Kembar Beda Dunia

Kembar Beda Dunia
Lamaran


__ADS_3

Irish mendengus kesal, saat Diavolo dan dirinya muncul di sebuah taman yang indah. Jika gadis lain suka dengan semua benda yang cantik dan indah, seperti bunga atau gaun dan sejenisnya. Namun Irish tidak. Entahlah, dia sendiri tidak tahu kenapa.


"Tidak suka?"


Irish berdecak kesal. Gadis itu berjalan menjauhi Diavolo, merasa sangat bosan berada di sana. "Apa yang kamu inginkan? Katakan padaku." Diavolo berkata, mengekor di belakang Irish.


"Lepaskan aku! Kau tahu aku tidak suka...aaarrgghhh." Irish meringis kala tanda di dahinya memanas. Han memanggilnya. Diavolo mendekat, satu sentuhan dari jari pria itu membuat rasa panas itu reda.


"Dia memanggilmu, aku sungguh penasaran dengannya." Kata Diavolo, berusaha membantu Irish namun gadis itu menolak.


Irish menegakkan tubuhnya kembali. "Kamu tidak bisa menemukannya?" Ledek Irish. Tatapan Diavolo seketika berubah tajam. Pria itu berjalan mendekati Irish, yang reflek memundurkan langkah. "Jangan kamu pikir aku tidak bisa menembus array yang dia bangun untukmu." Diavolo membuat gerakan meremas dengan satu tangannya, di mana perlindungan yang Han buat untuk Irish perlahan memudar, seperti dinding kaca yang retaknya makin lama makin meluas.


Pyaarrr, seperti itulah kira-kira bunyinya saat dinding pelindung itu hancur. Dengan Irish yang tertarik ke arah Diavolo. Gadis itu seketika berada dalam dekapan raja iblis tersebut.


"Ingin aku mengontrolmu? Itu mudah. Tapi aku ingin melakukan apapun denganmu saat kamu sadar." Irish mendorong jauh dada Diavolo yang semakin menghimpitnya. Menciptakan jarak aman adalah pilihan terbaik saat ini.


"Lepas!" Irish terus meronta dalam belitan dua tangan Diavolo. Meski Irish cukup tinggi untuk mengimbangi Diavolo, namun posturnya yang mungil dibanding Diavolo membuatnya begitu mudah dipeluk oleh raja iblis itu.


Diavolo mengulas senyum tipis. Irish mungkin gadis dengan fisik paling imut yang pernah Diavolo temui, namun perlu usaha berlipat-lipat untuk sekedar bisa membawanya keluar. Menjauh sesaat dari pengawasan sang kakak, Isaac.


"Diavolo, brengsek, lepas!!" Jangan lupakan bibir seksi Irish yang selalu fasih memakinya. Tak terhitung berapa kali Irish mengumpatnya tanpa takut.


"Kamu tidak takut aku akan melemparmu ke ranjangku karena makianmu?"


"Aku tidak takut!" Balas Irish di tengah geraman kesalnya. Sebab Diavolo sama sekali tidak melonggarkan dua tangan yang memeluk pinggangnya.


Detik berikutnya mata Irish membulat kala tubuhnya sudah berada di atas kasur besar. Di sebuah kamar temaran dengan dominasi warna hitam dan merah. Kamar yang sama di mana Ðiavolo pernah membawanya. Kamar raja iblis tersebut.


Di hadapannya, Diavolo sudah mulai melepas pakaiannya sendiri. Sontak Irish mencoba kabur. Namun Diavolo menarik dua kaki Irish hingga gadis itu tetap berada di atas ranjangnya. Irish ingin menjerit saat bibir Diavolo mulai menjelajah bibirnya. Dada bidang raja iblis itu serasa menghimpit bukit kembar miliknya. Menciptakan sensasi yang belum pernah Irish rasa.

__ADS_1


Bibir Diavolo terus memagut bibir Irish intens. Dengan satu tangan pria itu menahan dua tangan Irish yang sejak tadi sibuk melawan. Irish mencoba berontak di tengah himpitan tubuh besar Diavolo yang ingin menguasainya.


"Ohh shhittt!!" Diavolo mengumpat saat Irish menggigit bibirnya.Hingga pria itu terpaksa melerai ciumannya. Saat itulah kesadaran Irish kembali. Tahu kalau yang baru saja terjadi hanyalah tipuan Diavolo, halusinasi yang pria itu ciptakan.


"Aku tidak semudah itu untuk kau takhlukkan." Irish melepaskam diri dari pelukan Diavolo, meninggalkan satu senyum tipis yang terbit di bibir raja iblis itu. Irish sungguh sulit untuk didapatkan. Bahkan tipuan visual yang selalu berhasil untuk menjerat korban persembahannya pun dengan mudah Irish patahkan.


