Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 10


__ADS_3

Elena terbangun pagi-pagi sekali dengan kepala yang sangat pusing. Ia menangis semalaman di pelukan Nathan. Pagi ini ia merasakan tubuhnya sakit dan pegal.


Elena membawa tubuh lemahnya memasuki kamar mandi sambil mencepol asal rambutnya, ia memandang pantulan dirinya di cermin. Sungguh mengerikan, dengan wajah kusut, bibir pucat, mata sembab dan bengkak penampilannya sekarang persis seperti zombi.


Baru kali ini ia merasa malas untuk hidup, Elena berpikir ingin pergi sejauh mungkin memulai kehidupan baru tanpa masalah yang berarti. Tapi semua itu hanyalah angan semata, memangnya ia akan pergi ke mana? bisa-bisa Elena akan menjadi gelandangan yang tidak berguna lontang-lantung di pinggir jalan.


Dengan memperbaiki penampilannya dan memoles wajahnya dengan make up agak tebal membuat wajah hancur Elena menjadi jauh lebih baik dan terlihat lebih manusiawi.


Ia sudah siap pergi ke kampus. Masa liburnya memang belum berakhir, tapi Elena harus ke kampus pagi ini karena ada beberapa hal yang harus ia lakukan sebelum kembali beraktivitas layaknya mahasiswi yang sibuk dengan setumpuk tugas kuliah.


"Kau terlihat akan pergi! Kemana? bukannya sekarang masih libur." Cetus Nathan. Pria itu baru bangun dan sudah di hadapkan dengan Elena yang sudah berdandan cantik.


"Aku harus mengurus beberapa hal yang belum ku selesaikan sebelum masuk kuliah lagi." Balas Elena sambil memasukan barang-barangnya ke dalam tas.


"Biar ku antar, tunggu aku mandi sebentar!" Nathan menyibak selimut yang menutupi setengah tubuh bagian bawahnya.


"Terlalu lama jika harus menunggumu bersiap-siap. Aku akan naik taksi saja!" tutur Elena pada pria itu.


"Aku tidak menerima penolakan!"


"Tapi aku menolak!" Elena bergegas keluar dari ruangan itu. Berjalan tergesa-gesa.


Elena berangkat lebih pagi agar jalan yang di laluinya tidak terlalu ramai. Elena berdoa dalam hati semoga hari ini jauh lebih baik daripada hari kemarin.


"El!"


Tanpa melihatpun Elena sudah tau siapa orang yang memanggilnya itu. Ia meneruskan langkahnya ingin segera meninggalkan gedung apartemen tersebut. Dengan langkah seribu ia memasuki taksi di depannya yang baru saja menurunkan penumpang.


"Cepat pak saya sedang buru-buru!" kata Elena sambil menelan Silvianya kasar.


Taksi itu langsung berjalan meninggalkan gedung tersebut, Elena menoleh ke belakang merasa was-was jika pria itu akan mengejarnya. Ia menghembuskan napas lega karena tidak ada tanda-tanda orang tersebut mengikutinya, ia bisa terbebas dari pria itu walau hanya sesaat.


Elena di kampus hanya beberapa saat saja. Setelah itu ia hanya duduk termenung di sebuah Cafe. Mengenang masa-masa indah bersama Arsen, mantan kekasihnya. Elena tidak menyangka kenangan indah itu berubah menjadi kenangan pahit untuk di ingatnya.


Setelah menempelkan sidik jarinya Elena masuk sambil mengernyitkan kening, ia mendengar suara berisik dari arah dapur yang elegan minimalis itu. Apa mungkin Nathan? Pikirnya.


"Kau siapa?" tanya Elena setelah mendapati seorang wanita muda sedang mengacak-acak lemari bagian bawah seperti mencari sesuatu.

__ADS_1


Wanita itu menoleh pada Elena yang menatap tajam ke arahnya. Ia segera berdiri membungkukkan badannya memberi salam hormat pada Elena, "Saya pelayan baru di sini, Nona!" Kata pelayan itu. "Nama saya Renata, saya di tugaskan oleh Tuan Nathan untuk membersihkan apartemen ini dan melayani anda."


Elena baru ingat akan hal itu, ia mengangguk dan menormalkan kembali ekspresi wajahnya. "Panggil aku Elena saja!"


"Baik Non... Elena!" Ucap pelayan itu kaku.


"Aku tinggal ke kamar dulu."


"Kenapa Nathan memperkerjakan pelayan yang masih muda dan cantik?" pikir Elena setelah memasuki kamar. Renata memiliki tubuh dan kulit yang bagus wajahnya juga cantik tidak seperti maid yang ada di mansion. Di sana memang ada yang masih muda tapi tampang mereka tidak ada yang istimewa. Elena segera mengenyahkan pikiran buruknya tersebut. Ia tidak mau berperasangka buruk terhadap pelanyan barunya itu.


