Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 6


__ADS_3

"Sudah puas jalan-jalannya?" Ucap Nathan datar. Ia geram dengan sikap Sisil yang dengan sesuka hatinya pergi tanpa memberitau dirinya, ia merasa tidak di hargai sebagai suami.


Sisil tersenyum sambil meletakkan kedua tangannya pada leher Nathan. "Aku minta maaf, dan aku merindukanmu!" Katanya menatap wajah Nathan dan menyentuhkan bibirnya pada bibir pria tersebut. Nathan awalnya hanya diam lama-lama ia ikut ******* bibir Sisil dengan kasar.


"Kenapa kau suka sekali pergi tanpa memberitauku!" Kata Nathan setelah melepas ciumannya.


"Aku takut mengganggumu. Kau juga jarang berada di mansion jadi aku menerima ajakan teman untuk pergi berlibur. kau tau, aku kesepian di mansion sendirian!" kata Sisil menjelaskan.


"Kau bisa pergi shopping atau apa pun itu dengan Elena!" Ujar Nathan menatap wajah istrinya yang tampak kebingungan untuk menjawab.


"Kau kan tau Elena sibuk dengan kuliahnya." Jawab Sisil memberi alasan. "Aku menginginkanmu!" Ucapa Sisil lagi suaranya di buat sedikit mendesah. Tangannya dengan lincah membuka kancing kemeja yang melekat di tubuh Nathan, ia berniat menggoda suaminya agar tidak marah lagi kepadanya.


Nathan menghentikan tangan Sisil yang akan melepas kancing terakhir ia segera mengancingkan kembali kemeja hitam yang di pakainya. Sisil merasa bungung dengan sikap Nathan.


"Kau mau ke mana?" Tanya Sisil dengan wajah penuh tanda tanya.


"Aku hampir lupa harus segera menemui client!" Jawab Nathan datar meninggalkan Sisil yang terbengong di dalam kamar.


Elena membuka pintu kamar berjalan menuruni tangga dengan langkah anggun, suasana sekitar sangat sunyi para pelayan yang biasanya bebenah tidak terlihat. Ia melangkah ke meja makan, di sana sudah ada Sisil yang sedang memainkan ponsel miliknya dengan secangkir teh di depannya. Elena menarik kursi di depan Sisil pelan agar tidak menimbulkan bunyi, ia mendudukkan dirinya di sana meraih satu potong roti tawar lalu mengolesi selai coklat sambil mengamati Sisil yang tidak merasa terganggu dengan kehadirannya.


"Aunty sudah sarapan?" Tanya Elena lembut.


"Ah, belum sayang, aku baru mau meminum teh!" Jawab Sisil menatap Elena sebentar lalu kembali melihat benda pipih itu.


"Aunty tidak terlihat beberapa hari ini."


Sisil meletakan ponselnya lalu menyeruput teh di cangkirnya, "aku habis dari berlibur, maaf tidak sempat bilang padamu."


"Tidak masalah, Aunty kembali sejak kapan?" Ucap Elena sambil tersenyum.


"Tiba di mansion tadi subuh."


"Selamat pagi!" Ucap Nathan sambil mendudukkan dirinya, Elena dan Sisil menoleh pada pria itu.


"Pagi sayang," kata Sisil berdiri dari kursinya menghampiri Nathan lalu mengecup pipi suaminya itu. "Aku kira kau sudah berangkat."


"Aku habis dari ruang kerja." Balas Nathan datar sambil melirik Elena dengan ujung matanya.


"Kau mau sarapan dengan apa? Roti tawar atau sereal!" Tanya Sisil memberikan perhatian pada Nathan.


"Aku minum kopi ini saja!" Sambil menunjuk kopi di atas meja yang sudah dingin.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu." Kata Sisil dengan kecewa.


"Aku dan Elena berangkat dulu, kau jangan pergi kemana-mana." Ujar Nathan mengecup singkat kening Sisil.


"Romantis sekali," batin Elena menyaksikan pasangan suami-istri itu. Aunty Sisil adalah wanita yang baik, perhatian, dan sangat cantik melebihi kecantikan dirinya tapi kenapa pamannya itu bisa berpaling padanya? padahal Sisil sudah sangat sempurna pikir Elena.


"Ayo El!" Elena tersentak dari lamunan setelah Nathan menepuk pelan pundaknya.


"Ah ya..." Elena mengekori Nathan sambil menggerutu tidak jelas. Elena pagi ini berencana mengunjugi apartemen sahabatnya karena jenuh kalau harus berdiam diri di mansion.


"Uncle aku pergi sendiri saja, lagi pula apartemen sahabatku tidak searah dengan kantor Uncle." Ujar Elena. Ia malas satu mobil dengan Nathan, ia sebisa mungkin mencari alasan untuk lepas dari pria itu.


Nathan menghentikan tangannya yang akan membuka pintu mobil untuk Elena, "Tidak masalah. Tetap akan ku antar!"


"Ta--tapi---,"


Elena tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Nathan sudah lebih dulu menarik tangan gadis itu lalu mendudukannya di kursi samping kemudi. Tidak lupa Nathan memasangkan sabuk pengaman pada gadisnya.


