
Elena mendapat kabar bahwa siang ini ia ada kelas dadakan. Tanpa mengulur waktu ia segera menuju ke kampusnya.
Hingga sore hari Elena masih sibuk di perpustakan kampus mencari bahan materi untuk besok. Ia sampai harus pergi ke toko buku untuk mencari buku yang di butuhkan, karena buku itu tidak ada di perpustakaan.
Menjelang petang Elena masih di perjalanan pulang. Ia khawatir kalau Nathan akan mencarinya, karena ponselnya mati kehabisan baterai, sehingga pria itu tidak akan bisa menghubunginya. Elena mengetuk-etukan jarinya di atas kemudi, menunggu kemacetan dengan rasa bosan. Ia sudah sangat lelah, ingin segera mengistirahatkan tubuhnya.
2 jam kemudian, Elena baru tiba di mansion. Elena mampir sebentar ke mansion untuk mengambil beberapa buku miliknya yang tertinggal di sana. Ia keluar dari dalam mobil sambil merentangkan tangannya yang terasa kaku. Di halaman mansion terparkir mobil milik Nathan, sepertinya pria itu tidak pulang ke apartemennya. Elena melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, menaiki undakan tangga menuju pintu utama mansion.
"Kau meragukan darah dagingmu sendiri?" Kata Sisil dengan nada tinggi.
Nathan berdiri dengan memasukan tanggannya ke dalam saku celana. "Bagaimana bisa kau hamil? Dokter sudah mengatakan bahwa kau tidak akan bisa hamil lagi." Bibir Nathan terlihat mengetat. Ia baru saja tiba di mansion, ia meninggalkan istrinya beberapa hari dengan alasan ada perjalanan bisnis ke luar negeri.
"Tapi nyatanya sekarang aku hamil, kalau kau masih meragukannya baca saja surat dari dokter yang sedang kau pengang." Jawab Sisil dengan napas memburu.
"Tidak semudah itu kau bisa membohongiku!"
Sisil melebarkan matanya, ia di anggap membohongi pria itu. "Tega kau bilang seperti itu kepadaku."
"Aku sudah lama tidak pernah menyentuhmu, mana mungkin kau bisa mengandung?"
"Aku punya banyak bukti jika kau masih saja menyangkalnya. Apa kau melupakan kejadian saat kau memperkosaku beberapa minggu yang lalu?"
Nathan terdiam. Ia mengingat dengan jelas saat ia memperkosa istrinya, di saat ia sedang sakit hati karena kecemburuannya pada Elena.
"Tidak, aku tidak percaya! Aku ingin kita berpisah." Kata Nathan tegas, sama sekali tidak merasa iba dengan air mata yang mengalir di wajah Sisil.
"Kau tega mencampakan ku di saat aku mengandung anakmu!" Kata Sisil meremas kuat samping dressnya. "Bukankan ini yang kau inginkan sejak dulu, memiliki seorang anak?"
"Tapi tidak untuk sekarang. Dan kalau kau memang hamil sungguhan, apa anak itu murni milikku?"
Sisil tersentak mendengar pertanyaan konyol Nathan. "Kau menganggap diriku memiliki pria lain?" Sisil menggelengkan kepalanya lemah dengan air mata mengalir deras.
"Bisa saja."
__ADS_1
"Aku hamil anakmu, kenapa sulit sekali kau mempercayaiku. Apa karena perempuan tidak tau diri itu?" Sisil sudah di tahap emosi level tertinggi.
Nathan menatap tajam istrinya, "Siapa yang kau maksud?
"Aku tau, kau sudah paham siapa yang aku maksud. Kalian sangat kejam." Sisil mendekat pada Nathan yang menutup rapat bibirnya. Mungkin pria itu sedang memikirkan alasan untuk lepas dari Sisil.
"Jadi kau sudah mengetahuinya? Itu jauh lebih baik, aku tidak perlu repot-repot lagi menjelaskan semuanya padamu." Ucap Nathan dengan tenang. "Aku bisa melakukan apa pun yang aku inginkan, camkan itu!" Tutur Nathan dengan wajah arogannya.
"Apa kau tetap akan pergi dan memilih bersama keponakkan ku itu?" Kata Sisil di tengah isakan nya, wanita tersebut sudah sangat frustasi. "Tidakkah kau memikirkan calon bayi kita? Aku bersumpah bayi yang ku kandung adalah anakmu." Sisil bersimpuh di bawah kaki Nathan, memohon kepada pria itu.
Nathan mendorong bahu Sisil kuat, hingga membuatnya terjungkal ke belakang mendaratkan pantatnya cukup keras pada ubin yang dingin.
