Kembar Beda Dunia

Kembar Beda Dunia
Saran Volturi


__ADS_3

Han menatap tajam pada Volturi yang berdiri di hadapannya. Pun dengan Teo. Volturi memundurkan langkahnya, cukup terkejut dengan kemunculan Han setelah tiga tahun menghilang. Liong tidak menghilangkan ingatan Volturi dan Diavolo.


"Mau apa kau?!" tanya Han. Volturi sejenak heran. Apa Han tidak ingat dirinya. Secara pribadi dia dan Han memang tidak pernah bertemu. Namun Han jelas tahu kalau dirinya anak buah Diavolo, raja iblis yang berulangkali bertarung dengan Han.


"Aku tidak melakukan apa-apa." Balas Volturi santai, satu sudut matanya menangkap aura dari Briock. Apa ledakan tadi ulah Briock? Kenapa Briock marah?


Sementara Teo langsung membantu Irish dan Dea yang bersembunyi di bawah meja. "Sudah aman, mbak." Teo berkata sambil memeriksa Irish dan Dea.


"Apa yang terjadi?" tanya Dea. Dia merasakan kehadiran Volturi, tapi dia tidak bisa melihat wujud Volturi. Mata Teo berubah biru. Pria itu memindai ruangan itu dan melihat Volturi berdiri di hadapan Han.


Namun bukan hal tersebut yang menarik perhatian Teo, tapi aura lain yang terasa di tempat itu, aura vampir. "Kemarin raja iblis, lalu ada anak terbuangnya Liong, dan sekarang vampir."


"Gak tahu mbak. Kacanya pecah." Jawab Teo singkat. Pria itu segera berdiri di samping Han. Melihat tajam pada Volturi yang seketika teringat pada Isaac, jiwa yang dulu mengabdi pada Diavolo. "Jadi dia hidup di raga itu." Batin Volturi.


"Pergi dan jangan pernah mengganggu lagi!" Han memperingatkan Volturi yang langsung menghilang dari tempat itu. Setelah Volturi tidak terlihat, Han langsung berbalik melihat ke lihat Teo.


"Siapa kau?" tanya Han to the poin. Han segera memindai tubuh Teo, ada aura yang terasa begitu dekat dengannya. "Apa kamu juga tidak akan mengingatku?" Batin Teo kepo.


Han merasakan sakit di kepalanya, tapi pria itu berusaha menahannya. "Apa kamu bisa melihat hantu dan sejenisnya?" tanya Han lagi.

__ADS_1


Teo sesaat terdiam, sampai anggukan kepala menjawab pertanyaan Han. Kehebohan segera terjadi di ruang kerja Irish. Di mana Irish dan Dea antusias bertanya, apa ada hantu di tempat mereka. Sementara Han dan Teo hanya menjawab tidak ada. Takut kalau dua perempuan tersebut jadi takut karenanya. Namun bukan Irish namanya jika tidak mampu melakukan nego dengan baik. Terlebih dengan Han, pria yang sedikit banyak membuat Irish tertarik.


"Nggak ada yang seperti itu!" Bantah Han untuk kesekian kalinya. Irish tentu tidak percaya begitu saja. Entah kenapa Irish tidak merasa takut dengan hal seperti itu. Justru Irish sangat penasaran dengan makhluk tak kasat mata. Han dibuat kerepotan dengan ocehan Irish. Padahal tujuannya ke sini untuk menambah jumlah pesanannya.


Teo mengulum senyumnya, teringat bagaimana beraninya Irish dulu saat melawan jiwa penasaran yang mengganggu. "Aku rindu masa-masa itu." Batin Teo terdiam sambil memperhatikan Han dan Irish yang masih sibuk berdebat.


"Gak ada!" Tegas Han. Keduanya sudah berada di ruang produksi, untuk melihat proses pembuatan seragam hotel Han. Sembari memeriksa pekerjaan stafnya, dua orang itu masih sibuk berdebat. Dengan Teo hanya bisa diam menyimak. Keduanya keluar dari ruang produksi yang sangat luas mirip lapangan dengan ratusan mesin jahit dan staf yang tengah bekerja. Mereka sesekali melirik ke arah Han. Kepo dengan ketampanan pria itu. Jarang sekali ada pria tampan nyasar ke sana. Ini hal langka, juga anugerah buat mata mereka.


