
Nathan mengerutkan kening saat Elena terus menatapnya.
"Apa?"
Mata Elena melirik ke pintu.
"Katakan dengan jelas. Aku malas mengartikan kode-kode yang kau berikan." tungkas Nathan tegas.
Elena menarik napas dalam. "Keluar!" ucapnya pelan tapi penuh penekanan.
Nathan melotot. "Ini kamarku!"
"Mansion ini memiliki lebih dari seratus kamar kau bisa memilihnya," balas Elena. Tanpa disadari Elena sudah mulai banyak bicara.
"Tidak mau. Kenapa aku malah terusir dari kamarku sendiri?"
"Nathan... Jangan membuatku lebih membencimu!" Elena berang.
Kedua tangan Nathan dimasukkan ke dalam saku celana lalu ia setengah membungkuk di samping ranjang king size miliknya. "Oke. Kali ini aku akan mengalah lagi. Semoga kau cepat memaafkanku."
"Kau sudah terlalu banyak bicara membuat kepalaku bertambah pusing saja."
Nathan tersenyum. Bibir Elena seketika terkatup rapat. Wajah menawannya membius Elena hingga tak berkedip. Tangan Nathan terulur membelai rambut Elena kemudian beralih ke pipi mulus gadis tersebut.
"Singkirkan tanganmu!" Elena menjauhkan wajahnya untuk menghindari jemari Nathan yang mengusap pipinya.
"Aku senang melihatmu sudah banyak bicara. Itu bertanda kau tidak lagi mengabaikanku."
***
Tubuh Nathan bergerak gelisah di atas tempat tidur. Waktu sudah menjelang pagi namun Nathan belum juga berhasil memejamkan mata. Nathan terpaksa tidur di kamar yang dulu ditempati oleh Elena. Sejak kemarin Nathan sudah merasakan hal yang sama namun sekarang benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Sial! Aku terlihat seperti laki-laki menyedihkan. Tidur sendiri dan tidak diakui sebagai seorang suami." Nathan menatap nyalang langit-langit kamar.
Nathan berusaha keras menahan keinginannya untuk berlari keluar dan menyusul Elena yang berada di kamar utama. Perasaannya kacau, pikirannya terfokus pada sosok Elena yang mungkin saat ini tengah tertidur lelap tanpa memikirkannya.
Badan Nathan yang berbalut piama sutra bergeser ke sisi lain tempat tidur. Nathan mencari tempat yang bisa membuatnya merasa nyaman. Namun, hasilnya tetap sama saja. Berada di tempat terpisah dengan belahan jiwanya merusak semua tatanan dalam hidup Nathan.
"Terserah, aku akan pergi ke kamar utama tidak perduli meski akan diusir nantinya!" tekat Nathan sambil beranjak. Ia meraih smartphone di atas nakas lalu segera meninggalkan kamar.
__ADS_1
Tiba di luar kamar Nathan terus melangkah dengan jantung berdebar. Lampu di berbagai sudut ruangan yang Nathan lewati sudah dinyalakan. Kerena memang hari sudah hampir pagi. Para pelayan tempak sibuk mengerjakan tugas masing-masing. Melihat kedatangan orang nomor satu di mansion tersebut membuat beberapa pelayan yang ada di sana menyapa sambil menundukkan kepala.
Nathan hanya menoleh datar tanpa membalas. Ia terus melangkah mengabaikan tatapan pelayan wanita yang terpesona melihat tampilannya yang acak-acakan. Namun hal itu justru menambah aura ketampanan Nathan di mata para wanita.
"Ternyata Tuan tidur di kamar terpisah."
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tuan keluar dari kamar lain?"
"Astaga, betapa beruntungnya Nona Elena bisa dicintai oleh pria setampan Tuan Nathan."
"Aku selalu memimpikan bisa bersanding dengannya, tapi siapalah diriku? Dipandang saja tidak mungkin."
Berbagai gumaman terdengar dari mulut para pelayan yang Nathan lewati. Mereka hanya bisa mengagumi dalam diam. Nathan tidak perduli. Ia hanya ingin cepat tiba di kamar Elenanya.
Jemari Nathan bergerak cepat membentuk sebuah kombinasi di layar monitor kecil yang terpasang di bawah gagang pintu. Kode untuk membuka pintu sudah Nathan masukkan dan sudah berhasil membuka kunci. Nathan mendorong pelan pintu tersebut lalu melongokkan kepalanya ke dalam.
Suasana kamar tampak temeram. Tubuh Elena meringkuk di bawah selimut dengan sebuah guling dalam dekapannya. Nathan masuk. Nathan berdiri di samping ranjang sambil memainkan sebentar ponselnya.
"Aku tidak ingin benda ini menggangguku." Nathan menganti dengan mode senyap di ponselnya.
Setelah itu Nathan berjalan mengintari ranjang untuk tiba di sisi ranjang yang kosong. Nathan menaiki ranjang dengan ragu. Ia menyibak selimut dengan pelan-pelan lalu ikut masuk ke dalamnya.
