
Vina mengamuk di kamarnya, apa yang dia harapkan tidak terjadi. Irish justru mendapat suami yang jauh lebih baik dari Eric, dirut Shine Hotel, merangkap pemilik. Di tambah wajah tampan suami Irish, Vina jadi gusar dibuatnya. "Siall!!!" Berkali-kali Vina mengumpat. Sibuk menyalahkan orang lain, hingga satu nama muncul di otaknya.
"Sai!! Sai!!!" Teriak Vina. Beberapa kali memanggil, tapi Sai tidak kunjung datang. Hingga Vina lelah memanggil. Wanita itu melemparkan tubuhnya ke kasur, mendengus geram, sambil sesekali memaki Irish. Beruntung sekali gadis itu.
Saat Vina menatap langit-langit kamarnya, waktu itulah kepulan asap hitam muncul, tak berapa lama, wajah tampan Sai terlihat di atas Vina. Memakai kemeja hitam dengan celana hitam, kancing baju iblis itu hanya ditutup beberapa, sisanya menampilkan dada bidang nan menggoda mata Vina.
"Kenapa kau memanggilku?" Amarah Vina meroket naik. "Kau bohong padaku! Kau bilang bisa menghancurkan Irish Isabel Aditama. Nyatanya hari ini dia justru menikah dengan CEO Shine Hotel."Curhat Vina.
Sai terbahak, "Aku tidak pernah bilang aku mau dan bisa menghancurkan dia. Aku hanya mengatakan...untuk keinginanmu itu aku perlu syarat lebih dan kau mengiyakan."
Vina bangun dari acara rebahannya, bermaksud memukul Sai, marah. Vina merasa Sai menipunya. Namun Sai dengan cepat menahan tangan Vina, mendorong jatuh tubuh Vina ke kasur. "Aku beritahu padamu, kau tidak akan bisa melukai Irish Isabel Aditama. Dia tidak tersentuh." Desis Sai penuh peringatan.
"Kau brengsek! Penipu!"
"Seharusnya kau tahu saat berurusan dengan kami, iblis. Apa ada iblis yang bisa dipercaya?" Skak mat, Sai membalikkan keadaan. Vina yang terlalu bodoh karena percaya dan mau bersekutu dengan iblis tampan model Sai.
"Kalian brengsek....."
"Ssstttt, jangan gunakan bibirmu untuk memaki, akan lebih indah didengar jika kau mendesaahh bersamaku. Kau mengacaukan ritualku yang lain, maka kau harus menggantinya."
"Aku tidak sudi melayanimu!" Namun teriakan Vina hanya bertahan beberapa detik saja, sebab selanjutnya yang terdengar bukan protes Vina, tapi lenguhan dan suara-suara laknat lainnya. Saat Sai mulai memainkan tubuh Vina. Menikmatinya lantas mengambil energi spiritualnya juga darahnya. Bisa dipastikan Vina habis malam ini.
"Rasakan kau manusia! Berani sekali berurusan dengan kami, lalu memaki kami!"
**
**
__ADS_1
Lendra memijat pelan pelipisnya, melihat siapa yang ada di hadapannya. Satu masalah selesai dan kini problem lain datang menghadang. Errr, sebenarnya bukan masalah sih, lebih ke rasa terkejut tingkat tinggi alias shock.
"Jadi dia anakmu?" Entah sudah berapa kali pertanyaan itu terlontar dari bibir Lendra.
"Astaga, berapa kali gue harus jawab. Yohan Aditya Elajar, anak gue atu-atunya. Eh sulung nding."
Lendra meremat tangannya sendiri. Kesal? Marah? Entahlah. Di ruang sebelah, Han yang masih lengkap memakai tuksedo, sedang kena jewer oleh sang ibu. "Nikah gak kasih tahu maknya. Awas lu ye." Kocaknya bumil yang satu ini.
"Aduhh Maee, tolong hentikan dong. Abis harga diri Han sebagai seorang suami newborn." Natalie melepaskan jewerannya pada sang putra. Beralih mengusak gemas rambut Han yang masih tertata rapi menggunakan pomade dan hair spray.
"Kau buat aku marah Han Se Kyeong." Balas Natalie asal.
"Hai... siapa Han Se Kyeong. Tante jadi-jadian lagi? Maee gak boleh marah-marah ingat itu ada debay di situ." Han menjawab santai sambil menunjuk perut sang mama.
