
Sementara itu, Eric tampak mendorong jauh tubuh Vivian yang berada di atas tubuhnya. Wanita dengan jarak usia dua tahun di atas Eric tersebut benar-benar agresif sekarang. Namun apa yang Vivian lakukan bukanlah ide darinya. Ada sang kakak yang andil di baliknya.
"Sudah Vi...." Eric berusaha menjauhi Vivian, tapi apa mau dikata, Vivian justru semakin gencar mengejarnya.
"Aku tidak bisa Ric. Aku menyukaimu. Apalagi setelah hari itu. Aku semakin jatuh cinta padamu." Eric memalingkan wajah mendengar ucapan Vivian. Ingatannya berputar pada malam sialan, di mana dia yang sedang mumet, memilih meminum sedikit alkohol di apartementnya. Tanpa di sangka, Vivian malah berkunjung. Dan wanita itu sepertinya memanfaatkan keadaan Eric yang setengah mabuk, hingga malam itu keduanya melalui malam panas mereka untuk pertama kali.
Eric cukup paham kalau dia sudah menodai Vivian, karena wanita itu masih segelan saat Eric menerobos masuk milik Vivian. "Kau menjebakku, Vi! Kau tahu aku akan menikah dengan Irish. Kau sengaja melakukannya kan?!" Suara Eric mulai meninggi. Dia sungguh kesal pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia lepas kendali saat Vivian menunjukkan tubuh seksi tanpa pakaian di hadapannya.
"Tapi kau sangat menikmatinya kan. Irish, si gadis kolot. Perawan tua itu mana pernah mau memberikannya untukmu. Aku...aku...yang bersedia melakukan apapun untukmu!"
Eric geram mendengar ucapan Vivian soal Irish. Eric tentu sudah dididik dengan baik oleh Bian dan sang mama. Dalam hati Eric, pria itu jelas menghormati dan paham sekali dengan apa yang dilakukan Irish. Karena memang seharusnya seorang wanita bisa menjaga diri.
Ejekan perawan tua dan kolot sering mampir kepada Irish, tapi gadis itu tampak tidak terganggu, meski aslinya hati Irish kadang merasa sakit juga. Padahal dia memang belum menemukan pria yang klik di hatinya. Salahkah Irish, jika dia ingin menikah dengan pria yang benar-benar mencintainya. Bukan menikah karena banyaknya tekanan dari kini dan kanan.
"Itulah letak keistimewaan Irish. Dia bisa menjaga dirinya....."
"Lalu aku? Aku terbukti masih suci saat kau mengambilnya malam itu!" Eric bungkam seribu bahasa. Tidak ada bantahan soal hal itu
Vivian tersenyum penuh kemenangan. Dia suka sekali melihat kebimbangan di wajah Eric. Ini saatnya dia membuat Eric semakin ragu untuk menikahi Irish. Lagi-lagi seperti saran sang kakak. Vivian akan mendapatkan apa yang dia mau, meski harus merangkak sekalipun.
Sang kakak, tentu sangat senang Vivian bisa merebut Eric dari tangan Irish. Siapakah sang kakak? Vina, seorang pemilik pabrik garmen sama seperti Irish. Rupanya persaingan bisnis mewarnai part rebutan Eric ini.
Vina berpikir harus membuat Irish down dengan menggagalkan pernikahan gadis itu. Vina sendiri sudah muak dengan banyaknya pujian yang dilayangkan pada pemilik Tania and Co generasi ketiga tersebut. Cantik, sukses, mapan dan baik. Citra Irish sangat baik, meski label perempuan terlambat nikah turut menambah tag untuk Irish. Namun Irish seolah tidak peduli.
Jika pernikahan Irish gagal, Vina pikir mental Irish akan jatuh, fokusnya akan goyah, dan itu pasti berpengaruh pada kinerjanya. Saat itulah Vina bisa mengambil alih dominasi yang selama ini dikuasai oleh Irish.
"Aku tidak peduli Eric, aku ingin kau bertanggungjawab, aku bukan wanita murahan yang tidur dengan sembarang pria. Aku hanya melakukannya denganmu. Hanya untukmu."
__ADS_1
Vivian mendekati Eric, mulai mengggoda pria itu. Vivian sangat menyukai sentuhan Eric. Juga permainan pria itu. Vivian tidak menyangka di balik sikap dingin dan kalem Eric, pria itu bisa berubah menjadi ganas dan liarr saat di ranjang.
"Jangan menggangguku Viv," Eric berlalu pergi dari hadapan Vivian. Masuk ke kamar lalu menguncinya. Tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Mereka ada di apartemen Eric.Vivian menggeram marah. Dia bahkan sudah menyerahkan tubuhnya cuma-cuma. Namun Eric masih tidak meliriknya juga.
