Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 34


__ADS_3

Sore hari Elena sudah tiba di rumah Rega. Ia memasuki rumah tersebut dengan langkah gontai.


"Nak Elena?" Sapa seorang wanita yang berada di bawah tangga.


Elena memutar tubuhnya. Ia berhenti di tengah tangga. Mata Elena terbuka sempurna dengan senyum cerah terbit di bibirnya. "Ibu Emma! Kau di sini? Sejak kapan?" Pekik riang Elena sambil menuruni satu persatu anak tangga.


"Pelan-pelan sayang, kau bisa jatuh." Cetus Rega yang berdiri di kejauhan.


Ibu Emma tersenyum melihat Elena yang antusias melihat kedatangannya. Ia mendapat pelukan erat dari Elena. "Bagaimana kabarmu?" Tanya Ibu Emma setelah Elena melepas pelukannya.


"Aku baik, bagaimana denganmu Ibu?"


"Ibu juga baik, lebih baik lagi saat melihat senyum manismu itu." Tutur wanita paruh baya tersebut.


"Benarkah? Kau tinggal di sini saja agar bisa melihat senyumanku setiap hari." Goda Elena sambil terkikik.


"Kau ini, mungkin Ibu akan di sini untuk beberapa hari saja. Ayo, duduk di sana! Ibu sangat merindukanmu."


Elena mendorong kursi roda yang di duduki Ibu Emma ke ruang tengah yang terdapat sofa untuk ia duduki.


Rega bersandar di tembok dengan perasaan bahagia. Elena sangat perhatian pada ibunya, ia tidak salah memilih Elena sebagai calon istrinya. Ia ingin segara menjadikan Elena pengantinnya.


"Rega, sedang apa kau di sana? Kemarilah!" Teriak Elena.


"Anak itu terlihat sedang melamun." Kata Ibu Emma sambil melihat putranya berjalan menuju ke arahnya. "Duduklah di samping Elena. Aku ingin berbicara penting pada kalian berdua."


"Hal penting apa, Ibu?" Tanya Elena menatap bingung pada wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya.


"Ini tentang hubungan kalian. Rega sudah bercerita banyak padaku. Aku senang akhirnya kalian bisa menjadi sepasang kekasih, dan aku berharap agar kalian segara menikah. Bisa kalian lihat Ibu sudah tua dan sakit-sakitan, aku ingin di sisa umurku yang mungkin sudah tidak akan lama lagi bisa melihat putraku satu-satunya menikah." Tutur Ibu Emma sambil menatap serius pada pasangan yang duduk di depannya.


Rega meraih tangan Elena lalu megenggamnya, "aku akan segera menikahinya." Ucap Rega mantap. "Mungkin dalam bulan ini. Aku ingin meminta restu darimu." Lanjut Rega.


Elena terdiam dengan seribu bahasa. Rega sudah yakin ingin menikahinya, sedangkan dirinya masih di sibukkan dengan perasaannya terhadap dua pilihan antara Nathan dan Rega.

__ADS_1


"Ibu merestui kalian." Jawab Ibu Emma tersenyum bahagia.


"Sayang, kau tidak apa-apa kan? Wajahmu tampak pucat, apa kau tidak nyaman dengan pembicaraan ini?" Rega mulai khawatir dengan respons Elena.


"A-aku baik-baik saja. Aku hanya terkejut saat kau bilang ingin segera menikahiku. Apa tidak terlalu cepat?"


"Menurutku tidak. Sudah dari sejak lama aku ingin menikahimu. Bagaimana denganmu? Kau tidak keberatan kan?"


Elena gelisah dalam duduknya. Ia belum memiliki jawaban. Jika menerima, bagaimana dengan Nathan. Tapi jika menolaknya ia tidak tega melihat mereka terluka. Dua pilihan yang sangat berat untuk Elena putuskan. "A-aku hanya belum siap untuk menjalani dunia pernikahan. Aku takut dengan kegagalan."


Tatapan Rega melembut dengan tangan menggenggam jemari Elena memberi keyakinan pada kekasihnya. "Kau tidak perlu berpikir sejauh itu. Kita perlu menjalaninya dulu, jangan hanya melihat di sekeliling kita tanpa mencobanya. Aku serius ingin menjadikan mu istriku. Aku mencintaimu."


"Apa yang di katakan Rega benar, nak. Kau jangan takut sebelum mencobanya. Pernikahan tidak semengerikan yang kau bayangkan. Ibu sangat berharap bahwa hanya kau yang akan menjadi istri Rega." Kata Ibu Emma dengan wibawa.


Apa yang harus di lakukan Elena? Tentu saja menyanggupi rencana itu. Kata penolakan yang akan ia lontarkan tercekat di tenggorokan. Elena tidak sanggup berkata tidak. Wanita paruh baya itu sangat mempengaruhi perasaannya.


