Tokoh yang lainnya bisa kalian bayangkan sendiri seperti apa mereka. Karena aku belum nemu visualnya yang cocok. Ku tunggu vote, like, dan komenya! biar aku tambah semangat lanjut nulisnya. 😙

__ADS_1


__ADS_2