
Elena siang nanti berencana mengunjungi kantor kekasihnya, untuk sekedar makan siang bersama. "Renata, boleh minta tolong ambilkan kotak makan yang ada di atas sana!" Elena menunjuk lemari paling atas. Ia sedang membuat spaghetti bolognise untuk makan siangnya nanti.
"Tentu, Nona!"
"Terima kasih, aku akan menyiapkan ini sendiri. Kau bisa meninggalkanku sendiri!"
"Saya permisi, Nona."
Elena mencium bau masakkannya, bau harum dari saus spaghetti langsung memanjakan hidung Elena. Ia tersenyum puas melihat hasil masakan yang sudah ia masukan ke dalam kotak, dan sudah ia tata dengan sedemikian rupa.
"Aku tinggal bersiap-siap lalu pergi menemui Nathan!" Gumam Elena.
Waktu makan siang masih 2 jam lagi. Elena memutuskan untuk beristirahat sejenak di kamar, sambil membaca novel yang baru ia baca setengahnya. Lama-kelamaan mata Elena terasa berat, dan dengan perlahan mata itu terpejam.
Getaran ponsel membangunkan Elena dari tidur nyenyaknya, ia mengusap-usap mata berusaha menormalkan kembali penglihatannya. Ia meraih smartphone di samping tubuhnya yang sudah berhenti bergetar lalu melihat notifikasi yang tertera di layar ponsel tersebut.
25 panggilan tidak terjawab dan 5 pesan dari Nathan, Elena melihat jam di ponselnya. Ia langsung melempar benda pipih tersebut ke atas kasur. Elena mempersiapkan dirinya dengan kilat. Sekarang sudah pukul setengah satu siang, jam makan siang sebentar lagi akan berakhir. Elena meraih ponsel yang ada di atas kasur dan segera meninggalkan kamar tersebut.
Elena memacu kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata, Elena berharap semoga jalan menuju kantor Nathan tidak terlalu macet. Ia mengarahkan ponselnya ke telinga. Menunggu panggilannya terhubung dengan cemas, "Maaf, sepertinya aku akan terlambat tiba di sana!"
"Jangan terlalu lama, sebentar lagi aku akan pergi keluar."
"Baiklah, semoga masih sempat untuk makan siang bersama." Ucap Elena lemah.
"Aku akan menunggumu. Kau hati-hati di jalan!"
Setelah memutus panggilan tersebut, Elena kembali fokus dengan kemudinya. Ia sudah hampir tiba di gedung megah milik kekasihnya.
Hubungan mereka berjalan dengan mulus, walau harus secara sembunyi-sembunyi. Entah kapan Nathan aku menceraikan istrinya itu, pria tersebut masih bimbang, takut menyakiti perasaan Sisil. Namun tidak dengan sepengetahuan mereka, Sisil sudah mengetahui hubungan gelap suami dengan keponakkannya. Wanita itu hanya diam, melihat hingga seberapa lama mereka akan terus menutup-nutupi semua itu darinya.
Sambil membawa paper bag berisi kotak makan, Elena memasuki lift menuju lantai paling atas gedung tinggi tersebut. Ia berkali-kali melihat jam pada layar ponselnya, Elena merasa gemas dengan laju lift yang menurutnya terlalu lambat. Ia berdiri dengan menghentak-hentakkan kaki tidak sabaran.
Dentingan lift terdengar, pintu lift terbuka menampakkan ruangan yang luas dan sangat mewah. Elena keluar dari benda kotak tersebut, melangkahkan kakinya yang masih memakai sandal rumah karena lupa mengganti sebelumnya, menuju ruangan CEO tempat Nathan berada.
Melihat kedatangan Elena yang merupakan keponakan dari atasannya, Rebecca berdiri dengan membungkuk hormat.
__ADS_1
"Selamat siang, Nona Elena!" Sapa Rebecca dengan wajah ramahnya.
"Siang, apa Uncle masih ada di dalam?" Tanya Elena dengan suara lembut.
"Beliau ada di dalam. Tapi 15 menit lagi beliau akan menghadiri meeting di luar." Ujar Rebecca.
Elena tersenyum, "Kalau begitu aku masuk dulu!" Elena membuka pintu ruangan Nathan tanpa mengetuk, ia mengedarkan mata mencari Nathan di setiap sudut ruangan tapi ia tidak menemukan keberadaan pria itu.
