
Irish yang terkenal bar-bar, langsung merangsek masuk. Setelah merasa yakin itu mobil Eric. Gadis itu menggedor pintu rumah tersebut. Eric dan Vivian jelas kelabakan, berdalih untuk yang terakhir kalinya, Vivian minta Eric untuk datang ke rumahnya. Rupanya Teo bertetangga dengan Vivian, tanpa mereka tahu.
Suara bak toa, berteriak memanggil Eric. Pria itu panik, tidak menyangka jika Irish akan menemukannya di sini.
"Duo itu cerdik juga ya." Gumam Naraku di samping Liong.
"Jaga matamu!" Desis Liong. Rupanya ayah dan anak itu tetap mengawasi anak asuh mereka. Naraku seketika melengos mendengar peringatan sang ayah.
"Kau dan dia sama-sama tidak bisa move on ya dari perempuan yang namanya Irish ini." Geram Liong.
"Cinta tidak bisa dipaksa move on yah, mengertilah. Setidaknya aku tidak mengganggunya lagi." Balas Naraku sok drama.
Satu tatapan dari Liong berisi satu peringatan keras pada Naraku. Perhatian dua orang itu teralihkan saat terdengar pintu ditendang, "Ai...Ai....jangan keterlaluan." Ivan menarik tubuh Irish menjauh dari pintu. Dengan kekuatan Irish, benda persegi itu bisa saja jebol. Sedang Teo hanya bisa menghela nafas pelan. Adiknya tidak berubah sama sekali.
Pintu terbuka dan terlihatlah Eric yang keluar bersama Vivian. "Kalian ngapain berduaan di dalam malam-malam begini?" cecar Irish.
**
**
__ADS_1
Irish menendang sofa rumah Teo, dua pria yang lain langsung melonjak kaget. "Sial! Tidak ada bukti kalau mereka berbuat aneh atau mencurigakan." Gerutu Irish.
Mereka gagal mendapatkan bukti kalau Eric dan Vivian melakukan hal buruk. Saat mereka masuk di meja ruang tamu bertebaran berkas-berkas yang berhubungan dengan pekerjaan Eric dan Vivian. Berdalih sedang mengerjakan proyek bersama, jadi Eric datang ke rumah Vivian sebelum dia mengambil libur berkaitan dengan pernikahan Eric dan Irish.
"Ini terus bagaimana Mas?" tanya Ivan cemas. Lusa adalah pernikahan Irish dan Eric dan mereka belum menemukan jalan keluar untuk lari dari pernikahan ini.
"Aku kabur aja ke tempat uncle Christo, dia pasti mau mengerti." Usul Irish.
"Kurang jauh, kalau mau lari ke Shanghai no, banyak tempat persembunyian di sana. Siap ada klan Liu lagi." Ide Ivan malah semakin gila.
"Ogah mbak ke Shanghai." Tolak Irish tegas.
"Tenang aja, Kak Zio lagi patah hati. Ceweknya mati. Dia gak mood ngejar mbak lagi."
"Ha? Serius?" Lah dua adik beradik itu malah sibuk ngobrolin Zio yang ditinggal mati pacarnya. Bukannya membahas soal cara membatalkan pernikahan Eric dan Irish.
Di tempat Eric dan Vivian, dua orang itu baru saja selesai melakukan sandiwara mereka. Padahal satu ronde panas sudah mereka lalui. Sungguh keterlaluan. "Aku tidak akan melepaskanmu. Lihat saja, kejutan apa yang akan datang di hari pernikahanmu." Batin Vivian sambil mengenakan bathrope untuk menutupi tubuh polosnya. Sembari melihat punggung Eric yang keluar dari rumahnya.
Terdengar pria itu memanggil Irish yang ada di rumah Teo. Irish terpaksa pulang bersama Eric, dengan wajah ditekuk sepuluh. "Setelah ini, aku berjanji akan setia padamu." Batin Eric memandang wajah masam Irish. Perlahan pria itu meraih tangan Irish lantas menggenggamnya. Cinta Eric hanya untuk Irish, tapi dia tidak bisa menahan godaan saat disuguhi tubuh polos Vivian. Pria plin plan yang tidak bisa dijamin kesetiaannya.
__ADS_1
Sementara itu, Han tengah menerima telepon dari sang Maee. Wanita cantik itu mengabarkan akan datang lusa, katanya rindu dengan anak lanang kesayangan. Plus wanita itu sedang ingin mengabulkan ngidamnya. Ya, Natalie tengah mengandung. Di usia yang hampir memasuki kepala 5, Natalie dinyatakan hamil. Satu kabar yang membuat Han...shock. Di usia hampir 22 tahun dia akan punya adik. Tapi Han juga tidak bisa apa-apa. Mengingat sang ibu sangat menginginkan seorang adik, terlebih dia tidak akan ada di Chiang Mai untuk waktu yang lama, bahkan selamanya.
"Kebetulan lusa ada resepsi di ball room. Maee mau tinggal di mana?" Han bicara sambil memainkan laptop di depannya. Pria itu tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Membayangkan pernikahan Irish dan Eric, dia sama sekali tidak rela. Dia ingin menggagalkan pernikahan mereka tapi bagaimana caranya.
"Tidak ada cela dari orang ini." Gumam Han setelah sang mama memutuskan sambungan teleponnya. Han menatap undangan berwarna biru yang ada di hadapannya. Dekorasi dengan tema mystique blue sudah siap 50% di ballroom hotelnya.
"Aku harus mencari aib di mana?" Di tengah kebingungan Han, pria itu tampak memejamkan mata bersandar kursi kerjanya. Samar-samar dia mendengar obrolan beberapa hantu yang kebetulan lewat di dekatnya.
"Bos lagi galau." Yang lain menyahut membenarkan. Tak berapa lama ide muncul di kepala Han. Para hantu itu bisa pergi dan muncul di mana saja. Mereka bisa jadi mata-mata yang super akurat.
"Hei kalian, mari sini." Satu perintah Han membuat para hantu itu saling pandang. Namun mereka menurut juga. Detik berikutnya negosiasi tidak wajar antara manusia dan hantu pun terjadi. Tidak lama, karena ada satu hantu yang melihat aksi Han menghancurkan kalung milik Yuda beberapa hari lalu. Hantu itu takut kalau Han akan membebaskannya.
Deal! Para hantu itu setuju dengan perintah Han. Mereka melayang keluar dari kantor Han. Pria itu berharap kalau detektif hantunya akan menemukan aib Eric. Hingga pernikahan Irish bisa digagalkan. Jika tidak, Han mungkin nekad akan melakukan hal yang sudah lama muncul di mimpinya. Membawa kabur Irish.
***
Up lagi readers, jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.
***
__ADS_1