Kembar Beda Dunia

Kembar Beda Dunia
Vonis


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Anggap aja tidurnya begini ya 🤧🤧


Mentari pagi menelusup masuk ke sela-sela tirai tebal kamar yang luas dan mewah. Sinarnya mulai mengganggu mata sepasang insan yang masih enggan untuk bangun. Beberapa kali tubuh itu menggeliat. Pelan mereka menyadari kalau ada yang berbeda dalam tidur keduanya.


Han yang pertama membuka mata, sesaat ngeblank melihat tubuh Irish dalam pelukannya. Hingga kemudian rentetan kejadian kemarin masuk ke benak Han. Dia dan Irish sudah menikah. Pria itu tersenyum. "Pagi istriku." Ucap Han sambil mengecup pelan kening Irish, turun ke hidung lantas berhenti di bibir sang gadis. Masih gadislah ya, orang Han belum sempat bobol gawang.


Sesaat pria itu begitu menikmati sensasi morning kiss mereka. Hingga Irish yang kehabisan nafas mendorong jauh dada Han. "Sesek, Mas. Kira-kira dong kalau nyium." Lah protes, senyum Han mengembang. Seru juga kalau ngerjain si istri.


"Ai...." Tangan Han mulai merayap di lengan Irish yang masih tertutup piyama abu-abu. Sempat-sempatnya bawa piyama, kekeh Han dalam hati. Irish yang merasa tubuhnya digerayangi langsung membuka mata. Dilihatnya Han yang tersenyum manis padanya.


"Makanya bangun. Apa mau dibangunin pakai cara lain?" Goda Han, pria itu menaik turunkan alisnya.


"Melek dah ini, boleh gak sih tidur lagi, capek aku mas." Keluh Irish, tubuhnya terasa pegal semua. Tangan Han mulai bergerak ke pinggang Irish. Gadis itu sontak menahan tangan Han," Mau ngapain?" todong Irish cepat.


"Minta jatah...mau mijitlah. Aku bisa mijit lo." Irish sempat melotot saat Han mengatakan ingin minta jatah. Iya, itu hak Han dan Irish wajib memberikan, masalahnya dia belum siap sama sekali. Meski sekarang suaminya adalah Han bukan Eric.


"Ntar gantian tapi." Pinta Han.


"Aku injak-injak aja ya. Ogah mijat badan segede gitu. Keriting jariku. Mana lapar lagi." Irish mulai menawar. Dia hanya belum siap berhadapan dengan tubuh seksi nan menggoda sang suami. "Iya deh," Han menjawab pelan, dengan tangan mulai mengurut kaki Irish. Juga tangan yang lain menghubungi room service, minta dikirim amunisi ke kamar mereka.

__ADS_1


Dan pasangan pengantin absurd itu menghabiskan pagi pertama mereka dengan saling pijat. Tidak ada keinginan Han memaksa Irish untuk melayaninya hari itu juga. Tujuannya menikahi Irish karena dia memang mencintai gadis itu, sekaligus menyelamatkan nama baik keluarga Aditama.


Di tempat lain, cibiran dari Erika kembali mengudara di ruang makan keluarga itu. Melihat Vivian yang menangis tersedu di pelukan sang kakak. "Drama terus!" Erika benci setengah mati pada wanita itu.


"Rika sudah, Vivian lagi bersedih, kakaknya meninggal." Kata Mia sang mama.


"Ooohh meninggoy, bagus dong. Tuh lihat, karmanya yang nanggung kakak elu!" Duh pedas amat Erika kalau ngomong. Gadis itu berlalu keluar dari rumahnya, padahal pukul satu dini hari Erika baru pulang di antar Ivan. Erika menolak menginap, hingga Ivan terpaksa mengantarnya pulang. Beruntung Bian masih belum tidur, hingga Ivan tidak perlu menggendong tubuh langsing Erika yang sudah tidur.


Vina ditemukan meninggal di kamarnya pagi ini. Dugaan awal serangan jantung, padahal Sai menghisap darah dan energi Vina sampai habis.


Lain waktu dan tempat, Teo tampak mematung di tempatnya berdiri. Melihat kakak Meli, Budi yang berperawakan tinggi besar dengan wajah seram menunggunya di depan rumah.


