
Jika aku di takdirkan bukan untuknya, aku akan terima. Karena memaksakan sesuatu yang memang bukan untuk di miliki bisa menimbulkan luka tanpa di sadari. Aku sudah cukup bahagia bisa merasakan rasanya di cintai oleh laki-laki seperti dirinya, dengan ketulusan yang murni, dengan kasih sayang seutuhnya. Meski hati ini sudah terluka cukup dalam namun aku mencoba untuk mengikhlaskan. Ratap Elena.
Di malam yang dingin dengan mata menatap ke atas, memandang langit gelap bertabur bintang yang berkilauan.
"Sayang, aku mencintaimu!" Bisikan lembut Nathan mengalun indah di telinga Elena, hingga wanita itu memejamkan mata, meresapi setiap hembusan napas Nathan di tengkuknya.
"Aku lebih mencintaimu! Tapi aku mulai ragu dengan keberhasilan hubungan kita." Elena menundukan kepalanya sambil meremas besi pembatas balkon.
"Apa yang membuatmu ragu? Aku ada di sini untukmu." Nathan memeluk Elena dengan meletakan tangannya di depan dada wanita itu.
"Aku sangat merasa bersalah atas kejadian yang menimpa rumah tanggamu. Aku sudah merebut suami orang lain, dan sebentar lagi aku akan merebut ayah dari seorang anak yang akan terlahir ke dunia." Tutur Elena lirih, dadanya sudah kembali sesak.
Nathan semakin mengeratkan pelukannya dan tangan yang satunya ia gunakan untuk megenggam jemari Elena. "Aku tau kau berada pada posisi yang serba salah, tapi percayalah ini semua bukan salahmu, aku akan terus memperjuangkanmu."
"Tapi-,"
"Bukan karena kehadiranmu yang membuat kehancuran ini. Memang sudah waktunya kami harus berpisah. Aku sudah cukup tersakiti karena harus bertahan dalam pernikahan yang semu. Hanya kehampaan yang menemaniku setiap harinya. Hingga suatu ketika gairah mencintaiku mulai bangkit lagi saat sedang bersamamu. Aku selalu memperhatikanmu tanpa kau sadari. Memang terlihat konyol pria dewasa sepertiku tertarik dengan gadis kecil polos sepertimu." Nathan mengungkapkan isi hatinya. Jantung Elena berdebar.
"T-tapi bagaimana dengan anak yang sedang di kandung Aunty?" Elena meremas genggaman tangan Nathan sambil menghela napas lemah.
"Aku akan menjamin seluruh hidupnya " Jawab Nathan menumpukan dagunya di kepala Elena.
Hening cukup lama.
"Bagaimana jika aku pergi dari kehidupanmu?"
Napas Nathan terhenti saat mendengar pertanyaan aneh dari Elena. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi! Kenapa kau bertanya seperti itu?"
__ADS_1
"Hanya bertanya saja, siapa tau kau akan mencari gadis lain." Jawab Elena sambil tertawa.
"Tidak akan. Dan jangan coba-coba berpikir untuk pergi dariku!" Kata Nathan dengan nada geram.
Elena melepaskan tautan tangan Nathan, membalikan tubuhnya menghadap Nathan yang ternyata hanya bertelanjang dada di tengah cuaca yang dingin. Tangan Elena meraba dada bidang Nathan dengan gerakan erotis, membuat pria itu memejamkan mata merasakan desiran nikmat yang hanya di dapat dari wanita di depannya.
Gerakan tangan Elena berhenti, ia mengamati wajah Nathan yang berkilau di terpa sinar bulan. "Wajahmu terlihat lucu," kata Elena sambil tertawa pelan.
"Apanya yang lucu? Kau mencoba mempermainkanku, huh!" Balas Nathan dengan kesal.
Tanpa rasa canggung Elena mengalungkan tangannya di leher Nathan. Mereka saling memandang dengan tatapan penuh cinta. Kening mereka saling bersentuhan, dengan dada yang berdebar hebat.
"Hanya untuk malam ini aku ingin egois, hanya untuk malam ini aku ingin melupakan semua masalah yang sedang menimpaku, biar hanya untuk malam ini aku ingin di miliki seutuhnya oleh seseorang yang ku cintai." Batin Elena.
Nathan meraih bokong Elena, dan mengangkatnya dengan kedua kaki wanita itu melingkar sempurna di pinggang Nathan. Mereka berciuman dengan perasaan cinta yang menggebu. ******* demi ******* mereka lakukan.