"Dan sekarang aku sudah seperti penyusup meski di rumahku sendiri." Nathan menghembuskan napas panjang.
Nathan memiringkan tubuhnya. Tangannya dengan hati-hati melingkar di pinggang Elena. Nathan menghirup dalam-dalam aroma harum dari parfum dan shampo yang Elena gunakan. Aroma tersebut bagaikan obat untuknya.
"Yang ku butuhkan hanya ini. Berada bersamamu, memelukmu, dan melewati hari-hari diwarnai dengan senyumanmu."
Perasaan damai membawa Nathan menuju ke alam tidur. Mata yang sebelumnya terasa panas karena dipaksa untuk terpejam kini berangsur-angsur terpejam dengan sendirinya.
Hanya dalam beberapa jam saja ketenagan Nathan mulai terusik. Gerakan kecil di dadanya membuatnya mengerang. Tanpa disadari wajah Elena dibenamkan ke dalam dada Nathan. Elena mencari kehangatan dengan mendekap tubuh besar Nathan sambil bergerak-gerak mencari posisi ternyaman.
"Sayang, jangan terus bergerak seperti itu!" kata Nathan serak.
Elena bergumam tidak jelas.
Keduanya pun kembali terlelap.
Hingga hari mulai terang. Terdengar samar suara berisik mesin pembersih lantai dari luar kamar. Elena mengeliat dari posisi miring menjadi terlentang. Matanya belum sepenuhnya terbuka. Elena menguap dengan kedua tangan menutup mulutnya.
__ADS_1
"Sudah pagikah?" tanya Elena pada diri sendiri.
Rasa yang mendesak ingin keluar di perut bagian bawahnya memaksa Elena untuk segera bangun. Elena baru menyadari ada hempusan napas halus di puncak kepalanya.
Elena terdiam sejenak sebelum mendongak melihat sesuatu yang cukup membuatnya berpikiran buruk. Tubuh Elena semakin membeku saat merasakan sesuatu yang berat mendarat di atas perutnya.
"Nathan!"
"Pagi-pagi sudah membuatku jantungan."
Kedua tangan Elena mendorong dada Nathan agar menjauh. Namun, kekuatan Elena tak membuat Nathan bergeser sedikitpun. Nathan tersenyum tanpa membuka mata.
"Kau sudah setuju untuk tidur di kamar lain. Tapi kenapa sekarang ada di sini?" Elena memaksakan diri untuk duduk.
"Nanti saja bertanyanya. Aku baru bisa tidur beberapa jam yang lalu. Tolong beri sedikit dispensasi untuku."
Elena menghentikan rontaannya. Ia menatap lekat wajah Nathan yang ada di hadapannya. Elena bisa melihat wajah lelah Nathan, tapi Elena masih bertahan dengan pendiriannya.
"Ini hanya akal-akalanmu saja. Berhenti bersikap menyedihkan. Aku muak!" cetus Elena yang mulai terbawa emosi.
Nathan melepas rengkuhannya lalu beralih ke posisi duduk. Nathan menoleh menatap tajam Elena yang beringsut untuk bersandar di kepala ranjang.
"Kau menganggap ini hanya main-main? Tidakkah kau melihat keseriusanku? Aku terluka sama sepertimu, Elena. Aku sakit. Aku merasa bersalah. Aku kehilangan, tapi dengan sikapmu yang seperti ini membuatku semakin terluka." kicau Nathan.
"Aku hanya ingin memperbaiki semuanya. Tolong bantu aku dengan kembali menerimaku! Anggap saja ini sebagai kesempatan terakhirku dan aku akan menggunakannya dengan sebaik mungkin."
"Nathan..."
Sorot mata penuh ketegasan yang Nathan lemparkan kepada Elena perlahan melembut. Elena tampak ketakutan. Tubuh mungil itu sedikit bergetar. Elena menggerakan mulutnya tanpa mengeluarkan suara. Tanpa diminta air mata pun meleleh dari sudut mata Elena.
"Maaf," tutur Elena sambil menunduk untuk menyembunyikan tangisannya.
"Mungkin aku terlalu egois." Elena semakin terisak. Ia tidak mampu lagi menyembunyikan tangisannya.
Wajah Nathan diusap kasar. "Sudah jangan menangis!" Nathan mendekati Elena. Ia tidak suka melihat Elena menagis.
Nathan menarik Elena ke dalam pelukan. "Aku tidak ingin ada jarak yang membatasi kita. Aku suamimu dan kau istriku. Kita terikat dalam hubungan yang sakral. Harus kau ingat bahwa aku sangat-sangat mencintaimu. Kau hidupku, apalah artinya diriku tanpamu!"
Elena tidak bisa menghentikan tangisannya. Ia semakin kuat memeluk Nathan.
__ADS_1
...*****...
Next Chapter>