
Han kembali menarik Irish untuk menghindar dari serangan sosok yang kini mengamuk. Merasa ada yang mengusik wilayahnya. Han menggenggam erat tangan Irish, benar-benar melindungi gadis itu. Bisa dibayangkan bagaimana jantung Irish berpacu bak melodi musik dengan beat cepat.
"Gila! Perasaan apa ini?" Hati Irish membuncah oleh rasa yang membuatnya kembali bertanya kenapa dia merasakan hal berbeda saat bersama Han. Hanya waktu bersama Han, tapi tidak saat bersama Eric.
"Dia ingin membangun wilayah ini jadi sebuah ya....kerajan begitu maksudnya." Teo berkata dari sisi kiri mereka. Ketiganya berada di atas tumpukan kain yang ternyata ada juga di tempat itu. Beberapa kali terdengar geraman marah dari makhluk di hadapan mereka.
"Dia seperti apa sih?" Irish menyela pembicaraan Han dan Teo. Melihat antusias ke arah pandangan Han dan Teo. "Yakin gak pingsan karena takut?" Han bertanya ragu. Sementara Teo tampak mengulum senyum sambil memalingkan wajah. "Andai kau ingat seperti apa Irish dulu." Batin pria itu.
"Iihhhh kepo tahu." Balas Irish mantap. Han sesaat melihat mata Irish, giliran Han yang terdiam. Degup jantung pria itu bermaraton ria di tempatnya. Kapan kami pernah bertemu sebelumnya? Pria itu memejamkan mata, simbol naga mulai terlihat di dahi Han, Irish yang melihatnya takjup, "Kau ini siapa?" bisik Irish perlahan menyentuh tanda di dahi Han. Bersamaan dengan keningnya yang juga berpendar redup. Dua jari Han mengusap mata coklat Irish. Untuk sesaat bola mata Irish berubah jadi hijau, sama seperti milik Teo.
"Jangan salahkan aku kalau kamu akan ketakutan mulai sekarang." Irish tidak membalas ucapan Han. Dalam satu kedipan mata, Irish bisa melihat sosok tinggi hitam mengerikan di depan sana.
"Ini mengagumkan." Reaksi Irish sungguh di luar dugaan Han. Dia pikir gadis itu akan ketakutan melihat hal yang ada di hadapannya. Han jelas kagum dengan sikap Irish yang satu ini.
"Apa dia harus dibunuh?" pertanyaan Irish membuat dua pria itu tersenyum. "Dia sudah mati. Buat apa dibunuh lagi." Balas Teo.
"Lalu dia mau diapain?" kekepoan Irish semakin menjadi. "Dibebaskan, istilahnya." Han menarik pedang kristalnya. Dalam beberapa kali serangan, makhluk itu tumbang. Meninggalkan aroma terbakar yang membuat Irish terbatuk-batuk. Sangat menyesakkan dadanya. Gadis itu jelas terpana, takjup dan juga kagum, dengan kemampuan Han serta apa yang baru saja terjadi di depan matanya.
Dia sudah lumayan bosan dengan rutinitasnya selama ini. Jenuh, kata yang tepat untuk mengambarkan keadaan Irish saat ini. Jadi melihat kejadian tadi seperti sebuah hal baru, petualangan baru untuk seorang Irish.
"Kamu pemburu hantu ya?" cecar Irish, saat Teo membawa Irish turun. Mendekati Han yang masih memeriksa tempat menghilangnya makhluk tadi.
"Bukan. Aku cuma orang yang kebetulan bisa melihat mereka, lalu oleh pamanku dilatih untuk membebaskan mereka yang tersesat, tidak tahu jalan pulang atau jiwa yang perlu dibebaskan paksa seperti mereka karena membuat onar. Membahayakan kehidupan manusia." Terang Han panjang lebar.
"Berarti pamanmu orang hebat?" Irish terus mengekor Han bak anak ayam mengikuti induknya. Pria itu menyentuh bekas terbakar makhluk tadi, Han sejenak memejamkan mata. "Hanya seseorang yang tinggal di wihara." Irish manggut-manggut mengerti.
Teo yang tengah berkeliling, menghentikan langkahnya. "Dia tidak sendiri." Teo memasang sikap waspadanya. Begitupun dengan Han. Auranya lebih kuat kali ini. Mungkin yang tadi hanya bawahannya.
Han menarik tangan Irish, membawanya ke dekat Teo. Tiga orang itu mulai memindai sekeliling ruangan besar tersebut. "Aku tidak pernah tahu kalau ada yang sejenis itu di alam ini." Gumam Irish.
__ADS_1
"Dunia ini terlalu luas untuk kita huni sendiri. Bahkan di langit sana juga ada penghuninya." Kata Teo asal.
"Benarkah? Bisa bawa aku ke sana? Apa di sana seperti yang ada di film-film itu?" Kepo Irish, gadis itu jadi antusias dengan dua orang di sampingnya itu.
