
"Kak Isaac-ku masih hidup?" Pelan Irish bertanya.
"Itu baru dugaanku. Kita akan mencari tahu nanti." Lagi percakapan bisik-bisik itu terjadi. Namun hal itu menimbulkan buncah harapan yang begitu besar di dada Irish, kakaknya masih hidup. Hampir dia melompat saking senangnya. Bayangan dia bisa memeluk Isaac seolah sudah ada di depan matanya. Seperti apa rupa kakakku sekarang? Pertanyaan itu yang kini muncul di benak Irish. Juga bagaimana reaksi keluarga terutama Ivan jika mereka tahu, Isaac masih hidup.
"Jangan terlalu berharap dulu. Kau tahu itu sangat tidak mungkin dalam dunia modern seperti sekarang. Bahkan dunia kedokteran pun tidak akan sanggup melakukannya. Menghidupkan orang mati setelah 24 tahun meninggal, yang benar saja."
Irish seperti dijatuhkan dari ketinggian bangunan Burj Khalifa, sebagai gedung tertinggi di dunia, yang tingginya mencapai 828 meter, ke dasar palung Mariana yang kedalamannya mencapai lebih dari 10.000 meter.
"Kau mematahkan hatiku, Han!" drama Irish. Wajah gadis itu berubah cepat dari bahagia ke manyun hanya dalam waktu sepersekian detik.
"Kan sudah kubilang jangan berharap terlalu tinggi. Walau....nothing is impossible, tidak ada yang tidak mungkin." Senyum Irish kembali terbit.
"Aku akan mempercayai yang terakhir. Asal bisa melihat kakakku lagi, aku tidak akan meminta apapun. Bahkan jika aku harus jomblo seumur hidupku...."
"Kalau kamu gagal nikah, aku yang bakal nikahin kamu."
"Ehhh....."
Dan percakapan absurd plus bisik-bisik itu terjadi dalam lift yang membawa mereka ke lantai 10 hotel Shine milik Han, di mana ruang kontrol CCTV berada. Teo sejak tadi pura-pura tidak mendengar. Pria itu mati-matian menahan diri untuk tidak berteriak kalau dia adalah Isaac. Sementara si pakdhe, Nanto, hanya bisa diam melihat interaksi tak biasa antara Han dan Irish.
Han menghubungi Nanto, bertanya soal dirinya pernah berada di Surabaya tiga tahun lalu, dan Nanto mengiyakan. Karena itu mereka akan mengecek CCTV, apa benar Irish dan Han pernah bertemu tiga tahun lalu.
Seorang staf mulai mencari file rekaman CCTV tiga tahun lalu, di lantai 13, sebab seingat Nanto Han tinggal di lantai tersebut. Irish langsung mengeplak lengan Han, "Jadi kau membohongiku tiga tahun lalu, kalau kau ini CEO tapi ngaku mahasiswa."
"Kan aku memang masih mahasiswa saat itu. Lagian aku belum diangkat oleh Phoo-ku....bapakku." Irish membulatkan mulutnya mendengar penjelasan Han.
Namun mereka harus menelan kekecewaan karena rekaman kamera pengawas tidak menunjukkan kalau Han dan Irish terlihat bersama.
"Ya iyalah, orang settingnya banyak di apartemennya Irish, iya gak sih thor?" batin Teo dalam hati.
Author be like, "Iyain aja deh." ðŸ¤ðŸ¤
"Coba diinget lagi, tempat yang kalian sering kunjungi. Siapa tahu ada."
"Gak inget, pakdhe." Sahut Han dan Irish bersamaan. Nanto sampai terkejut dibuatnya. "Kompak bener."
__ADS_1
Keempatnya kini duduk di sofa ruang kerja Han. Semua tampak berpikir, mencoba mengingat, kecuali Teo tentunya. Pria itu justru sedang memikirkan bagaimana caranya mendekati si sandal. Agak susah, sebab Meli si sandal, ternyata masih ABG alias SMA, ditambah lagi rumor yang beredar, kakak Meli sangat galak. "Masa gue nguber anak SMA."
Saat semua sibuk dengan pikiran masing-masing, ponsel Irish berbunyi, "Apaan?" Irish seketika menjauhkan ponsel, saat suara Ivan melengking di telinganya.
"Mbak...di mana sih? Dicariin bapak Lendra yang terhormat!" Suara Ivan benar-benar seperti toa. Irish pun menjelaskan kalau dia masih ada di Shine Hotel, "meeting"
"Meeting apa meeting. Puas aku tunggu di apartemen mbak, mbaknya nongki di sana." Amuk Ivan. Bukannya marah, Irish justru terdiam.
