Kembar Beda Dunia

Kembar Beda Dunia
Briock dall'Inferno


__ADS_3

Beberapa waktu berlalu, baik Han maupun Irish menjalani rutinitas kehidupan mereka seperti biasa. Meski rasa itu masih mengganjal di hati masing-masing, tapi keduanya tetap tidak bisa menemukan jawaban dari segala tanya yang ada di kepala mereka.


Terlebih kesibukan keduanya sangat menyita waktu dan pikiran. Han dengan kegiatan perkuliahannya yang begitu padat di Chiang Mai University, sementara Irish dengan keruwetan berbagai masalah pabrik karena absennya Dea. Irish hanya dibantu seorang asistennya, kewalahan menghadapi kesibukan pabrik yang semakin hari kian bertambah.


Han masih dengan hobi lamanya, mengganggu jiwa penasaran yang dia jumpai di mana saja. Sekedar menghilangkan kebosanan pada hidupnya. Anugerah Han memang tidak ditarik, hanya saja mata batin Han kini selalu terbuka. Sedang Irish, sejak sang kakak pergi untuk kedua kalinya. Mata batinnya ditutup rapat oleh Liong.


"Bosannya." Gumam Han pelan. Padahal pemuda itu sedang menghadapi satu tumpuk buku dan kertas makalah. Juga berbagai tugas yang dibebankan padanya. Bukannya segera mengerjakan tugas, pemuda itu malah sibuk menggoda beberapa jiwa yang hilir mudik di kamarnya. Jiwa-jiwa itu memandang kesal pada Han, seharusnya Han takut pada rupa mereka, kenapa ini tidak. Pemuda tampan itu bahkan sejak tadi tidak henti-hentinya mengerjai mereka.


Pada akhirnya, mereka hanya bisa menggeram marah sambil melayang menjauh dari kamar Han. Bertemu Han adalah kesialan tersendiri bagi mereka. Ada ya manusia yang tidak takut pada mereka.


Han mendengus kesal. Jiwa-jiwa itu kabur dan dia tidak punya teman diajak bermain. Han memang aneh. Mau tak mau pemuda itu kembali mengerjakan tugasnya. Satu keinginannya, dia ingin lulus lebih awal. Bukan karena iming-iming dia akan dikirim ke Surabaya, tapi ada sesuatu seolah menunggunya setelah dia lulus nanti. Sesuatu yang saat Han memikirkannya menimbulkan semangat tersendiri bagi pemuda itu.


Han mulai tenggelam dalam kesibukannya, saking seriusnya dia menjadi mengantuk dan akhirnya tidur. Bagus bukan? Dalam tidurnya dia bermimpi lagi....berada di sebuah pesta pernikahan dengan seorang pria sedang menunggu kedatangan mempelai wanitanya. Pintu hall dibuka, masuklah si pengantin perempuan. Han tidak melihat dengan jelas siapa wanita itu. Sebuah cahaya menutupi wajah si wanita.


Namun satu yang pasti, ada rasa tidak rela melihat wanita itu menikah dengan pria yang menunggu di ujung sana. Baru separuh jalan, Han menghadang langkah si pengantin wanita. Lalu tanpa ragu membawanya pergi dari sana.


Gubrakkkkk


"Aduuuhhhh, mimpi ngerebut bini orang lagi!" maki Han kesal. Rupanya itu bukan pertama kalinya dia memimpikan hal itu. Han mengusap pinggangnya yang lumayan perih terkena sudut meja yang lancip. Satu pikiran masuk ke benak Han. Akankah dia ditakdirkan jadi pebinor? Plakkkk, Han mengeplak kepalanya sendiri. "Yaelah yang masih segelan aja masih banyak, ngapain juga gue mempersulit hidup dengan merebut bini orang. Walau sudah dipastikan gue pemenangnya."


Plaakkk, satu keplakan mendarat di lengan Han. "Ha? Ngomong apa barusan? Merebut bini orang? Yang bener napa Han." Suara Natalie melengking di kamar Han.


"Aduuhh Maee, ngagetin aja sih. Yang mau jadi pebinor juga siapa. Nyari yang masih pewe sama ori masih ada, meski langka."


"Lah itu tadi, ngomong merebut bini orang." Han menghela nafasnya lalu mulai menceritakan mimpinya yang entah sudah berapa kali dia mengalaminya. Natalie menyimak dengan saksama cerita Han, lama-lama kerutan di dahi Natalie semakin kentara.

__ADS_1


"Mimpi ra genah aja! Masak anak Maee yang gantengnya kayak Cha Eun Woo ini dapat bekas laki lain." Ceplos Natalie tanpa pikir panjang.


Astaga! Natalie seketika lupa siapa dirinya sebelum mengenal kata tobat. Tukang main sana sini, eh salah selingkuh dengan ayah Han saat masih berstatus istri orang.


"Idih Han juga gak mau. Han aja masih perjaka, masak dapat janda." Balas Han tak kalah gila.


