Kembar Beda Dunia

Kembar Beda Dunia
Kalah


__ADS_3

"Kalian kenapa sih?" Sebuah suara terdengar di belakang mereka, Ivan menoleh lalu menarik tangan sang mama untuk ikut berpelukan. Mereka pada akhirnya mengambil foto keluarga lebih dulu, dengan Teo yang ditarik untuk kembali ikut berfoto. Haru, pria itu kembali ingin menangis saat dia diminta Ivan untuk berfoto bersama Lendra dan Livia, dengan alasan Teo yang yatim piatu tidak pernah punya kenangan dengan orang tuanya.


"Aku ngomongnya mas Teo lo ya, bukan mas Isaac." Batin Ivan, karena memang benar, Teo yang asli... yatim piatu.


Pintu ballroom di buka, Livia tersenyum lebar saat lagi-lagi si bungsu berulah. Jika pengantin biasa diiringi bridemaids dan groome, ini tidak. Di luar rencana, keluarga Aditama sendiri yang mengantar Irish ke tempat pemberkatan, sekaligus pelaminan.


Di dalam venue, Vina tampak tersenyum lebar, setelah mendapat kabar yang menyenangkan dari Vivian. Meski wajahnya terlihat pucat, karena semalam Sai menyedot habis energi spiritual dan darahnya, tapi Vina tidak ingin melewatkan kesempatan melihat Irish menangis darah di hari pernikahannya, karena pengantin pria hilang.


"Rasakan kau perawan tua!!" Maki Vina dalam hati, tak lama lagi Vina yakin kalau hidup Irish akan hancur berantakan. Janji kosong yang diucapkan Sai tiap kali mereka bercinta. Vina yang bodoh, terlalu percaya pada janji manis seorang iblis.


Musik mulai mengalun, Lendra membimbing Irish yang sama sekali tidak mau melihat ke arah depan. Tangan gadis itu memegang erat lengan sang papa. Di belakang mereka, terdengar gumaman, "Mama jadi merasa paling cantik malam ini." Livia berceloteh lirih, di kiri dan kananya ada Ivan dan Teo yang mengapit dirinya. Benar-benar sempurna skenario yang Ivan rancang. Mengikuti langkah mereka ada Lira dan Hugo (adik dan adik ipar Lendra), kemudian di ditutup dengan Shanon dan Shania, putra Lira dan Hugo.


Bisik-bisik mulai terdengar, sebab di ujung sama memang tidak ada Eric atau siapapun yang menunggu Irish. Lendra menghela nafas, mencoba berpikir positif.


Mereka sudah separuh jalan ke arah pelaminan, saat MC acara meminta Lendra dan yang lainnnya berhenti. Vina tersenyum semakin lebar, dia sangat menikmati saat-saat Irish akan dipermalukan karena absennya Eric di acara pernikahan mereka. "Rasakan kau gadis kolot!" Batin Vina senang. Dia yakin kalau Vivian berhasil menahan Eric.


Kasak kusuk kembali terdengar saat seorang pria naik ke panggung, berjalan ke arah Lendra. Bisikan para tamu sebagian besar memuji paras tampan pria yang jelas bukan Eric. Senyum Vina seketika pudar, melihat siapa pria rupawan yang kini melangkah mendekati Irish.


"Kok dia. Bagaimana bisa?" bisik Teo dan Ivan bersamaan.


"Ya bisalah. Kenapa tidak bisa?" Livia yang membalas keheranan Ivan dan Teo. Seolah wanita itu sudah tahu akan kejadian ini.


"Tidak ingin melihat calon suamimu?" goda Lendra pada Irish. Gadis itu menggelang pelan. Benar-benar tidak ingin melihat wajah Eric.

__ADS_1


"Maaf, bukannya saya tidak sopan. Tapi saya ingin menjemput istri saya, bukan menunggu Anda mengantarkannya pada saya." Mata Irish membulat mendengar suara yang sudah tiga hari ini tidak dia dengar.


"Yohan Aditya yang akan menikahimu." Bisik Lendra di telinga Irish. Netra Irish serasa ingin melompat dari tempatnya. Jantung gadis itu berdebar begitu kencang, mendengar nama Han disebut oleh sang ayah.


Perlahan Lendra mengurai pegangan Irish pada lengannya lantas memberikannya pada tangan Han. "Aku titipkan putriku tersayang padamu. Belahan hatiku selain ibunya, tentunya. Berjanjilah untuk menepati ucapanmu saat melamarnya tadi."


