
Nathan meraih ponselnya dengan ragu. Ia merasa bimbang akan mengirim pesan tersebut pada Elena atau tidak. Elena masih marah padanya karena ia kembali meyusup ke dalam kamar gadis itu saat tenggah malam.
To : Elena Wimala
Datang ke kantorku sekarang! Kita makan siang bersama, tidak ada penolakan atau kau akan tau akibatnya.
5 menit 10 menit belum ada notifikasi pesan masuk.
Nathan dengan perasaan gelisah masih menunggu balasan dari Elena. Ia melihat kembali isi pesannya yang terkesan memaksa tapi Nathan tidak perduli. Pesan itu belum centang biru tandanya belum di baca oleh Elena, ke mana gadis itu? Pikirnya.
Layar ponsel Nathan tiba-tiba menyala. Segera ia memeriksa benda pipih tersebut. Sudut bibir Nathan langsung terangkat saat tau nama yang tertera di pesan itu.
From : Elena Wimala
Ya
Sesingkat itu pesan yang di kirim Elena sudah membuat Nathan merasa sangat bahagia.
Berkali-kali Nathan mengecek jam di pergelangan tangannya, sudah hampir 30 menit Elena belum juga datang padahal jarak kampus dengan kantornya cukup dekat. Nathan sudah mempersiapkan acara makan siangnya bersama Elena dengan memesan makanan dari restoran bintang lima.
Pintu ruangan Nathan terbuka. Masuklah wanita muda yang memakai kemeja kotak-kotak di padukan dengan celana jeans sobek-sobek, rambut di cepol asal-asalan menyisakan anak rambut di pelipisnya dengan dahi berkeringat.
"Dari mana saja kau?" Nathan memutar kursinya menghadap Elena.
"Aku dari kampus langsung ke sini, karena macet jadi sedikit lama," jelas Elena mendudukan dirinya di sofa.
Makanan yang dipesan Nathan sudah datang, Nathan menyuruh sekertarisnya menata makanan tersebut di atas meja.
"Saya permisi, Sir!" Ucap sekertaris Nathan pamit.
Di balas anggukan oleh Nathan.
"Kita makan di sini?" Tanya Elena menegakkan posisi duduknya, meneliti hidangan yang tersaji di atas meja.
"Iya, sayang!" Tangan Pria tersebut terulur mengusap kepala Elena.
Mereka makan dalam diam dengan sesekali Nathan melirik ke arah kekasih rahasianya itu. Tidak terasa mereka sudah melahap makanannya sampai habis. Nathan merapatkan duduknya di samping Elena. Menggusap lembut sudut bibir Elena yang terdapat sisa makanan. Mata Nathan terkunci pada mata coklat milik Elena. Mereka saling tatap cukup lama hingga tatapan Nathan jatuh pada bibir ranum Elena. Tangan Nathan terulur meraih leher belakang Elena mendekatkan bibirnya pada bibir Elena lalu mereka berciuman, hingga Elena tersadar setelah mengerjapkan matanya gadis itu mendorong kasar dada Nathan.
"Le--lepas, jangan sentuh aku lagi, berengsek!" Bentak Elena.
"I know...tapi aku ingin." Ucap Nathan tak acuh.
"Jerk!" maki Elena.
__ADS_1
"Kenapa sekarang kau suka mengumpat, sayang?" Balas Nathan meraih pinggang Elena, memeluknya dari samping.
"Aku tidak perlu lagi bersikap sopan kepadamu Uncle, karena Uncle memang berengsek!" Ucap Elena dengan emosional.
"Kau sangat menggemaskan jika sedang marah-marah seperti itu!" Aku Nathan sambil terkekeh.
Elena menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk meredam emosinya.
"I miss you!" celetuk Nathan di sela kegiatanya mengendus leher Elena.
"Menyingkirlah... aku bisa gila jika terus berada di dekatmu!" balas Elena berusaha melepaskan diri dari rengkuhan Nathan.
"Kau pikir dirimu akan ke mana?" Suara berat Nathan terdengar di belakang Elena yang sudah bersiap pergi dari tempat tersebut.
"Menemui kekasihku. Aku merindukannya!" Jawab Elena dengan senyum angkuh.
"Damn! Berani-beraninya kau bilang rindu pada pria lain saat sedang bersamaku!" Bentak Nathan dengan rahang mengetat.
"Memang kenapa? Dia kekasihku, kau tidak bisa melarangku. Seharusnya Uncle tau hubungan kita adalah kesalahan." balas Elena dengan berani. Sebenarnya ia mulai takut melihat rahang pria tersebut sudah mengeras di tambah tatapan dingin yang menusuk.
"Tapi aku tidak suka kau masih bersama bocah itu!"
"Dari awal aku sudah bilang, aku mau jadi kekasih rahasiamu asal kau tidak mencampuri urusan pribadiku. termasuk urusan percintaanku." Kata Elena berdiri dengan melipat tangannya di depan dada.
"Aku tidak tau apa tujuanmu menjadikan ku kekasihmu. aku hanya mengikuti ke inginanmu tanpa bisa menolaknya, karena ancaman sialanmu itu!"
