
Han langsung bekerja, tanpa menunggu lama. Pria itu pikir harus segera mengatasi masalah yang ada. Kedatangan Han ke Shine Hotel jelas menimbulkan kehebohan tersendiri. Bagaimana tidak? Ketampanan Han yang diatas rata-rata membuat semua staf perempuan menjerit histeris. (Termasuk author ðŸ¤ðŸ¤)
Mengenakan setelan formal membuat Han tampak semakin berkharisma. Hal pertama yang akan dia lakukan adalah melakukan rapat dewan direksi, di mana dia akan menunjukkan kalau dia adalah pemilik Shine Hotel yang sah. Pengacara yang diutus Pasha sudah siap dengan surat pengalihan kepemimpinan dari Pasha Elajar pada sang putra Yohan Aditya Elajar.
Hampir semua anggota dewan direksi terkejut. Pasalnya Pasha selaku pemilik dan pemegang saham mayoritas tidak pernah mendiskusikan hal ini dengan mereka. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima. Terlebih mereka memang tahu kalau Han adalah putra Pasha.
Rapat dewan direksi berlangsung cepat, tanpa banyak protes. Sebagian anggota dewan itu terkesima dengan kemampuan bicara Han yang sangat persuasif hingga mereka tidak bisa menentang keinginan Han. Kecuali Yuda Irawan yang sejak awal tidak menyukai Han. Pria itu merasa dirinya yang paling berhak memimpin Shine Hotel. Sebab dia adalah perpanjangan tangan kanan Pasha selama pria itu menetap di Thailand. Tanpa Yuda sadar kalau beberapa kebijaksaannya membuat reputasi Shine Hotel turun di mata para pelaku perjalanan wisata.
Setelah rapat dewan selesai, Yuda sibuk mengumpat pada Han, pasalnya Han menurunkan posisinya menjadi kepala divisi marketing. Jauh sekali dari posisinya yang dahulu seorang wakil kepala dirut. "Awas kau Yohan Aditya!" geram Yuda.
Yohan benar-benar mulai bekerja keras. Dia merombak hampir semua managemen hotel yang lama. Menggantinya dengan kebijakan yang sekiranya mampu menaikkan kualitas hotel dan mampu menarik perhatian para wisatawan. Diskon dan promo juga banyak dilakukan oleh Han. Salah satu hal yang ingin Han lakukan sejak tiga tahun lalu adalah mengubah image klasik Shine Hotel menjadi wajah baru yang lebih segar dan menarik.
Pria itu secara langsung turun tangan untuk mendesign ulang lobi hotel yang bagi Han terkesan kurang modern dan kuno. Tidak merenovasi besar-besaran, Han memerintahkan mengecat ulang dinding lobi. Mengganti interior di dalamnya. Membuatnya menjadi lebih nyaman, dan tentu saja dengan tampilan baru.
"Perwakilan dari pabrik garmen sudah datang. Mereka membawa beberapa design yang sekiranya cocok untuk image hotel kita." Teo melapor sambil menyerahkan beberapa dokumen yang harus Han periksa. Diam-diam, Teo mencuri pandang ke arah Han.
"Aku senang kau baik-baik saja dan kini berada di sini." Batin Teo. Cling, gelang naga milik Han berkelip, Han menyadarinya. Perlahan pria itu melihat ke arah Teo. Aura Teo sangat Han kenal. Namun siapa Teo.
"Sudah lama bekerja pada pakdhe?" tanya Han. Mata batin Han tidak menangkap sesuatu yang janggal pada Teo, hanya feeling Han yang merasa dekat dengan Teo.
"Hampir tiga tahun ini. Setelah saya sembuh dari kecelakaan dan sedang mencari pekerjaan. Saya bertemu tuan Nanto. Dia menawari saya pekerjaan. Tentu saja saya mau." Begitulah jawaban Teo saat Han meminta Teo bercerita. Satu lagi, wajah Teo juga sangat familiar untuknya. Lagi-lagi pertanyaan siapa Teo menyeruak ke pikiran Han.
__ADS_1
Tak berapa lama Nanto masuk membawa satu dokumen yang berisi beberapa design unifor atau seragam yang kiranya sesuai dengan citra Shine Hotel.
