
"Selamat siang tuan dan nona." Sapa Leo tiba-tiba.
Elena menjauhkan tubuhnya dari Nathan segera beranjak dari atas pangkuan pria itu saat melihat kedatangan Leo. Nathan hanya menatap datar Leo. Sepertinya Nathan sudah mengetahui maksud kedatangan Leo.
"Ada apa?" Tanya Elena melihat kedua pria itu hanya terdiam.
"Kedatangan saya ke sini hanya untuk meminta tanda tangan Anda, Nona. Kartu debit dan kredit Anda yang sudah lama tidak terpakai harus segera di perbarui agar bisa Anda gunakan kembali." Jelas Leo.
"Aku tidak membutuhkannya lagi. Jadi, tidak perlu di perbarui." Tolak Elena.
"Tapi ini perintah dari tuan. Anda hanya perlu menanda tangani berkas ini. Karena saya akan segera mengurusnya."
"Ikuti saja kemauannya." Sambung Nathan menatap Elena dengan perasaan cemas.
"Ya sudah, ke sinikan berkas itu." Elena meraih map yang terdapat kumpulan kertas di dalamnya. "Di mana yang harus ku tanda tangani?"
Leo mendekat pada Elena, membungkukkan tubuhnya menunjuk bagian mana yang harus di tanda tangani Elena.
"Tidak ingin kau baca terlebih dahulu?" Tanya Nathan saat melihat Elena mencoretkan pena itu di atas kertas tanpa membacanya terlebih dahulu.
Elena masih saja membuka lembaran demi lembaran berkas tersebut hingga sampai pada berkas terakhir. "Ini hanya berkas dari bank kan? Aku malas membaca tulisan sebanyak ini." Jawab Elena tak acuh.
Nathan tersenyum simpul sambil menghela napas lega.
"Terima kasih atas waktunya, maaf kalau saya mengganggu. Saya permisi." Ucap Leo membungkuk hormat pada pasangan itu.
"Leo, tunggu dulu! Kau mau ke mana?" Tanya Elena setengah berteriak.
"Saya akan langsung kembali ke mansion, Nona." Jawab Leo dengan bingung saat melihat Nathan memelototkan mata ke arahnya.
Wajah Elena langsung berbinar. "Aku ikut denganmu."
Ucapan Elena membuat Nathan berdiri dari duduknya. Ia tidak sampai berpikir kalau kedatangan Leo akan membuat Elena mempunyai kesempatan untuk segera pergi dari vilanya. "Kau akan tetap di sini bersamaku. Dan kau Leo, segera pergi dari sini." Nathan memberi tatapan peringatan pada Leo.
"Maaf Nona, saya tidak bisa membawa Anda pulang. Sebaiknya Anda tetap di sini bersama tuan. Jangan membuat saya mendapatakan amukannya!" Tutur Leo.
"hm...," Jawab Elena.
__ADS_1
Nathan tersenyum penuh kemenangan, mendekat pada Elena yang kembali mendaratkan pantatnya di atas kursi. "Aku hanya kasihan pada Leo."
"Apa kau tidak betah berada di dekatku? Dari kemarin kau terus saja meminta pulang, padahal aku senang sekali bisa berduaan denganmu tanpa gangguan siapapun."
"Bukannya aku tidak betah, aku memiliki tanggung jawab pada pekerjaan, Nathan. Aku pegawai baru tapi sudah seenaknya."
"Tidak usah di pikirkan, nikmati saja kebersamaan kita di sini. Aku berjanji besok kita akan pulang." Nathan mengangkat tubuh ramping Elena, kembali membawanya ke atas pangkuannya. "Sayang, apa aku boleh memintanya lagi?" Nathan menampilkan wajah sok imutnya.
"Meminta apa?"
"Apa kau tidak bisa merasakan sesuatu yang keras di bawah sana?" Ucapan Nathan membuat Elena mengarahkan matanya ke bawah, melihat apa yang di maksud pria itu.
"Nathan, kau ini mesum sekali."
Nathan mendekap tubuh Elena, menyapukan lidahnya pada leher jenjang Elena. Desahan halus terdengar dari mulut Elena, gadis itu merasakan kenikmatan yang tiada tara. Cumbuan yang di berikan Nathan membuat tubuh Elena merinding dan merasakan bagian bawahnya sudah terasa lembab.
"Kau harus tau, sayang. Aku ingin sekali memiliki seorang anak darimu." Ucap Nathan tepat di telinga Elena.
Tubuh Elena seakan membeku mendengar permintaan konyol Nathan. Ia belum terpikirkan memiliki seorang anak, Elena masih ingin menikmati hidupnya tanpa ingin di repotkan dengan kehadiaran seorang bayi.
"Kau tega melihatku sudah setua ini tapi belum juga memiliki seorang anak. Aku butuh penerus sebelum aku tua nanti, dan aku ingin hanya dari rahimmu penerusku di lahirkan." Kata-kata Nathan mampu mengetarkan dada Elena. Gadis itu merasa sangat bahagia saat mendengar ucapan manis kekasihnya.
