
Akhirnya hari pernikahan Elena pun tiba. Tepat pukul 10 pagi nanti ia akan melangsungkan janji suci pernikahan bersama Rega bertempat di sebuah hotel mewah di kota itu. Elena sudah mantap dengan pernikahan yang akan ia lakukan sebentar lagi. Hampir semalaman Elena tidak bisa tidur karena terlalu memikirkan hari esok yang akan di laluinya.
"Putriku cantik sekali," ucap wanita paruh baya yang baru saja memasuki ruangan pengantin wanita.
Elena menarik sudut bibirnya melihat ke arah calon mertuanya yang di dorong masuk oleh seorang perempuan muda dan cantik. "Benarkah?"
"Iya, putraku akan terpesona melihat pengantinnya saat menuju altar nanti."
"Ibu bisa saja," jawab Elena tersipu.
Elena menatap dirinya pada cermin di depannya. Ia mengagumi wajahnya yang sudah di lapisi dengan make-up natural. Dirinya terlihat lebih cantik, rambutnya di sanggul sederhana terdapat kepangan di kedua sisi kepala. Tiara cantik menghiasai puncak kepala Elena dengan sebuah wedding veil yang menjuntai hingga menyentuh lantai. Gaun pengantin berwarna putih cerah dengan hiasan mutiara kecil yang bertaburan di seluruh gaun bagian atas dan gaun itu melebar di bagian bawahnya memperlihatkan pinggang ramping milik Elena membuatnya terlihat seperti seorang princes.
"Tapi aku gugup, Ibu."
"Gugup di hari pernikahan itu wajar, sayang. Ibu dulu juga merasakan hal yang sama sepertimu saat akan menikah dengan ayahnya Rega." Ibu Emma mengulas senyum tipis. Wanita itu sudah berdandan rapih memakai gaun berwarna coklat.
"Huh..." Elena membuang napasnya, ia berusaha untuk tetap tenang. "Aku takut melakukan kesalahan saat berjalan di altar nanti, sekarang saja kakiku sudah mulai gemetar." aku Elena dengan malu.
"Tenangkan dirimu, semua akan baik-baik saja. Kau fokus saja menatap pada Rega yang menantimu di altar, jangan kau hiraukan semua tamu yang hadir." Ibu Emma mencoba menyemangati Elena.
Elena mengangguk.
Dada Elena berdebar hebat, ia berada di kebimbangan antara siap dan tidak siap. Semuanya terlalu cepat, ia tidak bisa mengambil keputusan yang tepat. Elena hanya mengikuti logikanya tanpa memikirkan perasaannya sendiri.
Semua yang ada di rungan itu menoleh ke pintu yang terbuka. Elena menegang saat melihat sosok wanita yang sangat di kenalinya berjalan ke arahnya. "Aunty..." bisik Elena di tengah keterkejutannya.
"Apa kabar keponakkanku? Selamat sebentar lagi kau akan menikah, aku senang melihatmu menikah dengan pria lain. Ternyata mantan suamiku mencampakanmu juga." sindir Sisil saat tiba di hadapan Elena.
Elena tidak ingin ambil hati omongan Sisil, ia sudah tidak perduli lagi dengan pria yang di maksud aunty nya. "A-aku baik, Aunty!" Elena menarik ke atas sudut bibirnya. "Aku juga senang karena Aunty mau hadir di hari pernikahanku. Maafkan aku." Elena menundukkan kepalanya tak kuasa menatap wajah orang yang sudah menjaganya sejak ia di tinggal oleh orang tuanya. Elena masih memiliki rasa bersalah.
"Aku berharap itu bisa menjadi pelajaran untukmu. Dengan kau tidak lagi berhubungan dengan pria beregsek itu aku sudah memaafkanmu."
"Terima kasih, Aunty." Mereka berpelukan dengan di saksikan dua orang yang sebelumnya sudah berada di dalam ruangan itu.
"Jangan bersedih di hari bahagiamu. Kau harus tersenyum. Aku tau pasti kau bingung kenapa Aunty bisa berada di sini."
Elena menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Calon suamimu yang mengundangku. 2 hari yang lalu dia datang menemuiku, memintaku untuk hadir di acara pernikahan kalian. Dia pria yang baik, kau akan bahagia bersamanya." tutur Sisil.
"Benarkah? Kenapa dia tidak memberitahuku?"
"Mungkin Rega ingin memberi kejutan untukmu... sudah waktunya kau menemui calon suamimu. Aku akan mengantarmu ke bawah. Dan suamiku yang akan menemanimu berjalan menuju altar."
■■■■■■
Rega berdiri dengan mengunakan taxedo hitam terlihat gagah dan tampan. Di balik ketenagan yang di perlihatkannya tersimpan rasa gugup yang bisa membunuhnya. Debaran di dada membuat Rega berkali-kali menarik napas dalam. Ia sudah seperti habis berlari maraton saat menunggu kedatangan Elena.
Para tamu undangan sudah duduk di kursinya masing-masing. Sang ibu sudah duduk di atas kursi roda di barisan paling depan di dampingi wanita cantik yang merupakan keponakan jauhnya. Acara pemberkatan hanya di hadiri oleh orang-orang terdekat Rega. Acara resepsi akan di adakan nanti malam di hotel yang sama.
Alunan musik terdengar mengiringi langkah Elena yang memsuki ruangan. Tangan Elena di apit oleh seorang pria yang belum di kenalnya, dia adalah suami Sisil saat ini. Elena melangkah dengan berat seperti ada sesuatu yang membebaninya.
