
Kredit Pinterest.com
Byuuuuurrrr
Irish langsung terjun ke dalam kolam renang. Di mana dilihatnya Han yang terapung dengan posisi tengkurap. Masih lengkap memakai kemeja dan celana panjangnya. Panik langsung menghampiri hati Irish, mengira Han tenggelam.
Sedang Han, begitu mendengar suara orang masuk ke air, pria itu seketika mengubah posisinya. Cukup terkejut melihat siapa yang tengah berenang ke arahnya. Han segera menepi, meninggalkan Irish yang terpaku di tempatnya.
"Ngapain kamu?"
Dua orang itu bertanya bersamaan. Dengan Irish langsung menelan ludahnya. Melihat dada bidang Han yang mengintip dari balik kemeja putih basah pria itu.
"Bagaimana kamu bisa masuk? Ngapain kamu pakai ikutan nyemplung segala?" tanya Han sambil melepas sumbat di telingannya. Pria itu menatap tajam pada Irish dengan dua tangan berada di tepian kolam renang.
"Pantes dia budeg, kupingnya disumpal." Batin Irish.
"Malah diam!"
"Ahhhh, itu Om Nanto yang memberiku password unitmu. Katanya kalau dipencet bell gak segera dibuka. Masuk saja."
"Dan kamu nurut aja?!" suara Han agak meninggi, membuat Irish segera menundukkan kepala. Sadar dia sudah berbuat salah. Gadis itu melihat ke arah dirinya sendiri. Apes benar hidupnya. Basah dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ingin menangis rasanya mengingat sepatu mahal yang tengah dipakainya. Ditambah dia mulai kedinginan. Untung ponselnya ada dalam tasnya.
"Maaf. Aku pikir kamu tenggelam. Jadi aku langsung nyebur." Balas Irish sendu.
Han menghela nafasnya, melihat tampilan Irish. Basah kuyup dengan bibir mulai membiru. Fix, Irish mulai kedinginan. Han keluar dari kolam renang. Berjalan ke kamar mandi terdekat. Mengganti pakaiannya lebih dulu dengan bathrope, lalu mencari handuk kering juga bathrope lain.
"Naiklah." Irish tampak memeluk lengannya sendiri. Dengan bibir bergeletuk. Perlahan menepi. "Aku bisa berenamg, gak bakal tenggelam. Kau sendiri lihat air kolam itu cuma sedadaku." Oceh Han, sambil berjongkok di tepi kolam renang. Menunggu Irish naik.
__ADS_1
Irish tampak kikuk melihat tampilan Han. Untuk pertama kalinya dia merasa berdebar-debar di dekat seorang pria.
"Keringkan dulu rambutmu. Pakai sandal ini. Licin. Ganti bajumu di sana."
Serentetan perintah dari Han membuat Irish melongo. Cerewet sekali pria ini. Meski begitu Irish menurut. Mengeringkan rambut, lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Sandalnya...."
"Nanti basah...."
"Licin...."
"Nanti aku pel!" Brakkkk, Irish menutup pintu kamar mandi. Menarik nafas lantas menghembuskan kasar. Mata Irish melotot, melihat pakaian Han yang berserakan di lantai kamar mandi. Pria itu asal membuangnya. "Joroke!!!!" Irish memungut setengah enggan pakaian Han, lalu memasukkannya ke keranjang pakaian kotor pria itu. Sedikit menutup mata saat harus menyentuh pakaian dalam Han
"Woealh... dah kaya laki bini aja kalau gini caranya." Maki Irish. Nah sekarang giliran dia yang bingung. Hanya ada bathrope tanpa baju ganti. Ya Tuhan, ini hari paling sial dalam hidup Irish. Masak iya dia keluar dengan bathrope thok. Yo ndak etis to.
Dia dan Han baru saja kenal, sekali bertemu saat Irish masih shock karena pertunangannya. Merampok pria itu, minta dibelikan ini dan itu. Aduuhh, rasanya Irish malu setengah mati kalau ingat hari itu. Mana jas milik Han masih tergantung di lemarinya, belum dia kembalikan.
Han sendiri sudah menghubungi Nanto, dan pria itu memang mengaku kalau semua ini ulahnya. "Pakdhe dia sudah tunangan."
"Baru tunangan belum married. Lagian Ivan bilang Irish tidak cinta sama Eric." Wah si pakdhe rupanya sudah ada kolaborasi dengan Ivan, si berondong meresahkan.