Elena berdiri di tenggah ruangan, ia akan menghubungi Nathan tapi Elena melihat ponsel pria itu tergeletak begitu saja di atas meja. Ia langsung menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas sambil membuang napas kasar.
"Mencariku!" Suara bariton itu membuat Elena sedikit tersentak.
Sambil memegangi dadanya, Elena memutar tubuhnya menghadap pria tampan di depannya. "Suka sekali mengagetkanku!" Cletuk Elena.
Nathan terkekeh, membuat Elena terpesona mendengar tawa renyah pria itu. "Salahmu sendiri yang terkejut. Aku habis dari toilet bermaksud menyapamu, karena melihatmu yang kebingungan mencariku."
"Lebih baik kita segera makan, kau sebentar lagi ada meeting kan!" Balas Elena tanpa membalas ucapan kekasihnya, ia menarik Nathan duduk di sofa dan memberikan kotak berisi Spaghetti bolognise buatannya pada pria tersebut.
Mereka makan tanpa bersuara, Nathan sudah meletakan wadah yang sudah kosong ke atas meja. Ia menatap Elena yang masih asik mengunyah dengan pipi menggembung karena penuh dengan makanan.
Elena mengangguk.
"Apa tidak enak?" Tanya Elena setelah menelan suapan terakhirnya.
"Enak, bagaimana pun rasanya asal yang memasak dirimu akan terasa nikmat!"
Elena memutar bola matanya malas.
"Aku serius!"
"Itu hanya bualanmu saja. Seumpama aku menaruh banyak garam di dalamnya, apa kau masih mau memakannya?" Tanya Elena dengan alis terangkat sebelah.
"Kau ingin membuatku terkena darah tinggi dan berakhir stroke!" Jawab Nathan memperpendek jaraknya dengan Elena.
"Aku sen---," Nathan sudah lebih dulu meraup bibir ranum Elana sebelum wanita itu menyelesaikan ucapannya.
__ADS_1
Mereka hanyut dalam cumbuan yang membuat gairahnya memuncak. Nathan meraba setiap lekuk tubuh mulus Elena, menyingkap kos putih Elena sampai sebatas dada menampilkan perut rata wanita tersebut.
"Ahhh..." desah Elena saat dadanya yang masih terbungkus bra di remas oleh Nathan.
"Aku menginginkanmu!" Cetus Nathan sedikit mendesah.
Ke dua tangan Elena sibuk meraba-raba bagian sensitif milik kekasihnya yang sudah sekeras batu.
"Aku juga menginginkannya!" Bisik Elena di telinga Nathan dengan suara serak, terdengar sangat seksi.
Sudah tidak mampu lagi menahannya, Nathan melepas ikat pinggangnya lalu melempar benda itu asal. Ia sudah akan menurunkan celananya, tapi suara seseorang di belakang sana membuat Nathan menghentikan gerakkan tangannya, ia menolehkan kepalanya menatap tajam pada sekertarisnya yang terlihat salah tingkah dengan wajah memerah menahan malu.
"Maaf, saya tidak bermaksud mengganggu anda tapi saya harus memberitahu bahwa anda sudah di tunggu, Sir!" Tutur Rebecca sambil menatap lantai di bawahnya.
"Memangnya kau tidak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk?" Kata Nathan beranjak dari tubuh Elena sambil membenarkan celana.
"Sudah, tapi anda tidak meresponsnya!" Kata Sekertaris tersebut sambil meremas-remas ujung tangannya.
"Tunggu aku di luar dan tutup mulutmu!" Ucap Nathan datar.
"Baik, Sir!"
"Sayang, aku harus segera pergi! Kau masih ingin di sini atau ingin pulang saja?" Tanya Nathan setelah merapikan penampilanya.
"Aku akan pulang setelah membereskan ini, kau duluan saja." Jawab Elena.
"Aku tinggal dulu!" Nathan meraih ponselnya di atas meja lalu dengan terburu-buru keluar dari ruangan tersebut.
Elena menutupi wajahnya dengan kedua tangan, ia sangat malu dengan kejadian tadi. Sekertaris Nathan sudah mengetahui hubungan terlarangnya. Ia berharap semoga wanita itu bisa menjaga rahasia.
----------
Next Chapterใ
Double update ... semoga kalian suka dengan ceritanya. Salam sayang dariku ๐ ๐
__ADS_1