Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 25


__ADS_3

Nathan menghentikan mobilnya di depan gedung perusahaan milik sahabatnya. Ia memarkirkan mobil mewahnya di bahu jalan yang cukup ramai, mata pria itu terus mengintai ke arah pintu masuk lobby karena ada yang harus ia pastikan sendiri sebelum memberi utusan pada seseorang.


Selama satu jam Nathan masih pada posisi yang sama, mata yang tampak masih memerah itu tidak lelah menatap pada satu arah. Nathan sudah hampir menyerah dan beranjak meninggalkan tempat itu, namun segera ia urungkan karena satu objek yang melintas di depan matanya.


"Aku menemukanmu." Bibir Nathan tertarik ke atas membentuk senyum misterius.


Di depan sana perempuan yang sama persis dengan Elena sedang berjalan memasuki gedung perusahaan milik Gibran dengan langkah terburu-buru. Semua beban berat yang menganjal di hati Nathan seakan menghilang. Dan cerita baru akan segera di mulai.


Nathan menyalakan mesin mobilnya, memacu dengan kecepatan normal. Ponsel di saku Nathan berbunyi dengan segera pria itu merogohnya lalu menjawab panggilan tersebut.


"Halo!" Sapa orang di seberang telepon.


"Aku sedang dalam perjalanan ke sana. Kau tunggu saja!" Jawab Nathan datar.


"Baik, akan saya tunggu."


Panggilan pun terputus, Nathan menembah kecepatan mobilnya.


"Saya merasa gadis itu sudah tidak meninginkan tuan lagi. Dia sudah bersama pria lain, saya muak melihatnya."


Ucapan Leo selalu terngaing-ngaing di pikiran Nathan. Ia tidak rela Elena di miliki pria lain, Elena hanya miliknya. Nathan menoleh pada ponselnya yang bergetar karena ada sebuah pesan masuk.


"Untuk apa dia mengirim pesan padaku? Apa belum puas wanita itu menerorku?" Nathan meraih ponselnya lalu membuka pesan yang di kirim oleh Sisil.


Nathan melempar benda pipih itu ke jok di sampingnya. "Perempuan itu selalu saja meributkan tentang uang. Aku ini hanya mantan suaminya kenapa selalu merengek-rengek meminta uang padaku, apa suaminya tidak memberinya uang? Memalukan." Kata Nathan seorang diri.


Tes DNA menunjukan bahwa putri Sisil memang bukanlah darah daging Nathan. Wanita itu yang telah berbohong, anak itu hasil dari perselingkuhannya. Mengetahui hal itu Nathan merasa lega karena tidak perlu repot-repot membiayai hidup seorang bocah yang tidak mewarisi darahnya.


■■■■■■


Di sebuah cafe elit pada pagi hari.


"Maaf sudah menunggu lama."


"Tidak masalah, ada perlu apa Anda meminta saya datang ke kemari?"


Nathan melongarkan dasinya yang terasa mencekik leher. "Aku membutuhkan bantuanmu untuk menyelidiki seorang wanita. Cari tau di mana ia tinggal dan apa saja yang di lakukannya selama 2 tahun belakangan. Soal bayaran kau tenang saja, berapa pun akan aku berikan."

__ADS_1


"Itu soal mudah. Siapa wanita itu?"


Nathan merogoh saku jasnya, mengeluarakan beberapa lembar foto lalu menyerahkan foto itu pada pria yang memiliki nama Reno.


Reno mengamati foto tersebut secara intens. "Apa dia kekasih Anda?"


"Bisa di bilang begitu! Namanya Elena Wimala, ia bekerja di Pradig Inc." Balas Nathan datar.


"Bukannya Anda sedang bersama model yang baru naik daun itu!" Reno merutuki mulutnya yang sulit di jaga, ia mulai takut menatap wajah Nathan yang tampak mengeras.


"Itu bukan urusanmu! Secepatnya kau harus mendapatkan informasi tentang Elena." Tutur Nathan tanpa bantahan.


"Maaf kalau saya sudah lancang. Akan saya usahakan hari ini sudah mendapatkan informasi tentang gadis itu, meski belum seluruhnya." Kata Reno seorang detektif handal dengan tegas.


Nathan lebih memilih membayar mahal seorang detektif untuk menyelidiki Elena. Karena ia kecewa pada Leo yang menurutnya sudah mulai kurang ajar. Pria itu sudah berani menyembunyikan hal penting darinya.


"Aku tunggu kabar darimu!" Cetus Nathan.


"Siap, Tuan."


