
Han membuka matanya perlahan, tak lama setelah air yang dibawa Somchai masuk ke tenggorokan pemuda tampan itu. Rasa lega langsung menghampiri semua orang. Han tersenyum melihat Somchai yang duduk di depannya. Satu hal yang menyiratkan kalau dirinya baik-baik saja.
Somchai menarik nafasnya dalam. Dia tidak terlambat. "Ai...." lirih Han. Pria itu menoleh saat semua orang mengarahkan pandangan ke sampingnya. Di mana Irish terlihat tengah tidur di sana.
"Dasar bucin, kita yang cemas setengah mati. Dia sibuk mikirin orang lain." Celetuk Ivan spontan. Han tersenyum tanpa menanggapi celotehan pemuda yang belum di kenalnya itu. Tangan Han terlulur mengusap lembut wajah Irish. Rasa khawatir pemuda itu begitu besar.
Saat menyentuh wajah Irish. Saat itulah Han merasakan energi lain dalam tubuh mate-nya. Pemuda itu seketika menoleh ke arah Somchai dan Isaac. Juga Asna, yang lagi-lagi tidak di kenalnya. Sepertinya banyak hal Han lewatkan selama dia tidak sadarkan diri.
"Waktu kita semakin terdesak. Dia sudah menaikkan aura iblis dalam tubuh Irish." Ucap Asna lirih
"Raja iblis?" Tanya Han. Pemuda tersebut pulih dalam hitungan menit. Bahkan saat Irish masih tidur di ranjang di samping mereka.
"Kita tidak bisa menundanya." Somchai menambahkan ucapan Asna. Wanita renta itu tampak menghirup aroma teh yang Ivan buatkan. Tidak ada orang lain selain mereka berempat. Ivan sedang pulang untuk melapor kalau sang kakak tidur di apartemen. Nanto kembali ke hotel untuk mengambil pakaian Han.
"Maksudnya?" Han bertanya sebab dia memang tidak paham. Somchai dan Asna saling pandang. Han memang lahir dan besar di Chiang Mai. Di mana hubungan badan sudah hal biasa di sana. Namun pemuda itu jelas masih polos untuk usianya yang sudah terhitung dewasa.
"Kalian harus bercinta dalam dua minggu ke depan...."
Byuuuuurrrr, air teh yang diminum Han kembali disemburkan oleh pemuda itu. Pemuda itu melihat sang paman dan Asna dengan tatapan tidak percayanya. Terlebih Somchai yang mengucapkan kalimat vulgar itu dengan wajah santai. Tidak ada beban sama sekali.
"Paman, bagaimana bisa Paman berkata seperti itu? Lagian mana bisa cara itu digunakan untuk menekan aura iblis...."
"Enak kan?" Blushhh, wajah Han seketika bersemu merah mendengar pertanyaan frontal dari Somchai.
"Dia benar-benar isih joko (perjaka)?" tanya Asna tidak percaya. Tidak terbayangkan bagi Asna untuk orang yang tinggal di luar negeri, masih memiliki norma yang dijunjung tinggi. Mengingat pergaulan yang sangat bebas di luar sana.
"Yo jelas to, mbah. Syaratnya harus joko (perjaka) sama perawan (gadis)." Lagi Han bisa menunduk malu mendengar obrolan tidak tahu tempat dari orang yang terhitung sepuh (renta) itu.
"Pasti berat bagimu menjaganya?" kekeh Asna.
__ADS_1
"Oh iya jelas. Lihat aja tampangnya yang seperti aktor Korea itu. Pusing mbah jagain dia." Keluh Somchai.
"Yang ngincar banyak ya." Tambah Asna.
Astaga! Kenapa obrolannya jadi absurd dan tidak jelas begini sih. Keluh Han dalam hati. Pemuda itu benar-benar malu. Wajahnya bak kepiting rebus. Merah merona. "Paman, mbah kita tu lagi ngomongin cara bunuh raja iblis. Kenapa jadi melenceng ke sana sih omongannya?" Han akhirnya berani buka suara.
"Bukan cuma raja iblis musuhmu. Ada lagi yang lebih kejam dari dia. Dia yang sudah menanamkan kekuatan iblis di tubuh Irish. Kau bisa rasakan, kekuatannya semakin besar. Tepat umur 25 nanti, segelnya akan terbuka. Jika kau tidak bisa meredamnya, dia akan jadi ratu iblis yang sesungguhnya. Menimbulkan bencana di mana-mana. Apa lagi jika dia bersatu dengan pasangannya. Kiamat Han." Jelas Somchai panjang lebar.
"Jangan dong Paman!" Han berteriak tidak rela.
"Nah makanya sekarang semua tergantung padamu. Duluan kau atau segel itu yang terbuka." Tambah Somchai.
