Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 41


__ADS_3

Nathan menghabiskan malamnya di club bersama teman-temannya, salah satu diantaranya Gibran. Sudah hampir pagi Nathan masih betah berada di sana ditemani oleh dua wanita sekaligus.


"Kau tampak kacau, Dude!" kata salah satu teman Nathan yang berprofesi sebagai Dokter.


"Aku baik-baik saja," suara Nathan terdengar parau. Pria itu sudah terlalu banyak minum. Seorang wanita cantik yang duduk di sebelah Nathan menuangkan kembali wine ke dalam gelas yang sudah kosong.


"Aku dengar kau baru saja mengacaukan acara pernikahan salah satu petinggi di perusahaan milik Gibran. Ada masalah apa sebenarnya hingga kau berbuat nekat seperti itu?" ucap pria tampan berkaca mata minus.


"Yang ingin pria sialan itu nikahi adalah istriku! Mana mungkin aku akan diam saja."


"Sejak kapan kau menikah lagi? Bukankah selama ini kau dekat dengan Jessica bahkan sudah bertunangan dengannya." sambung Gibran.


Ruangan VVIP tersebut berubah hening. Semua mata menatap fokus kepada Nathan. Mereka dikejutkan oleh pengakuan tak terduga Nathan, pria tersebut tampaknya sudah mulai mabuk hingga tak sadar sudah mengungkapkan semuanya.


"Oh gosh, aku baru tau ada orang seberengsek dirimu!" Gibran tak habis pikir dengan apa yang sudah dilakukan sahabatnya.


Nathan tertawa terbahak. Ia meraih lagi gelas berisi vodka lalu menenggaknya. "Jangan menyentuhku!" sentak Nathan pada salah satu wanita di sampingnya.


Wanita tersebut mengurungkan niatnya yang akan meletakkan tangannya di paha Nathan. Bentakan keras Nathan membuat nyali para wanita penghibur itu menyusut.


"Kau bertingkah seperti pria setia saja. Apa kau lupa dengan perbuatan bejatmu yang selalu meniduri wanita berbeda setiap malamnya?" celetuk pria berkaca mata minus lagi.


"Tutup mulutmu, sialan! Aku malas mendengar ocehanmu."


Semua yang ada di sama hanya mampu mengulum bibirnya. Mereka tidak ingin membuat masalah dengan pria bertemperamen tinggi yang nanti malah akan memicu keributan.


***


Pukul 02.30 Elena masih terjaga. Aksi mogok makan yang ia lakukan terasa menyiksanya. Saat ini perutnya tak henti-hentinya berbunyi. Elena duduk di sofa samping jendela, ia membuka tirai yang menutupi jendela agar bisa menatap keluar. Hanya taman gelap yang bisa Elena lihat. Ia ingin sekali keluar tapi apalah daya pintu tersebut terkunci rapat. Elena bosan, ponsel yang biasanya bisa menemani di tengah kejenuhan entah berada di mana sekarang.


Elena berharap ada yang membukakan pintu agar ia bisa keluar dan mencari makanan di dapur. Lapar sangat-sangat menyiksanya, mata Elena sudah mulai berkunang-kunang di waktu sepagi ini siap yang bisa ia mintai tolong. Para pelayan mungkin masih sibuk dengan mimpinya.


Di atas sofa Elena duduk sambil memeluk lutut. Tiba-tiba ia merasakan keanehan di perutnya, seperti ada sesuatu yang bergejolak ingin keluar. Tanpa menunggu lama Elena berlari ke kamar mandi. Ia berdiri di depan washtafel sambil menunduk. Rasa mual terus menyerang, hingga cairan kental keluar dari mulutnya. Setelah itu Elena berkumur dan membasuh wajah pucat yang dilelehi air mata. Setelah memutahkan isi perutnya Elena merasa lega. Rasa mualnya sedikit mereda. Ia kembali ke kamar lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur.


Elena merasa lelah dan lemah. Ia memejamkan mata agar tidak merasakan pening di kepalanya. Ia bingung dengan dirinya sendiri, tidak biasanya ia seperti itu. Apa mungkin asam lambungnya kambuh karena seharian tidak makan dan minum?


Saat Elana hampir memasuki alam tidur tiba-tiba rasa mual kembali lagi. Elena langsung menyibak selimut yang menutupinya dan melesat kilat ke kamar mandi.

__ADS_1


Entah berapa kali Elena keluar masuk kamar mandi hingga kini matahari sudah mulai menampakkan dirinya. Elena meringkuk di atas kasur dengan wajah pucat. Ia baru berhasil tidur beberapa menit yang lalu.


Terdengar suara kunci di putar, sepertinya sebentar lagi akan ada yang masuk. Dan benar saja, Nathan masuk masih dengan penampilannya yang berantakan. Pria itu baru saja pulang. Mata merah dan wajah lelah itu yang nampak pada Nathan saat ini.


"Kau tetap membuatku bergairah meski diriku sudah menolaknya dengan keras." ucap Nathan yang berdiri di samping tempat tidur.


Nathan menubrukan tubuhnya tanpa memberi peringatan sebelumnya. Ia menciumi Elena dengan brutal. Elena membuka matanya tanpa bisa menolak perlakuan kurang ajar Nathan.


"Tolong jangan!" rintih Elena saat sesuatu yang keras menghujamnya.


Tak ada yang mampu menghentikan kekasaran Nathan. Elena menangis dalam diam. Ia membiarkan Nathan menguasai dirinya, meski ia harus menahan rasa nyeri yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Please, Nath. Jangan sekasar ini, kau menyakitiku."