"Aku berjanji." Balas suara itu yakin.


"Terima kasih sudah datang tepat waktu." Bisik Lendra saat memeluk Han. Han tersenyum, "Maaf jika saya sedikit terlambat." Irish mengangkat wajahnya, sejenak meyakinkan diri kalau yang ada di hadapannya adalah Han.


"Kenapa?" Lirih Han, Irish menggeleng pelan, tidak berani memandang wajah Han lagi. Keduanya mulai berjalan menuju ke tempat pemberkatan. Hanya isak lirih Irish yang terdengar di telinga Han. Entah apa yang sedang Irish rasakan.


"Kenapa berhenti?" Irish bertanya, saat Han menghentikan langkahnya.


"Kenapa menangis? Katakan jika kamu tidak ingin menikah denganku. Aku akan mundur." Pertanyaan Han segera dijawab gelengan cepat oleh Irish.


Han mengembangkan senyum, lalu melangkah kembali. Menyeimbangkan langkah Irish yang Han tahu kesusahan. Heels itu pasti menyiksa Irish. Kalau tahu dirinya yang akan naik pelaminan, dia akan meminta Irish memakai flat shoes atau sneaker favorit gadis itu.


Jantung Irish semakin kencang berdetak, saat sepuluh menit kemudian, statusnya berubah menjadi seorang istri. Tangis Irish pecah kembali saat Han membuka veil-nya lantas mencium keningnya, setelah pria itu menyematkan cincin pernikahan di jarinya.


Detik berikutnya, gadis itu terisak dalam pelukan Han. Dengan pria itu berkali-kali mencium puncak kepala Irish. Terlihat sekali bagaimana perasaan Han pada Irish yang begitu dalam. Hari yang tidak pernah terbayangkan dalam hidup Irish. Dia menikah dengan Han bukan dengan Eric.


"Ibu....." Irish memeluk Livia, kembali tangis yang sempat reda itu terulang. Livia tampam mendekap Irish erat. Putri kesayangan, tiada duanya. "Semoga bahagia, Nak."

__ADS_1


"Mas Han harus cerita bagaimana bisa menikah dengan mbakku." Ancam Ivan galak. Han berbisik rahasia, membuat Ivan manyun jadinya. Selanjutnya banyak anggota keluarga yang mengucapkan selamat pada dua pengantin baru.


Semua berjalan lancar sampai satu teriakan terdengar dari arah pintu ballroom. "Yohan Aditya!!! Apa yang kau lakukan?!!"


**


Di tempat lain, tampak Eric yang bersimpuh di depan Bian dan Mia. Dua orang itu marah luar biasa pada tingkah Eric. Meski Bian sudah memperingatkan Eric soal perasaannya pada Irish yang sulit berbalas. Namun mengkhianati Irish dengan tidur bersama wanita lain, Bian sungguh tidak habis pikir.


"Maafkan Eric, Pa. Eric salah." Bian sama sekali tidak bisa menjawab. Sedang Mia, wanita itu juga hanya bisa menangis pilu. Hanya celotehan sang adik yang membuat Eric bertambah merana. "Mas ini, disuruh dapatin berlian kok malah milih kreweng (pecahan genting). Gak level sama sekali!"


"Sudah Rika. Masmu lagi sedih."


"Mas sedih juga karena salahnya sendiri. Kalau dia tahan goda, mbak Irish pasti akan mencoba mencintai Mas, tapi ini...biarlah kan yang penting mas sudah dapat DP-nya, nah bayar sampai lunas." Erika menghembuskan nafasnya kasar. Tidak habis pikir, di mana lebihnya perempuan yang bernama Vivian itu.


"Jelas cantik mbak Irish ke mana-mana." Gumam Erika lagi. Mia segera menenangkan Erika, jika tidak gadis 20 tahun itu akan semakin panjang mengomelnya.


"Papa tidak akan tahu kelakuanmu jika Yohan Aditya tidak memberitahu kami."


Mendengar nama Yohan Aditya disebut sebagai biang kerok gagalnya pernikahannya dengan Irish, membuat Eric geram. "Jangan pernah menyalahkan Yohan Aditya. Andai Papa tahu kelakuanmu, papa juga tidak akan mengizinkanmu menikahi Irish. Dia pantas mendapatkan pria yang lebih baik. Akui kesalahanmu, berusahalah untuk legowo. Irish bukan jodohmu." Nasihat Bian.


Eric tersenyum kecut, merasa kalah.


***

__ADS_1


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak ya, terima kasih.


***


__ADS_2