
Sudah hampir pukul delapan malam, Nathan beranjak dari meja kerjanya yang berada di mansion. Ia sudah selesai memeriksa berkas-berkas penting untuk tanda tangan kontrak kerja sama dengan client besok.
"Permisi, Sir! Owner dari Willi's Corporation ingin bertemu dengan anda secara pribadi." tutur Leo langsung saat melihat Nathan yang akan meninggalkan ruangan itu.
"Kapan?"
"Lusa bertempat di kantor anda!"
"Oke... kau atur saja semuanya!"
"Baik, Sir!" Balas Leo asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan Nathan. Ia yang mengurus perusahaan menggantikan Nathan di saat pria itu sedang bermalas-malasan.
"Berkas untuk besok sudah aku periksa, besok kau tinggal membawanya ke kantor dan letakkan di meja kerjaku. Sepertinya malam ini aku tidak akan pulang." Ucap Nathan lalu melangkah pergi.
Setibanya di kamar Nathan segera mengganti penampilannya dengan gaya casual. Ia sudah bersiap akan pergi menemui kekasih kecilnya yang sudah begitu ia rindukan.
"Kau akan pergi kemana malam-malam begini?" Tanya Sisil dengan perasaan khawatir melihat suaminya sudah tampil rapi.
"Aku ada urusan!"
"Aku merasa kau semakin menjaga jarak denganku! Kau tidak pernah lagi memelukku saat tidur. Jangankan memeluk, tidur satu ranjang saja sepertinya kau enggan! Lebih parahnya lagi kau sekarang tidak pernah betah berada di mansion." Aku Sisil menatap punggung lebar suaminya dengan sedih.
"Itu hanya perasaanmu saja!" Balas Nathan sangat tidak acuh.
"Kau tampak mulai berbeda sekarang! Apa kau sudah bosan denganku? atau mungkin memiliki wanita lain di luar sana!" Cerca Sisil menuntut jawaban dari pria itu.
__ADS_1
"Aku sedang malas berdebat. Dan jangan menuduhku yang tidak-tidak!" kata Nathan sambil mengepalkan tangannya kuat.
"Apa kau tidak akan pulang malam ini?" Tanya wanita itu masih berdiri di belakang Nathan.
"Mungkin, aku belum tau. Sebaiknya kau tidak usah menungguku pulang!" Jawab Nathan datar.
"Memang ada urusan apa? sampai kau tidak akan pulang."
"Kau tidak perlu tau. Ya sudah... aku berangkat dulu!" Balas Nathan dengan senyum paksa mendekat ke arah Sisil, lalu mengusap pelan sudut bahu wanita itu.
Sisil sudah akan mengeluarkan suaranya, namun segera ia urungkan. Wanita itu menatap punggung Nathan yang berjalan semakin menjauhinya. Butiran cairan bening menetes dari pelupuk mata wanita tersebut. Dadanya terasa begitu sesak seperti terhimpit sebuah batu yang sangat besar. Ia kecewa pada dua orang yang paling berharga di dalam hidupnya.
Sisil tau semuanya, semua yang di lakukan suami dan keponakkannya di belakang dirinya. Ia selalu terbangun di pagi hari dengan keadaan kasur di sebelahnya kosong, padahal hari masih sangat gelap. Hingga suatu ketika ia hanya pura-pura memejamkan matanya. Ingin tau kemana perginya Nathan saat malam hari, hingga kenyataan pahit harus menamparnya. Sisil hancur, melihat dengan mata kepalanya sendiri suami yang sangat ia cintai mengunjungi kamar wanita lain. Dan wanita itu adalah Elena, keponakkan yang amat sangat ia sayangi.
"Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk suamiku. Menyerahkan hidupku dengan seutuhnya pada pria itu, tapi apa yang ku dapat? Hanya kata-kata ketus, wajah datar, sikap tidak acuh. Namun aku mencoba untuk tegar, berharap suatu saat nanti suamiku bisa berubah, bisa menjalani kehidupan rumah tangga layaknya pasangan suami-istri yang semestinya." Batin Sisil.
