
Suara ketukan pintu menyadarkan Elena dari alam mimpi. Ia di paksa untuk bangun, gadis itu mengucek matanya sambil menguap. Dekapan erat di perutnya menyadarkan Elena akan satu hal, yaitu Nathan masih berada di kamarnya. Pria itu masih tidur nyenyak tanpa tau kepanikan yang mulai menyerang Elena.
"El, tolong buka pintunya!" Suara Rega terdengar kembali.
"Nathan, ayolah bangun!" Elena menggoyangkan tubuh Nathan agar segera bangun. "Kau ini sangat menyusahkan, tidak tau kah kalau aku sekarang sedang panik. Nathan!" Elena berkata tepat di telinga Nathan, membuat Nathan mengerang merasa terusik.
"Sayang, biarkan aku tidur sebentar," jawaban Nathan menambah kekesalan Elena. Ia menepuk pipi Nathan dengan kuat membuat pria itu mengerang tertahan karena mulutnya segera di tutup dengan telapak tangan oleh Elena.
"Cepat bangun dan pergi dari sini," bisik Elena menekankan.
"Tapi tidak perlu sampai menggunakan kekerasan seperti itu hanya untuk membangunkanku. Pipiku sakit karena pukulanmu." protes Nathan sudah mulai kesal.
"Sayang, kenapa diam saja? Apa kau belum bagun?" di luar sana suara Rega terdengar khawatir.
Nathan mendengus. Tatapannya jatuh pada wajah bangun tidur Elena. "Kau milikku." Ucapan Nathan menggetarkan hati Elena. Ia belum berani mengatakan rencana pernikahannya pada Nathan. Ia takut pria itu akan murka.
"Ya aku tau, sebaiknya kau segera pergi. Aku akan membukakan pintu untuk Rega, dia akan curiga kalau aku terlalu lama menemuinya."
"Aku tidak menyukai situasi seperti ini," keluh Nathan menyugar rambutnya ke belakang. Ia menubruk tubuh kekasihnya hingga terlentang di bawahnya. Tanpa mengulur waktu ia menautkan bibirnya, ******* bibir manis Elena yang sudah menjadi candunya.
"I love you, honey!" Setelah mengatakan itu Nathan segera beranjak dari atas Elena. Melangkah gontai, pergi dari kamar itu melalui balkon.
Sekarang waktunya Elena menemui Rega.
Elena menekan handle pintu setelah dirinya merasa tenang.
Terlihat jelas wajah cemas Rega. Laki-laki itu tersenyum saat pintu yang sudah di ketuknya semenjak tadi akhirnya terbuka.
"Maaf sudah membangunkanmu. Ibu yang memaksaku, dia ingin kita sarapan bersama." tutur Rega.
"Tidak masalah. Sebelumnya aku ingin bersiap-siap dulu, Nanti aku akan segera menyusulmu ke bawah."
"Ya sudah, jangan terlalu lama."
__ADS_1
Rega memutar tubuhnya untuk kembali ke meja makan sedangkan Elena menutup kembali pintu kamarnya. Ia mengarah ke pintu balkon yang sudah terbuka untuk melihat apa Nathan sudah pergi atau masih menyembunyikan dirinya disana. Tapi di luar tidak ada siapapun, ia melihat ke bawah dengan tatapan ngeri. Bagaimana Nathan bisa sampai ke atas sini? Apa benar, dia memanjat dinding setinggi ini? Pikir Elena merasa takjub.
■■■■■■
Sarapan pagi telah usai tapi mereka masih duduk di kursi masing-masing. Elena mengupas jeruk untuk makanan pencuci mulut.
Rega tampak tegang. Beberapa kali ia mencuri lirik ke arah Elena. Ia seperti ingin mengutarakan sesuatu yang penting. Deheman Rega membuat kedua wanita yang duduk berseberangan itu menoleh dengan serentak ke arahnya.
"Sayang, aku sudah membicarakan rencana pernikahan kita dengan Ibu. Kami sepakat pernikahan itu di adakan 3 hari lagi. Tidak terlalu cepatkan?" kata Rega dengan serius dan ada perasaan risau.
Tubuh Elena kaku, pikirannya terasa berhenti berfungsi. Rega terlalu semangat, Elena belum mampu berkata. Kabar itu terlalu mengejutkannya, bagaimana mungkin ia bisa menikah dalam waktu 3 hari dari sekarang. Itu sangat konyol.
"Kenapa mendadak sekali? Sungguh aku sangat terkejut mendengarnya."
"Kalian saling mencintai kan? Apa salahnya pernikahan itu di lakukan dengan segera. Tidak baik mengulur waktu terlalu lama. Nanti ataupun sekarang itu sama saja pada akhirnya kalian akan menikah juga." sambung bu Emma.
Jeruk di tangan Elena di letakan begitu saja di atas piring. Ia sudah tidak berselera. Elena mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia tidak ingin pernikahan itu, tapi ia tidak bisa mundur begitu saja. Semua itu akibat kecerobohannya sendiri. Ia terjebak dengan 2 pria yang sama-sama mencintainya. Keduanya sama-sama berarti di hidup Elena, namun hanya satu yang akan menjadi pemiliknya nanti.