"Baik, kau menang kali ini. Tapi bagaimana dengan ini?" Dalam sekejap dua raga itu sudah muncul di depan Green Hills. Rumah Irish. Gadis itu tentu terkejut dengan ulah Diavolo. Mau apa coba pria itu datang ke rumahnya.



Kredit Pinterest.com


"Hei, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Irish heran. Diavolo hanya diam tanpa menjawab.


"Jika caraku tidak bisa mendapatkanmu, maka kita gunakan cara manusia." Diavolo berjalan masuk ke Green Hills, bahkan gerbang depan rumah besar itu langsung terbuka untuk raja iblis. Semua jiwa yang ada di sekitar tempat itu langsung kabur begitu melihat siapa yang datang. Alarm penyusup tidak berbunyi, ah Irish seketika lupa siapa Diavolo. Sistem keamanan tercanggih pun tidak akan bisa menghalangi pria itu.


Irish pikir Diavolo akan menerobos masuk, menembus pintu begitu saja. Namun Irish tercengang saat Diavolo menekan bel rumah rumahnya. "Dia lagi ngapain sih?" Geram Irish kesal. Sungguh tidak tahu apa yang tengah Diavolo pikirkan.


Mata Isaac melebar sempurna, Diavolo menunjukkan dirinya pada sang ayah. Tanpa menggubris Isaac, Diavolo mendatangi Lendra. Membungkukkan badan lalu mengulurkan tangan.


Irish dan Isaac saling pandang. Dunia belum kiamat kan? Bagaimana bisa Diavolo bersikap baik pada Lendra. Apa yang sedang terjadi dan apa yang diinginkan oleh raja iblis itu? Tanda tanya besar muncul di kepala duo kembar beda dunia itu.


"Kamu siapa?"


"Saya Diavolo dall'Inferno, saya kekasih Irish, putri anda." Irish melotot ke arah raja iblis yang cosplay jadi manusia. Bagaimana bisa pria itu mengaku kekasihnya.


"Bukan, Yah!" Irish menarik Diavolo menjauh, dari Lendra yang masih mencerna perkataan Diavolo.


"Apa maksudmu ha?!" Gigi Irish menggeletuk menahan rasa jengkel yang memenuhi hatinya.

__ADS_1


"Maksudku? Tentu saja ingin berkenalan dengan keluargamu. Meski aku sudah tahu semua soal mereka." Bisik Diavolo di telinga Irish, sembari berjalan menjauhi gadis itu.


"Kamu bilang kekasih Irish? Kenapa Irish tidak pernah cerita. Apa karena itu kamu menolak Eric."


Tangan Diavolo mengepal mendengar nama Eric disebut. Mungkinkah pria itu adalah mate yang sudah menandai Irish. "Jangan macam-macam pada Eric. Dia tidak ada hubungannya dengan Irish." Isaac kembali memperingatkan Diavolo.


"Semakin kau melarangku, semakin penasaran aku dibuatnya. Kau tahu kan, mate Irish akan jadi orang pertama yang mati, begitu aku tahu siapa dia."


"Tapi pria itu bukan Eric."


Mata Diavolo memerah, mengetahui Isaac tahu siapa mate Irish. Di depan sana Irish masih berusaha menjelaskan kalau Diavolo bukan kekasih atau apapun itu. Bahkan teman pun bukan.


"Lalu dia siapa? Kenapa dia berani menemui ayah kalau dia memang bukan pacarmu atau seseorang yang punya perasaan khusus padamu."


"Dia bukan siapa-siapa Irish,Yah. Yang jelas dia bukan pacar Irish. Idihh ogah punya pacar dia." Sangkal Irish berulangkali.


"Lalu tujuan dia ke sini mau ngapain?"


"Saya ingin melamar putri anda."


Astaga! Isaac dan Irish menepuk dahi masing-masing. Apalagi ini. Malah semakin kacau saja raja iblis yang satu ini. Mana Han tidak datang-datang sejak tadi. Bagaimanapun Irish lebih baik dengan Han yang jelas masih manusia meski tengil dan mode bocilnya sering kelewatan. Daripada dengan Diavolo yang jelas-jelas raja iblis yang sedang menyamar jadi manusia. Dan sekarang tengah bertingkah konyol dengan lamaran yang dia lakukan. Seorang raja iblis muncul di dunia manusia dan melamar seorang Irish. Sungguh tidak masuk akal.


Isaac menggelengkan kepalanya pelan. "Gak habis thinking aku." Gumam Isaac kocak.


****


Up lagi readers.


Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


****


__ADS_2