"Van, tolong buka lemari mbak. Cari ada tidak baju yang bukan baju mbak atau bajumu." Pinta Irish, gadis itu ingin memastikan sesuatu. Ivan menggerutu mendengar permintaan sang kakak. Namun berondong meresahkan itu menuruti apa yang sang kakak perintahnya. Tak lama, satu foto terkirim, foto sebuah kemeja yang Ivan pikir bukan miliknya atau Irish.
Irish melirik ke arah Han, menunjukkan foto kemeja itu, tapi Han tidak ingat. "Kenapa?"
"Bagaimana jika kita pernah bertemu di apartemenku?"
"Ahaaa!!!" Batin Teo, dari tadi kek.
Tak lama, tiga orang itu mulai memperhatikan laptop milik Han, menunggu kiriman video kamera pengawas apartemen Irish yang bisa diakses si pemilik unit. Dalam hal ini, Ivan yang mengirim rekaman CCTV.
"Van...."
"Liburan semester." Celetuk Han di ponsel Irish.
"Desember atau ehh...coba lihat ini."
Satu file terkirim, segera saja dibuka oleh Han. Tiga orang itu langsung kepo, terlebih untuk Han dan Irish. "Kita pernah bertemu sebelumnya." Gumam mereka berdua.
"Sepertinya kalian lebih dari sekedar teman deh." Nanto mulai berkomentar. Mereka kembali melihat rekaman itu.
"Kita pacaran?" tanya Irish, melihat ke arah Han. Dua orang itu saling pandang. Dari rekaman tersebut, jelas kalau hubungan mereka sangat dekat. "Lebih dari itu." Gumam Nanto.
Han dan Irish seketika melihat ke arah laptop, dimana sebuah rekaman sedang terputar. Irish langsung memekik, dengan Han langsung menutup laptopnya.
"Kau gila ya? Masak kamar sendiri ada kamera pengawasnya!" Maki Han langsung.
"Aku...aku...aku...." Wajah gadis itu memerah, menahan malu. Sementara Nanto nampak shock, pria itu menutup mulutnya yang menganga.
__ADS_1
"Jadi kalian sudah pernah....."
"Gak ya!" Sangkal Irish.
"Mana kau tahu? Kau tidak ingat."
Irish seketika menjambak rambutnya, frustrasi. Lalu melihat ke arah Han, sama, Han pun tengah memandang ke arah dirinya. "Kita...."
"Tidak ingat!" Teriak keduanya. Konyol sekali suasana saat itu. Mereka akhirnya tahu, mereka pernah bertemu tiga tahun lalu, tapi mereka tidak ingat apa yang pernah mereka lakukan.
Berbeda dengan semua orang yang tengah kebingungan, Ivan justru menangis. Dia perlahan ingat setelah melihat keseluruhan rekaman CCTV itu. Terlebih soal kakaknya, Isaac. Juga mbah putrinya. Kini dia tahu betul bagaimana mereka meninggal dan pergi.
"Mas Isaac ...setidaknya aku pernah bertemu walau cuma sebentar." Ivan mengusap air matanya. Dia tidak tahu pasti kenapa dua orang itu termasuk dirinya, tidak ingat soal kejadian tiga tahun lalu. Namun yang jelas sekarang dia punya alasan yang kuat untuk menggagalkan pernikahan sang kakak dengan Eric.
"Ternyata mbak Irish dan mas Han sudah menikah sejak tiga tahun lalu tapi belum pernah unboxing gara-gara Naraku sialan itu....."
"Berani kau menyebutku sialan?!"
Mata Ivan membulat melihat siapa yang muncul di hadapannya. Naraku, putra Liong itu muncul di depan Ivan. Sama sekali tidak berubah sejak Ivan melihatnya tiga tahun lalu.
"Kau adalah orang pertama yang ingatannya pulih. Tapi kau... dilarang untuk memberitahu mereka." Naraku memperingatkan.
"Ini tidak adil!" Ivan langsung protes.
"Adil atau tidak, mereka harus menemukan jalan mereka sendiri."
"Kau tidak sedang berpikir untuk mengambil mbakku lagi kan?" tuduh Ivan.
"Hati-hati kalau bicara, aku bisa marah."
"Kau memang pemarah sejak dulu." Ledek Ivan, entah kenapa berondong meresahkan itu tidak takut sama sekali dengan kemunculan Naraku. Berbeda dengan tiga tahun lalu. Naraku yang sekarang tidak sama dengan yang dulu.
***
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
__ADS_1
***