Author bilek, "Muka sama nama gak sinkron ya, bodo amatlah."


"Abang kalau gak percaya saya bisa bawa saksi, banyak temennya kok, abis itu Meli tidurnya sama Dea." Jelas Teo. Abang? Teo terkekeh dalam hati, tuaan dia kali.


Budi sejenak memindai Teo, pria itu banyak bertemu banyak orang. Dia hanya ingin sang adik bersama pria yang tepat. Banyak yang mendekati Meli, tapi semua Budi hempaskan. Sebab mereka kebanyakan teman sekelas Meli yang auto jiper saat bertemu Budi. Tidak ingin serius, hanya mau bermain-main. Serius? Maksudnya pemuda baik-baik yang menjalin hubungan dengan sang adik dalam batas normal, tidak neko-neko dan belok-belok. Kek jalan aja.


Namun Teo lain, sejak pertama pria itu bertemu Meli, Budilah yang ingin Teo temui. Berkali-kali Teo datang sekedar membawakan martabak telur kesukaan Budi atau makanan lain. Dan Teo hanya memberikannya di pertigaan jalan depan rumah mereka. Tanpa berkeinginan masuk, tidak sopan tapi begitulah Teo, tidak ingin memaksa orang untuk mengundangnya masuk ke rumah mereka.


Budi terlihat menghela nafas. Melihat ke arah Meli yang tampak tenang, tidak ada raut wajah yang menunjukkan kalau apa yang dikatakan Teo tidak benar.


"Jadi maumu apa?" Tanya Budi to the point. Dari semua teman Meli, Teo-lah yang datang dari kalangan dewasa.

__ADS_1


"Saya ingin serius dengan Meli. Maksudnya jika dia bersedia, saya akan menikahinya." Meli melotot mendengar jawaban Teo. Dengan Budi seketika menatap tajam pada Teo.


"Apa maksudmu? Dia masih SMA. Kau mau mempermainkan adikku ya?!" Tangan Budi mencengkeram kerah Teo.


"Bang...sabar dulu bang. Saya bilang kalau Meli mau, kalau gak...saya bakal nunggu sampai dia mau." Teo menjawab di sela nafasnya yang mulai ngos-ngosan, lehernya serasa dicekik oleh tangan berotot Budi.


Huft!!! Teo menghembuskan nafasnya kasar setelah Budi melepaskan cekikannya. Budi beralih melihat pada sang adik. Meli jelas tampak bingung. Belum pernah ada pria yang datang langsung mengajaknya menikah.


"Bang, saya tahu perasaan abang. Saya juga punya dua adik. Saya ingin adik-adik saya mendapat pasangan yang baik, pun dengan abang. Abang pasti juga begitu kan? Karena itu saya tidak janji, tapi akan berusaha membuktikan. Kalau saya tidak akan menyakiti Meli, saya akan menjaga dia dengan baik."


Budi termenung mendengar apa yang dikatakan Teo. Memang itulah yang dia inginkan. Sejak orang tua mereka berpisah, Budi dan Meli memilih tinggal sendiri, tidak ikut ayah maupun ibu mereka. Budi sedikit trauma dengan perpisahan orang tuanya. Hingga dia skeptis dengan yang namanya hubungan lelaki dan perempuan alias pacaran dan sejenisnya.


Juga untuk Meli, dia takut sang adik hanya akan disakiti lalu ditinggalkan oleh cowok-cowok sialan itu. "Aku tidak melarang Meli berteman dengan siapapun. Hanya saja aku takut, dia akan ditinggalkan, lalu dia sedih dan menangis."


Kata Budi setelah tinggal dirinya dan Teo, berdua. "Aku tahu yang abang rasakan. Karena itu aku juga menyeleksi semua yang ingin dekat dengan adikku."


Dua orang itu saling pandang, dengan Teo serasa narapidana yang tengah menunggu vonis dari hakim. Teo sudah yakin kalau Irish berada di tangan yang tepat. Sedang Ivan, dia pikir adik bungsunya itu akan sedikit lambat untuk mengikat seorang gadis, mengingat watak dan pandangannya soal cinta yang agak berbeda.


***


Up lagi readers. Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terima kasih.


***

__ADS_1


__ADS_2