
"Tolong lebih cepat sedikit, Pak." Pinta Elena pada supir taksi.
"Baik, Nona."
Elena menoleh kebelakang melihat Nathan dari kaca belakang taksi. Perasaan Elena berubah meragu untuk laki-laki itu. Ia kembali mempertimbangkan apakah pilihan kembali pada Nathan sudah tepat. Hatinya terasa nyeri mendapat perlakuan kasar dari laki-laki yang di cintainya.
Aku hanya mengatakan tanpa tau kebenarannya dia sudah dengan mudah menamparku, Bagaimana kalau aku melakukan dan ia melihatnya langsung, mungkin aku akan langsung di cekik hingga tak bernyawa. Batin Elena.
"Maaf Nona, kita sudah sampai." Kata sang supir taksi mengeraskan suaranya karena sejak tadi Elena hanya melamun tanpa menghiraukan ucapan supir tersebut.
Elena melihat keluar ternyata ia sudah tiba di depan lobby perusahaan. Elena bergegas turun, menarik napas lalu membungannya pelan. Ia mengusap matanya yang sedikit sembab akibat menagis. Elena bertingkah baik-baik saja saat memasuki lobby, meski di dalam dadanya tersimpan luka yang baru saja menggoresnya.
"Elena, kau ini dari mana saja? Kau tega sekali membuatku pontang-panting sendirian." Cerocos Anna yang sudah siap di meja resepsionis.
"Aku ingin ke toilet dulu sebelum menjawab pertanyaanmu."
Elena melihat di cermin bekas tangan Nathan yang tercetak di pipinya. Apa memang aku bukan di takdirkan untuknya? Aku mulai menyesali diriku yang kembali jatuh kepelukannya. Seharusnya aku tetap bersama Rega yang sudah jelas lebih baik dari Nathan. Elena tersentak dari lamunannya saat ada yang memasuki toilet. Ia segera menyelesaikan menyapukan bedak ke wajahnya.
Elena menghampiri Anna. Duduk di sebelah wanita itu. "Ada yang bisa ku bantu?" Tanyanya.
"Apa kau mau mengantarkan surat ini ke ruangan Pak Gibran? Berikan saja pada sekertarisnya." Tanya Anna tanpa menoleh pada Elena.
"Mana? Berikan padaku."
"Ini, ingat jangan lama-lama masih banyak pekerjaan yang menunggumu." Ujar Anna.
"Kau tenang saja. Aku akan segera kembali."
Dengan langkah lebar Elena menghampiri meja sekertaris owner. "Permisi, saya ingin mengantar kiriman surat untuk Pak Gibran." Elena menyerahkan sebuah amplop berwarna putih pada pria tersebut.
"Terima kasih."
"Kalau begitu saya permisi."
__ADS_1
Elena kembali menunggu di depan lift. Perasaannya mulai tidak tenang. Pintu lift pun terbuka, Nathan berdiri di dalam sana dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Nathan." Elena hanya mampu mengerakkan bibirnya tanpa bersuara.
"Aku ingin berbicara denganmu."
"Aku tidak ingin berbicara denganmu. Tolong lepaskan aku, Nathan. Aku harus bekerja. Kau selalu saja berbuat semaumu, tanpa memikirkan perasaanku." Elena tidak menggerakkan kakinya saat Nathan menariknya, ia lalu melepas cekalan tangan Nathan berniat pergi dari hadapan pria itu.
"Aku tau aku salah, aku tadi hanya terbawa emosi." Nathan berusaha menjelaskan.
"Aku masih sakit hati karena tamparanmu. Maaf aku ingin sendiri dulu, mengertilah." Elena kekeh dengan keputusannya yaitu mengabaikan Nathan.
Ucapan Elena membuat Nathan diam. Mungkin pria itu sedang menyesali perbuatannya. Nathan menarik tangan Elena, menjatuhkan wanita itu ke dalam pelukannya. "Aku bersumpah tidak akan mengulanginya lagi. Aku menyesal."
Elena mengeluarkan tangisannya di dekapan Nathan. Ia sudah tidak sangup lagi menahannya, dadanya sudah sangat sesak. "Kalau kau memang mencintaiku tidak seharusnya kau melakukan itu. Aku merasa tidak di hargai olehmu, aku mulai ragu dengan keseriusanmu."
"Sayang, aku benar-benar serius mencintaimu. Aku tidak dapat mengendalikan emosi, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Jangan kau katakan kalau dirimu meragukanku, aku sakit mendengar gadis yang ku cintai tidak mempercayaiku."