"Akan aku adukan pada om Bian soal apa yang sudah kau lakukan padaku! Aku tidak terima kau perlakukan seperti ini Eric!" Teriak Vivian. Eric hanya bisa meraup wajahnya kasar. Tak berapa dia mendengar suara pintu yang dibanting keras.
"Aku sudah melakukan kesalahan besar! Maafkan aku Ai. Cintaku saja ternyata tidak cukup untuk mendapatkan hatimu." Batin Eric nelangsa. Mungkin inilah yang dia dapatkan dari ulahnya tidak mendengarkan nasihat papa dan mamanya. Percaya bahwa cinta yang tulus bisa melembutkan hati Irish yang keras laksana batu, tapi dia ternyata salah.
Di tempat lain, Irish tersenyum sumringah melihat kiri dan kanannya. Mereka, Irish, Teo dan Han sedang makan di sebuah warung bakso Malang, di dekat pabrik Irish.
Hari mulai gelap, jiwa-jiwa penasaran mulai menampakkan diri. Jika Teo dan Han tengah menyantap dengan nikmat menu bakso di hadapannya, Irish tidak. Gadis itu lebih tertarik pada penampakan hantu yang berkeliaran di sekitarnya.
"Makan Ai, nanti kamu kelaparan." Ujar Han, pria itu sepertinya sangat kelaparan, terbukti ini mangkok kedua yang dilahap Han.
"Mas Han lapar apa doyan? Mbak makan dulu." Kakak tapi manggil mbak ke adiknya. Lucu. Han dengan mulut sambil mengunyah setidaknya ini menu komplit. Ada karbohidrat sekaligus protein dalam sekali hap. Cocok untuk Han yang akhir-akhir ini tidak punya waktu untuk berolahraga.
"Mas Teo, mas ini orang mana to. Kok Irish rasanya seperti dah lama kenal sama mas Teo. Kayak kakak gitu."
Deg, Teo menghentikan acara makannya. Apa Irish mulai sadar dengan kehadirannya. "Memang kamu punya kakak?" kepo Han.
"Punya, kakak kembar malah. Tapi dia sudah meninggal saat kami berusia empat tahu." Jawab Irish sendu.
Han seketika menajamkan indera perasanya. Dengan Teo mulai gelisah. Han punya kemampuan untuk menerawang ke masa lalu, bisa jadi kedoknya sebentar lagi akan terbongkar. Namun kemampuan Han tidak berlaku untuk Irish. Karena Liong sendiri yang mengunci ingatan keduanya.
"Kuncinya.....hal yang menyatukan keduanya adalah kunci ingatan mereka." Perkataan Liong yang masih menjadi misteri untuk Teo sampai sekarang
"Punya fotonya?" Han bertanya. Irish menyerahkan ponselnya, tanpa diduga Han langsung tahu kode ponsel Irish. "Dari mana kau tahu kode ponselku?!" Cecar Irish curiga. Teo langsung memundurkan tubuhnya. Dia akan melihat, apa hari ini dua orang itu akan ingat satu sama lain.
__ADS_1
"Aku main pencet aja. Angka itu langsung muncul di kepalaku begitu aku memegang ponselmu." Dua orang itu saling pandang. "Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Irish dan Han bersamaan.
"Siapa pria ini? Password ponselku hanya Ivan dan Dea yang tahu. Itupun mereka jarang menyentuh ponselku." Batin Irish penuh tanya.
"Aku ingat sekarang, wajah Irishlah yang selalu muncul dalam mimpiku selama tiga tahun ini. Tapi kenapa? Aku dan dia tidak saling mengingat. Apa ini ada hubungannya dengan hal yang ada di luar nalar itu?" Batin Han.
Tiba-tiba saja pria itu bangkit dari duduknya. Membayar bakso ketiganya lalu beranjak pergi dari sana.
"Mau ke mana, Mas?" Teo berteriak diikuti Irish yang langsung mengikuti langkah Han.
"Mencari kebenaran."
Han pikir sudah saatnya dia mencari tahu soal dirinya dan Irish. "Aku yakin, aku dan kamu pernah bertemu dulu. Kamu percaya pada hal-hal yang tidak masuk akal kan?"
Irish mengangguk. "Termasuk jika kakakmu masih hidup?" Irish seketika menghentikan langkahnya saat Han berbisik di telinganya.
"Jangan bercanda kamu!"
"Percaya atau tidak?"
Dua orang itu kembali terlibat adu pandang. Han dengan keyakinan soal feelingnya yang jarang meleset, dan Irish yang tidak pernah menyangka, kalau dia akan mendengar satu kalimat yang bisa membuatnya paling bahagia selama 28 tahun kehidupannya.
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1