Keluargaku Tercinta

Keluargaku Tercinta
Cerita Rama


__ADS_3

Setelah Rama siap makan atau sarapan pagi nya, langsung bercerita.


"Kirain Rama Ayah gak bisa main gitar, rupanya jago" (Rama)


"Enak aja bilang gak bisa main gitar" (Fariel)


"Gini-gini Ayah pernah buat band tapi bubar sebelum jadi"


"Hahahahahaha" (Rama)


"Tangan Ayah tuh gak cocok pegang gitar, jarinya kan jempol semuanya"


"Kan nyari yang bisa dipegang, yang sedikit lebar, baru bisa" (Fariel)


"Katanya mau cerita, jadi gak nih"


"jadi dong, tapi Ayah janji kan bakal jadi rahasia kita" (Rama)


"Iya tenang aja" (Fariel)


"Ayah janji gak bakal bocor, pegang janji Ayah"


"Kecuali keceplosan"


"Itu mah sama aja Yah" (Rama)


"Kalau gitu gak usah sekalian lah"


"Ih kok gitu" (Fariel)


"Cepetan, Ayah dah penasaran mau dengar cerita Abang nih"


"Buruan, biar habis ini ke kantor biar Bunda sama Mama gak curiga sama kamu"


"Iya bentar" (Rama)


Rama langsung duduk disampingku di kasur buat curhat.


"Dah buruan" (Fariel)


"Ih Ayah gak sabaran kali" (Rama)


"Kamunya lama" (Fariel)


"Ini dah siang loh"


"Iya Yah iya" (Rama)


"Tapi Ayah jangan ketawa ya nanti"


"Oke" (Fariel)


"Gini loh Yah" (Rama)


"Giman-gimana" (Fariel) langsung menatap Rama


"Cerita aja belum, sabar dong Yah" (Rama)


"Iya" (Fariel)


"Sebenarnya Rama itu suka sama Guru baru Rama sendiri di kelas" (Rama)


"Tapi Rama dicuekin malah dibilang anak kecil"


"Hahahahaha, kamu ada aja Bang Bang" (Fariel)


"Kamu itu bukan kecil tapi dah besar badanmu, pikirannya aja yang kecil"

__ADS_1


"Masa iya kamu nembak Guru kamu sendiri, lucu kamu ah"


"Ih Ayah mah gak dukung sama Rama" (Rama)


"Pake ngetawain lagi, nyesel cerita sama Ayah mah kalau gini"


"Bukannya gak dukung, tapi kamu kan masih kelas satu, makanya dikatain anak kecil" (Fariel)


"Lagian ya kamu itu harus belajar dulu bukan malah cinta monyet"


"Kok monyet sih Yah" (Rama)


"Itu sebutan buat cinta anak kecil yang masih sekolah kaya kamu ini, makanya dikatain cinta monyet" (Fariel)


"Terus kamu bilang apa aja sama Ibu Guru nya"


"Hanya bilang akan kubuktikan" (Rama)


"Aku gak bakal masuk sekolah, buat apa sekolah kalau Ibu gak mau sama aku"


"Aduh" (Fariel) sambil menepuk keningku


"Makanya kamu gak sekolah hari ini pasti karena itu ya"


"Iya Yah, karena Rama dicuekin begitu saja" (Rama)


"Terus mau sampai kapan kamu gak masuk sekolah, sampai Gurumu mau sama kamu" (Fariel)


"Iya yah" (Rama)


"Sebenarnya tuh Rama awalnya hanya becanda saja sama guru itu, tapi kok makin kesini makin ada rasa suka, apalagi karena Gurunya baik, dan gak pelit nilai juga senyumnya itu yang bikin aku senyum sendiri"


"Ini tuh gara-gara Azka yang suka ngecengin Rama"


"Suka manas-manasin Rama gak suka sama cewek, karena nolak cewek sekelas Rama sendiri dan Kakak kelas"