■■■■■■
Sore hari setelah pulang kerja Elena menghentikan taksi untuk membawanya ke perusahaan Nathan. Ponsel milik Nathan tertinggal di kamarnya, ada banyak telepon dan pesan yang masuk namun Elena tidak berani mengangkat
ataupun membukanya. Karena itu privasi Nathan, Elena tidak ingin menjadi kekasih pencemburu.
Akhirnya taksi yang di tumpangi Elena berhenti di depan gedung megah milik Nathan yang sudah sangat lama tidak Elena datangi. Semuanya masih sama, hanya ada beberapa interior yang berbeda dari sebelumnya.
Seorang sekertaris masih tampak duduk di mejanya, meski bukan Rebecca lagi yang ada di sana. Wanita itu sudah bersiap akan pulang. Elena melangkah dengan pelan tapi bunyi sepatu hak tingginya terdengar nyaring di ruangan yang sepi itu.
"Apa Nathan masih ada di ruangannya?"
Sekertaris yang terlihat modis itu menatap Elena. Matanya meneliti. Elena risih mendapat tatapan seperti itu. "Masih tapi,-"
Elena tidak mendengarkan ucapan yang akan sekertaris tersebut katakan. Dengan bibir melengkung ke atas Elena mendorong pintu ruangan Nathan dengan semangat. "Nath,-" ucapan Elena berhenti bersamaan dengan langkahnya yang juga terhenti. Ia membeku di tempatnya, dengan mata indahnya yang membulat sempurna.
__ADS_1
Nathan yang sedang duduk di kursi kebesarannya menatap ke depan melalui punggung telanjang wanita yang sedang duduk di atas pangkuannya. Nathan sama terkejutnya dengan Elena. Posisi yang di lihat Elena saat ini akan memicu pertengkaran besar nantinya.
"Elena," bisik Nathan. Ia menyuruh Jessica turun dari pangkuannya namun wanita itu malah semakin mengeratkan rengkuhannya di leher Nathan. "Aku bilang menyingkir, Jess!"
"Kenapa, sayang? Bukankah kau menyukai posisi kita yang seperti ini. Bahkan milikmu sudah menegang sejak tadi." Jessica berkata tanpa mengetahui ada orang lain di sana.
"Enyahlah..." bentak Nathan sambil mendorong paksa Jessica.
Elena hanya mampu menagis dalam diam. Pengkhianatan lebih menyakitinya dari pada apapun. Ia salah sudah berpikir Nathan akan setia padanya, dulu pria itu tega mengkhianati Sisil hanya untuknya dan sekarang pria itu tega mengkhianati dirinya demi wanita lain. Elena mengusap bekas air mata di wajahnya saat Nathan tiba di hadapannya.
"Aku kemari hanya ingin mengembalikan ponselmu yang tertinggal." Elena mengulurkan ponsel tersebut pada Nathan, "dan aku ingin hubungan kita selesai sampai disini." tegas Elena.
Nathan menatap lekat gadisnya yang tidak mau menatapnya. Nathan memegangi kedua sudut bahu Elena. Meminta pada Elena untuk memberi kesempatan untuk menjelaskan semuanya.
"Yang kau lihat tidak seperti yang kau pikirkan. Kau salah paham, aku tidak berselingkuh di belakangmu, demi Tuhan!"
"Tapi yang kulihat baru saja sudah cukup membuktikan bahwa dirimu itu pria berengsek. Aku menyesal sudah mempercayaimu." ucap Elena dengan napas memburu.
Tatapan Nathan beralih pada Jessica yang masih berdiri di samping meja kerjanya. Jesicca mendekat. Wajahnya tampak biasa saja. Bibir mungilnya memberi senyuman untuk Elena. Nathan berdecak. Kedua tangannya mengusap wajahnya dengan gusar.
"Hai... siapa dirimu? Kenapa kau menagis saat masuk secara tidak sopan ke ruangan kekasihku?"
"Tutup mulutmu, Jess. Aku bukan kekasihmu kau hanya ku anggap sebagai pengisi waktu luang. Seharusnya kau sadar dengan posisimu itu." suara Nathan menggelegar. "Hanya dia yang aku inginkan bukan kau atau siapapun itu." lanjutnya.
Pandangan Elena sudah mulai buram. Air matanya terus saja memaksa ingin keluar. Ia tidak ingin memperebutkan seorang laki-laki, itu terlalu rendahan menurutnya. Elena memilih pergi di banding mendengarkan perdebatan Nathan dan kekasih pria itu.
"Aku tidak perduli dengan hubungan kalian. Aku tidak ingin memusingkan hal itu, silahkan kau teruskan pengkhianatanmu. Aku menganggap mulai saat ini kita resmi berpisah. Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Cintaku sudah tega menyakitiku buat apa terus ku pertahankan duri yang menancap di dagingku." setelah mengatakan itu Elena keluar dengan membanting pintu. Ia berjalan tergesa-gesa melewati meja sekertaris tanpa menyapa wanita yang menatapnya bingung.
Elena semakin yakin dengan keputusannya menikah dengan Rega. Pria itu tidak akan pernah menyakitinya seperti Nathan. Rega laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Elena tiba di trotoar yang jaraknya cukup jauh dari gedung perusahaan Nathan, ia berjalan kaki hingga sampai disana. Pikirannya sedang kacau hingga ia tidak menyadarinya.
----------
Next Chapter》》
__ADS_1