Kekasih Simpanan Uncle

Kekasih Simpanan Uncle
Bagian 24


__ADS_3

Sepertinya kebiasaan Nathan selama 2 tahun ini belum juga berubah. Mabuk-mabukan dan bermain wanita adalah rutinitasnya setiap hari. Kegilaannya masih saja berlanjut entah akan sampai kapan, hingga Eveline sang adik harus ikut turun tangan menangani perusahaan yang sempat goyah karena kepemimpinannya yang sangat buruk.


Leo yang menjadi kepercayaan Nathan untuk mengurus perusahaan harus angkat tangan karena ia tidak bisa fokus pada satu pekerjaan, tugasnya tidak hanya pada perusahaan tapi juga mencari keberadaan Elena yang entah berada di belahan bumi mana.


"Kakak, lihatlah dirimu sungguh mengerikan." Kata Eveline menatap lekat Nathan yang baru pulang dari club.


Nathan mengibaskan tangannya di depan wajah dengan pandangan tidak fokus. "Berisik, Apa Elena sudah pulang? Aku ingin bertemu dengannya." Tawa pilu terdengar dari bibir Nathan. Tidak berapa lama kristal bening menetes dari mata yang dulu mampu mematikan lawannya.


"Mulai lagi dramanya." Eveline membuang napas dengan kasar, lelah menghadapi kakaknya yang sudah tidak waras. "Ayo masuk ke kamar, kau harus menerima kenyataan bahwa kekasihmu itu pergi. Jangan mengharapkan dia akan kembali padamu yang sudah seperti gembel ini, aku saja malas apalagi Elena." Gerutu Eveline sambil menuntun Nathan memasuki kamar.


Eveline harus rela meninggalkan dunia modelnya di Jerman demi kakaknya yang kehilangan kewarasannya hanya karena seorang wanita. Ia selalu menebak-nebak seperti apa sosok Elena itu hingga Nathan yang mempunyai kepribadian sekeras batu bisa berubah lembek seperti sekarang.


"Orang mabuk memang menyusahkan!" Ucapan kesal Eveline saat di tengah ruangan kamar Nathan terjatuh tidak sadarkan diri. Wanita tersebut berteriak lantang, memanggil penghuni mansion untuk membantunya mengangkat tubuh besar sang kakak.


"Ada apa, Nona!" Leo berlari dari luar dengan wajah tanpa ekspresi.


"Bantu aku mengangkatnya, dia pulang dalam keadaan seperti gelandangan. Aku harus bagaimana lagi agar bisa membuatnya mengerti?" Eveline sudah sangat frustasi memikirkan kelangsungan hidup kakak tertuanya.


Leo memijat pangkal hidungnya dengan mata terpejam, "yang ia butuhkan hanya Elena, gadis itu yang telah membuat kacau hidup tuan."


Mereka mengangkat tubuh lemah Nathan dan membaringakan pria itu di atas kasur.


"Beberapa waktu yang lalu ia sudah terlihat baik-baik saja. Sudah mau pergi ke kantor dan melakukan aktivitas seperti biasa. Tapi kini keadaan mentalnya malah semkin buruk." Eveline menutupi wajahnya dengan tangan menyembunyikan isakkannya.


"Apa kau belum menemukan keberadaan gadis itu?"


Leo terdiam cukup lama. Mempertimbangkan akan berkata jujur atau tidak. Elena sudah memiliki kekasih kalau Nathan mengetahui hal itu malah akan semakin memperburuk keadaannya. Tapi saat ini yang di butuhkan Nathan hanya Elena. Leo berada pada posisi yang serba salah, ia harus mengambil keputusan yang tepat.

__ADS_1


"Kenapa kau hanya diam saja? Jangan katakan kalau kau sudah mengetahui keberadaan gadis itu tapi kau malah menyembunyikannya dari Nathan." Ucap Eveline sambil memincingkan mata. Curiga pada Leo yang bungkam.


"S-saya-,"


"Katakan!"


"Ya, baru kemarin saya bertemu dengannya tanpa sengaja. Tepatnya di Pradig Inc. tapi saat di hadapanku dia seolah-olah tidak mengenaliku" Leo menjeda ucapannya. "Saya merasa gadis itu sudah tidak menginginkan tuan lagi, dia sudah bersama pria lain. Saya muak melihatnya." Aku Leo.


"Kenapa gadis itu tidak kau bawa pulang? Setidaknya dia bisa mengobati kegilaan kakakku, meski mereka tidak harus bersama lagi." Kata Eveline, yang ia inginkan adalah kakaknya bisa segera pulih. Sudah terlalu lama Eveline meninggalkan pekerjaan dan juga kedua orang tuanya.


"Tapi nona, apa sebaiknya jangan dulu! Tuan akan semakin terluka kalau ia menerima penolakan dari Elena."


Eveline berdiri dari duduknya, mengamati wajah lelah Nathan yang sedang terlelap. Eveline meringis dalam hati melihat kesengsaraan yang di alami kakaknya. "Akan ku pikirkan solusi yang terbaik." Wanita itu meninggalkan kamar di susul oleh Leo di belakangnya.


