Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 2


__ADS_3

Elena baru saja selesai mandi dan sekarang masih berada di dalam walk in closet, ia sedang memilih pakaian yang cocok untuk di kenakannya. Elena memakai dress biru selutut bermotif bunga-bunga kecil dan mengikat tinggi rambut hitamnya. tidak lupa ia memoles wajahnya dengan make-up tipis agar terlihat natural, dan terakhir ia menyemprotkan parfum beraroma buah yang menjadi favoritnya.


Hari ini Elena berencana pergi dengan kekasihnya. Ia bergegas keluar dari kamar untuk menemui Arsen yang sudah menunggu dengan gelisah sejak 10 menit yang lalu di ruang tamu bersama Nathan yang selalu memberi tatapan penuh intimidasi.


"Maaf lama." Kata Elena sambil menyengir.


"Ck, dasar wanita!" Ucap lirih Nathan yang masih bisa di dengar oleh Elena.


Nathan sudah di sana sejak Arsen datang, Arsen baru pertama kali datang ke mansion megah milik Nathan setelah 1 tahun berpacaran dengan Elena. Baru tadi mereka saling berkenalan, raut tidak suka terpancar jelas dari wajah Nathan.


"Kalian mau kemana?" Tanya Nathan pada sepasangan kekasih itu.


"Kami hanya ingin mencari buku, Uncle! dan mungkin akan jalan-jalan sebentar." Jawab Elena sambil megalihkan tatapannya kepada Arsen dengan sudut bibir yang terangkat.


Arsen ikut mengangguk menyetujui ucapan Elena.


"Sebelum pukul 6 kau harus sudah berada di mansion, Elena. kau akan ikut bersamaku menghadiri pesta kolegaku." Kata Nathan menatap tajam Arsen yang tiba-tiba menggenggam tangan Elena.


"A..aku! Ke pesta bersama Uncle?" Jawab Elena dengan gugup. Ke pesta dengan pamannya! Tidak pernah terlintas di pikiran Elena sebelumnya.


Nathan menaikkan sebelah alisnya, "Ya, untuk menemaniku. menggantikan Sisil yang tidak bisa hadir." Ucap Nathan sambil berlalu menjauhi pasangan muda itu.


Elena baru ingat kalau Sisil sudah berangkat ke Singapura kemarin. Tapi kenapa harus ia yang di ajak ke pesta itu, Elena mambayangkan bertapa canggungnya nanti saat hanya berdua saja dengan pamannya yang mesum itu.


Elena tersentak dari lamunannya saat Arsen menarik tangannya keluar menuju mobil yang terparkir di halaman mansion.


"Sial!" Ucap Nathan dengan meremas rambutnya frustasi melihat kedekatan gadisnya bersama laki-laki lain.


Di lain tempat setelah mendapatkan buku yang mereka cari, Elena dan Arsen pergi menyusuri jalanan kota yang cukup ramai. Mungkin karena hari ini hari libur sehingga banyak orang yang tidak beraktifitas di luar.


Tiba di sebuah jalan yang terdapat banyak tenda berwarna-warni dan banyak orang yang berkerumun di tempat tersebut. Membuat Elena meminta Arsen untuk menghentikan mobilnya, ia ingin tau ada acara apa di tempat itu.


"Kita ke sana ya! aku ingin sekali melihatnya." Ucap Elena menunjuk ke arah yang di maksud.


"Tapi jangan terlalu lama. Di sana tampaknya sangat sesak." Balas Arsen.


Ternyata cukup melelahkan menyusuri setiap tenda yang ada. Banyak sekali berbagai jenis makanan yang di tawarkan, semua tampak begitu lezat. Ternyata tempat tersebut sedang mengadakan bazar makanan kaki lima.


"Sayang, aku mau yang itu." Kata Elena menunjuk tempat yang di maksud, Elena menghampiri tempat tersebut ia ikut mengantre bersama pembeli lainnya.


"Setelah ini kita pergi. Di sini panas sekali, sayang." Celetuk Arsen sambil mengusap keningnya yang berkeringat.