Di tengah perjalanan Elena tidak senganja melihat Leo memalui sudut matanya. Jantungnya langsung berdebar tidak menentu. "Apa mingkin Nathan ada di sini?" batin Elena.
Elena kembali fokus dengan pemandangan di depannya. Rega berdiri di sana dengan senyum tercetak di bibirnya. Elena berpikir bahwa ia tidak mamapu menyakiti pria itu.
"Aku yakin dia yang terbaik untukku. Tuhan, tolong hilangkan bayangan Nathan dari kepalaku." Elena membatin.
Tangan Rega terulur ke arah Elena, dan Elena menerimanya. Mereka berdiri berdekatan. Seorang pendeta menghampiri mereka. Acara pemberkatan pun di mulai. Namun sebelum Elena menjawab semua pertanyaan dari sang pendeta suara pintu terbuka dengan kasar mengejutkan semua orang yang berada di dalam sana. Kedua pengantin itu sama-sama menoleh ke arah pintu. Elena tercengang, ia meremas tangan Rega. Nathan berdiri di ujung sana dengan di kawal puluhan pria berbadan besar.
"Berengsek, apa tujuan mereka datang kemari?" desis Rega. Pria itu terlihat marah karena acara pemberkatannya di kacaukan.
Elena bungkam. Sesuatu akan terjadi setelah ini, pikir Elena. Wajah datar Nathan membuat Elena menyembunyikan dirinya di balik punggung Rega. Pria dengan aura membunuh itu berjalan tegas ke arahnya. Semua tamu berdiri menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Pengawal Nathan menyebar di ruangan itu, menimbulkan ketakutan pada diri orang-orang.
Nathan berdiri tepat di depan Rega. Mereka saling adu tatap dengan rahang mengeras.
"Berikan dia padaku!" ucap Nathan dingin.
"Tidak akan. Dia pengantinku, kenapa Anda datang dan membuat ketidak nyamanan di acara pernikahan kami." Rega cukup tenang saat berbicara dengan Nathan. Ia tau betul siapa pria tersebut.
"Perlu kau tau dia adalah istri sahku! Kalian tidak akan bisa menikah sebelum aku menceraikannya." Nathan mengatakan yang sebenarnya.
Rega melebarkan matanya. "Jaga ucapanmu, Tuan! Elena belum pernah menikah sebelumnya. Sebaiknya Anda segera pergi dari sini dari pada membual tidak jelas." kata Rega sambil mengeratkan giginya.
__ADS_1
"Kau perlu bukti?" Nathan menaikkan sebelah alisnya. Ia tertawa mengejek.
"Kau tidak memiliki bukti, karena kita memang belum pernah menikah, Nath." Elena memberanikan diri untuk bersuara. Ruangan itu sudah di penuhi ketegangan.
"Kalian perlu melihatnya agar tidak menganggapku membual,"
Elena tampak panik mendengar nada bicara Nathan yang tidak seperti biasanya.
"Leo!" teriak Nathan. Semua orang di ruangan tersebut terlonjak kaget mendengar suara penuh Nathan.
Orang yang di panggil menghadap tuannya sambil membungkuk hormat. Ia menyerahkan sebuah map hitam yang sudah di persiapakannya pada Nathan.
Tidak ada yang berani bersuara. Para tamu hanya berani saling berbisik rendah. Mereka hanya menonton adegan seru antara orang terkaya di negara itu dengan seorang Wakil Direktur memperebutkan satu wanita biasa.
Setelah melihat dan membaca keseluruhan bukti yang di miliki Nathan, Rega menatap tidak percaya pada Elena. Ia merasa di tipu dengan kepolosan gadis itu. Rega menatap lekat gadis yang di cintainya dengan setetes air mata mengalir di pipinya. Pria itu merasakan kesakitan yang sama seperti yang di alami Nathan.
Nathan tersenyum penuh kemenagan. Ia merebut map yang di pegang Rega lalu menyerahkan pada Leo yang berdiri di sampingnya.
"Kau tidak pernah bilang padaku kalau kau sudah menikah, El. Apa kau hanya ingin mempermainkanku?" ucap Rega.
"A-aku tidak pernah berbohong padamu, aku memang belum pernah menikah. Percayalah padaku, aku yakin itu hanya akal-akalan dia saja." Elena menatap sengit Nathan.
"TAPI DIA MEMILIKI AKTA NIKAH BERSAMAMU, ELENA!" bentak Rega.
Elena menagis.
"Bilang padaku kalau kau hanya memanipulasinya." Elena menatap Nathan dengan air mata yang terus meleleh.
"Semua asli." balas Nathan tegas.
Tanpa aba-aba Nathan menyeret paksa Elena. Gadis itu menolak, berpegangan erat di tangan Rega. "Aku tidak mau ikut denganmu," pekik Elena. Ia mencoba meminta bantuan pada Rega namun pria itu hanya menatapnya diam.
Genggaman tangan Elena terlepas dari Rega, ia berjalan terseok-seok di atas karpet merah yang bertabur kelopak bunga mawar putih. Nathan menyeret Elena tanpa kelembuatan tidak berpikir dengan gaun pengantin yang menghalangi langkah gadis itu.
Elena menatap sekilas pada Ibu Emma yang tampak menagis sebelum ia di tarik keluar oleh Nathan.
----------
__ADS_1
**Next Chapter 》》
●Lona mau tanya dong, kalian maunya cerita ini terus di lanjut apa di tamatin aja? Jawab di kolom komentar ya**