"Apa yang Uncle lakukan? Bentak Elena yang tiba-tiba sudah ada di ruangan tersebut. "Aunty sedang hamil, kau bisa membahayakan kandungannya!" Elena menatap tajam Nathan.
"Elena, apa yang kau lakukan di sini?" Ujar Nathan sambil melebarkan matanya, melihat Elena ada di sana. Mungkin gadis itu mendengar semua yang di ucapkannya, pikir Nathan.
Tidak ingin menanggapi ucapan Nathan, Elena membantu Sisil berdiri lalu menuntun Auntynya memasuki kamar.
"Maafkan aku!" Kata Elena dengan terisak. Ia mendengar perdebatan yang terlontar dari mulut keduanya. Elena terkejut saat Sisil mengetahui hubungan gelapnya dengan Nathan. Ia sudah siap untuk di benci Sisil.
Elena terdiam sesaat, ia berpikir Nathan melakukan itu agar bisa segara meresmikan hubungan mereka. Tapi ia tidak mungkin membiarkan Sisil yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri tersakiti. Elena ada pada posisi yang membingungkan.
"A-aku sudah terperangkap dalam permainan yang Uncel buat. Dari awal aku sudah menolaknya namun ia selalu memaksaku, hingga akhirnya aku jatuh cinta sungguhan padanya. Maafkan aku, Aunty." Elena mengenggam kuat tangan Sisil yang terasa dingin.
Sisil melirik sinis Elena. "Kau tega merebut suamiku saat kau tau diriku sedang mengandung anaknya?"
Elena menatap wajah penuh luka milik Sisil, ia tidak mungkin setega itu. "Tidak," jawab Elena lemah.
"Aku ingin kau pergi dari kehidupan suamiku!"
Gadis itu memejamkan matanya, kata yang di ucapkan Sisil seperti ujung pisau yang di goreskan tanpa ampun ke dadanya, sangat perih.
Niat awal hanya ingin mengambil buku, namun Elena malah menyaksikan pertengkaran hebat yang semua itu berhubungan dengan dirinya. Ia yang menjadi pemicunya.
__ADS_1
■■■
"Apa benar Uncle akan menceraikan Aunty Sisil?" Tanya Elena memandang dari belakang tubuh kokoh yang sedang berdiri di balkon lantai 3 mansion.
"Ya!" Jawab Nathan tanpa membalik tubuhnya.
"Tidak! Uncle tidak boleh berpisah dengan Aunty, ingatlah kalian akan memiliki bayi. Apa kau tidak kasihan padanya jika ia terlahir dalam keluarga yang tidak utuh nantinya?" Sambung Elena berdiri di samping pria tersebut.
"Itu bukan anakku?" Balas Nathan dengan datar.
Gadis itu menoleh cepat pada Nathan." Kau sudah tidak waras ya? Kalau bukan kau ayahnya, lalu siapa?" Jawab Elena dengan tawa sumbang.
"Ada pria lain."
Tangan Elena mendorong lengan Nathan agar pria itu menghadap ke arahnya. "Itu hanya akal-akalan mu sajakan? Aunty tidak mungkin melakukan itu."
"Aku berbicara yang sebenarnya, sudah lama ia berselingkuh di belakangku!" Nathan membuang napasnya kasar.
Elena menggigit pelan kuku tangannya. "Ia satu-satunya keluarga yang aku punya, tolong pikirkan lagi rencanamu itu. Aku berharap kau akan berubah pikiran."
"Apa kau tidak ingin bersama ku?" Ujar Nathan menatap dalam gadis tersebut.
"Aku tidak ingin bahagia di atas penderitaan orang lain. Jika itu bisa membuat Aunty bahagia aku rela meski hatiku yang akan terluka! Ia sudah sangat baik kepadaku, ia juga yang sudah merawatku sejak kepergian kedua orang tuaku." Elena membenamkan wajahnya di dada bidang Nathan, mencurahkan kesedihanya di sana.
"Aku tetap pada keinginan awalku. Aku akan segera membuatmu menyandang nama belakangku!" Tutur Nathan sambil mencium puncak kepala Elena.
Hati dan pikiran Elena tidak pernah singkron, ia tetap terbuai dengan janji-janji manis Nathan meski ia sudah berusaha menolaknya. Ia ingin membuat Nathan kembali pada pemilik yang sebenarnya.
"Aku akan sangat jahat jika menyetujui ajakanmu itu." Elena mengeratkan pelukanya pada pinggang Nathan.
"Aku tetap akan memaksa hingga kau bersedia menjadi istriku!" Ucap Nathan penuh penekanan.
Elena melepas pelukannya, pergi menjauhi Nathan sambil mengusap sudut matanya yang berair. Jalan hidup Elena terasa semakin rumit, penuh dengan lika-liku dan air mata.
__ADS_1
----------