Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 36


__ADS_3

WJ Company, 04.50 PM


Nathan baru mengingat bahwa sejak pagi ia tidak menyentuh ponselnya. Entah berada di mana benda itu sekarang. Ia menduga ponsel tersebut tertinggal di kamar Elena. Nathan tidak bisa menghubungi Elena karena ia tidak mengingat nomor telepon gadis itu. Ia mencoba menelpon ke ponselnya namun tak kunjung mendapat jawaban.


Pintu ruangan Nathan terbuka tanpa adanya ketukan. Nathan melongokkan kepalanya melihat ke arah pintu. Ia membuang napas berat. Wanita yang berjalan ke arahnya membuat mood-nya seketika terhempas. Nathan kembali menekan-nekankan jemarinya ke atas keyboard. Nathan menghentikan kegiatan mengetiknya saat sebuah tangan merayap di pundaknya. Ia mengangkat wajahnya. Melempar tatapan menusuk pada Jesicca yang memasang senyum lebar.


"Sudah berapa kali ku tekankan padamu jangan menemuiku lagi. Apa kau tidak memiliki otak sehingga tidak bisa mengingatnya."


Wanita dengan penampilan seksi itu tertawa saat menerima makian dari Nathan. Ia menganggap angin lalu ucapan menohok pria itu. Jessica duduk di atas meja kerja dengan Nathan duduk di bawahnya. Jessica mencondongkan tubuhnya. Satu tangannya ia gunakan untuk menarik kerah kemeja Nathan. Mendekatkan wajah mereka.


Nathan tidak bereaksi.


Suasana di ruangan itu berubah hening.


Jessica mendekatkan bibirnya di telinga Nathan, "tidak semudah itu kau membuangku. Kau yang menarikku ke dalam duniamu hingga aku tidak bisa berpaling lagi. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu, Nathan. Hanya karena wanita masa lalumu itu kau tega mencampakanku yang sudah menemani hari-hari terburukmu."


Ucapan Jessica sedikit mempengaruhi Nathan. Wanita itu yang menemaninya saat terpuruk. Tapi ia hanya sebatas menyayanginya tidak ada perasaan apa-apa lagi. Jessica menyentuh bahu Nathan sedikit mendorong Nathan agar menjauhkan wajahnya. Nathan menyingkirkan tangan Jessica dari pundaknya. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada menampilkan keangkuhannya.


"Kau yang bersikeras ingin selalu berada di sampingku waktu itu. Aku tidak dapat menolaknya karena suasana hatiku sedang kalut. Dan saat ini pemilik hatiku telah kembali sehingga keberadaanmu tidak ada artinya lagi."


Perkataan Nathan sungguh melukai harga diri Jessica. Wanita itu berdiri di depan Nathan dengan dada naik-turun. Tangannya terkepal kuat di samping tubuhnya. Jessica menatap Nathan dengan mata berapi-api. Dengan sekali hentak ia mendudukkan dirinya di atas pangkuan Nathan. Menyampirkan kedua tangannya ke leher pria itu.


Senyum terpatri di wajah kerasnya. Jessica meraba dada bidang Nathan dengan gerakan sensual, "aku tidak akan menyerah! Kau hanya boleh ku miliki."

__ADS_1


"Hanya dalam mimpimu," kata Nathan lirih.


Tangan Nathan menahan tangan nakal Jessica yang akan membuka dasinya. Ia masih bersikap tenang. Padahal tangannya sudah sangat gatal ingin menembak mati wanita itu.


Tanpa Nathan sangka Jessica melepas kemeja tipis yang di kenakannya. Membiarkan kemeja itu teronggok begitu saja di lantai. Nathan melihat Jessica yang hanya memakai sebuah kain untuk menutupi bagian dadanya. Jessica menggigit bibir bawahnya untuk menarik Nathan agar mau menyentuhnya.


"Jangan membohongi dirimu sendiri kalau sebenarnya kau juga menginginkanku. Kita bisa melalui hari yang cukup buruk untukku ini dengan bermain dengan panas di ruanganmu dengan bermacam gaya."


"Sial. Aku tidak tertarik sama sekali,"


Nathan yang sedang duduk di kursi kebesarannya menatap ke depan melalui punggung telanjang wanita yang sedang duduk di atas pangkuannya. Ia terkejut bukan main.