Ia tidak menyangka perhatiannya yang selama ini ia berikan pada Elena malah di balas dengan luka yang sangat perih untuk di rasakannya. Wanita itu tidak bisa menentang hubungan mereka. Karena Sisil sadar diri bahwa ia tidak bisa memberikan apa yang suaminnya itu inginkan. Ia hanya terpuruk seorang diri. Berpura-pura baik-baik saja dengan menarik sudut bibirnya ke atas walau semua itu hanya ilusi.
Di lain tempat Elena kembali ke apartemen setelah hari menjelang petang. Rintik hujan tidak menghalangi langkahnya menyusuri trotoar yang terdapat banyak genangan air, membuat basah sepatu yang wanita itu kenakkan. Ia sudah tidak memiliki tujuan lain. Saat ini yang ia rasakan hanya rasa sakit di hatinya, karena selama ini ia sudah di tipu oleh orang terdekatnya. Sahabat yang di percaya tega melakukan semua ini, menjalin hubungan dengan kekasihnya, begitu juga dengan kekasihnya. Namun jika di pikir-pikir apa bedannya Elena dengan mereka? Tidak ada! Mereka sama-sama terjerat ke dalam hubungan yang amat rumit. Mungkin ini karma untuk Elena yang sudah berkhianat pada Auntynya.
Gadis itu membanting pintu kamar dengan keras. Ia memerosotkan tubuhnya di sudut ruangan tersebut sambil memeluk kedua lututnya kuat. Hatinya hancur, sehancur-hancurnya. Air mata Elena tidak henti-hentinya menetes mewakili rasa sakit yang baru di rasakan. Tanpa adanya pencahayaan isak tangis pilu terdengar di ruangan itu, sedangkan di luar sana kilat petir menyambar-nyambar dengan silih berganti, di iringi suara bergemuruh menciptakan suasana yang amat mencekam.
"Kenapa gelap sekali?" ucap Nathan memasuki ruang apartemen yang sangat sunyi.
Pria itu menghidupkan beberapa lampu untuk menerangi langkahnya mencari kebaradaan gadisnya. Pria itu menuntun langkahnya memasuki kamarnya bersama Elena. Dengan cepat ia menekan handle pintu hingga terbukalah raungan yang sangat gelap. Nathan mengeryitakn keningnya, samar-samar ia mendengar suara isakan dari seseorang yang ia yakini adalah Elena.
__ADS_1
Dengan sekali tekan lampu di kamar itu menyala seluruhnya. Menampilkan gadis yang sedang menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.
"Sayang, kau kenapa?" Ucap Nathan denga volume tinggi sambil setengah berlari menghampiri Elena.
Elena semakin mengeratkan dekapan tangan di kakinya. Sebenarnya ia belum siap bertemu Nathan saat ini, ia malu pada pria itu dengan keadaannya yang seperti itu. Sangat kacau!
"El, beri tau aku kau ini kenapa?" Celetuk Nathan sambil mengelus rambut gadis itu dengan lembut.
"Aku sakit, Uncle!" balas Elena dengan suara parau, belum mau menunjukkan wajahnya yang mungkin sudah tampak mengerikan.
"Bilang padaku, apa yang terjadi padamu?" kata Nathan dengan rahang mulai mengeras.
Elena mengangkat wajahnya menampilkan mata sembab dan hidung merah seperti badut. "Kekasihku berselingkuh dengan sahabatku." Air mata gadis itu kembali menetes mengingat penghianatan yang di alaminya.
"Tenanglah. Tidak perlu kau tangisi laki-laki sepertinya." jawab Nathan mencoba menenangkan kekasihnya. "Ada aku di sini yang akan menjadi sandaranmu!"
"Aku tidak bisa berpura-pura kuat, kalau aku merasakan sakit aku juga akan menagis." Elena mengusap hidungnya yang berair dengan t-shirt mahal yang di pakai pria itu.
"Baiklah... menagislah sepuasmu!" tutur Nathan mendorong kepala belakang Elena ke dadanya, pria itu memeluk erat kekasihnya memberi kenyamanan.
"Kau hanya di takdirkan untukku. sekeras apapun kau menolakku, sekeras itu pula aku akan membuatmu bertekuk lutut kepadaku." Kata Nathan dalam hati. senyum licik terpancar dari bibir pria berhati iblis itu.
----------
Next Chapter》
__ADS_1