"Serius masih perjaka, belum pernah muntah." Ampun, ibu yang satu ini bahasanya to the poin saja sama anak tunggalnya. Han sendiri langsung nyengir mendengar pertanyaan sang mama.


"Pernah sih, di kamar mandi sama sabun." Jawab Han konyol.


"Wooo bocah gemblung!"


"Lah emang Maee mau aku muntah di lubang mana gitu?"


"Ya enggaklah. Nanti kamu bilang gitu, yang ngantri minta kau nikahi berjajar sampai ujung komplek. Dahlah,nanti kalau ketemu yang klik langsung bawa pulang....."


Han kembali nyengir melihat Natalie sudah berdiri di depannya sambil berkacak pinggang. Emosi Natalie selalu naik saat berhadapan dengan sang putra. Dapat jiwa receh dari mana coba tu anak. Padahal seingat Natalie, dia dan suaminya banyak brengseknya timbang recehnya. Pada akhirnya Natalie keluar dari kamar Han dengan wajah dongkol.


Hufttt, Natalie menghempaskan tubuhnya di sofa. Wanita itu lalu memijat kepalanya. Bersyukur Han tidak mengikuti jejak sesatnya di masa lalu. Mendekatkan Han dan Somchai adalah keputusan yang tepat. Didikan wihara berpengaruh besar pada sifat dan karakter Han saat ini.


"Aku harap dia akan berada di jalan lurus sampai akhir." Doa Natalie dalam hati.


***


Malam menjelang puncaknya. Bulan purnama bersinar terang. Volturi membalikkan tubuhnya melihat satu sosok yang kini terbaring di ranjangnya. Menurut perhitungan dan perkiraan, malam ini adalah kelahiran putra Diavolo. Tangan kanan Diavolo itu sudah memindahkan Dea ke kamarnya. Dia sendiri yang akan menangani kelahiran sang putra mahkota.

__ADS_1


Jam di kejauhan mulai berdentang, dengan Dea yang mulai menggeliat. Rasa sakit mulai menyerang perutnya. Volturi bergerak cepat. Mengambil satu butir pil berwarna hitam. "Minumlah." Pinta Volturi lembut. Dea menatap penuh tanya, pada pria yang ia tahu selama tiga bulan ini selalu mendatanginya di rumah sakit saat malam tiba.


"Ini akan mengurangi sakitnya." Jelas Volturi. Mendengar hal itu Dea dengan terpaksa menelan pil tersebut. Benar saja, dalam hitungan detik, rasa sakit itu menghilang dengan kesadaran Dea yang juga berkurang sampai setengahnya.


Volturi lantas menyingkap kain yang menutupi perut Dea. Bagi mata awam, perut Dea rata. Namun di mata Volturi dan orang-orang yang punya mata batin, perut Dea saat ini seperti orang yang mengandung sembilan bulan. Besar.


"Tahan sebentar De." Volturi memutar tangannya, lantas mengusapkannya ke perut Dea. Dea sedikit meringis, seolah ada rasa perih yang melukai perutnya. Memang benar, boleh dikatakan Volturi tengah melakukan operasi caesar pada kandungan ghaib Dea. Untuk mengurangi sakit pada Dea juga memang ini jalan satu-satunya agar Dea dan bayinya baik-baik saja.


Petir menggelegar beberapa kali dengan rembulan langsung tertutup awan saat tangis putra Diavolo terdengar nyaring. Bayi itu menangis sesaat setelah merasakan udara di luar kandungan ghaib Dea.


Dea sendiri langsung dibuat tidak sadarkan diri oleh Volturi setelah melahirkan. Meski begitu, Dea masih sempat melihat Volturi yang menggendong bayi meski samar-samar.


"Apa yang terjadi padaku? Kenapa dia membawa bayi, apa aku baru saja melahirkan?." Batin Dea penuh tanya, sebelum benar-benar pingsan.


Volturi dengan cekatan membersihkan tubuh bayi mungil yang sorot matanya merah. Dominasi iblis sangat terasa dalam aura bayi itu. Bayi tersebut tidak berhenti menangis, sampai Volturi meneteskan darahnya ke mulut si bayi. Bagai menemukan makanannya, bayi itu menghisap jari Volturi dengan lahap. Bayi berselimut kain hitam bersulam emas itu bisa diam setelah beberapa waktu meminum darah Volturi.


"Ini adalah wasiat dari ayahmu." Volturi lantas memasukkan mutiara hitam dari Diavolo, aura manusia yang tidak seberapa itu seketika menghilang berganti dengan aura iblis yang menguasai tubuh bayi mungil itu secara keseluruhan.


"Sambutlah Briock dall'Inferno, penguasa abadi dari neraka." Petir menyambar kembali menyambar beberapa kali, seolah turut menyambut kelahiran penguasa baru dalam kerajaan iblis.


Di tempat meditasinya, Diavolo tersenyum, dia tahu putranya telah lahir. Keadaan Diavolo baru pulih seperempatnya.


****


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2