Kembar Beda Dunia

Kembar Beda Dunia
Calon Ipar


__ADS_3

Yuda hanya bisa menunduk lesu. Tanpa rasa iba sedikitpun, Han langsung memecat dirinya. Pengabdian selama hampir 15 belas tahun, tidak jadi pertimbangan Han untuk menahan Yuda. Han bersikeras, dalam 15 tahun di bawah kepemimpinan Yuda, Shine Hotel bukannya mengalami perkembangan. Ada kalanya Shine Hotel malah terpuruk, kalah saing dibanding hotel lain. Hal yang paling membuat Han geram adalah niat Yuda menjadikan Shine Hotel lahan untuk mencari tumbal bagi ritualnya dengan sang sekutu, kaum iblis.


Predikat hotel itu juga menurun beberapa tahun ini. Dari predikat hotel bintang 4 menjadi bintang 3, meski bintang 3 masih terhitung aman. Namun tetap saja itu semua sebuah kemunduran, mengingat Pasha pernah membawa Shine Hotel, menjadi salah satu hotel dengan predikat bintang 5 selama dikelola ayah Han itu.


Kini nasi sudah jadi bubur. Yuda hanya bisa menyesal. Pria itu menatap pada bangunan hotel menjulang tinggi yang pernah ada dalam genggamnnya sebelum Han datang.


"Kau ini lemah sekali. Hanya begitu saja kau sudah kalah. Payah!!!!" satu bisikan masuk ke telinga Yuda, mencoba mempengaruhi pikiran pria itu.


"Hai...." Meli mengerutkan dahinya, melihat Teo yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Meli agak kesal melihat senyum konyol Teo. Sungguh menyebalkan.


"Mau ngapain kakak kemari?" Meli bertanya dengan wajah judes. Senyum Teo justru semakin lebar. Sejak dulu dia suka mengganggu Meli, sejak masih hantu maupun jadi manusia. "Mau kencan sama kamu." Teo menjawab cepat.


"Siapa juga yang mau pacaran sama kakak. Wong aku dah punya pacar kok." Wajah bahagia Teo pudar seketika. Pacar? Si sandal ini punya sandal eh pacar? Siapa yang berani memacari Meli selain dirinya. Woelah posesip amat bang, belum juga jadian.


"Pacaran? Siapa yang berani macarin kamu?" batin Teo kesal, melihat wajah Meli yang justru sebaliknya. Bahagia tiada tara. Tak berapa lama Meli melambaikan tangannya pada seseorang. Senyum gadis mengembang sempurna. "Rifan...di sini." Teriak Meli.


Teo memandang lurus pada pria yang dipanggil Rifan oleh Meli itu. Dalam sekali lihat, Teo langsung tahu Rifan hanyalah seorang berandal kecil yang ingin memanfaatkan Meli. "Dasar curut kecil. Beraninya kau mengganggu sandalku. Lihat saja, akan kupermalukan dirimu."


Gubrakkkkk, tidak ada hujan, tidak ada angin, Rifan terjungkal ke depan. Siapa lagi pelakunya jika bukan Isaac aka Teo. Semua orang tertawa melihat wajah Rifan yang kesakitan. Meli buru-buru membantu Rifan. Cukup prihatin dengan keadaan Rifan.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Meli heran, tidak melihat apapun yang menghalangi langkah Rifan, kenapa pemuda itu bisa jatuh. Sedang Rifan kembali ke mode cool-nya sambil menggeleng pelan.


Meli dan Rifan menuju ke meja di mana Teo duduk. Rifan kembali jatuh saat Teo menggeser kursi yang akan Rifan duduki. Tawa kembali membahana. Kali ini wajah Rifan tampak malu. Dua kali dia jatuh tanpa sebab, orang akan mengira dia ceroboh dan bodoh.


Teo hanya mengulum senyum saat diperkenalkan sebagai tetangga komplek oleh Meli. "Tidak masalah, sekarang tetangga komplek, besok aku sudah naik pangkat jadi pacarnya. Lihat saja nanti." Batin Teo meminum bobanya dengan dua jari bergerak membuat pola memutar di bawah meja. Dengan hasil Rifan tersedak minumannya. Meli jelas kelabakan melihat baju Rifan basah.


"Kenapa acara kencan pertamaku kacau begini sih?" Batin Meli sedih melihat Rifan yang berlalu pergi dari hadapannya dengan wajah kesal dan mulut sibuk mengumpat. Entah siapa yang dia maki.

__ADS_1


"Kakak ya pelakunya?" todong Meli galak pada Teo yang langsung mengangkat tangannya. "Tidak Mel, lagian buat apa aku melakukannya."