Mereka berpelukan di depan lift cukup lama. Beruntung mereka sedang berada di lantai khusus Owner sehingga tidak ada yang melihatnya. "Maafkan aku." Gumam Nathan. Tanpa Elena ketaui Nathan meneteskan air mata. Ia menyembunyikan itu dari Elena agar tidak terlihat lemah.
"Terima kasih." Nathan mencuri kecupan di pipi Elena. "Aku hampir jantungan saat kau berlari menjauhiku. Aku takut kau pergi lagi dari sisiku." Ucap Nathan, pria itu menempelkan keningnya pada kening Elena. "Aku sangat-sangat mencintaimu." Kecupan lembut mendarat di kening Elena membuat sang empunya berdebar dengan semburat merah tampak di pipinya.
"Mungkin aku juga akan jantungan kalau kau terus mengeluarkan gombalanmu." Jawab Elena.
"Aku akan menunggumu di sini hingga kau pulang."
"Di sini?"
"Maksudku di dalam ruangan Gibran. Kau pikir diriku satpam yang harus berjaga di depan lift." Canda Nathan, suasana tegang di antara mereka perlahan mulai mencair.
Elena mengulum senyum, "Aku kira menungguku di sini, tapi itu terdengar romantis bukan."
"Kalau kau ingin aku tetap di sini akan aku lakukan. Aku rela melakukan apapun untuk mu, hingga kehilangan segalanya pun aku tidak perduli asal masih bersamamu." Celetuk Nathan tidak terlihat sedang bergurau.
__ADS_1
"Haisss... aku geli mendengarnya. Aku ke bawah dulu, lama-lama di sini ucapanmu malah semakin tidak jelas." Elena menekan tombol lift. Menunggu sejenak hingga pintu lift terbuka dan membawanya kembali ke lobby.
Wajah Elena berubah lebih cerah dibanding sebelumnya. Ia tidak bisa membohongi perasaannya, ia tetap akan luluh di hadapan pria tersebut. Bahkan sekarang Elena sudah rindu dengan mantan uncle nya, padahal baru beberapa menit yang lalu mereka bertemu. Cinta memang suka aneh.
Tiba di meja resepsionis Elena langsung mendapat pelototan dari Anna. Wajah garang Anna membuat Elena mengeryitkan kening. "Kau kenapa?"
"Masih bertanya aku kenapa, sudah aku bilang jangan lama-lama. Tapi apa? Kau pergi hampir satu jam, dari mana saja kau?" Elena mendapat omelan dari Anna. Ia lupa dengan janjinya.
Elena tertawa bodoh. "Aku lupa." Kata Elena sambil mengaruk tengkuknya.
"Kau sengaja membuatku kerepotan kan! Sekarang kau kerjakan ini sebagai hukumannya." Anna menletakkan buku tebal berisi nama-nama orang penting yang akan di undang ke acara ulang tahun perusahaan.
"What the hell, Aku harus mengetik nama-nama ini dan harus selasai hari ini." Bola mata Elena membesar. "Aku tidak yakin bisa menyelesaikannya. Bantu aku, please."
"Kau kerjakan sendiri. Aku memiliki tugas lain, ulang tahun perusahaan akan di adakan 1 minggu lagi. Kita harus segera mengirim undangan ke seluruh nama orang yang ada di dalam buku itu. Jadi kau harus menyelesaikan secepatnya agar bisa segera di cetak.
"Baiklah, akan aku usahakan. Yang jelas aku harus lembur malam ini." kata Elena.
Anna mengangkat bahunya santai.
"ish, apaan sih!"
"Oh iya tadi ada yang mencarimu. Pria seksi namun terlihat seram karena wajah datarnya. Apa kau sudah bertemu dengannya? Ia langsung pergi menaiki lift saat ku bilang kalau kau sedang pergi ke ruangan Pak Gibran. Yang ku tau dia teman baik bos kita." Tutur Anna.
Elena terlihat mengangguk pelan. "Sudah,"
"Aku heran kenapa kau bisa kenal baik dengan pria tampan dan kaya. Aku ingin sekali seperti dirimu, namun apalah daya hanya sesama karyawan yang mau mendekatiku." Curhatan Anna membuat Elena tertawa terpingkal-pingkal.
"Itu karena kau terlalu cerewet. Kalem saja biasanya pria tampan suka yang seperti itu."
Fokus Elena kembali pada kegiatan mengetiknya. Mengabaikan celotehan Anna yang membuat kuping Elena panas.
----------
__ADS_1
Next Chapter》