"Kenapa Uncle suka sekali memaksa?" kata Elena tampak mengerucutkan bibirnya.


"Jangan memanggilku uncle jika sedang berdua!" Kata Nathan sambil membawa mobilnya keluar menuju jalan raya.


"Kenapa?"


"Memang kenyataannya begitu. Kau sudah tua tapi masih bertingkah layaknya anak muda!" tutur Elena dengan memutar bola matanya malas.


Nathan meletakan tangannya pada paha Elena yang terbuka, yang langsung di tepis kasar oleh gadis itu.


"Jangan menyentuhku!" Elena melirik tajam pada pria mesum itu.


"Kenapa? kau kekasihku."


Elena menarik tangan di genggaman Nathan, ia melayangkan tatapan sinis pada pria itu, "aku tidak mau menjadi simpananmu."


Ucapan sarkastik Elena membuat Nathan mengulum senyum. Menepikan mobilnya di tempat yang cukup sepi. Membuat Elena merasa was-was takut pamanya itu berbuat sesuatu.


"Kau ingin setatus yang jelas dariku!" Ucap Nathan memiringkan tubuhnya menghadap Elena yang enggan melihatnya. "Bersabarlah, tidak akan lama lagi kau akan mendapatkan itu!" kata Nathan tanpa mendengar jawaban Elena dari pernyataan yang ia ucapkan sebelumnya.


"Maksudmu?"


Tidak ada jawaban dari pria tersebut. Mobil kembali di jalankan.

__ADS_1


Setelah itu tidak ada yang berbicara hanya terdengar suara mesin mobil dan kendaraan di luar sana. Elena tidak fokus dengan jalanan yang di lalui, ia hanya berpikir semoga saja Nathan mau mengizinkan ia pindah ke apartemen bersama Melda.


Tiba di sebuah gedung tinggi tapi bukan gedung apartemen Melda atau pun gedung perusahaan Nathan. Elena menatap Nathan berniat meminta penjelasan dari pria itu, tapi Nathan sudah lebih dulu keluar membuka pintu di sampingnya.


"Kita mau apa ke sini?" Tanya Elena bingung.


Nathan meraih jemari Elena menariknya memasuki gedung tersebut. Mereka masuk ke dalam lift, Nathan menekan angka 29, ada berapa lantai gedung ini pikir Elena setelah melihat deretan angka di samping pintu lift yang mencapai angka 60. Pintu Lift terbuka menampilkan lorong yang sangat panjang. Nathan berhenti di depan pintu nomor 1209.


Elena memasuki ruangan yang sangat luas bernuansa abu-abu dan hitam terdapat sofa besar di tengah ruangan tersebut dengan interior yang sangat mewah. Mereka memasuki ruang tengah di sana terdapat televisi 42 inci, di sebelah kanan terdapat dapur yang terlihat elegan dengan di dominasi warna putih. Ada satu pintu besar berwarna hitam yang tertutup rapat. Sudah bisa di tebak ruangan itu adalah sebuah kamar.


"Ini apartemen siapa?" Tanya Elena masih mengedarkan matanya meneliti di setiap sudut ruangan.


"Milikku, dan kau akan tinggal di sini mulai sekarang!" Tukas Nathan.


Elena membulatkan matanya menatap syok pada Nathan, "kau bercandakan?" kata Elena masih dengan mulut mengangga.


Pria itu mengulas senyum. "Tidak, kau sendiri yang kemarin meminta padaku untuk tinggal di Apartemen!"


"Tapi aku ingin tinggal bersama Melda bukan di sini. Ini terlalu besar untuk ku tinggali seorang sendiri." Ujar Elena.


"Bersamaku!"


Elena memincingkan matanya. Ia mulai paham dengan maksud pria tersebut menyuruhnya tinggal di apartemen itu. Karena ada tujuan lain yaitu agar Nathan bisa bebas mendatanginya. "Sialan!" Elena memaki dalam hati.


"Ini sama saja aku keluar dari kandang harimau masuk ke kandang singa!" Cerca Elena menatap sengit pada Nathan.


"Jangan marah-marah begitu! kau semakin membuatku bergairah." Kata Nathan bibirnya menunjukkan seringaian tipis.


"Dasar keparat!" Bentak Elena dengan napas naik-turun.


"Aku harus segera pergi, ada meeting setengah jam lagi. Kau diam di sini aku akan segera kembali!" Pinta Nathan memutar tubuhnya meninggalkan Elena. Baru tiga langkah ia berbalik menatap ke arah Elena dengan ke dua tangan ia masukan ke dalam saku celana, "Jangan berpikir untuk pergi dari sini! karena kau belum mengetahui password apartemen ini."


Elena memandang pintu yang sudah tertutup rapat itu dengan mata berkobar. Ia harus terkurung di sana sampai iblis tampan itu membebaskannya. Bagaimana dengan rencana Elena menghapus perasaannya pada Nathan jika ia sendiri malah terkurung di tempat itu, semakain besar kemungkinan Elena jatuh hingga ke dasar pada pesona pria tersebut.


----------


Next Chapter》


•Bonus Visual Cast•


__ADS_1




__ADS_2