"Ayolah, Arsen! di sini sangat menyenangkan." Ucap Elena yang bergelayut manja di lengan pemuda itu.


Arsen hanya mendesah pasrah menuruti kemauan kekasihnya.


Puas berkeliling dan mencicipi berbagai jenis makanan mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Elena tidak mau membuat Nathan marah, pria itu pasti akan megamuk karena perintahnya tidak ia hiraukan.


Di dalam sedan hitam Elena dan Arsen saling bercanda, entah apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka berdua terlihat sangat asyik dengan obrolannya. Sesekali Arsen mengecup singkat pipi Elena dengan gemas. Setelah tiba di halaman mansion Elena pamit kepada kekasihnya untuk segera turun. Namun belum sempat membuka pintu mobil tangan Elena di tarik oleh Arsen membuat jarak keduanya semakin dekat hanya tersisa beberapa senti saja.


"Aku mencintaimu." Ucap Arsen tepat di depan wajah Elena dengan wajah seriusnya.


Tiba-tiba benda kenyal menempel pada bibir Elena. Arsen menciumnya dengan lembut, Mereka berciuman cukup lama dengan penuh perasaan tanpa ada napsu di dalamnya, seolah-olah Arsen menggungkapkan ketulusan cintanya dengan ciuman tersebut. Merasa Elena mulai sulit bernapas, Arsen melepas pangutan bibinya, dengan kedua tangan Arsen masih menagkup ke dua pipi bulat gadis tersebut.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu!" Balas Elena dengan mengukir senyum tulus.


Arsen kembali mengecup bibir Elena, setelahnya ia keluar dari mobil terlebih dulu membukakan pintu untuk Elena.


"Cepat masuk, aku tidak mau kalau kau sampai di marahi oleh pamanmu yang galak itu." Kata Arsen membayangkan wajah Nathan yang dingin, tatapan mata yang tajam membuat ia ngeri, "Baru tatapannya saja sudah seperti itu, bagaimana dengan ucapannya." kata Arsen lagi.


Elena hanya terkekeh mendengar ucapan Arsen.


■■■■■■


Elena melihat pantulan dirinya pada cermin di depannya. Wow batin Elena. Ia tidak percaya bahwa yang ia lihat saat ini adalah dirinya. Dengan long dress hitam berlengan panjang memiliki belahan sampai atas paha sehingga menampilkan pahanya yang putih mulus.


Jam sudah menunjukan pukul 19.30, Elena bergegas ke bawah menemui Nathan yang sedari tadi sudah menunggu dengan tidak sabar.


Elena menuruni tangga dengan langkah hati-hati, ia agak kesulitan berjalan karena menggunakan sepatu hak tinggi. Sangat merepotkan, batin Elena.


Tepat di ujung sana, pria yang berdiri gagah berbalut taxedo mahal dengan tatanan rambut yang di sisir rapi ke belakang terlihat sangat mempesona. Nathan yang sejak tadi menunggu Elena dengan tidak sabar sedikit terkejut melihat penampilan gadis itu. Satu kata yang terbayang di benak Nathan sexy, buru-buru ia menormalkan kembali wajahnya dari keterkejutannya.


Elena tiba di hadapan Nathan dengan perasaan gugup, ia merasa tidak percaya diri dengan penampilanya saat ini. Ini kali pertama Elena berdandan terlalu berani dengan gaun yang menurutnya sangat menantang.


"Ayo, kita hampir terlambat!" Ajak Nathan meraih jemari Elena dan di genggamnya. Nathan melangkahkan kakinya ke parkiran menuju mobil BMW i8 berwarna putih miliknya.


35 menit kemudian ...