"Diamlah!" balas Nathan menambah tempo suarannya. Kedua tangan Nathan sudah mengepal kuat di samping tubuhnya, "Apa kau ingin aku memperkosamu di sini?" tanya Nathan dengan geram.
"Tidak, jangan lakukan itu!" Ucap Elena dengan tubuh mulai bergetar ia menggelengkan kepalanya.
"Sekarang kembalilah duduk!" Nathan menepuk pelan pahanya.
Elena menuruti perintah dari Nathan sambil menggumpati pria itu dalam hati. "Tau akan begini, mending tidak usah ke sini." Ucap Elena pada diri sendiri. Ia mendudukan dirinya di atas pangkuan pria tersebut.
Ya Tuhan, sungguh indah maha karyamu. Dengan tubuh tegap, rahang kokoh, bibir seksi, rambut hitam berkilau, plus memiliki darah campuran. hanya sifat mesumnya saja yang menjadi nilai minus untuk kesempurnaan yang di miliki pria tersebut, bahkan Arsen tidak ada apa-apanya di banding Nathan.
"Terpesona, eh!" Suara Nathan membuyarkan lamunan Elena yang sedang mengagumi sosok jelmaan dewa di depannya.
"Dalam mimpimu." Jawab Elena ketus.
"Ayolah mengaku saja, bahkan air liurmu sudah menetes kemana-mana." kata Nathan mengejek.
"Uncle! Aku tidak seperti itu," bantah Elena menyembunyikan wajahnya yang merona karena malu ke dada bidang Nathan.
__ADS_1
Nathan tertawa terbahak-bahak melihat Elena yang tersipu. melupakan segala amarah yang menyelimutinya.
■■■■■■
"Elena, Aunty punya oleh-oleh untukmu!" suara Sisil menggema di seluruh ruang keluarga. Elena sedang bersantai di sana sepulang dari kantor Nathan.
Mata Elena langsung berbinar mendengar ucapan Sisil, "Benarkah?" Sahutnya.
Sisil mengangguk dengan semangat. "Ada di kamar Aunty, mau aku ambilkan sekarang!" Ujar Sisil.
"Iya, aku akan ikut dengan Aunty ke kamar!" Mereka berdua berdiri dari sofa menuju ke kamar Sisil, Nathan menggelengkan kepala melihat kedua wanita tersebut meninggalkan ia sendiri di ruangan itu.
"Aku punya banyak sekali oleh-oleh. kau pilih saja mana yang kau suka!" suruh Sisil menunjuk beberapa paper bag yang berjajar rapi di atas meja.
Dengan semangat penuh Elena membuka satu persatu paper bag tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa Baju, sepatu,tas, dan bergagai aksesoris wanita yang semuanya dari merk terkenal. Elena menjatuhkan pilihanya pada kaos putih yang terdapat gamar patung singa yang memancurkan air dari mulutnya.
"Yang lain," Kata sisil dengan wajah heran saat melihat Elena hanya memilih satu dari sekian banyak barang yang menurutnya jauh lebih bagus dan mahal.
"Aku hanya ingin yang ini!" Balas Elena sambil mengecup pipi Sisil singkat. "Terima kasih Aunty!" ucapnya lalu melangkah keluar kembali ke tempat sebelumnya.
Di ruang keluarga Nathan masih setia duduk dengan memegang Ipad di tangannya. Kedua wanita tersebut kembali duduk di tempat semula, Nathan hanya melirik sekilas ke arah mereka lalu fokusnya kembali ke layar ipad yang menunjukan grafik perkembangan saham miliknya.
"Coba ku lihat oleh-oleh apa yang kau dapat." Cetus Nathan mengalihkan perhatianya pada perempuan cantik yang baru mendaratkan bokongnya di atas sofa.
"Ia hanya memilih kaos itu!" Jawab Sisil menunjuk kaos yang di bawa Elena dengan dagunya.
"Ck...!! Dasar bodoh." Nathan berdecak tidak suka.
"Why?" Tanya Elena minta penjelasan.
"Masih tanya kenapa. Aku tanya apa bagusnya baju itu?" Ucap Pria tersebut dengan nada cemoohnya.
"Suka-suka aku, kenapa Uncle yang repot?" Balas Elena tidak mau terima di katai bodoh.
Nathan mendelik tajam pada Elena, begitupun juga dengan Elena.
"Ehem!... baru 5 hari ku tinggal kalian sudah terlihat lebih akrab," suara Sisil menarik perhatian pasangan beda generasi itu.
"Biasa saja!" Ujar Nathan.
Elena meringis mendengar ucapan Nathan.
Bunga yang indah belum tentu harum, hubungan yang mesra belum tentu tulus. Begitupun dengan kehidupan rumah tangga Nathan yang penuh dengan kepalsuan. keromantisanya selama ini hanya untuk memanipulasi orang di sekitarnya. Nathan butuh waktu untuk mengungkap segalanya dan berjuang mempertahankan miliknya.
__ADS_1
----------