Elena menjatuhkan dirinya di atas sofa, akhir-akhir ini ia terlalu banyak yang di pikirkan. Ia rindu kehidupan damainya.


Suara ketukan pintu memaksa Elena untuk membuka mata, ia berjalan cepat meraih gagang pintu dan membukanya. "Ada apa?"


"Ini sudah sore lebih baik anda makan," ucap Renata dengan tersenyum.


"Aku ingin mandi terlebih dahulu, kau siapkan saja makanan nya!" jawab Elena dengan wajah kantuknya.


"Baik Nona Elena!"


"Jangan terlalu kaku begitu," Elena menutup lagi pintu kamarnya.


"Kau sudah makan?" tanya Elena sambil menyendok nasi meletakkan nya di piring.


Renata menggelengkan kepala. "Saya nanti saja," jawabnya kemudian tersenyum kaku.


"Makan bareng saja! Ayo duduk di situ. Tidak usah malu, kita bisa makan sambil bercerita. Kau akan menjadi temanku di sini."


Renata menarik kursi dengan ragu merasa tidak enek makan satu meja dengan majikannya. Tapi ia tidak bisa menolak gadis itu, Elena masih menunggunya untuk duduk dan memulai makan bersama.


"Kau tinggal di mana?" tanya Elena.


"Di dekat sini tidak terlalu jauh, saya hanya berjalan kaki untuk sampai di sini." Balas Renata mengulurkan tangannya untuk menyendok nasi dengan ragu.


"Apa kau sudah berkeluarga?" tanya Elena menghapus kecanggungan di antara keduanya.


"Sa-saya sudah berpisah dengan mantan suami saya. Saya memiliki seorang putri berusia 4 tahun!" balas Renata.

__ADS_1


"Lalu putri mu dengan siapa kalau kau pergi bekerja?" tanya Elena menatap Renata dengan sorot mata lembut.


"Bersama Neneknya."


"Oh begitu, makanan yang kau masak terlalu banyak untuk ku habiskan sendiri nanti kau bawa pulang saja sebagian." Suruh Elena mendorong alat makannya ke tengah meja.


"Saya boleh membawa makanan ini, Non?" Kata pelayan itu dengan wajah berbinar.


"Iya. Kau sisakan saja sedikit untuk Nathan nanti."


"Terima kasih banyak!"


"Iya...dari pada kebuangkan sayang." Jawab Elena sambil mengutas senyum.


Perut Elena terasa penuh sehingga membuatnya malas untuk bergerak. Ia terlalu banyak makan karena ia tidak bisa berhenti untuk mengunyah. Masakan Renata sangat enek, sesuai dengan seleranya.


Gadis itu duduk di lantai beralaskan karpet bulu yang lembut, punggungnya ia sandarkan pada sofa di belakangnya. Elena menikmati sorenya dengan bersantai di ruang keluarga dengan televisi yang menyala memberikan hiburan untuk gadis yang sedang patah hati itu.


Elena terlalu fokus dengan acara kartun yang membuatnya terkikik karena tingkah absurd bintang laut berwana merah muda dengan spons kuning bergigi dua. Sehingga tidak menyadari kehadiran seseorang yang sedang mengamatinya sedari tadi.


"Dari yang ku lihat kau sudah lebih baik di banding semalam!" Nathan duduk di atas sofa dengan menyilangkan kakinya.


"Jangan kau ingatkan lagi tentang hal itu! Kalau kau tidak ingin bajumu basah oleh ingusku." Balas Elena sambil mendongakkan kepalanya.


"Itu sangat menjijikkan. Semalaman aku harus berganti baju hingga lima kali!" kata Nathan sambil mendengus.


Elena membungkam mulutnya agar tidak tertawa. Elena membayangkan wajah Nathan yang semalam tertekuk masam, karena ia terus-terusan menangis dengan keras meluapkan kesedihannya di dada pria itu hingga membuat baju yang di kenakkan Nathan basah kuyup oleh air mata dan ingusnya.


"Aku minta maaf. Kau sendiri yang menyerahkan dadamu padaku jadi sebenarnya bukan salahku."


"Iya kau tidak salah, tapi aku sendiri yang salah." Nathan mencium puncak kepala gadis itu. "I love you!" kata Nathan selanjutnya.


Deg


Elena meneggang di tempat.


"Mulai sekarang berusahalah untuk mencintaiku. Sepertinya kita memang di takdirkan untuk bersama!"

__ADS_1


----------


Next Chapter》


__ADS_2