Mobil mewah Nathan berhenti di depan Hotel yang di lihat dari luar begitu mewah. Nathan mengulurkan tangannya ke arah Elena yang masih duduk di dalam mobil, dengan ragu Elena menerima uluran tangan pria itu. Mereka berjalan beriringan memasuki ballroom hotel, sampai di dalam Elena di buat terkesima dengan apa yang di lihatnya. Sangat mewah! jiwa miskin Elena meronta-ronta. Walaupun ia hidup dengan kemewahan yang di peroleh dari Nathan, akan tetapi Elena tidak pernah berfoya-foya seperti kebanyakkan orang. Karena Elena cukup tau diri ia tidak ingin menjadi beban di keluarga Aunty nya.


Tiba-tiba lengan kekar milik pria itu melingkar di pinggang Elena, gadis tersebut segera menjauhkan tangan Nathan yang tidak tau malu itu dari pinggangnya.


"Apa yang Uncle lakukan? Banyak orang yang memperhatikan kita, mereka bisa berpikiran yang tidak-tidak tentang kita." Kata Elena yang melihat orang di sekitarnya menatap ke arahnya.


Nathan kembali melingkarkan tangannya semakin memperkuat rengkuhannya pada pinggang Elena, "biarkan saja. Malam ini kau milikku!" Bisik Nathan tepat di telinga Elena. Nathan membimbing Elena berjalan menuju pasangan suami-istri yang terlihat sangat mesra dengan balutan pakaian mewah.


Elena masih sibuk dengan pemikiranya sendiri.


"Selamat malam Mr. Wijaya! selamat datang di pesta kami." Sapa Mr. William sambil saling berjabat tangan dengan Nathan. "Siapa gadis yang ada di samping anda ini?" Tanya Mr. William dengan kernyitan di keningnya.


"Apa dia istri anda?" ujar Mrs. William dengan percaya diri.


Elena yang semula menunduk langsung mengangkat wajahnya menatap Mrs. William dengan bibir terbuka. Bisa-bisanya wanita paruh baya itu beranggapan bahwa Elena adalah istri Nathan. Apa ia tidak bisa melihat perbedaan usia mereka yang terpaut jauh. Di lihat dari tinggi Elena yang hanya sebatas dada Nathan dengan mata bulat, hidung mancung dan wajah imutnya. Elena masih pantas menjadi anak SMA. Mungkin efek dari riasan di wajahnya membuat Elena terlihat lebih dewasa dari usia sebenarnya.


Melihat kekehan Nathan, Elena mengerutkan keningnya. "Perkenalkan ia Elena, istri saya." Ucap Nathan tegas.


"Aku benar, Honey!" Pekik Mrs. William pada suaminya, di balas dengan senyuman oleh pria paruh baya itu. "Istri anda cantik Mr. Wijaya!" Ucap Mrs. William melempar senyum hangat pada Elena.


"Apa-apaan ini," batin Elena. Entah apa yang ada di otak Nathan hingga bisa menyebut dirinya itu istrinya. Oh gosh, Elena butuh penjelasan dari pria itu. Ia sungguh sangat frustasi.


Elena hanya tersenyum kaku pada pasangan tersebut.


"Silahkan menikmati pestanya, kami akan menyapa tamu yang lain!" Ucap Mr. William lalu pamit pergi.


"Kenapa Uncle bilang begitu?" kata Elena menuntut penjelasan dari pria di sampingnya. "Aku bukan istrimu. terimalah kenyataan bahwa kita tidak seharusnya bersama. Kau terlalu memaksakan keinginan gilamu itu!" Celetuk Elena dengan dada terlihat naik-turun.


Elena mendongak ke arah Nathan dengan mulut di bekap. "Kau ini berisik sekali!" Protes Nathan.

__ADS_1


Bekapan di mulut Elena sudah di lepas karena di ruangan tersebut terdapat banyak orang, takut mereka berpikir yang tidak-tidak melihat interaksi yang tidak lazim antara paman dan keponakan tersebut. "Aku butuh penjelasan darimu. Aku lelah jika harus seperti ini terus, aku juga punya kehidupanku sendiri!" Tutur Elena berusaha mengontrol nada bicaranya.


"Aku hanya ingin dirimu. Bertahanlah sebentar saja!"


