
Kredit Pinterest.com
Han menginginkan pernikahan jika dia diharuskan melakukan hubungan badan dengan Irish. Awalnya Irish mencak-mencak tidak mau. Bukan masalah dia tidak menyukai Han, tapi dia masih ingin bebas berkeliaran ke sana ke sini. Belum mau terikat oleh hubungan apapun. Pacaran saja dia tidak mau. Apalagi menikah.
"Mbak, udah tua juga. Nikah ngapa, dia juga gak jelek-jelek amat tampangnya. Cuma masih mahasiswa aja..."
Satu tatapan tajam dari Irish membuat ocehan Ivan berhenti. Han bahkan berulangkali menjelaskan kalau dia tidak akan membatasi ruang gerak Irish. Pernikahan hanya formalitas saat Han diharuskan meniduri Irish. Pria itu tidak ingin Irish berpikir kalau dia sedang mencari keuntungan dari Irish.
"Kan cuma formalitas?"
"Mbak....memang cuma formalitas, masalahnya kalian harus....Ivan membuat kode orang bercinta...jika mbak sampai hamil gimana?"
"Pikiranmu lo adooooh men!" maki Irish. (Pikiranmu lo jauh sekali).
"Mbak pikirkan lagi, Kak Han cuma ingin mbak tahu kalau dia serius sama mbak." Bujuk Ivan lagi. Ivan memang paling getol kalau disuruh membujuk Irish jika sedang marah.
Gadis itu terdiam. Menatap lurus pada Han yang sejak tadi tidak bersuara sama sekali. Pemuda itu jika mode dewasanya nongol sangat cool. Tidak banyak bicara tapi tindakannya nyata. Talk less, do more.
Pada akhirnya Asna yang turun tangan. Wanita renta itu membawa Irish masuk ke dalam kamar. "Apa aku perlu menghubungi orang tuanya? Meminta restu?" tanya Han.
"Nanti saja jika kalian ingin melegalkan pernikahan kalian. Ini akan sedikit rumit. Pernikahan kalian antar negara. Prosesnya lama."
Han membenarkan perkataan Somchai. Sekarang yang paling penting ya itu tadi. Nanto sedang bergerak mencari barang-barang yang diperlukan untuk pernikahan Han dan Irish. Bersama duo hantu tampan dan cantik.
Lima belas menit berlalu, pintu kamar Irish terbuka. Dan satu ucapan dari gadis itu membuat semua orang menarik nafasnya lega.
"Jika kamu menolak ritual ini, ada kemungkinan kamu akan jadi penghancur alam semesta. Kekuatan yang bersemayam dalam dirimu sangat berbahaya. Dan Han bisa menetralkannya dengan cara kalian harus menyatu."
Irish terdiam mendengar semua cerita Asna, dimana Han sendiri yang sudah membebaskan dirinya dari perjanjian leluhur mereka. Namun ternyata bukan di situ sumber masalahnya.
"Dia menanamkan satu kekuatan milik bangsanya di tubuhmu. Saat usiamu genap 25 tahun segelnya akan lepas. Saat itu kamu dan dia akan jadi penguasa sekaligus perusak dunia ini."
Irish menghembuskan nafasnya kasar. Tidak menyangka kalau dia akan berakhir dengan seorang pemuda dari Chiang Mai yang baru beberapa bulan dia kenal.
Di sisi lain, Nanto dan duo hantu sudah selesai belanja. "Kalian balik sekarang apa nanti?" tanya Nanto. Pria itu sudah masuk ke dalam mobilnya. Sedang Isaac dan Meli masih berdiri di luar mobil. "Mau jalan-jalan dulu." Kata Meli sambil menengadahkan tangannya.
__ADS_1
"Apaan?" tanya Nanto heran.
"Duit." Sahut Meli cepat.
"Mau beli apaaan. Kalian kan gak makan?"
"Ada deh. Buruan!" Paksa Meli. Nanto mendengus kesal lalu memberikan kartu kreditnya. Ada ya hantu malak manusia. "Nanti ganti tahu." Balas Nanto asal.
"Iya, nanti aku kasih tahu nomor togel onlen yag bakal keluar malam ini." Balas Meli sumringah sambil menerima kartu platinum dari Nanto.
"Setengah M itu limitnya." Senyum Meli semakin lebar mendengar ucapan Nanto. Meli langsung kabur dari sana, tanpa menoleh lagi. Mengabaikan tatapan Nanto dan jiwa-jiwa yang berkeliaran di sana. "Siang-siang aja sudah pada eksis tu hantu." Gumam Nanto melajukan mobilnya dari tempat itu.
Sedang Meli, hantu itu berhenti di depan butik, dia sudah lama ingin mengganti baju sekolahnya. Hantu cantik itu lalu masuk ke dalam. Melihat-lihat gaun yang ada di sana.
"Memang kau bisa memakainya?" Meli melompat saking terkejut mendengar suara Isaac di telinganya.
"Tentu saja bisa. Kau tahu kan kalau kita spesial." Balas Meli ketus. Meski dia juga tidak menyangkan kalau Isaac akan menyusulnya. Meli pikir, Isaac akan langsung pulang.