Han terdiam. "Masak tidak ada cara lain. Kita kan belum nikah. Masak mau begituan. Namanya dosa dong paman."
Somchai dan Asna meledakkan tawanya. Astaga anak Pasha dan Natalie ini kelewatan polosnya. Padahal bapaknya tukang molosin anak gadis orang, playboy pasar Genting nomor satu.
"Tapi aku bukan mereka Paman. Gak mau ah kalau gak nikah dulu. Nanti Han nanggung dosa, masuk neraka. Panas."
Busyet dah anak ini alimnya pol. "Woelah Han ini cuma syarat untuk meredam segel iblisnya."
"Gak mau kalau gak nikah dulu! Han gak mau dituduh cuma mau memanfaatkan Irish." Kekeuh Han. Somchai dan Asna saling pandang. Cukup terkejut dengan sikap dan pendirian Han.
Han melihat ke arah Irish yang masih tidur memeluk gulingnya. Dia tidak mau melukai Irish hanya untuk menyelamatkan gadis itu. Dia lebih rela mati kalah bertarung untuk melindungi Irish, daripada melakukan hal itu tanpa kepastian hubungan yang jelas. Itu sama saja dengan menyakiti hati Irish.
"Baik, kau minta pernikahan. Akan paman penuhi. Tapi syaratnya saat itu juga kau harus melakukannya." Asna seketika menoleh ke arah Somchai. Wanita renta itu sepertinya tahu, pernikahan yang dimaksud oleh Somchai.
"Aaaa yang itu...Han gak janji." Somchai melotot mendengar jawaban Han.
"Han kan tinggal ngelakuin itu apa susahnya sih?" Rasa bingung seketika menghantam kepala Somchai. Kenapa Han jadi aneh begini.
__ADS_1
"Memang kamu tidak tertarik sama cucu mbah?" Asna yang bertanya kali ini. Han bergantian melihat ke arah tiga orang itu. Pandangan terakhir jatuh pada Irish, yang seperti biasa, terlihat cantik di mata pemuda itu.
"Tertarik mbah, siapa juga yang gak tertarik sama cucu mbah yang satu itu. Meski galak tapi sangat mempesona. Beda sama yang lain. Di luar sana pasti yang ngincar banyak. Tapi masak iya main tubruk aja. Gak sopan, gak etis. Masak tidak punya sopan santun, sama etika gitu."
Bisa Somchai dan Asna lihat binar cinta di mata Han untuk Irish. "Tapi Han gak mau nyentuh Irish di luar garis pernikahan. Han cinta Irish, dan Han ingin semua terjadi karena kami mau melakukannya. Bukan karena dipaksa atau bahkan karena urusan ini. Han rela mati menghadapi raja iblis atau siapapun itu untuk melindungi Irish."
Kembali Somchai dan Asna saling pandang mendengar ucapan Han. "Baik, kau yang minta. Paman akan menikahkan kalian besok malam, tapi ini baru prosesinya saja. Resminya kalian urus sendiri."
Han mengembangkan senyumnya, setidaknya dia sudah mengikat Irish meski masih setengah resmi.
Sementara itu, di rooftop apartemen Irish, Isaac dan Meli tampak bersitegang. Isaac tahu kekuatan pria yang semalam datang jauh lebih besar dari Diavolo. Akan sangat sulit mengalahkan orang itu. Terlebih pria itulah yang memegang kendali atas segel di tubuh sang adik.
"Kamu tidak bisa melakukannya. Kamu bisa hancur."
"Cara apalagi yang kupunya. Bahkan jika Han menyatu dengan Irish itu belum menjamin kalau energi itu bisa dinetralkan. Energinya sangat besar Mel. Kau pun bisa merasakan itu."
Meli terdiam. Bisa dia rasakan keputusasaan dalam ucapan Isaac. Meli tahu benar betapa besar rasa cinta Isaac untuk Irish dan Ivan juga keluarganya. "Jadi kamu akan...."
"Jika itu diperlukan aku akan melakukannya." Potong Isaac cepat sambil menatap wajah Meli dalam. Perlahan pria itu mengusap wajah cantik Meli. Selama dia menjaga Irish, baru kali ini dia mendapat teman seorang hantu, cantik lagi.
"Baik, jika itu yang kamu inginkan." Balas Meli. "Jika kamu pergi, tidak ada alasan bagiku untuk tinggal." Batin Meli sambil tersenyum pada Isaac.
Pun Isaac yang juga tersenyum pada Meli. "Andai aku punya kehidupan kedua, akan kucari kelahiranmu sampai ke ujung dunia." Batin Isaac. Merapalkan satu dari sekian banyak impian yang ingin diraihnya.
****
Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.
****
__ADS_1