"Aku tidak ingin meneruskan hubungan ini. sejak awal aku tidak menginginkannya!" balas Elena dengan mata berkilat.


Mereka sudah berpindah tempat di sudut ruangan yang tidak terlalu ramai. Sehingga pembicaraan tentang hubungan terlarang mereka tidak di dengar oleh orang lain.


"Akan ku buat kau tetap berada di sisiku!" kata Nathan dengan menekan di setiap katanya.


"Kau egois!" ujar Elena lirih.


■■■■■■


Setibanya di mansion Elena mendudukan dirinya di sofa ruang keluarga. Elena merasa sangat lelah, apalagi kakinya sudah terasa ingin patah karena terlalu lama berdiri menggunakan sepatu hak tinggi. Lain kali ia tidak mau lagi pergi ke pesta yang menurutnya sangat membosankan.


Dengan lagkah gontai Elena berjalan menuju ke kamarnya. High heels-nya sudah ia lepas dan hanya ia jinjing menggunakan satu tangannya. Elena ingin segera pergi tidur, ia sudah sangat letih dan mengantuk. Tanpa mengganti gaunnya, Elena langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan perlahan mata itu pun mulai menutup.


Tidak pernah Elena merasa senyaman ini dalam tidurnya. Ia merasakan kehangatan yang membuat ia enggan untuk membuka mata, menikmati hembusan napas yang membuatnya semakin tenggelem ke dalam mimpi yang begitu indah.


Mentari pagi sudah mulai meninggi. Elena mengliatkan tubuhnya, semalam ia terlalu lelah sehingga langsung tertidur tanpa menyadari sesuatu. Perlahan ia membuka kelopak matanya, Elena merasa sesak seperti ada benda berat yang menindihnya.


Arrgghhh!!!


Pria di samping Elena tersentak dari tidurnya mendengar teriakan tiba-tiba Elena. "Apa yang kau lakukan? Aku bisa tuli gara-gara suara cemprengmu itu," kata Nathan sambil menggusap-usap telinganya yang berdengung.


"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang Uncle lakukan di sini?" Balas Elena wajahnya sudah memerah menahan emosi.


Nathan kembali merebahkan tubuhnya dengan posisi tengkurap tidak menghiraukan ucapan penuh emosi Elena.


"Uncle bangun!" Pekik Elena sambil menarik-narik kaos yang Nathan pakai agar pria itu terbangun.


Tidak ada respons dari Nathan, Elena beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dasar pria tua sialan batin Elena, sambil mengguyur tubuh telanjangnya di bawah shower dengan perasaan dongkol.


"Kenapa Uncle masih disini?" Ucap Elena sehabis mandi, mendekat ke posisi Nathan berada, masih menggunakan bathrobe dengan rambut basah yang di bungkus handuk.


"Ingin melihatmu keluar dari kamar mandi. Aku kira kau akan keluar hanya dengan lilitan handuk mini, ternyata aku salah!" Ungkap Nathan yang langsung di hadiahi pelototan dari Elena.


"Kenapa sekarang Uncle mesum sekali?" Kata Elena sambil merapatkan bagian depan bathrobe yang ia gunakan. "Aku harap semalam kau tidak berbuat macam-macam kepadaku!" Ucap Elena lagi.


Elena merasa malu sekali. Tidak pernah sekali pun Elena tidur dengan seorang laki-laki sebelumnya. Ia selalu memberi batasan saat berpacaran dengan Arsen.


"Tidak, hanya sekedar memelukmu saja!" Balas Nathan dengan seringaian di bibirnya.


"Ku harap hal ini tidak akan terulang lagi!" Cetus Elena sinis.


Nathan hanya mengangkat bahunya tidak acuh, lalu beranjak keluar dari kamar gadisnya. Sampai di depan pintu ia memutar tubuhnya menatap ke arah Elena.


"Jangan terlalu lama, Aku tunggu di bawah!"


----------

__ADS_1


Next Chapter》


__ADS_2