"Mana aku tahu. Mau touring ke sana, mati dulu." Balas Teo.
"Mahal amat tiketnya." Cemberut Irish.
Han tampak menghembuskan nafasnya kasar. Lucu sekali melihat tingkah Irish. "Apa kau pikir bisa semudah itu bisa melihat dunia mereka? Aku saja belum pernah pergi ke sana."
"Itu karena kau masih hidup. Belum mati."
"Memangnya mas Teo sudah pernah mati dan pergi ke sana?" pertanyaan Irish membuat Teo bungkam. Terlebih sang adik sedang menatap intens padanya.
"Tentu saja dia masih hidup dan belum pernah pergi ke sana. Kau ini bagaimana sih?" Han menyentil kening Irish, hingga ringisan lirih itu terdengar dari bibir tunangan Eric itu.
Saat Han dan Teo berdiri saling membelakangi saat itulah Irish melihat sepasang mata memancar merah, di sudut ruangan tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Boleh ya aku bermain-main?" Irish benar-benar seperti anak TK di tengah dua pria itu.
"Jangan aneh-aneh kamu, lecet sedikit nanti ayahmu marah. Mampusss kita." Han menahan tangan Irish.
"Bilang aja kalian mau tanggung jawab."
"Caranya?" Teo bertanya konyol.
"Katakan saja kalian mau menikah denganku."
Baik Teo mau pun Han saling pandang. "Dia ini gila atau bagaimana sih. Tunangan ada di depan mata kok dia sibuk suruh orang lain buat nikahin dia." Komen Teo.
__ADS_1
"Dia ini masih waraskan?" lanjut Teo. Han belum sempat menjawab pertanyaan Teo, saat Irish melompat menyerang makhluk itu. Yang lebih mencengangkan, pedang Han ada di tangan gadis itu.
"Ini bagaimana ceritanya?" Han berujar cemas. Namun tidak dengan Teo. Pria itu tersenyum tipis, melihat bagaimana gesitnya Irish menyerang sosok yang kini mulai menunjukkan rupa aslinya. Makhluk itu berwujud seperti manusia hitam, tinggi dan besar, dengan cakar mengerikan juga gigi taring yang siap mengoyak tubuh Irish, andai tubuh langsing itu bisa tertangkap. Mata merah menyala dengan rambut panjang.
Han ingin maju membantu tapi Teo menahan tangan pria itu. Sebuah tatapan menyiratkan kalau Irish lebih dari sekedar mampu untuk mengalahkan sosok itu.
Melihat bagaimana Teo menatap Irish, kecurigaan muncul di kepala Han. Sikap Teo menyiratkan kalau pria itu seperti memahami sekali kemampuan seorang Irish. " Siapa kau? Apa kau seseorang yang mengenal kami di masa lalu?" todong Han. Teo tentu terkejut, apa Han sudah mengingat semua.
"Aku punya feeling, aku dan Irish pernah berhubungan di masa lalu. Tapi entah kenapa, baik dia maupun aku tidak ingat. Dan sikapmu membuatku curiga. Sikapmu berbeda saat bersama kami. Seolah kau mengenal kami begitu baik. Siapa kau?" Kata Han.
Teo hanya bisa diam. Dia tidak bisa melanggar peraturan yang sudah Liong berikan. "Aku bukan siapa-siapa." Jawab Teo ambigu.
"Tunggu dulu. Apa peraturannya seperti itu?" Mengabaikan teriakan dari Irish yang terdengar begitu senang saat menghajar iblis itu.
"Maksudmu?"
"Selama hidupku, aku selalu berhubungan dengan hal yang menurut orang lain tidak masuk akal. Tapi aku mempercayainya. Apa kami pernah berhubungan di masa lalu? Lebih dari sekedar teman. Dan kau tahu itu, tapi kau tidak boleh memberitahu kami." Tidak tahu bagaimana Han bisa berpikiran seperti itu. Namun dia yakin dengan apa yang baru saja dia katakan. Teo mungkin mengetahui sesuatu soal dirinya dan Irish, tapi pria itu dilarang membocorkan hal tersebut.
Blaaarrrrr, suara ledakan membuat keduanya menoleh. Sosok itu mati di tangan Irish, tanpa bantuan siapapun. "Kalau kau percaya soal hal itu. Maka ikuti saja kata hatimu. Termasuk soal dia." Teo berucap sambil melihat ke arah Irish yang berjalan riang ke arah keduanya.
"Astaga, kau menyuruhku merebutnya dari tunangannya?" Han bertanya setengah tidak percaya.
"Sebab tidak ada pria lain yang pantas untuk memiliki adikku selain kamu, Yohan Aditya." Batin Teo, terlebih setelah kemarin dia melihat kelakuan bejaatt Eric.
"Aku tidak rela adikku jatuh ke tangan si bedebahh itu!" tambah Teo lagi dalam hati.
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
***