Kembar Beda Dunia

Kembar Beda Dunia
Pikiran Briock


__ADS_3

Irish menatap canggung pada Han yang duduk di hadapannya sambil melipat tangan. Sesekali terdengar suara Irish bersin. Buah dari nyebur ke kolam hari itu, Irish jadi flu, demam seharian. Awalnya Han cukup bersimpati, tapi teringat ini ulah sang pakdhe dan Irish begitu mudah masuk jebakan Nanto, membuat Han kesal.


"Hacchhiiiii."


"Aissshhhhh!!"


Han menyodorkan tisu pada Irish. Wajah dan hidung gadis itu memerah. Irish belum sembuh dari demamnya. Namun gadis itu bersikeras ingin melakukan meeting dengan Han sendiri.


"Maaf." Irish kembali memakai maskernya.


Han menggeleng pelan. Berusaha menepis kekesalan pada Irish. Bagaimanapun juga ini bukan sepenuhnya salah Irish. Gadis itu hanya terlalu polos untuk hal yang berhubungan dengan lelaki. Aneh sekali, dalam pikiran Han, untuk wanita seumuran Irish bukannya mereka harusnya sudah banyak pengalaman soal berhubungan dengan lawan jenis.


Namun Irish tidak. Han bisa melihat bagaimana Irish seolah membuat pagar tinggi tiap kali berjumpa dengan pria. Apa wanita ini melakukannya untuk sang tunangan? Entahlah.


"Maaf Mbak, Mas lama." Teo hadir di tengah-tengah kecanggungan Han dan Irish. Pria itu tersenyum, pada akhirnya dua orang ini bisa bertemu.


"Mas Teo, bisa pesankan teh panas. Puyeng..."


"Siap, mbak."


Teo kembali keluar setelah menata dua berkas di hadapan dua orang itu. "Ngapain maksain diri kalau masih sakit."


"Sebentar thok. Ini final decision. Sebelum masuk produksi, aku ingin dengar apa yang kamu inginkan soal seragam hotelmu. Tiga tahun lalu kamu pernah mengajukan...."


Tiga tahun lalu? Dua orang itu saling pandang. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya dua orang itu bersamaan. Sekian detik keduanya diam. Hingga sakit kepala menyerang keduanya.


"Kalian kenapa?" Teo bertanya panik melihat dua atasannya meringis sambil memegang kepala masing-masing. Beberapa kilasan kejadian seperti masuk ke ingatan Han dan Irish.


"Apa ini?" Irish bertanya dalam hati. Kepalanya perlahan mereda sakitnya saat dia meletakkan di atas meja. Parahnya Irish, tiap dia sakit kepala, itu akan berimbas pada perutnya, rasa mual juga rasa ingin muntah. Gadis itu buru-buru meminum teh panas dari Teo.

__ADS_1


"Mbak itu panas banget." Teo berteriak cemas. Irish harus muntah, dengan begitu sakit kepalanya akan reda. Benar saja pancingan Irish berhasil, gadis itu berlari ke wastafel yang ada di ruangan Han. Mengeluarkan isi makan siang yang baru dia santap bersama Dea.


"Kita lanjutkan lain kali saja....."Jari Han serasa tersengat aliran listrik saat menyentuh kulit leher Irish. Satu tangannya, ia gunakan untuk menyingkirkan helain rambut yang menutupi wajah Irish. Saat kulit mereka bersentuhan, Han memejamkan mata. Pikiran pria itu seolah terhisap ke sebuah ingatan di mana, samar-samar dia melihat dirinya dan Irish di masa lalu.


"Aku pernah bertemu Irish sebelumnya."


Batin Han, satu kilauan mengganggu penglihatan, dan sebentuk cincin menarik perhatian Han. Cincin yang dipakai Irish, pria itu melepaskan tangannya pada Irish, saat kepalanya seperti dihantam bogem mentah.


"Mas, tidak apa-apa?"


"Pusing Teo." Irish terlihat mencuci mulutnya. Lalu berjalan gontai ke sofa, di mana Han juga duduk berada. "Sorry menularimu." Kata Irish singkat. Gadis itu duduk menyamping dengan kaki ditekuk. Serta dua tangan Irish memeluk kakinya sendiri. Kepala gadis itu bersandar di sofa.


"Gagal deh meetingnya." Gumam Irish. Dia ingin segera menyelesaikan pesanan Han, sebab setelah ini dia mulai disibukkan dengan hal lain. Seperti.... persiapan pernikahannya. Menikah? Irish menghembuskan nafasnya kasar mengingat hal itu.