"Terus ditantangin sama Azka kalau bisa dapatkan guru baru bakal dianggap normal, kalau gak bisa dapatkan berarti gak normal katanya"


"Hahahahahaha" (Fariel)


"Kalian masih sekolah kok malah main gituan, mana guru sendiri yang jadi tantangan mu"


"Wah pasti bakal seru nih"


"Jadi pengen sekolah lagi Ayah kalau gini biar tau kelakuan kamu di kelas saat lagi pendekatan"


"Terus habis itu gimana"


"Ya langsung kucoba dekati dengan cara membantu nya, saat bawa buku dan kertas hasil ulangan" (Rama)


"Tapi semakin hari semakin berasa beda Yah"


"Apa Rama salah dengan perasaan yang Rama punya"


"Makanya jangan suka becanda, akhirnya jatuh kan dalam cinta monyet" (Fariel)


"Hukuman karena suka nolak cewek kayaknya nih, makanya kamu kayak gini sekarang"


"Tapi lucu kamu mah"


"Tapi ini bukan cinta monyet Yah, ini beneran suka" (Rama)


"Rama dah bilang bakal nungguin sampai dia mau jadi Ibu buat anak-anakku nanti"


"Makanya sekarang Rama gak banyak jajan, mau nabung buat nanti"


"Pengen buktikan kalau Rama itu beneran suka"

__ADS_1


"Iya deh iya" (Fariel)


"Ayah harus bantu apa sama kamu Bang"


"Ayah pura-pura aja kalau Rama itu murung dalam kamar" (Rama)


"Iya murung dalam kamar"


"Oke nanti bakal Ayah bantuin kamu" (Fariel)


"Tapi inget, dia Gurumu loh"


"Misalnya nanti mau sama anak Ayah ini, kamu harus bisa jaga perasaan, dan sopan karena bagaimana pun dia Gurumu disekolah, kalau diluar sekolah mungkin bisa kamu panggil Kak atau apalah"


"Ayah hanya bantu itu aja nih"


"Masih banyak sih, tapi itu aja dulu Yah" (Rama)


"Kalau nanti tiba-tiba Azka bilang kalau ini hanya mainan kalian atau seperti taruhan atau apalah itu gimana sama Gurumu itu" (Fariel)


"Makanya Ayah harus bantu juga dong" (Rama)


"Ini beneran suka bukan becanda yah"


"Oke, kuanggap ini beneran nyata cintamu pada Gurumu" (Fariel)


"Namanya siapa"


"Siti Nur Laila, Yah" (Rama)


"Dipanggil nya" (Fariel)


"Laila" (Rama)


"Kamu manggil nya harus beda dong, masa Laila juga manggil nya sama kayak yang lain" (Fariel)


"Gak kok Yah, gak sama" (Rama)


"Manggil nya Cahaya Senja, sesuai artinya dari namanya, perempuan cahaya malam atau senja"


"Rencana mau panggil kaya Ayah saat sama tante Tia dulu, Canis dan Cami gitu"


"Itu dah oke juga menurut Ayah" (Fariel)


"Ya dah sekarang siap-siap berangkat kekantor bantuin Ayah"


"Tenang nanti Ayah kasih bonus dari hasil bantu Ayah dikantor"


"Anggap aja lagi kerja sama Ayah"


"Berarti dapat gaji dong" (Rama)


"Gajinya sama seperti karyawan Ayah yang lain, kukasih full sebulan bayarannya biar banyak tabunganmu" (Fariel)


"Makasih ya Yah" (Rama)


"Memang Ayah paling mengerti dan paling baik"


"Iya" (Fariel)


"Yuk sekarang kita berangkat kekantor"


"Ayok Yah" (Rama)


"Pakai motor ya Yah, Rama mau yang bawa"


"Oke" (Fariel)

__ADS_1


Dan kita langsung keluar dari kamar buat berangkat kekantor.


__ADS_2