
Sepulang dari kantor Rega membawa Elena jalan-jalan sebentar menyusuri taman kota yang ramai pada sore hari. Menjelang malam mereka berkencan dengan melakukan makan malam romantis di sebuah restoran mewah di kota itu. Rega menggandeng tangan Elena menuju lantai 2 restoran. Di sana terlihat lebih sepi jika di bandingkan dengan lantai satu yang hampir dipenuhi para tamu.
"Kenapa tidak di bawah saja, Ga? Di sini sepi sekali." Tutur Elena.
Rega menarik satu kursi untuk di duduki Elena. "Duduklah. Aku ingin menikmati makan malam romantis, hanya berdua denganmu." Rega masih menunggu Elena menududuki kursinya. "Sayang!" Pria itu memanggil Elena yang masih mematung di tempatnya.
"Ah iya, maafkan aku!"
"Wajahmu mencerminkan kalau kau tidak menyukai keinginanku ini."
"Siapa bilang? Aku suka kok." Elena melempar senyum manis pada kekasihnya.
"Benarkah? Aku tidak ingin memaksamu, kalau kau tidak menyukai makan malam romantis ini lebih baik kita batalkan saja."
"Tidak seperti itu. Kau ini perasa sekali, lebih baik kita segera memesan makanan, aku sudah lapar." Jawab Elena sedikit merasa bersalah.
Pria tersebut mengangguk menyetujui ajakan Elena. Ia duduk di depan Elena dengan mata tidak lepas dari wajah gadis itu.
Mereka menyantap makanannya dengan gaya elegan, Elena memakan Spaghetti bolognise, makanan yang pernah ia buatkan untuk Nathan dulu sedangkan Rega di sibukkan dengan mengiris steak di piringnya.
Bayangan Nathan tiba-tiba muncul di pikiran Elena. Gara-gara spaghetti ini aku jadi mengingatnya lagi, rutuk Elena dalam hati.
"El, aku ingin berbicara serius!" Tatapan Rega berubah serius. Ia menghentikan acara makannya.
"Bicara apa?"
"Mungkin ini terlalu cepat untukmu, tapi aku ingin kau tau bahwa diriku sungguh-sungguh mencintaimu. Aku ingin membawa hubungan kita pada jenjang yang lebih serius, mengikatmu dalam hubungan yang sebenarnya." Rega mengeluarkan kotak kaca kecil lalu membukanya di depan Elena. "Bersediakah kau menikah denganku?" Rega berkata dengan jantung berdebar, dan perasaan gugup mendominasi pria tersebut.
Elena terperanjat saat melihat kotak kaca yang di dalamnya terdapat cincin berlian yang berkilau sederhana, sesuai dengan seleranya. Yang lebih mengejutkan lagi kata-kata yang terucap dari mulut Rega, pria itu melamarnya. Elena masih menatap lekat Rega yang juga menatapnya dengan gelisah menuggu jawaban yang akan ia berikan.
"A-aku, aku tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan itu sekarang. Tapi sebelum menjawabnya aku ingin memberitahu sesuatu padamu tentang diriku yang tidak sebaik yang kau tau. karena aku tidak ingin kau menyesalinya nanti."
"Apa itu sesuatu yang sangat penting?"
"Mungkin ini sangat penting untukmu!"
"Katakan padaku!" Rega di buat penasaran.
Elena menarik napas lalu membuangnya. "Kau bukan yang pertama untukku. Aku bukan gadis suci lagi. Setelah kau mengetahui kenyataan ini, apa dirimu masih menginginkan ku?" Ucap Elena dengan malu, itu aib untuknya. Laki-laki pasti akan memilih pasangan hudup yang masih suci, tidak seperti dirinya.
__ADS_1
Mendengar pernyataan pahit Elena, Rega memejamkan mata lalu meraih jemari Elena, di genggamnya tangan lembut gadis itu. "Aku tidak terlalu memperdulikan hal itu. Aku mencintaimu itu sudah cukup bagiku. Aku tidak perduli seburuk apa dirimu, aku akan tetap menikahimu."
Ketegangan Elena perlahan memudar saat mendengar penuturan dari Rega. Rega menerima semua kekurangan yang ada pada dirinya.
"Jadi bersediakah kau menikah denganku?" Tanya Rega lagi, menatap Elena dengan penuh harap.
Elena mencoba meyakinkan hatinya. Memantapkan pilihanya. "Ya, aku bersedia." Jawab Elena.
Jawaban Elena memberi angin segar untuk Rega. Elena menerima lamarannya. Rega menyematkan cincin itu ke jari manis Elena dengan perasaan bahagia.
"Terima kasih." Rega mencium punggung tangan Elena. "Akhir pekan ini aku akan membawamu menemui ibu untuk meminta restu padanya."
"Iya!"
■■■■■■
Mereka baru tiba di rumah pukul 10 malam. Mereka berjalan bersisian menuju kamar masing-masing.
"Sayang!" Panggil Rega saat Elena akan menekan handle pintu.