"Elena," bisik Nathan. Ia menyuruh Jessica turun dari pangkuannya namun wanita itu malah semakin mengeratkan rengkuhannya di lehernya. "Aku bilang menyingkir, Jess!"


"Enyahlah..." bentak Nathan sambil mendorong paksa Jessica.


Langkah lebar Nathan membawanya tiba di hadapan Elena. Wanita itu menangis. Nathan merutuki perbuatan Jessica. Dadanya sesak saat melihat sisa air mata di pipi gadisnya.


"Aku kemari hanya ingin mengembalikan ponselmu yang tertinggal." Elena mengulurkan ponsel tersebut pada Nathan, "dan aku ingin hubungan kita selesai sampai disini." tegas Elena.


Kata-kata yang keluar dari mulut Elena menyentak Nathan dari keterdiamannya. Nathan menatap lekat Elena yang memalingkan wajahnya tidak sudi menatapnya. Nathan memegangi kedua sudut bahu Elena. Meminta pada Elena untuk memberi kesempatan untuk menjelaskan semuanya.


"Yang kau lihat tidak seperti yang kau pikirkan. Kau salah paham, aku tidak berselingkuh di belakangmu, demi Tuhan!"

__ADS_1


"Tapi yang kulihat baru saja sudah cukup membuktikan bahwa dirimu itu pria berengsek. Aku menyesal sudah mempercayaimu." ucap Elena dengan napas memburu. Tatapan terluka terpancar dari manik coklat Elena.


Tatapan Nathan beralih pada Jessica yang masih berdiri di samping meja kerjanya. Jessica mendekat. Wajahnya tampak biasa saja. Bibir mungilnya memberi senyuman untuk Elena. Nathan berdecak. Kedua tangannya mengusap wajahnya dengan gusar.


"Hai... siapa dirimu? Kenapa kau menagis saat masuk secara tidak sopan ke ruangan kekasihku?"


"Tutup mulutmu, Jess. Aku bukan kekasihmu kau hanya ku anggap sebagai pengisi waktu luang. Seharusnya kau sadar dengan posisimu itu." suara Nathan menggelegar. "Hanya dia yang aku inginkan bukan kau atau siapapun itu." lanjutnya.


"Aku tidak perduli dengan hubungan kalian. Aku tidak ingin memusingkan hal itu, silahkan kau teruskan pengkhianatanmu. Aku menganggap mulai saat ini kita resmi berpisah. Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Cintaku sudah tega menyakitiku buat apa terus ku pertahankan duri yang menancap di dagingku." Setelah mengatakan itu Elena berlari keluar.


Nathan akan mengejarnya namun lengannya dicekal oleh Jessica. Ia menyentak pegangan wanita itu hingga terlepas. Jessica tidak kehabisan akal ia meraih tubuh Nathan lalu mendekapnya dari belakang. Nathan jengkel, isi kepalanya sudah mulai mendidih. Kedua tangannya melepas tautan Jessica di depan perutnya. Mendorong wanita itu hingga mundur beberapa langkah.


Bibir Nathan mengetat dengan tatapan mata berkilat. Ia sudah tidak dapat menahan amarahnya. Tangannya ia ayunkan ke depan wajah Jessica hingga terdengar bunyi tamparan yang keras dan terdengar menyakitkan.


"****** sepertimu tidak bisa di kasih hati. Selama ini aku selalu berbuat baik kepadamu tapi tidak untuk sekarang, aku akan melenyapkan nyawamu jika Elena benar-benar meninggalkanku." Nathan menghempas Jessica hingga terjatuh membentur meja.


Nathan berlari keluar tanpa menutup pintu ruangannya. Tubuh kokoh yang tampak tegang itu berdiri di depan lift. Kesabarannya sudah mulai habis ia meninju beberapa kali pintu lift yang tak kunjung terbuka.


Tiba di lobby perusahaan tak nampak seorangpun di sana. Elena-nya sudah pergi. Nathan berteriak untuk melepaskan kekesalannya. Ia merogoh ponsel di dalam saku jasnya. Jarinya sibuk menjelajah mencari nomor ponsel Elena. Ia ingin menelepon gadis tersebut. Belum sampai ia menyentuh tombol panggil ponselnya sudah kehabisan daya. Nathan meremas kuat benda tersebut sebelum melemparnya.


----------


Next Chapter 》》

__ADS_1


__ADS_2