"Diamlah! Ini terasa begitu nikmat."


Lengkuhan Nathan terdengar menyakitkan untuk Elena. Isakkannya semakin menjadi. Ia merasa tidak dihargai. Hentakkan kuat membuat Elena memekik kuat, bukan karena kenikmatan tapi merasakan sakit di perut bagian bawahnya.


Nathan terkulai lemas. Elena segera menyingkirkan tubuh Nathan ke samping. Elena berdiri sambil membenarkan letak pakaiannya. Rambut kusutnya ia gulung dengan asal.


Mata Elena berbinar saat melihat kunci kamar masih mengantung bebas di pintu. Elena melihat Nathan yang memejamkan mata, ia berpikir sekaranglah waktu yang tepat untuk kabur. Namun baru tiga langkah Elena mengaduh kesakitan. Elena menghentikan langkahnya, ia setengah membungkuk dengan kedua tangan memegang erat perutnya yang seperti diremas.


"Kau kenapa, El?" Nathan terbangun dari tidur-tidur ayamnya. "Astaga!" Nathan panik saat melihat darah mengalir dari paha hingga kaki bagain dalam Elena. Gadis itu sudah sangat pucat dengan kaki yang sudah tidak mampu lagi menopang tubuhnya.


"S-sakit...." Elena menagis.


Nathan berlari sambil membenarkan kancing celana yang masih terbuka. Tanpa menunggu lama ia membopong tubuh istrinya yang sudah mulai terasa dingin ke luar kamar dan menuruni tangga dengan langkah tidak beraturan.


"LEO... LEO!" teriakan Nathan membuat heboh seisi mansion. "Keadaan darurat. Segera siapkan mobil!"


■■■■■■


Medica Hospital.


Leo memijat pelipisnya melihat Nathan yang mondar-mandir di depan ruang UGD. Leo tau bosnya sedang gelisah menanti kabar dari Dokter mengenai kondisi istrinya. Loe terkejut saat melihat tuannya mengendong tubuh Elena dengan darah yang memenuhi kaki gadis tersebut.


"Maaf, Tuan. Kalau saya boleh tau, sebenarnya apa yang terjadi dengan Nona Elena?" Leo berdiri di samping Nathan yang menempelkan keningnya ke tembok.

__ADS_1


"Aku telah memper*osanya dengan tanpa perasaan. A-aku tidak menyangka bisa sampai seperti ini." aku Nathan.


Leo sudah paham ia tidak ingin terlalu banyak bertanya. Ucapan Nathan sudah cukup menjelaskan semuanya.


Pintu ruang UGD terbuka. Muncullah seorang Dokter dengan wajah seriusnya. Dokter tersebut membenarkan letak kacamatanya sebelum berkata.


"Anda meliliki hubungan apa dengan pasien yang bernama Elena?" tanya Dokter itu.


"Aku suaminya."


"Kebetulan sekali ada hal yang harus saya sampaikan kepada Anda mengenai keadaan pasien."


"Ada apa dengan istriku?" Nathan menuntut penjelasan dari Dokter tersebut.


"Ini mungkin kabar yang cukup buruk untuk Anda dengar namun Anda harus mengetahuinya." Dokter tersebut menjeda ucapannya dengan menarik napas pelan. "Nyonya Elena baru saja kehilangan janin yang dikandungnya. Kami tidak bisa menyelamatkan janin tersebut karena pendarahan hebat yang dialami istri Anda. Usia kandungan ditahap awal masih rentan terhadap guncangan sekecil apapun ditambah kondisi fisik istri Anda yang kurang baik." Dokter itu menjelaskan dengan detail.


Nathan melongo, "istriku hamil?"


Dokter tersebut tersenyum masam. "Apa yang sebelumnya terjadi sehingga istri Anda bisa mengalami pendarahan?"


Di pikiran Nathan hanya ada kejadian pemaksaan yang ia lakukan. "A-aku,-" Nathan tak mampu meneruskan ucapannya.


"Setelah saya lihat di kewanitaannya ada luka lecet yang terlihat masih baru. Apa kalian sehabis melakukan hubungan suami-istri dengan tidak memperhatikan posisi yang di peruntukkan untuk ibu hamil?" cetus pria berkaca mata namun terlihat tampan.


"Ya, dan kau sudah dengan lancang melihat area pribadi milik istriku." Nathan mengeraskan rahangnya. Tadi ia tidak sempat meminta dokter wanita untuk menagani Elena.


"Maaf, tapi itu yang harus saya lakukan,"


"Enteng sekali kau mengatakannya," Nathan menarik kerah kemeja sang Dokter lalu membanting tubuh jangkung itu ke dinding.


Leo menggelengkan kepalanya melihat tingkah ajaib Nathan yang akan melayangkan tinjuannya ke wajah Dokter yang terlihat ketakutan.


"Tolong jangan lakukan itu, Tuan. Dia Dokter spesialis kandungan jadi sudah menjadi pekerjaannya membantu para wanita melahirkan dan mengecek keadaan jalan lahir pasiennya seperti yang di lakukannya kepada Nona Elena." Leo menarik lengan Nathan agar melepas cekalannya.


"Berengsek!" Nathan melepas cekalanya dengan kasar.


"Aku akan masuk ke dalam!" kata Nathan tanpa bisa dicegah.

__ADS_1


----------


Next Chapter >


__ADS_2