Elena mengurungkan niatnya untuk mebuka pintu, ia membalik tubuhnya yang langsung menabrak tubuh keras Rega. Elena sontak mundur karena terkejut dengan Rega yang berada tepat di depannya.
"Ada apa?" Tanya Elena terpojok di pintu.
"Maaf," kata Rega saat Elena melepas tautannya.
"Aku lelah, Aku masuk ke kamar dulu."
"Baiklah, Selamat malam sayang." Rega mencium kening Elena mengakhiri pertemuannya malam ini.
Elena membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali, dan tidak lupa untuk menguncinya. Ia masih berdiri di depan pintu sambil menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Ia sudah terikat dengan Rega, ia akan belajar menerima pria itu. Mencintainya dengan sepenuh hati.
Elena melepas baju kerjanya, mengantinya dengan piama tidur merah muda lalu membaringkan dirinya di atas kasur untuk segera memejamkan mata. Entah kenapa malam ini perasaan bahagia hinggap di hatinya. Apa mungkin karena lamaran dari Rega atau ada yang lainnya? Entahlah.
Namun di tengah malam sepasang lengan kekar memeluk tubuh Elena yang sedang terlelap. Mendekap erat tubuh munggil itu. Dengan kedamaian telah kembali menyelimuti keduanya.
Elena merasa terganggu dalam tidurnya oleh kecupan lembut di sekitar leher bagian belakang, ia membuka mata dan langsung di kejutkan dengan sepasang lengan kekar yang memeluknya posesif. Sontak Elena berteriak kuat sambil berusaha mendudukkan dirinya, mencoba melepas rengkuhan dari seseorang yang sudah menyusup ke dalam kamarnya. Tangan pria itu membekap mulut Elena, meredam teriakan Elena yang mungkin saja bisa membangunkan orang seisi rumah.
"Diamlah." Ucap pria itu berbisik di samping Elena.
__ADS_1
Elena menjauhkan tangan pria yang menutupi mulutnya. Ia seperti mengenal aroma maskulin pria di sampingnya, Elena tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang tersebut karena ruang kamar dalam keadaan gelap.
"Siapa kau? kenapa bisa berada di kamarku?" Tanya Elena dengan takut, ia menutupi tubuhnya dengan selimut. Elena harus waspada jikalau orang tersebut berbuat macam-macam padanya.
"Kau tidak menggenaliku, huh!"
Elena menegang di tempatnya. Suara itu, suara milik pria yang pernah ia tinggalkan. Tapi bagaimana bisa pria tersebut ada di sana?
"N-nathan... kau kah itu?"
"Yes, baby!"
Entah senang atau malah sedih yang Elena rasakan saat ini.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Elena memelankan suaranya, sambil menelan silvianya dengan susah payah.
"Menemui kekasihku. Apa kau tidak merindukanku, sayang?" Kata Nathan, pria itu menggeser duduknya mendekat pada Elena yang berusaha menghindarinya.
"Tidak, kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Pergilah, sebelum ada orang yang melihatmu di sini!" Gadis itu beranjak berdiri.
Nathan mengepalkan tangannya kuat. Tidak di sangka ia menerima penolakkan dari Elena, mungkin benar yang di katakan Leo bahwa Elena sudah tidak menginginkannya lagi. Nathan ikut berdiri meraih tubuh Elena dan memeluk tubuh itu dari belakang.
"Kau tidak tau bertapa frustasinya diriku saat terbangun di pagi hari mendapatimu tidak ada di sampingku. Kau memberiku kenagan manis setelah itu kau pergi begitu saja, meninggalkan ku sendirian. Aku gila, El!"
"Maafkan aku!" Ucap Elena menahan isakkannya.
"Pulanglah bersamaku!"
"Aku tidak bisa. Saat ini semua sudah berbeda." Kata Elena tegas.
"Semua masih sama. Kau kekasihku sampai kapan pun akan tetap seperti itu, kecuali kalau aku yang memutuskannya." Cetus Nathan menekan di setiap katanya.
"Ternyata kau masih saja egois." Elena melepas rengkuhan Nathan, mendekat ke arah nakas untuk menyalakan lampu tidur.
Nathan mendudukkan dirinya di atas sofa di ruangan itu, mata tajamnya menatap dalam pada Elena yang masih berdiri menjaga jarak dengannya. "Kemarilah! Aku sudah repot-repot datang ke sini tapi hanya kau abaikan. Tidak bisakah kita melepas rindu yang sudah menggunung ini. Kau harus tau aku sulit bernapas tanpamu!"
"Tapi kau masih hidup dengan baik-baik saja hingga saat ini, dan dirimu sudah memiliki wanita lain selama aku tidak ada. Apa yang bisa ku harapkan darimu? Menjadi simpananmu lagi, tidak akan." Elena berucap sarkastik.
Kedua tangan Nathan terkepal dengan bibir mengetat. Kata-kata Elena sungguh melukai dirinya. Tanpa berucap sepatah katapun Nathan keluar dari kamar Elena melalui pintu balkon yang sudah terbuka, Elena hanya diam memandang kepergian pria yang tampak sedang menahan amarahnya.
__ADS_1
----------
Next Chapter》