Dengan senyum sensual, Elena memandang wajah kekasihnya yang sudah memerah karena gairah. Masih dengan posisi Elena di gendongan Nathan persis seperti koala, Nathan membawa langkahnya memasuki kamar. Membaringkan tubuh Elena dengan lembut ke atas kasur, ia memposisikan tubuhnya di atas Elena. Mata pria itu sudah tampak berkabut, dengan segera ia mencumbui kekasihnya yang terlihat pasrah berada di bawahnya.
"Ya!" Kata Elena dengan yakin.
"Kau serius? Tidak akan menyesalinya setelah ini."
"Cepatlah, sebelum aku berubah pikiran!"
Mereka sudah sama-sama polos, mereka saling mengagumi satu sama lain. Nathan memposisikan miliknya di antara kedua paha Elena. Dengan pelan tapi pasti milik Nathan melesat masuk menembus sebuah penghalang yang sudah di jaga Elena selama hidupnya. Bangga dan bahagia itu yang di rasakan Nathan saat ini, karena bisa menjadi yang pertama untuk gadis tersebut.
Rintihan kesakitan terdengar dari mulut Elena. Nathan mencoba menenagkan Elena yang baru saja kehilangan mahkotanya dengan membenamkan wajahnya di leher gadis itu. "Maaf aku sudah menyakitimu."
__ADS_1
Elena menarik sudut bibirnya lalu mengangguk menjawab perkataan Nathan. "Bergeraklah!"
Mereka melakukan kegiatan panas itu dengan penuh cinta di dalamnya. Elena sampai kewalahan mengimbangi permainan Nathan yang luar bisa hebat.
"Bercinta dengan seseorang yang sangat berarti di dalam hidupku ternyata bisa senikmat ini." Batin Nathan.
Tanpa kenal lelah Nathan menghujamkan miliknya tanpa henti pada kekasihnya. Erangan dan desahan kenikmatan mengalun indah di ruangan tersebut. Tanpa perduli dengan peluh yang sudah bercucuran, membasahi tubuh mereka.
Mentari pagi sudah tanpak malu-malu mengintip dari balik tirai jendela. Di tempat tidur masih terbaring tubuh telanjang di balik selimut yang menutupinya.
Nathan mencoba megerjabkan matanya beberapa kali. Ia menoleh pada kekasihnya yang ternyata sudah tidak ada di sampingnya. Nathan tersenyum saat mengingat kejadian semalam, Elena sudah memberikan aset berharga yang ia miliki kepadanya. Itu momen terindah dalam hidup Nathan, tidak akan pernah bisa ia lupakan.
"Sayang!" Nathan mencoba memanggil Elena dengan suara seraknya khas orang bangun tidur. Ia melihat pada pintu kamar mandi yang terbuka, tidak mungkin Elena berada di sana, pikirnya.
Nathan meraih celana pendek lalu segera mengenakannya. Ia bergegas keluar kamar untuk mencari keberadaan gadis itu.
"Pagi, Tuan!" Sapa Renata saat berpapasan dengan Nathan.
"Di mana Elena?" Tanya Nathan.
"Saya pikir nona masih tidur, sejak saya datang tidak terlihat nona keluar dari kamar." Jawab Renata.
Perasaan Nathan berubah cemas mendengar perkataan dari pelanyan tersebut. Elena sudah pergi dari pagi-pagi sekali, tapi ke mana perginya? Tanda tanya besar singgah di pikiran Nathan.
Pria itu kembali masuk ke kamar, meraih ponsel miliknya bermaksud menghubungi Elena. Ia menekan nomor Elena, menunggu sejenak panggilan tersebut terhubung. Namun terdengar suara dering yang Nathan tau itu dari ponsel Elena. Ia segera mencari sumber suara itu, yang ternyata berada di dalam walk in closet. Di atas meja yang terletak di tengah ruangan tersebut ponsel Elena tergeletak begitu saja tanpa pemiliknya. Nathan meraih benda pipih itu dan mengotak-atiknya. Tidak berapa lama ponsel tersebut sudah berakhir di lantai dengan beberapa sisi mengalami kertakkan.
Nathan berteriak dengan kekuatan penuh. Gadis yang di cintainya tega pergi darinya. Meninggalkan Nathan sendiri dengan perasaan hancur. Pria itu menonjok berkali-kali lemari kaca di sampingnya, lalu jatuh terduduk dengan punggung tangan yang penuh dengan darah. Ia meremas kuat rambutnya, air mata kesakitan luruh begitu saja tanpa bisa ia cegah. Belahan jiwanya memilih pergi dari pada bertahan di sisinya.
__ADS_1
----------
Next Chapter》