Natalie hanya bisa mendelik sambil mengusap perutnya yang masih rata, mendengar betapa tenangnya sikap sang putra, bahkan setelah menikahi seorang gadis tanpa mengabari mereka. Sisi melo Natalie bekerja, merasa sang putra akan segera pergi meninggalkannya.
Sementara itu Irish cukup terkejut saat tahu siapa orang tua Han. "Ha? Mamanya Han....aduuhhh...mas Han mantan istrinya ayah?" Livia mengangguk membenarkan pertanyaan Irish. Gadis itu belum melepas gaun pengantinnya, hanya veil dan rambutnya yang sudah digerai. Jangan lupakan heels yang telah teronggok di sudut ruangan. Irish memilih nyeker saat ini.
"Ibu gak bohong kan?" Irish mengusap air matanya. Saat tahu perjuangan ibunya saat harus merawatnya dan Isaac sendiri. "Jangan menyalahkan ayahmu. Ibu pergi karena pilihan ibu. Andai ayahmu tahu ibu hamil, dia akan menikahi ibu, tidak akan menikahi mertuamu. Semua salah ibu."
Irish memeluk Livia saat wanita itu mulai menangis. Teringat perih saat kehilangan Isaac. Tak berapa lama muncul Christo bersama Retno, dua orang itu turut menjelaskan situasinya saat itu. Yang mereka takutkan adalah Irish akan salah paham, menganggap bersaudara dengan Han karena ibu mereka menikahi pria yang sama.
"Jadi benar ya? Dijamin, aku sama mas Han gak ada hubungan darah." Ketiga orang itu berani bersumpah kalau yang mereka katakan benar.
"Aku gak tahu mereka bagaimana?" Christo berucap pelan.
"Kenapa?" tanya Irish heran. Setelahnya, giliran sejarah Lendra dan Pasha yang diceritakan. Tak berapa lama keluhan keluar dari bibir Irish. "Astaga ribet amat cerita keluarga gue. Uncle...."
__ADS_1
"Nggak manggil papa lagi?" potong Christo cepat.
"Malu lah sama Adam." Cengir Irish melirik Adam yang berdiri di depan pintu, pria dengan aksen oriental, sama seperti Han.
Obrolan mereka terhenti saat Natalie masuk ke kamar itu, dengan Han mengekor di belakang sang mama. Natalie seketika merasa canggung, wanita itu kembali teringat perbuatan jahatnya di masa lalu.
"Ai, Tante, Om kenalkan ini Mama, maaf baru mengenalkan pada kalian sekarang." Hening sejenak. Baik Natalie, maupun Livia saling bertukar pandang. Juga pada Christo. Pandangan Natalie terhenti pada Irish, cantik. Hanya kata itu yang mampu mewakili pendapat Natalie soal menantunya.
"Kau lihat, dia tumbuh dengan baik bukan?" Christo yang membuka suara.
"Sudahlah Chris, semua sudah selesai di masa lalu. Senang bertemu denganmu Nath, bagaimana kabarmu?" Livia memeluk Nathalie yang seketika menangis di bahu Livia.
Han melongo, mamanya yang terkenal koplak dan somplak bisa melow juga. "Maafkan aku." Lirih Nathalie.
"Sudah, semua telah berlalu. Sekarang yang penting mereka. Jangan biarkan mereka terbebani dengan kisah kita di masa lalu. Kita mulai lembaran baru, oke?" Nathalie mengangguk mendengar ucapan Livia.
Livia perlahan menuntun Nathalie ke arah Irish. Tanggap, Irish langsung meraih tangan Nathalie lantas menciumnya. "Tan..."
"Mama...panggil Mama, sayang." Nathalie mengusap lembut kepala Irish lantas memeluk sang menantu. Han bisa menarik nafasnya lega. Maee-nya tidak membuat drama seperti di lakorn, drakor, dracin atau film yang sering dia tonton.
"Mungkin ini cara Tuhan untuk menebus kesalahanku. Putraku jatuh cinta pada putri Livia dan Lendra. Anak yang hampir saja aku lenyapkan dulu." Batin Nathalie.
Saat semua terlarut dalam keharuan, dua suara pria yang berdebat mengacaukan semua. "Astaga !! Mereka tidak pernah berubah, gelud aja dari dulu. Dah pada tua, mau punya cucu juga, masih aja heboh." Gerutu Christo.
Jika biasanya yang tidak cocok mertua dan menantu, yang ini lain cerita, mertua vs mertua.
***
__ADS_1
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***