Kelegaan terlihat di wajah Ibu Emma. Senyumnya semakin merekah. "Syukurlah. Ibu lega akhirnya akan ada pernikahan. Ibu akan berada di sini sampai pernikahan kalian di laksanakan."


"Terima kasih, sayang." Kebahagiaan Rega bertambah berkali-kali lipat saat ini. Ia mengecup pelipis Elena dengan perasaan membuncah.


"Aku ingin ke kamar dulu, badanku sudah terasa tidak nyaman ingin segera mandi." Celetuk Elena. "Bukan badanku yang tidak nyaman tapi hatiku." Ucapnya dalam hati.


"Ya sudah! Nanti saat waktu makan malam tiba kau segera turun. Kita makan malam bersama." Kata Rega.


"Tentu saja." Elena bergegas pergi.


■■■■■■


Waktu makan malam tiba. Elena sudah duduk dengan tenang di meja makan bersama Rega dan ibunya. Mereka saling berbincang di sela makannya. Tidak ada kecanggungan sama sekali, mereka sangat akrab seperti keluarga.


Setelah makan malam usai. Mereka pergi ke kamar masing-masing. Sebelumnya Elena mengantar Ibu Emma ke kamar yang berada di lantai satu, membantu membaringkannya di atas kasur. Sedangkan Rega sudah masuk ke ruang kerja untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum sempat ia selesaikan di kantor.


Elena pergi ke kamarnya setelah memastikan Ibu Emma sudah terlelap. Ia membuka pintu kamar, ruangan kamar tersebut gelap karena saat keluar tadi Elena belum menyalakan lampunya karena masih ada cahaya dari luar. Elena meraba-raba mencari letak tombol lampu di dinding. Tombol lampu yang di tekan Elena berbunyi di barengi dengan lampu yang menyala seluruhnya.

__ADS_1


Elena terlonjak ke belakang saat membalik tubuhnya karena di ruangan itu tidak hanya ada dirinya, melainkan ada Nathan yang sedang duduk di atas sofa menatap pada dirinya. "Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau bisa masuk?" Tanya Elena sambil berjalan ke hadapan Nathan.


"Ingin menemuimu. Dan aku masuk dari balkon kamarmu." Jawab Nathan santai.


"Kau mau apa? Apa tidak bisa menunggu besok untuk menemuiku?" Elena sedikit takut kalau sampai ketahuan oleh Rega.


"Aku inginnya sekarang." Nathan berdiri, berhadapan dengan Elena. "Aku merindukanmu, aku tidak bisa menahannya hingga besok."


Elena memutar bola matanya. Nathan terlalu berlebihan, pikirnya. "Tadi siang kita baru bertemu. Sekarang lebih baik kau pulang, aku ingin tidur." Kata Elena dengan suara pelan.


"Kau mengusirku, sayang?" Kata Nathan menaikkan sebelah alisnya.


"Kau bertamu dengan cara yang tidak sopan. Bagaimana kalau sampai ketahuan pemilik rumah ini?" Omel Elena menatap sebal pada Nathan.


"Tidak ada yang melihatku. Lebih baik kau diam sebelum suaramu membuat curiga orang di luar sana." Kicau Nathan sambil menarik pinggang Elena agar mendekat padanya. "Aku akan menemanimu tidur."


Elena langsung menatap horor pria itu. "Kau bercandakan? Aku tidak mau. Kau pulang saja." Tolak Elena keras.


Tanpa kata Nathan mengangkat tubuh Elena dan menjatuhkan dengan lembut ke atas kasur. Ia ikut menaiki ranjang, memposisikan dirinya di samping Elena sambil memeluk mesra sang kekasih. Hanya dengan begitu Nathan sudah sangat bahagia.


"Jangan terlalu erat memelukku, aku susah bernapas, Nathan!" Ucap Elena dengan mata terpejam.


"Kau tega padaku. Tidak bisakan kita melakukannya sekali saja? Aku berjanji setelah itu aku akan membiarkanmu tidur tanpa gangguan." Rengek Nathan.


"Oh, jadi itu tujuanmu menyusup ke kamarku!" Elena membalik tubuhnya menghadap pada Nathan yang bertelanjang dada.


"Salah satunya itu." Jawab Nathan sambil tertawa pelan.


"Aku sedang dalam masa periodeku. Jadi, simpan saja keingananmu itu." Jawab Elena ketus namun dengan bibir melengkung ke atas.


"Sial." Umpat Nathan kecewa. Ia membenamkan wajahnya ke lekuk leher Elena. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita itu. Hingga tanpa sadar ia sudah memejamkan mata.


----------

__ADS_1


Next Chapter》


__ADS_2