Meli terdiam, iya juga ya. Teo terlihat hanya diam saja. Tidak melakukan apa-apa, kecuali dua jarinya. Bahkan tanpa sepengetahuan Meli, Teo masih membuat Rifan terjengkang di parkiran. Saat pemuda itu berjalan menuju ke mobilnya. Di mana seorang wanita seksi tengah menunggu.


Rifan mengomel sambik melepas kaosnya yang basah, meninggalkan tanya pada si wanita. "Jangan tanya!" sembur Rifan. Gagal sudah rencana Rifan untuk menggaet murid terpintar dan tercantik di kelasnya untuk menaikkan pamornya.


Melihat wajah kesal Rifan, si wanita justru menggerakkan tangannya di paha pemuda itu. "Kenapa kesal, apa kau begitu ingin mendapatkan dia? Bukankah masih ada aku?"


Rifan mendesis saat tangan wanita itu sudah sampai di pusat tubuhnya. Mengusap pelan dari luar celana. "Kau memang paling mengerti aku." Bisik Rifan tanpa ragu mencium bibir si wanita, yang ternyata kakak kelas Meli. Keduanya berciuman panas, dengan tangan Rifan mulai bermain di dada wanita itu. Menelusup masuk ke kemeja sekolah si wanita.


Bruukkkkkk


Dua orang itu melompat di dalam mobil mereka, melihat satu kursi sudah berada di atas bagian depan mobil. Menimpa mesin mobil. Diiringi tatapan penuh kemarahan dari Meli yang melihat aksi tidak senonooh Rifan.


"Brengsekkkk!!!"


"Biar aku yang bawa." Teo menyambar kunci dari tangan Meli. Dengan alasan mereka searah dan Teo tidak membawa kendaraan.


"Ora modal!!"


"Yo ben!!"


***


Irish tampak mondar mandir di kamarnya. Tiga minggu berlalu, dan dia sama sekali belum menemukan titik terang soal aib Eric. Irish mengusak rambutnya kasar. Haruskan dia menikah dengan Eric minggu depan? Ingin dia berteriak tidak! Tapi kenyataannya, persiapan sudah dilakukan, undangan sudah disebar. Ballroom Shine Hotel sudah dibooking dan mulai dihias.


Han dan yang lainnya juga tidak menemukan hal ganjil soal Eric, kecuali Teo. Namun pria itu sudah terikat janji tidak boleh membocorkan kelakuan Eric secara langsung.

__ADS_1


Pria itu juga pusing tujuh keliling. Bagaimana caranya menggagalkan pernikahan sang adik. "Tidak boleh memberitahukan secara langsung." Gumam Teo berkali-kali. Sejak dari kantor sampai ke rumah.


"Haduuuhhh, masak kau sejak jadi manusia malah begoo sih." Ejek Liong di kepala Teo. Pria itu menggeram marah. Hingga dia membuka pagar rumahnya. Dia melihat, Vivian berdiri di teras rumahnya. Tepat di hadapan Teo.


Tak berapa lama, satu mobil masuk. Seperti part lampu menyala dalam film kartun saat si tokoh mendapat ide. Teo dengan cepat menghubungi Ivan, meminta berondong meresahkan itu untuk datang ke tempatnya bersama Irish. Dengan alasan Teo mengundang makan malam. Agak aneh sih alasan yang Teo berikan.


Namun tidak masalah, yang penting Ivan mau membawa sang adik ke tempat Teo. Ivan pikir, Teo ingin mereka makan bertiga sebagai kakak beradik. Meski Ivan kecewa, seharusnya Teo yang datang ke Green Hills, supaya papa dan mama mereka juga bisa ikut makan malam.


Teo menunggu dengan cemas, seharusnya cuma perlu tiga puluh menit untuk menuju kompleknya. Teo baru kali ini melihat mobil Eric masuk ke rumah Vivian. Dan sudah setengah jam, mobil itu belum keluar.


"Sorry telat. Nunggu nyai ratu dandan." Suara Ivan membuat Teo menarik nafasnya lega. Sedang wajah Irish langsung berubah manyun. Gadis itu hanya mengganti bajunya tanpa melakukan hal lain. "Masuk yuk. Sorry dadakan. Takutnya besok kamu sudah mulai sibuk."


"Tumben ngajakin makanan, mas Teo baru dapat bonus ya dari Han."


"Hooohh, bonus gede, gede banget malah." Pintar, Teo berdiri membukakan pintu untuk Irish. Di mana, di belakang Teo adalah mobil Eric. Irish tentu langsung mengenalinya


"Itu kan mobil Eric? Dia ngapain di sini. Ini rumah siapa mas?" Cecar Irish.


Ivan dan Teo saling bertukar pandang. Dalam sekejap mata Ivan langsung paham dengan rencana mas tersayangnya.


"Mari kita eksekusi calon ipar kita itu." Begitulah arti senyum dua pria beda generasi itu.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih.


****

__ADS_1


__ADS_2