Isaac hanya diam melihat tingkah Meli. Hantu cantik itu sibuk memilih, gaun mana yang cocok padanya. "Cocok gak?" tanya Meli berdiri di sebelah manekin sebuah gaun.
"Gak! Itu terlalu terbuka!" Meli melirik sinis, terlalu terbuka? Lah yang bisa lihat dirinya hanya beberapa orang saja. Selama ini belum pernah dengar hantu diperkosaa hantu. Yang ada hantu masuk ke tubuh manusia. Lalu bercinta dengan manusia lain.
"Yaelah sandal gitu aja marah. Beli ini, yang ini boleh." Isaac menunjuk satu gaun dengan dagunya. Senyum Meli merekah meski baru saja dipanggil sandal. Gaun itu dia sudah lama mengincarnya, tapi saat dia punya uang. Gaun itu sudah tidak ada. Meli pikir di beli orang. Ternyata ada deretan belakang, jadi Meli tidak melihatnya.
**
**
Hampir tengah malam, saat Han didorong masuk oleh Ivan ke kamar sang kakak. "Ivan kurang ajar!" maki Han keras.
"Hajar hyung, sampai pagi!" teriak Ivan dari luar kamar. Han mendengus geram. Setelah "prosesi pernikahan" yang hanya sekedar menyatukan darah mereka ke sebuah batu yang langsung bersinar saat darah keduanya jatuh ke atas batu tersebut. Lalu memberi hormat ke empat penjuru arah mata angin. Sudah begitu saja.
Irish melongo melihat "pernikahan" mereka. Heran, sudah tentu. "Itu pernikahan ala dunia lain. Mereka cuma perlu penyatuan darah. Lalu memberi hormat pada alam semesta, dewa di langit dan bumi. Agar merestui pernikahan mereka. Lebih kurang seperti itu." Irish manggut-manggut mendengar bisikan Han.
Han berbalik dan melihat Irish yang baru keluar dari kamar mandi. "Maaf, setelah ini selesai. Aku akan menemui papa dan mamamu. Melamarmu secara resmi." Kata Han canggung. Belum pernah dia berduaan dengan wanita lain di kamar selain dengan mamanya.
"Ohh... itu bisa diatur."
__ADS_1
Glek! Han menelan ludahnya susah payah melihat Irish hanya memakai kemeja longgar saat ini. Kebiasan Irish kalau di kamar memang seperti itu. Isaac sendiri suka jengah dengan kelakuan sang adik.
"Mau mandi dulu?" tanya Irish.
Ha? Han melongo mendengar pertanyaan Irish. Ini kode atau apa sih. Mereka secara alamiah memang sudah menikah. Jadi boleh melakukan hal itu.
Di luar kamar Irish. Semua orang berkumpul di ruang tengah. Isaac sesekali mencuri pandang ke arah Meli. Hantu itu tampak cantik memakai gaun selutut berwarna pink lembut. Mereka baru saja memastikan kalau array pelindung terpasang sempurna. "Masih ada waktu sampai minggu depan." Somchai berucap pelan. Asna mengangguk mengiyakan. Ada kecemasan dalam wajah dua orang itu. Beda dengan Nanto dan Ivan yang malah mabar game dengan ponsel masing-masing di meja sebelah.
Sementara itu di dalam kamar, Irish tampak diam tanpa bisa berkata-kata. Saat Han memasangkan sebuah cincin di jarinya. Cincin dengan motif mawar yang pas di jari manis Irish.
Kredit Pinterest.com
"Kau menyiapkannya?" Irish bertanya setengah tidak percaya.
"Aku serius denganmu. Tapi tidak menyangka kalau kita akan menikah secepat ini, dengan cara seperti ini. Tapi satu yang pasti aku mencintaimu Ai."
Meleleh sudah hati Irish mendengar ucapan bocah tengil yang seketika jadi pria romantis ini. Lebih terkejut lagi saat Han tiba-tiba saja menciumnya. Hanya sebentar meski pria itu sempat memagut bibirnya.
"Gantinya yang tadi. Kan belum." Cengir Han sambil menggaruk kepalanya. Irish sesaat terdiam. Menatap wajah tampan sang suami. Cie... suami dia bilang.
Detik berikutnya, Han terkejut hampir terjengkang, saat Irish balas menciumnya. Kali ini Irish langsung mengajari Han cara bermain bibir. Gadis itu ******* bibir Han intens, hingga tak lama pemuda itu mulai bisa mengimbangi permainan bibir Irish.
Bruukk, keduanya jatuh di ranjang Irish. Tanpa melepas tautan bibir mereka. Suasana mulai memanas. Dua orang itu mulai terlena dengan sentuhan masing-masing.
Sampai "praaannggg" bunyi kaca jendela pecah di kamar Irish, merusak moment itu.
"Dia datang." Han menarik tubuh Irish, menutupi tubuh Irish dengan coat panjang miliknya.
"Dia siapa Han?"
"Orang yang menginginkanmu."
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
***