Kalau tidak cinta kenapa bertunangan. Han melihat barang-barang Irish ada di kursi tamu. Han menoleh saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. "Laundry- nya di mana?" Rasanya Irish ingin tenggelam ke dasar laut. Malu, berhadapan dengan seorang pria yang baru dia kenal, hanya memakai bathrope. Ivan saja jarang melihatnya pakai begituan.
"Minum dulu." Han mendorong satu cangkir minuman teh yang asapnya masih mengepul. Pria itu terlihat tidak terganggu dengan tampilan Irish yang mungkin terlihat seksi bagi sebagian orang. Gadis itu beberapa kali menutupi dadanya, takut pucuk dadanya menempel di bathrope.
"Baju ku dulu, biar cepat kering." Irish bersikeras. Han pun menunjuk area di belakang dapurnya. Irish bergegas ke sana. Wahhh, pria itu ternyata mencuci baju sendiri. Irish cepat-cepat memasukkan bajunya dan juga...pakaian dalamnya kedalam alat steamer mesin cuci Han. Bertaruh kalau pakaian dalamnya akan melar setelah ini. Beberapa kali Irish menghindari melihat jemuran Han.
Aiiisshhh, Irish benar-benar merutuki nasib sialnya hari ini. "Tinggalkan saja. Setel di angka 15 nanti keluar kering sempurna."
__ADS_1
Irish mendengus mendengar teriakan Han. Berjalan penuh rasa canggung ke arah meja mini bar di dapur Han. Meminum teh yang ternyata masih panas. "Pelan-pelan, lidahmu nanti terbakar." Han memperingatkan Irish yang nampak tergesa-gesa meminum tehnya.
Rasa hangat mulai terasa, menyebar dari tenggorokan ke seluruh tubuh Irish. Mengusir hawa dingin yang sebentar lagi bisa saja menumbangkan daya tahan tubuhnya.
"Maaf....." Kata Irish setelah terdiam beberapa waktu. Terlalu asyik menikmati tehnya.
Terdengar helaan nafas dari hadapan Irish. Terlihat Han yang nampak tersinggung, ada orang yang menerobos masuk ke apartemennya. Meski untuk Irish, rasanya dia tidak marah, hanya tidak menduga kalau gadis itu dengan mudah mengikuti perintah pakdhenya.
Di tempat lain, tampak Teo yang tengah berlari, mengejar seseorang yang sudah dia tunggu tiga tahun ini. Meli, Teo atau Isaac merasa melihat sekelebat sosok Meli berjalan di antara banyaknya orang yang berlalu lalang di trotoar. Meli tidak memakai gaun seperti yang Meli pakai saat dia pergi.
Sepertinya Meli sama seperti dirinya, mendapat kesempatan untuk melanjutkan hidup seseorang. Jika tidak, mana mungkin dalam tiga tahun tubuh Meli sudah tumbuh setinggi itu.
"Liong....kenapa kau menyiksaku seperti ini?" teriak Teo. Pria itu berhenti dengan tangan bertumpu pada sebatang pohon. Angin tiba-tiba berhembus kencang. Dengan langit berubah mendung. Hawa dingin mulai menyelimuti sekeliling Teo.
"Hadeuuuh, nongol ya nongol aja. Jangan buat aku masuk angin." Gerutu Teo.
"Isshhh kau ini. Aku mau marah jadi tidak bisa." Liong muncul di hadapan Teo. Seorang pria dengan aura surgawi yang begitu terasa. Juga tampilan penuh wibawa, yang kadang kontras dengan kelakuan roh dewa naga ini.
Teo sendiri langsung duduk selonjor di hadapan Liong, yang tampak tersenyum, melihat kelakuan konyol kakak Irish ini.
"Mereka sudah menyadarinya?" Liong bertanya santai.
"Aku kan tidak boleh berinteraksi dengan mereka. Kecuali Ai yang sering ketemu karena urusan bisnis." Balas Teo sengit.
"Aku kan tidak menyuruhmu menjauhi mereka, hanya di larang memberitahu kalau kau adalah Isaac."
Bola mata Teo serasa ingin melompat keluar. Perasaan kemarin peraturannya tidak begitu. Apa sekarang sudah berganti. "Kau sengaja mengerjaiku ya?"Marah Teo pada Liong.
***
__ADS_1
Up lagi readers tercinta. Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
***