Han tiba-tiba menghentikan langkahnya di depan sebuah gudang. "Tempat apa ini?" tanya Han. Irish melirik tulisan di atas pintu besar itu, dengan Han ikut melihatnya. Gudang penyimpanan perlengkapan untuk teknisi mesin jahit.


"Apa sering kosong?" Irish menjelaskan, ruangan itu hanya dibuka jika ada keperluan mengambil alat untuk membetulkan mesin jahit yang bermasalah. "Ada apa?" tanya Irish. Han melihat ke arah Teo. Sepertinya pria itu sepemikiran dengan Han.


"Mari kita lihat." Ajak Han iseng, dia mulai bosan, karena para hantu lebih memilih menghindarinya. Hantu di Shine Hotel mulai enggan bertemu Han, malas kalau sampai dikerjai Han karena bosan.


"Gak takut?" Han bertanya iseng. Irish langsung menggeleng yakin. Han dan Teo saling pandang. Mereka melihat ke sekeliling ruang itu. Suram dengan suasana temaram, penerangan hanya lampu neon beberapa biji, untuk ruangan seluas itu. Kesan seram itu langsung terasa. Teo ingat, dulu tempat itu adalah persemayaman si sandal waktu masih jadi jiwa penasaran.


"Ada apa sih?" Irish bertanya masih mengekor langkah Han dan Teo. Sampai gadis itu menubruk punggung lebar Han, saat pria itu tiba-tiba berhenti. Mereka melihat makhluk hitam tinggi hitam, yang berada di sudut ruangan. Terdengar ringisan lirih Irish, Han melirik sebentar, melihat Irish yang mengusap keningnya. "Punggung atau batu? Keras banget." Gumam Irish lirih. Detik berikutnya, Han menyambar tubuh Irish ke samping saat makhluk itu tiba-tiba menyerang.


Bruuukkkkk

__ADS_1


Irish terjatuh di atas tubuh Han, yang seketika menarik tubuh Irish, membalikkan keadaan. Kini Irish berada dalam pelukan Han, menghindari ledakan yang makhluk itu buat.


Baik Han maupun Irish merasakan jantung mereka berdebar kencang. Dua orang itu saling bertatapan sebelum Han menarik Irish berdiri. "Aromanya...kenapa aku sangat mengenalnya." Batin dua orang itu bersamaan.


"Woi....romantisnya nanti saja. Ini makhluk kudu di basmi. Dia buat pabrikmu jadi seram." Kata Teo singkat. Lebih tepatnya makhluk itu sedang menjadikan gudang Irish sebagai tempat untuk mengumpulkan pasukan. Tidak tahu apa tujuannya.


Dua pria itu saling pandang, lalu melompat menyerang bersamaan.


Di tempat lain, Briock menatap tajam pada Volturi yang mendatanginya di ruang latihan. "Apa yang kau lakukan?" Volturi bertanya tanpa basa basi.


"Hanya ingin tahu sesuatu." Balas Briock singkat. Pria itu kembali berlatih menggunakan pedang, mengayunkan bilah panjang tajam berkilat dengan lincah. Kemampuan Briock dalam bertarung benar-benar luar biasa. Dia mewarisi keahlian bertarung sang ayah.


"Jangan mempercayai rumor yang belum tentu benar. Itu bisa menyesatkanmu."


Volturi memberi saran pada putra mahkota kerajaan iblis tersebut. Briock sejenak menghentikan kegiatannya. Melirik pada sang paman. Vampir remaja itu terlihat berpikir. Apakah sang paman tahu apa yang sedang dia pikirkan? Yang menjadi pertanyaan Briock, apakah yang Briock dengar benar atau salah? Vampir itu terdiam, melihat punggung sang paman menjauh darinya. Meninggalkan Briock sendiri dalam kebimbangan. Ucapan dari Volturi membuat Briock ragu dengan keyakinannya sendiri.


"Apa yang kudengar tidak benar?" Briock coba mempertimbangkan saran dari Volturi.


***

__ADS_1


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


***


__ADS_2