Tanpa mereka ketahui Nathan mendengar percakapan diantara mereka. Nathan sebenarnya tidak pingsan, tubuhnya hanya terasa lemas dan akhirnya terjatuh. Di balik selimut yang menutupi pria itu mencengkram kuat sprei satin di bawahnya. Mata yang memerah itupun terbuka menampilkan sorot tajam. Gadisnya memiliki laki-laki lain di luar sana sedangkan dirinya mati-matian memikirkan gadis itu hingga depresi seperti sekarang ini, Pikir Nathan.


■■■


Di lain tempat Elena merasa gelisah di atas tempat tidurnya. Sudah hampir pukul 1 pagi namun mata gadis itu sulit untuk terpejam. Besok hari pertamanya masuk kerja ia harus tampil prima, tapi entah kenapa perasaannya tidak nyaman. Ia sampai harus berhitung dari 1 sampai 1000, namun tidak membawakan hasil. Bermain smartphone miliknya agar membuatnya mengantuk itu juga sama saja.


Mungkin kegelisahan Elena ada hubungannya dengan pertemuannya dengan Leo kemarin.  Leo pasti sudah mengadu pada Nathan, tapi apa perduli pria itu? Mungkin ia sudah menikah lagi saat ini, pikir Elena. Sejak melihat berita Nathan yang melamar kekasihnya, Elena tidak mau lagi membuka situs berita di internet. Kalau memang Nathan masih mencarinya mungkin kemarin Leo akan langsung membawanya pada pria tersebut, tapi nyatanya itu tidak terjadi. Diriku sudah tidak di inginkan olehnya. Batin Elena.


Elena bangkit berdiri keluar dari kamar menuju dapur, tiba-tiba ia ingin memakan sesuatu. Di luar kamar keadaannya sangat sunyi hanya beberapa lampu saja yang di biarkan menyala.


Tiba di ruang tengah Elena melihat Rega yang masih terjaga dengan laptop berada di atas pangkuannya.


"Kau belum tidur?" Elena bersuara.

__ADS_1


"Aku masih memeriksa beberapa berkas. Aku terbiasa tidur menjelang pagi, kau sendiri kenapa belum tidur?" kata Rega membagi fokusnya pada Elena.


Elena duduk di samping Rega dengan posisi bersila di atas sofa, "Aku sulit memejamkan mata, sampai bingung harus bagaimana. Besok aku akan mulai bekerja tapi hingga sekarang aku belum bisa tidur, sudah bisa di pastikan mataku besok pagi akan terlihat seperti mata panda."


Rega tersenyum sambil memindahkan laptop di pangkuannya ke atas meja, lalu menepuk pelan pahanya memberi isyarat agar Elena merebahkan kepalanya di sana. "Ayo sini! Aku akan membuatmu tertidur."


"Kau mau apa? Tidak akan berbuat macam-macam kan?" Tanya Elena penuh selidik.


Pria itu tertawa ringan, "tidak sayang."


"Tapi ada yang ingin ku tanyakan dulu padamu... Pria yang kemarin itu apa teman baikmu?"


Rega tampak berpikir dengan pria yang di maksud Elena. Rega ingat kemarin ia hanya bertemu dengan Leo. "Iya, aku sudah mengenalnya sejak lama. Dia orang kepercayaan Nathan Wijaya pemilik WJ Company, pria dengan segudang uang dan wanita. Kenapa kau bertanya tentangnya?"


"Hanya ingin tau saja. Yang kau maksud pria dengan segudang uang dan wanita itu siapa?" Tanya Elena dengan jantung berdebar.


Rega mengusap pipi Elena dan menatap sayang pada gadis itu. "Kau tidak tau? dia Nathan Wijaya, sudah heboh berita tentangnya. Apa kau tidak pernah membaca atau melihat berita? Kabar terakhir yang ku tau ia kepergok sedang bermesraan dengan 2 wanita sekaligus."


"Seperti itu ya. Aku malas membaca atau melihat berita." Kata Elena merasakan sengatan perih saat mengetahui fakta baru tentang mantan kekasihnya.


Tidak ingin terlalu memikirkan tentang Nathan, dengan gerakkan pelan Elena merebahkan tubuhnya di atas sofa, kepalanya bertumpu pada paha Rega. Posisi itu di rasa sangat nyaman oleh Elena. Tangan Rega dengan lembut mengusap kepala bagian samping kekasihnya, sesekali menepuk pelan sudut bahu Elena. Usapannya membuat Elena tanpa sadar memejamkan mata, terbuai oleh sentuhan halus Rega.


Dalam keadaan mata tertutup kecantikan Elena semakin terpancar. Anggun dan lembut mewakili sosok Elena di benak Rega, tidak pria itu ketahui sifat Elena yang lain yaitu pandai berkata kasar dan berbuat rusuh. Rega mengendong Elena ala bridal style menuju kamar gadis itu. Menyelimutinya hingga ke lehar, lalu mencium kening Elena beberapa detik sebelum meninggalkan gadis itu sendirian.


----------


Next Chapter》

__ADS_1


__ADS_2