"Sayang kau ndak ikut. Bosnya sendiri yang datang. Cantik lo." Goda Nanto.
"Siapa namanya?" tanya Han sambil membolak balikkan kertas di hadapannya.
"Irish Isabel Aditama." Han seketika menghentikan pekerjaannya. Sesaat melihat ke arah Nanto. Lagi-lagi dia merasa dekat dengan nama itu. Siapa dia? Hingga kemudian Han menyibak satu kertas berisi sebuah undangan.
"Yang mau tunangan minggu depan?" Han mengulurkan undangan pada Nanto. Sang asisten tentu terkejut. Pasalnya dia tidak tahu menahu soal hal itu. Sampai Han menjelaskan kalau Teo yang membawanya dari meja resepsionis.
Awalnya Han enggan datang. Namun saran dari Nanto membuat Han berpikir ulang. Akan banyak pebisnis dan tamu undangan dari kalangan industri yang datang. Ini akan jadi kesempatan bagus bagi Han untuk memperkenalkan hotel mereka. Sekaligus Han bisa masuk ke circle pertemanan kalangan dunia usaha, juga untuk menambah relasi.
Han seketika menghembuskan nafasnya kasar. Ribet sekali jadi pengusaha. Nanto lantas menjelaskan, itu wajar bagi Han yang baru terjun ke dunia perbisnisan. "Nanti kalau kau sudah ada si puncak, bolehlah kau tolak undangan semacam itu. Sebab mereka yang akan mencarimu."
"Jangan mulai lagi deh mas Han, serem tahu." Han tertawa terbahak. "Bukannya pakdhe bisa melihatnya? Kenapa takut?"
"Mereka dulu gak suka eksis, tapi sejak kau datang mereka jadi sering nongol. Kepo sama kamu." Kesal Nanto. Tawa Han semakin keras.
Di sisi lain, Teo kembali melihat wajahnya di cermin. Entah memang disengaja atau tidak, tapi wajah Teo sama dengan wajah jiwa yang mendiami raga tersebut. Jiwa Isaac, sesuai dengan keinginan Isaac, pria itu diberi kesempatan hidup sekali lagi. Dengan masuk ke dalam tubuh yang seharusnya sudah tiada.
Syarat yang harus Isaac penuhi adalah dia tidak boleh memberitahu soal keberadaannya pada orang yang pernah mengenalnya di masa lalu. Kecuali mereka menyadari kehadiran Isaac. Namun siapa yang akan mengingat Isaac, saat ingatan semua orang yang pernah tahu soal dirinya sudah dihapus.
__ADS_1
Meski begitu, Isaac tidak masalah. Asal dia bisa melihat keluarganya baik-baik saja. Tanpa dikenali oleh mereka, Isaac rela. "Aku berharap bisa melihat kalian bahagia. Terutama kamu Ai, juga bertemu Meli sebelum kehidupanku benar-benar berakhir." Harap Isaac dalam hati. Sebab dia tahu pasti setelah Teo meninggal dia juga akan pergi untuk selamanya.
"Semoga umurmu masih panjang, Teo."
Seminggu kemudian.
"Sudah siap, mbak?" tanya Ivan yang masuk ke kamar hotel di mana pertunangan sang kakak di gelar. Tidak ada jawaban. Irish tampak diam seribu bahasa dalam balutan gaun pertunangan cantik yang membalut tubuh langsingnya.
"Kalau masih ragu, mundur saja." Ivan memang gila. Pesta siap dimulai dan dia malah mengompori sang kakak untuk mundur dari acara itu. Eric, sudah siap di ballroom dan Irish masih meragu.
Tiba-tiba saja Irish bangkit dari duduknya. Lalu keluar dari ruangan itu. "Mau ke mana mbak?" Ivan turut mengejar keluar ruangan. Saat di luar kamar, pria itu menoleh ke kiri dan kanan. Sampai Ivan mendapati sang kakak berdiri di ujung tangga. Terdiam, tidak bergerak sama sekali.
"Mbak, ngapain di sini?" Pertanyaan Ivan terhenti saat melihat siapa yang berdiri di bawah tangga.
"Siapa dia?"
***
Kredit Pinterest.com
__ADS_1
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***