"Aku belum bisa menjanjikan itu untukmu, aku pun belum tau kelak akan menikah dengan siapa." Elena berkata lirih, takut menyakiti pria itu.
"Sejauh apapun kau pergi, kau akan tetap kembali berakhir dalam pelukanku. Sudah di pastikan kau akan menikah denganku." Ucapan sok tau Nathan.
Elena memutar bola matanya malas. "Kata-kata dari mana itu? Kedengarannya sangat nagwur."
"hahaha, itu benar, sayang!" Dengan gemas Nathan mengendong Elena ala bridal style menuju kamar. Menuntaskan hasrat yang sudah berkobar sejak tadi.
■■■■■■
Di mansion Nathan pada sore hari.
"Kak Nathan tidak ada. Cepat pergi dari sini!" Kata Eveline sedikit membentak.
"Kau ini tidak sopan sekali. Aku hanya ingin tau di mana kekasihku, kau hanya perlu memberitahuku bukan marah-marah seperti itu." Jawab Jessica tidak mau kalah.
__ADS_1
"Sudah aku katakan, aku tidak tau ke mana perginya pria itu." Tutur Eveline dengan menipiskan bibirnya. Ia sudah merasa jengkel.
Jessica mendesah kasar. "Aku tau kau menyembunyikan keberadaan Nathan dariku." Tuduh Jessica.
"Kenapa kau malah menuduhku? Dasar perempuan sialan, dari dulu memang aku tidak menyukaimu dan sekarang aku lebih tidak menyukaimu lagi. Aku tidak akan pernah merestui kakakku memiliki hubungan denganmu, wanita keparat!" Maki Eveline yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya.
Jessica tersenyum sinis. "Aku tidak perduli dengan restumu itu. Yang terpenting Nathan mencintaiku dan masih mempertahankanku hingga detik ini. Jadi, dirimu jangan sok berkuasa. Kau hanya bocah kecil yang tidak tau apa-apa." Kata Jessica.
"Aku tidak yakin dengan ucapanmu itu. Kakakku hanya menjadikanmu pelampiasan sakit hatinya. Kalau ia kembali lagi dengan kekasihnya yang sebenarnya pasti kau akan langsung di campakan begitu saja." Balas Eveline tersenyum angkuh.
"Tidak. Nathan tidak akan kembali lagi pada wanita yang sudah tega meninggalkannya. Kalau itu benar terjadi aku yang akan terlebih dahulu memisahkannya." Setelah mengucapkan itu Jessica memutar tubuhnya akan segera pergi. Namun cekalan kuat di tangannya membuatnya kembali mentatap pada Eveline.
Plak! Tamparan kuat dari Eveline mengenai pipi mulus Jessica hingga menampakkan cetakan jari Eveline di pipi yang sudah tampak memerah itu.
"Sial, Kau berani menamparku!" Jessica meninggikan suaranya. Tanpa Aba-aba kesepuluh jari Jessica mendarat di atas rambut Eveline, menarik kuat rambut hitam kecoklatan itu hingga membuat pemiliknya berteriak kesakitan. "Rasakan, itu akibatnya karena kau sudah berani menamparku."
Eveline tidak ingin kalah, ia juga ikut menjambak rambut pirang Jessica. Menariknya lebih kuat lagi, ia sungguh benci dengan wanita munafik itu, wanita murahan yang dulu sempat merebut mantan kekasihnya.
"Stop, apa yang kalian lakukan?" Teriak Leo yang baru tiba di mansion. "Hentikan!" Leo berusaha melerai kedua wanita itu, namun sangat sulit. Keduanya sama-sama kuat dan tidak ada yang mau mengalah.
"Nona Eveline, Hentikan!" Leo mendekap perut Eveline lalu menariknya mundur, sedangkan Jessica di tarik mundur oleh dua bodyguard yang baru tiba bersama Leo tadi.
"Kenapa kau menghentikanku, Leo? Aku masih ingin menjambak rambutnya hingga kepalanya botak." Ujar Eveline menatap Jessica dengan penuh permusuhan.
"Bawa Nona Jessica keluar!" Perintah Leo pada kedua anak buahnya. Ia segara membawa tubuh Eveline yang masih di rengkuhannya memasuki mansion. "Seharusnya Nona tidak melakukan itu. Kejadian tadi di saksikan banyak orang, apa Nona tidak malu?"
Eveline mengusap wajahnya yang sudah berubah berantakan, "maaf aku terbawa emosi. Aku membenci wanita itu."
"Sudahlah. Sebaiknya Nona istirahat di kamar." Cetus Leo kemudian.
"Baiklah." Eveline meninggalkan Leo di ruang tamu seorang diri.
"Ada-ada saja." Ucap Leo.
----------
Next Chapter》
__ADS_1