"Dan ini cek untukmu. Hanya sebagai uang muka, sisanya akan aku transfer setelah pekerjaanmu beres." Nathan menyerahkan selembar kertas kecil yang bertuliskan nominal dengan jumlah cukup besar.


"Aku harus segara pergi!" Nathan meninggalkan kursinya tanpa mendengarkan jawaban dari Reno yang menatap heran kepergiannya.


■■■■■■


Elena menuju meja resepsionis setelah membenahi penampilannya di toilet. Hari pertama masuk kerja membuat Elena sedikit gugup, ia harus menanyakan pada rekannya tentang apa saja yang harus ia lakukan.


"Hai, namaku Elena, resepsionis baru di perusahaan ini." Sapa Elena pada wanita yang akan menjadi rekannya.


"Aku Anna. Semoga kita bisa menjadi parter kerja sekaligus teman yang baik." Ucap Anna sambil tersenyum ramah.


"Aku harap juga begitu. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Kau hanya perlu memperhatikanku, dan kau baca saja ini." Anna menyerahkan sebuah map pada Elena. "Oh iya... kenapa kemarin kau bisa datang bersama dengan Pak Rega?"


"Dia temanku." Balas Elena. Entah kenapa kata teman langsung terucap dari bibir Elena.

__ADS_1


Terlihat kelegaan dari wajah Anna. "Pantas saja, tapi dari yang ku lihat ia bersikap manis padamu. Aku kira kau kekasihnya."


"Memang kenapa kalau aku ini kekasihnya?" Elena balik bertanya.


"Kau tau, aku menyukainya." Aku Anna dengan malu-malu.


Mendengar kejujuran teman barunya, Elena membelalakkan mata. Anna menyukai Rega, bagaimana ini? Seharusnya aku bilang saja kalau Rega itu kekasihku, kalau sudah seperti ini malah akan menimbulkan kesalah pahaman nantinya.


"Kau terlihat kaget begitu. Apa salah aku menyukainya? Dia pria lajang. Tapi sayang dia tidak pernah melihatku. Satu lagi, kau jangan bilang padanya tentang hal ini, aku malu."


"Kau tenang saja."


Elena melihat ke arah pintu masuk yang memunculkan sosok Rega di sana, sedang berjalan ke arahnya. Elena berusaha menyembunyikan dirinya dengan menunduk rendah.


"Selamat pagi, Sir!" Terdengar Anna menyapa Rega yang sudah berdiri di depan meja resepsionis.


"Pagi! Di mana Elena?"


"Dia ada di sini." Anna menoleh pada Elena yang bertingkah aneh. "El, kau di cari Pak Rega." Kata Anna lirih sambil mencolek lengan Elena.


Semoga dia tidak berkata yang aneh-aneh di depan Anna, Elena berkata dalam hati. Gadis itu menegakkan tubuhnya menampilkan senyum hangat untuk atasannya, "Anda mencari saya, Sir?" Tanya Elena dengan formal.


Rega menatap lekat pada Elena yang terlihat salah tingkah. "Syukurlah kau bisa tiba di sini dalam keadaan baik-baik saja. Aku mencemaskanmu yang pergi tanpa memberitahuku."


"A-aku--," Elena melirik Anna yang diam memperhatikan dirinya. "A-ku tidak ingin mengganggu tidurmu." Elena ingin sekali menenggelamkan dirinya ke dasar bumi. Jika pembicaraan ini terus berlanjut, aku akan ketahuan sudah membohongi Anna. Aku harus apa? Aku tidak ingin di benci Anna yang baru beberapa menit yang lalu berteman.


"Tolong kau bimbing dia!" Perintah Rega pada Anna. "Dan kau, El, semoga betah bekerja di sini."


"Iya, Sir!" Jawab mereka bersamaan.


Setelah pria itu pergi menaiki lift Elena menghembuskan napas lega. Namun ia langsung di kagetkan dengan wajah Anna yang menatapnya dengan raut curiga.


"Kau benar tidak ada hubungan apapun dengannya?" Anna menaikkan sebelah alisnya.


Elena berusaha tidak terlihat gugup di depan Anna, ia menekan kuat getaran di tubuhnya. "Aku berkata yang sebenarnya. Terserah kau saja kalau tidak percaya."


"Aku tidak suka di bohongi. Kalau memang kau itu kekasihnya, aku tidak apa-apa. Aku bukan wanita jahat yang suka membunuh lawannya!" Kata Anna dengan tertawa.

__ADS_1


----------


Next Chapter》


__ADS_2