Sedang Han, di kepala pria itu kembali teringat cincin yang dipakai Irish. Dia ingat pernah memiliki cincin seperti itu. Pemberian seorang biksu dari wihara di kota Bangkok. Biksu itu mengatakan, cincin itu hanya ada satu di dunia. Jika ada seorang gadis yang memakainya bisa dipastikan jika itu pemberian Han.


"Kamu dapat cincin itu dari mana?" Tanya Han, ikut duduk menyamping, menghadap Irish.


"Ayolah, lama sekali kalian ingatnya." Gemas Teo.


"Hei, kau tidak boleh ikut campur urusan mereka. Nikmati saja harimu!" suara Liong terdengar di kepala Teo. "Iya....iya...." Balas Teo kesal. Dia sama sekali tidak boleh membantu memulihkan ingatan Han dan Irish.


Han terlihat memandang Irish untuk waktu yang lama, sampai dia melihat sekelabatan satu jiwa ingin menyentuh Irish. "Jangan mengganggunya!" Sorot mata kehijauan milik Han, membuat jiwa itu kabur begitu saja. Aura Han masih sama dengan dulu. Kuat dan mendominasi sekaligus melindungi.


Pria itu kembali melihat ke arah Irish, kini Han sadari, ada satu perasaan bahagia saat Han menatap Irish. Gadis yang kini sepertinya sudah terlelap. "28 tahun tapi kelakuan belasan." Lirih Han, teringat bagaimana malunya Irish saat memakai bathrope saja hari itu.


Cling, lagi-lagi kilauan cincin Irish mengganggu Han, haruskah dia menyelidiki Irish. Gadis yang sebentar lagi akan jadi istri orang. "Issshh, masak beneran sih aku jadi pebinor?"


**

__ADS_1


**


Di istana dingin, Briock tampak diam sambil menempelkan tubuhnya di dinding batu tembok kastil bergaya abad pertengahan itu. Sejak tadi vampir muda itu mendengarkan pembicaraan dua prajurit yang sedang berjaga di depan kamarnya. Bermaksud ingin masuk ke kamarnya, Briock justru mendengar pembicaraan yang menarik perhatiannya. Pembicaraan soal sang ayah.


"Apa kau dengar rumor akhir-akhir ini?"


"Soal raja Diavolo?" Yang lain mengangguk. Dua prajurit itu lantas mulai bergosip. Awalnya biasa saja. Sampai dia mendengar soal "ibunya"


"Yang aku dengar ibu pangeran Briock adalah manusia. Dan parahnya raja Diavolo meninggal karena dibunuh wanita itu."


Bagai tersambar petir, Briock terkejut akan fakta ini. Ibunya seorang manusia, dan ibunya sendiri yang sudah melenyapkan sang ayah? Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!


Briock menghilang dari tempat itu. Muncul di kamar sang ayah. Remaja tanggung berwujud pria dewasa itu mulai menelisik kamar sang ayah. Memang ada aura manusia di sana. Mungkinkah benar apa yang dikatakan oleh dua penjaga tadi? Briock kembali berkeliling, membuka laci di samping tempat tidur sang ayah. Hingga dia menemukan satu anting berbentuk bulan sabit. Lagi-lagi, aura manusia yang melekat di benda khas milik wanita itu.


"Jika benar ibu sendiri yang membunuh ayah. Aku akan membalasnya." Gumam Briock. Di usianya yang masih muda, Briock belum mampu menggunakan kemampuan nalarnya untuk berpikir jernih, seperti melihat sebuah kejadian dari sudut pandang yang berbeda. Bukan menilai suatu masalah dengan amarah.


Di kamar Irish, wanita itu menghembuskan nafasnya dalam. Melihat satu buah anting berbentuk bulan sabit dalam satu kotak penyimpanan khusus. Gadis itu berpikir, di mana dia menghilangkan anting itu. Itu adalah hadiah dari sang tante, Lira, saat dirinya ulang tahun ke tujuh belas.



Kredit Pinterest.com


"Ini adalah anting-anting pembawa keberuntungan." Kata sang tante waktu itu.


"Ini kalau tante Lira tahu aku menghilangkannya. Bisa ngambek tujuh hari tujuh malam tu tante kece."


Akankah Briock menganggap Irish ibunya lalu membalaskan dendam ayahnya, yang sebenarnya masih hidup? Pikiran Briock tidak bisa ditebak saat ini.


***

__ADS_1


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***


__ADS_2